Yang Tersisa dalam Ingatan

Jawa Jendra
Karya Jawa Jendra Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 04 Oktober 2017
Yang Tersisa dalam Ingatan

 

Bersama embun yang setiap pagi mendinginkan kopiku. Dari sisi lain ada mentari yang senantiasa mengajariku bagaimana menghangatkan suasana. Aku tak berani lagi mengingkari nikmat yang diberikan Tuhan kepadaku. Aku tak berani lagi memalsukan kenyataan tentang aku harus jadi apa adanya. Namun dibalik itu kebiasaanku masih sama. Tetap, aku suka berjalan-jalan menyusuri kisah dengan perasaan. Seperti halnya aku menelusuri jejak-jejak cinta yang pernah ku lalui. Biar bagaimanapun antara aku dan perasaan tak dapat lagi dipisahkan. Meski keadaan berusaha memisahkan, namun keadaan selalu aku paksa untuk menyerah, sebab cintaku tak boleh kalah. Cintaku tak boleh lumpuh hanya dengan keadaan. Cintaku tetap bertahan, masa bodoh-keras kepala- tetap mencintai meski tak tahu kepada siapa.

Disini aku menggenggam naskah yang kita perankan. Peranmu sebagai sosok yang harus ada disampingku. Namun naskahnya diam-diam kau rubah, hanya karena ada tokoh dadakan diluar skenario yang masuk dalam cerita ini. Aku bergeser menjadi antagonis. Biarpun kau tahu didalam cinta tidak mengenal antagonis maupun protagonis. Biarpun kau tahu didalam cinta tak mengenal benar dan salah, tak juga mengenal baik dan buruk.  Tapi apa boleh buat, naskahnya sudah kau ubah hingga aku jadi pembawa berita buruk didalam cerita ini.

Sudahlah, bukan masalah naskah atau apa. Karena memang cintamu kepadaku sudah kehilangan maknanya. Kau juga sudah lupa bagaimana cara saling menjaga. Semenjak itu aku mulai berhenti ; berhenti berharap, berhenti memiliki.

Didalam cerita ini kau lebih memilih orang yang bisa membuat hidupmu menjadi indah. Hari-hari yang kau lalui tak lagi dalam keraguan. Setiap apa yang kau rasakan dia ikut merasakannya. Dia mendalami betul perasaanmu. Dia layak menjadi pemain drama yang kau pilih menjadi pemeran penggantiku. Namun pasti ceritanya sudah tidak lagi tentang seseorang yang menunggu kekasihnya dalam kegelapan. Dan apesnya orang yang ada didalam gelap itu adalah aku. Entah, aku suka kegelapan sebab ia selalu mengajariku bagaimana cara bertahan dan bagaimana cara menyimpan tangis tanpa membuat orang lain merasa teriris.

Kegelapan bagiku adalah rumah yang paling nyaman untuk aku teduhi. Dia selalu tanpa pamrih menutupi seluruh kekuranganku. Dia paling setia dan selalu menyembuyikan apa yang tak pernah aku bisa. Kegelapan selalu memberiku ruang kebebasan, aku mampu melihat sisi lain tanpa siapapun mengerti keberadaanku. Dengannya aku mampu menghibur gelisahku yang lama terabaikan.

Dan segelisah apapun aku, sepatah apapun aku, sesakit apapun aku -aku tak pernah benar-benar merasa kaget. Sebab aku tahu bahwa setiap tulisan yang panjang pun pasti akan berakhir dengan tanda titik. Semua itupun juga pasti akan berakhir. Setiap ujung pasti ada pangkalnya. Setiap permukaan pasti ada dasar kedalamannya. Seperti itulah Tuhan men-dinamika-kan kehidupan ini.

Melupakan bukan jalan yang terbaik, tapi dengan bersyukur kita akan menjadi lebih baik, dan selagi kau ada pada bagian yang belum berakhir maka syukurilah apa yang ada didalam kehidupan ini. Syukurilah kebahagiaan yang mengikutimu : dengan berlaku setia, saling menghargai, dan saling memahami. Maka cinta akan memeliharamu setiap saat, dia akan menjauhkanmu dari rasa sakit dan keraguan akan hidup. Aku tetap bersyukur dengan keadaan meskipun selalu ada yang tersisa dalam ingatan –adalah  perih dari bekas ciuman, kemudian kau pergi.



Oleh : Jawa Jendra
Tuban, 1 Oktober 2016

  • view 104