Batas Keinginan

Jawa Jendra
Karya Jawa Jendra Kategori Filsafat
dipublikasikan 05 Mei 2017
Batas Keinginan

Dunia ini luas, banyak berbagai macam sudut pandang tentang dunia ini. Ada yang mengatakan dunia ini panggung sandiwara, ada pula yang mengatakan dunia adalah hanya tempat mampir “ngombe”, mampir minum. Masih banyak kiasan-kiasan tentang dunia yang begitu rumit.

Ada yang mempunyai pemahaman kita makan untuk kenyang, kita kerja untuk kaya, kita belajar untuk pandai, kita ibadah untuk dapat syurga, bahkan kita dzikir untuk kesalehan. Terlepas dari semua itu dunia ini bebas untuk ditafsirkan, bebas untuk dijadikan bahan acuan hidup. Namun kita harus sadar bahwa kita ada didunia ini adalah bukan hidup, tapi kita sedang berada didalam ke-tidakhidup-an. Sebab hidup yang sejati adalah hidup yang tanpa perantara apapun, tanpa membutuhkan yang lain untuk tetap hidup. Sedangkan kita didunia ini membutuhkan materi lain untuk tetap hidup. Kita bernafas masih membutuhkan oksigen, untuk kenyang kita masih membutuhkan asupan makanan, untuk perjalanan jauh kita masih membutuhkan kendaraan, dan lain sebagainya.

Di alam ke-tidakhidup-an ini kita diperintahkan untuk mengabdi kepada-Nya. Pengabdian bukan sebatas kita hanya melakukan ibadah dan perbuatan baik, dan pengabdian sendiri tak cukup hanya dengan sekilas berhenti memaknai dikata mengabdi. Pengabdian lebih luas maknanya dan pengabdian tak butuh imbalan apapun, baik jaminan surga atau terhindarnya dari siksa neraka. Ketika kita mengabdi seyogyanya kita tak perlu punya “karep” atau keinginan. Yakni keinginan yang didasarkan pada nafsu dalam diri kita sendiri. Jadi apapun yang kita lakukan seharusnya tanpa karep, toh kalau kita tetap punya keinginan berarti diri kita masih belum mampu memahami dan menerapkan makna pengabdian yang sesungguhnya.

Disini saya membedakan antara ‘Niat’ dan ‘Keinginan’. Bagi saya niat adalah cenderung kepada tidak punya keinginan. Kita ibadah dengan niat, itu berarti kita seharusnya tidak dalam sedang mempunyai keinginan, sebab didalam syarat niat diakhir selalu ditutup dengan kalimat ‘Lillahi ta’ala’. Kalimat Lillahi ta’ala adalah kalimat pentiadaan selain Tuhan. Berarti kita sholat karena Tuhan bukan karena keinginan kita. Jangan mempunyai keinginan apapun, kalau sholat maka sholatlah dengan kaifiyah sholat yang ditentukan oleh syar’i tapi jangan sekali-sekali mempunyai keinginan untuk apa dan dapat apa. Sebab ketika kita mempunyai keinginan maka yang kita sembah adalah makhluk yang bernama “keinginan”.

Saya tak menuntut orang untuk tidak melakukan apa-apa. Justru tanpa melakukan apa-apa itu pun termasuk “karep”, yakni keinginan untuk tidak melakukan apapun. Kita beribadah tapi jangan karena ibadah itu sendiri, maknanya kita jangan punya keinginan untuk beribadah dan jangan sekali-sekali pun kita meninggalkan ibadah. Sebab ibadah adalah bentuk pengabdian kita kepada-Nya bukan bentuk keinginan atau nafsu kita secara pribadi. Dan yang harus digaris bawahi bahwa pengabdian kepada Tuhan adalah apa-apa yang tidak melenceng dari pada aturan-aturan-Nya.

Kemudian kita harus tahu bahwa sifat-sifat Tuhan selalu melekat pada diri manusia. Kita ada sebab Tuhan itu ada, sebab Tuhan kita menjadi ada. Kita dahulu dilahirkan sebab ada Tuhan yang lebih dahulu ada, maka dengan kedahuluan itu kita menjadi ada. Kerena sifat-sifat Tuhan melekat pada diri manusia maka saya sepaham dengan wejangan para leluhur jawa, yakni “seng disembah yo seng nyembah”. Bagi saya itulah hidup.

Tuban, 05 Mei 2017 (Oleh : Jawa Jendra)

  • view 98