Kekasih Sepi dari Masa Depan

Jawa Jendra
Karya Jawa Jendra Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 28 Januari 2018
Kekasih Sepi dari Masa Depan

Memandang seluruh penjuru nan indah, semakin tenang, semakin hidup. Dan air bening selalu mengalir dari tebing-tebing hingga sampai pada sebuah danua. Daun-daun pada saling menyapa. Batu-batu pada saling memandang. Tanah pun memuji hujan yang senantiasa membuatnya segar. Angin-angin menyampaikan pesan langit agar kita selalu menjaga keseimbangan alam. Burung-burung berkicau menyanyikan lagu-lagu kedamaian.

Saat sampai di sebuah Danau Taman Hidup, di Gunung Argopuro, aku berdiri tegak dengan mengucap salam kepada alam. Meski untuk sampai disana aku harus berjalan hingga 6 jam melewati Desa Bremi, Kecamatan Krucil, Kota Probolinggo. Tapi aku tak pernah merasa lelah. Lelah sudah terbayar oleh sapaan alam yang ramah.

Tenda sudah aku dirikan, semua persiapan sudah tertata. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Senjapun mulai  menyambut dan akan diikuti malam berkabut. Dan sebelum petang teman-teman menyiapkan kayu untuk sekedar membuat api-api kecil untuk bisa menghangatkan suasana ketika dingin tiba.

Waktu makan malam telah terlewati dan dilanjut ngobrol-ngobrol entah tentang apa. Aku gagal fokus dengan yang dibicarakan teman-teman. Setelah berlarut dengan obrolan panjang, akhirnya kabut pun mulai datang membawa segenggam rasa kantuk. Tak lama semua masuk kedalam tenda. Semua bersiap menyambut mimpi-mimpi panjangnya. Tepat tengah malam aku tak juga kunjung masuk tenda. Aku asyik menikmati suasana dengan petikan gitar sebagai pengusir sepi.

Seperti biasa, aku selalu suka berjalan-jalan menyusuri waktu dengan perasaan ketika menyendiri. Mata ku terbuka dan sinar rembulan diam-diam masuk. Kabut pun membelaiku dengan dinginnya yang menusuk. Tapi aku tetap tenang-tenang saja. Karena memang dingin dan sepi tak akan pernah membuat aku menjadi beku. Aku tak pernah kecewa kepada kesepian. Aku tak pernah merasa ingin ditemani. Cukup  sepi yang menjadi mengantarku ketika aku benar-benar ingin bermimpi.

Lalu tiba-tiba kau datang dan menyapaku lewat ketermenungan. Aku bingung, kaget, keadaanmu tak bisa diterka, kedatanganmu tiba-tiba. Mendadak dinginku hilang tapi aku sama sekali tak pernah merasa kau peluk. Semua sepiku terusir namun kau sama sekali tak pernah bersorak. Kau adalah hal yang paling aku tak mengerti. Kau lebih rahasia dari kode-kode matematik. Entah, aku grogi. Kau terlalu indah untuk diucap, apalagi wujudmu. Kau yang mempunyai arti tersirat yang bisa membuat orang terperanjat. Kau yang mempunyai daya tarik tersendiri dari kebiasaan. Kau sungguh menjadi pengikat bagi seluruh kehidupanku. Kau tak pernah diliput media namun aku tahu bahwa kau ada.

Kau mengajariku bagaimana mensiasati sepi. Kau menuntunku bagamaimana cara meraih mimpi. Dan kau selalu memaksaku untuk belajar sendiri. Belajar menangis tanpa kehilangan, belajar tertawa tanpa hiburan, belajar hidup tanpa bernafas, dan belajar mati tanpa harus dibunuh. Apa maksudmu aku tak pernah mengerti.

Kau berhasil membuat aku yakin agar aku tetap setia menunggumu, meski aku tak tahu siapa dirimu. Kau berhasil membuat aku yakin bahwa kau adalah orang yang benar-benar disiapkan Tuhan untuk ada disampingku. Kau yang terbaik yang pernah aku kenal, kelak. Kau yang paling sempurna yang pernah aku temui, nanti. Meski kau ada disuatu tempat yang tak pernah aku mengerti. Namun didalam doa aku selalu berharap semoga kau tetap dijaga kehidupanmu, kebahagiaanmu, kesehatanmu dan kemudian kau mengenaliku.

Pagi tiba –aku seperti semula, dan kau masih tetap menjadi sebuah bayangan.

Oleh : Jawa Jendra

  • view 164