Embun di Bulan Desember

Jawa Jendra
Karya Jawa Jendra Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 29 Desember 2016
Embun di Bulan Desember

Pagi ini aku melugas kalimat dari pesan singkat yang kau kirimkan kepadaku kemarin. Katamu “Jujur hingga kini aku masih tetap mencintaimu dan namamu tetap ada dalam hatiku sampai kapanpun”. Aku kuwalahan ketika aku harus mamaknai kalimat dalam pesan singkatmu. Serasa sesak dadaku menghujam, serasa pahit rasaku menghimpit, serasa diam hatiku dirajam. Entah, mungkin aku hanya sekedar merasa sombong ataukah merasa lebih unggul dari orang lain. Semoga tidak, dan Tuhan mengampuni kita.

Setiap hariku aku merasa dibuntuti kalimatmu. Hidupku gelisah, resah dan tak tau apa yang harus aku perbuat demi menghilangkan rasa gelisah-resah ku. Aku dihantui perasaan-perasaan lebih baik dari yang lain. Diam-diam aku mulai memetakan satu persatu kalimatmu. Kau harus tau bahwa aku tak lebih dari hanya sekedar kenangan, aku tak lebih dari hanya sekedar masalalu, aku tak lebih dari sekedar seseorang yang pernah membuatmu tersenyum, aku tak lebih dari angin yang meski sejenak pernah membuat rambutmu berkibar. Dan yang harus kau tau juga ; aku tak lebih dari manusia-manusia lain yang pernah juga membuatmu bahagia dan menangis.

Aku pernah ingin memilikimu mati-matian, namun semenjak itu aku sadar bahwa “Cintailah apapun dengan tanpa merasa memiliki, karena merasa memiliki adalah awal dari pada kekecewaan”. Aku pernah ingin benar-benar membuat siapapun tak boleh mencintaimu selain aku. Namun lagi-lagi kau membuat aku sadar, bahwa cinta itu tak dapat dipaksakan. Lantas aku hanya diam ketika siapapun berhak mencintaimu. Aku hanya diam ketika kau memahamkan aku betapa berharganya cinta dari seseorang yang mencintai ; siapapun itu. Lewat kisah ini aku menyadari bahwa aku harus merelakan siapapun untuk mencintaimu.

Kau pernah memberiku sesuatu sebagai simbol kesetiaan. Kurawat itu, ku pakai ku spesialkan. Namun sekian waktu aku mengerti bahwa sesuatu itu hanyalah simbol dari percintaan, dan simbol hanyalah sisi luar yang nantinya akan hancur digilas waktu. Sebab yang abadi adalah cinta bukan percintaannya. Warna budaya percintaan bisa rusak dan simbol adalah  buah dari pada percintaan, dan itupun juga akan rusak. Lalu bagaimana? Biar waktu yang akan menjawab. Budaya percintaan tak akan pernah abadi. Kenyataannya setelah itu kita memisahkan diri hanya karena perbedaan prinsip, pola pikir dan pandangan hidup. Namun senajan toh percintaan bisa rusak tapi Cinta selalu abadi. Dia tetap ada dan tak pernah tersentuh oleh ketuaan. Cinta tetap bersemayam didalam tempatnya. Cinta tetap ada didalam keadaannya. Cinta tetap mewujud menjadi kau-kau yang lain. Cinta selalu berjalan dan tak pernah berhenti untuk membumikan kasih-sayangnya.

Sekarang kau telah berumah tangga. Ada yang lebih berarti selain dari pada terjebak dalam sebuah kenangan. Adalah berusaha membuat kedamaian didalam rumah tangga. Kau masih mempunyai tanggung jawab untuk mendidik anak. Kenangan tidak harus diresapi, tapi lebih baiknya kau gunakan sebagai alat untuk terus berjalan kedepan. Sebab kelak kau pasti akan menjumpai jalan dengan sebuah kubangan, dan kau harus tetap melewatinya.

Cinta tak memandang siapun. Meskipun yang kau hadapi bukanlah aku, namun didalamnya selalu ada aku. Kau tak perlu menyesali ketika aku pergi, sebab siapapun yang kau cinta dilapis dirinya yang terdalam kau akan menemukan ‘aku’.  Jadi tak ada alasan bahwa kau tak lebih cinta pada rumah tanggamu. Tak ada alasan kau tak lebih cinta pada pasanganmu. Dia orang yang saat ini berani mati-matian untuk tetap ada disampingmu. Tak ada alasan lagi kau kembali kepenghujung kisahku dimasalalu. Kau tak perlu lagi mencariku, kau tak sadar bahwa setiap saat –setiap waktu aku telah bersamamu. Aku telah mewujud menjadi kebahagiaanmu yang abadi.

Rasakanlah ketika pagi kau hendak menghirup nafas. Rasakan hadirku dikedalaman jiwamu. Rasakan sapaku dalam bunyi tarikan nafasmu. Rasakan gerakku dalam setiap detak jantungmu. Rasakanlah, sebab setiap kau mencintai aku selalu ada dalam cinta itu. Aku selalu ada dalam dirimu dan ada dalam setiap siapapun yang kau cintai. Tak perlu lagi kau menyesali keadaan, sebab setiap keadaan akulah yang diadakan.

Kita sudah jauh berjalan melewati kehidupan, ini adalah tahun ketujuh belas dari cinta yang kita mulai hingga kini cinta itu mewujud menjadi kemanusiaan. Tapi tak masalah, inilah hidup. Perjalanannya selalu tak beraturan. Namun andai engkau mau membaca kehidupan kau akan tahu bahwa hidup itu hanyalah sekumpulan sesuatu yang kelihatannya tak beraturan namun sudah diatur. Begitulah Tuhan, begetulah hidup, begitulah kenyataan, begitulah jodoh. Kita harus terima, karena memang kita adalah makhluk yang diperintahkan oleh Tuhan untuk menerima apapun yang telah terjadi.

Denganmu aku pernah menjadi buruk, sebab itu aku mengerti bahwa sisi lain dari keburukan adalah kebaikan. Denganmu aku pernah menjadi hina, sebab itu aku mengerti bahwa sisi lain dari kehinaan adalah kemuliaan. Denganmu aku penah menjadi ugal-ugalan, sebab itu aku mengerti bahwa sisi lain dari ugal-ugalan adalah etika. Denganmu aku pernah menjadi amarah, sebab itu aku mengerti bahwa sisi lain dari amarah adalah kedamaian. Dan aku tak akan pernah bisa benar-benar menjadi manusia tanpa aku melewati semua itu. Kesemuannya adalah berkatmu. Kau yang membuat aku tau bahwa hidup ini adalah benar-benar berarti.

Kau adalah tumpuan bagi cintaku, kau adalah candu bagi cawanku, kau adalah madu bagi bungaku. Kau adalah apa-apa yang bisa membuat aku merasa ada. Kau diciptakan bukan sebagai sisi buruk, namun keberadaanmu sebagai pengingatku ketika aku mulai memburuk. Manfaatmu sungguh tak terhingga didalam kehidupanku. Tanpamu aku tak akan pernah mengerti arti melepaskan. Tanpamu aku tak akan pernah mengerti arti bertahan. Tanpamu aku tak akan pernah mengerti arti menerima keadaan. Dariku tak ada suatu apapun yang pantas untuk aku ucapkan selain “Terimakasih”.

Maaf aku pergi.

Tuban, 23 Desember 2016 (Oleh : Jawa Jendra)

  • view 245