Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 29 Januari 2018   09:24 WIB
Kediam-diaman Luka

Alunan lagu itu masih teringat betul dalam otakku. Lagu yang hingga saat ini selalu membawaku hanyut dalam kenangan. Bukan aku meratapi nasib, namun aku serasa ada dimasa itu. Aku berkali-kali mencoba untuk melupakan namun aku tak bisa. Setiap detail lagu itu menyimpan kisah yang pernah aku lalui. Aku tak bisa melupakan begitu saja. Sebab kisah itu yang memulai aku menjadi segalanya. Tak bisa melupakan bukan berarti tak mau move-on. Ingatanku tajam, sebab aku tak hanya sekedar ingat tapi semua tercover rapi dalam rak-rak ingatan diotakku. Dan aku bersyukur atas itu.

 
Kala itu, tanggal kedua pada bulan ketika kita berpisah, aku menuliskan surat tentang pemantapan hati agar kita tetap biasa-biasa saja dalam menghadapi kesakitan ini. Aku tahu kala itu kau memang berat untuk melepaskanku, dan aku berat untuk melepaskanmu, tapi ini adalah garis. Engkau dan aku adalah rel yang tak ada harapan untuk bertemu.
 
Kita sedang diuji, sedang dihadapkan dengan kerelaan menerima sebuah garis. Ketika kita telah mengerti apa yang menjadi rahasia Tuhan, akankah kita tetap berusaha mati-matian untuk mencapai sebuah hasil? Jika iya, disitulah nilai pasrah kita ditentukan oleh-Nya. Dan nyatanya aku tidak, aku tidak terlalu kuat untuk itu. Aku lebih memilih berhenti dari pada mati-matian untuk mencapai sebuah hasil yang mana aku tahu bahwa hasilnya adalah sia-sia.
 
Aku dan kau sudah lama menjalin sebuah hubungan. Bertengkar berdamai, sedih dan bahagia sudah pernah kita lalui semua. Mencintai atau tidak adalah kodrat. Kau dan aku bisa menentukan kapan untuk bertemu, kita bisa menentukan kapan kita akan berpisah, namun kau dan aku tak akan pernah bisa menentukan kapan cinta kita harus memudar, dan kapan cinta kita harus bersemi lagi. Tak akan bisa.
 
Mungkin melalui tulisan ini, sudah cukup mewakili perasaanku diwaktu itu, bahwa cinta telah benar-benar pergi. Cinta tak lagi bersemayam dalam hati kita masing-masing. Kita telah berubah, entah sengaja merubah atau memang perubahan ini adalah buah dari cinta yang tak bisa diterka-terka datang dan perginya.
 
Cukup, kita bukan lagi anak kecil, kita sudah dewasa, tak perlu lagi mendebat masalah yang sudah bertahun-tahun kita anggap selesai. Aku cerita begini hanya untuk mengenang bahwa kita pernah ada dimasa itu, dan kini kita tak perlu kembali lagi mempertengkarkan siapa diantara kita yang salah. Semua telah ditulis dilangit. Jangan menyalahkan aku kala itu jika aku tak lagi mencintaimu, dan aku pun tak akan menyalahkanmu tentang kediam-diamanmu dengan selain aku. Biarlah ini menjadi sebuah materi baru untuk kita pelajari dan resapi. Dunia ini matematik, semua ada perhitungannya dan kita harusnya layak untuk mempelajari setiap perhitungan itu. Termasuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk berpisah. 
 
Kita sudah hidup sendiri-sendiri didunia kita sendiri, tetaplah seperti itu agar kedamaian ini tetap terjaga. Aku percaya kata Eyang Sapardi “Tuhan merawat segala yang kita kenal dan juga yang tidak kita kenal dan juga yang tidak akan pernah kita kenal”. Jika setelah ini kita tak saling kenal, aku tak terlalu memusingkan, sebab semua telah dirawat oleh Tuhan dan kita adalah bagian dari rawatan itu.
 
Oleh : Jawa Jendra

Karya : Jawa Jendra