Ingatan Sejarah Tentang Surat

Muchlas Jaelani
Karya Muchlas Jaelani Kategori Inspiratif
dipublikasikan 29 Juli 2016
Ingatan Sejarah Tentang Surat

Ingatan Sejarah dalam Surat

 

Oleh Muchlas Jaelani*

 

Bersurat adalah ikhtiar menuliskan gelisah yang musykil diungkapkan melalui jalinan tatap muka. Samantha Smith, bocah Amerika berumur sepuluh tahun, menulis surat kepada Yuri Andropov, Presiden Uni Soviet waktu itu, untuk mengakhiri belenggu ancaman perang nuklir pada 1983.   Surat Albert Einstein kepada Presiden Franklin D. Roosevelt juga menjadi muasal petaka peristiwa bom atom yang menghanguskan Heroshima-Nagasaki. Begitu pula, surat Kublilai Khan kepada Raja Singasari pada 1289, adalah titik awal lahirnya kerajaan Majapahit.  

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang  R.A. Kartini, misalnya, mulanya adalah sekumpulan surat. Kartini mencatat ide revolusionernya ke dalam teks—yang kelak dikenal sebagai gagasan kebangsaan dan emansipasi. Melalui surat, Kartini hadir sebagai penyokong imajinasi-aksiologi kaum hawa di Indonesia. Muhammad Hatta pada Januari 1962 mengingatkan Soekarno soal politik harga melalui surat: sebuah koreksi untuk kebijakan politik waktu itu yang berat sebelah. Surat telah memuat jejak kebangsaan dan kebudayaan tempo dulu.

Sutan Sjahrir, Bung Kecil itu, sejak ditahan di penjara Cipinang hingga diasingkan ke Boven Digoel, selalu mengirim surat kepada istrinya di Belanda, Maria Duchateau. Sejak 1931 hingga 1940, Sjahrir menulis banyak hal dalam suratnya: dari tentang perang, gerilya, sekutu, hingga cinta. Pada 1945, kumpulan surat dalam rentang 9 tahun itu diterbitkan di Amsterdam berjudul Indonesische Overpeizingan. Beberapa tahun setelahnya, H.B. Jassin menerjemahkannya menjadi Renungan dan Perjuangan.

Surat, pada kadar tertentu, rupanya juga menjadi kontribusi luar-biasa atas perkembangan literasi di mancanegara, tak terkecuali Indonesia. Telah banyak surat-surat para tokoh dunia yang dibukukan yang—meski tampak personal—sarat dengan kaidah kebajikan. Misalnya, surat Mahatma Gandhi yang menolak Undang-Undang Garam (Salt Art) Inggris, pada 1883, karena dirasa represif terhadap masyarakat India.

Gandhi menulis surat pada Lord Irwin dengan marah, tapi ditulisnya dengan elegan. Ia menulis: "Rekan yang terhormat,/Sebelum memulai pembangkangan sipil dan mengambil resika yang tidak pernah berani saya ambil selama bertahun-tahun, saya akan mendekati Anda dan menemukan jalan keluar....". dalam surat, kritik selalu bersifat konstruktif dan dibangun dengan landasan logika yang etik.

Surat mendedah narasi lawas dalam setiap ingatan umat manusia. Muatan intim yang berkesan personal dalam surat, rupanya menyimpan berjuta narasi sosio-historis. Teks surat selalu menukik tapi jelas; elegan tapi gamblang. Model komunikasi klasik ini memang begitu kompleks: bukan sekadar rajutan interaksi antar orang dan kolega, tetapi kadang berisi kumpulan ide imajinatif yang sarat dengan prinsip kesalehan.

Dalam surat, akan begitu tampak keakraban dan keterbukaan. Misalnya, surat Che Guevara (1965) kepada Fidel Castro, “..kalau saja saat-saat akhir hayatku aku berada di bawah langit lain, pikiranku yang terakhir adalah tentang rakyat Kuba dan terutama tentang dirimu. Aku amat berterima kasih atas ajaran-ajaranmu, teladan-teladanmu, dan aku akan memegangnya hingga risiko yang paling akhir dari tindakanku”. Betapa menawan dan hangat surat ‘selamat tinggal’ Che Guevara kepada rakyat Kuba dan Castro terutama.

Meski bersifat personal, surat kerap memiliki dimensi lain yang tak kalah penting. Surat tak jarang menampilkan pergulatan, gerilya, dan kesetaraan. Pada periode awal kemerdekaan, Soekarno sering menulis surat untuk Jenderal Soedirman. Kedekatan tokoh besar dalam sejarah kebangsaan ini memang tidak banyak diketahui publik, tetapi melalui tutur surat, Soekarno tampak memiliki talian emosional tidak hanyak soal–soal serius, tetapi bahkan hal ihwal remeh seperti seragam.

Pada surat itu, Soekarno memulai kalimatnya dengan sebuatan “Panglima Besar”: “Saudaraku, Hari Nasional 17 Agustus sudah mendekat. Saja kira saudara ta’mempunjai lagi uniform jang bagus. Maka bersama ini saja kirim bahan untuk uniform baru. Haraplah terima sebagai tanda persaudaraan. Merdeka!”. Pada surat yang lain, saat Jenderal Soedirman sakit, Soekarno bahkan mengirimkan seorang dokter ahli untuk kesembuhannya. “Apa sadja jang diperlukan, insjaAllah akan saja ichtiarkan untuk melekaskan sembuh saudara,” tulis Soekarno.

Surat, pada kadar tertentu, menjadi narasi sejarah dan kebudayaan bangsa. Peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, misalnya, ditandai oleh surat, yang kemudian dikenal ‘Supersemar’. Pesan dalam surat, bagaimanapun, memiliki sisi subtil yang musti dikenang. Tetapi, mudahnya akses informasi dengan terus dicetusnya beragam variasi tekhnologi kekinian kadang melupakan nilai-nilai sejarah.

Surat-menyurat mungkin sekarang hanya bisa dikenang. Namun begitu, ia adalah media paling berharga dalam menjalin komunikasi tempo dulu. Bahkan begitu, kecanggihan mode tekhnologi tidak menyurutkan ikhtiar masyarakat untuk bersurat. Beberapa tulisan surat, misalnya, yang digubah oleh awam untuk para calon presiden tahun kemarin menjadi bukti riilnya. Makanya, bersurat selalu memiliki talian yang lebih intim dan luber, bahkan dalam termenologi politik.

Surat, berdasarkan ukuran yang disampaikan Laurajane Smith (2006) dalam Use of Heritage tentang warisan budaya, memiliki 4 karakter: benda, usia, estetika, dan sifat monumental. Sebabnya, usaha mengingat kisah silam melalui surat adalah bentuk mempertahankan cagar sejarah. Beberapa surat pendiri bangsa—yang beberapa diterbitkan dalam bentuk buku, dan sebagian lain dipajang di moseum—mesti kembali dihidupkan spiritnya. Keterbukaan, kesetaraan, dan semangat perjuangan yang secara ekstrinsik dikandung dalam surat tokoh-tokoh dulu, penting menjadi koreksi dan inspirasi hari ini.(*)

  • view 192