Karena Tersesat adalah Caraku Mengingat

Jawa Jendra
Karya Jawa Jendra Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 18 November 2016
Karena Tersesat adalah Caraku Mengingat

Semenjak kau pergi semua menjadi tak seperti biasa. Ruang kamarku tak lagi terpenuhi oleh harum tubuhmu. Tulisan-tulisanku yang harusnya selesai bulan ini tiba-tiba mangkrak. Kau terlalu mempengaruhi arketipeku. Apa yang ingin aku tulis semua beku. Puncak dari gerak hatiku adalah dirimu, namun kepergianmu begitu saja tanpa meninggalkan sedikitpun pesan yang dapat aku baca. Ditiap malam tak lagi aku mampu menikmati kilau bola matamu. Yang tertinggal hanya debarmu yang masih tersisa dalam dadaku. Aku mendadak runtuh bak embun diujung daun yang hanya bisa menunggu kapan terjatuh.

Meski aku dan kau terpisah namun diantara kita masih ada gelombang dengan frekuensi yang sama. Artinya aku masih punya harapan untuk menemukanmu lagi. Kau tetap ada meski aku tak tahu kau dimana. Entah bagaimana aku mulai mencarimu, sedang aku dalam keadaan tak tahu arah. Aku bingung bertanya kepada siapa dan seperti apa caraku bertanya.

Aku tetap dalam pencarian meski angin selalu mengancamku dengan pusarannya, meski hujan selalu menyiksaku dengan lebatnya, meski matahari pun selalu membakarku dengan panasnya. Belum lagi Izrail yang mengintaiku dengan mautnya. Namun aku tak akan pernah berhenti. Jarak tak pernah membuat aku putus asa, hingga aku sampai pada suatu tempat yang teramat jauh. Satu-satunya tempat yang mungkin masih meninggalkan jejakmu. Tempat ini adalah tempat yang dulu sering kau singgahi. Tempat ini adalah tempat dimana kau selalu menungguku kala itu. Tempat ini adalah tempat dimana ketika peraduanmu butuh kau adukan. Tempat yang dipenuhi oleh taman-taman, kicauan burung dan pepohonan yang mampu membuatmu terteduh. Namun tak ada yang mampu kulakukan disini kecuali menunggu dan berharap barangkali kau kembali.

Aku merasa pencarianku adalah hukuman ketika aku tak benar-benar menghiraukanmu kala itu. Semua tak lagi menjadi sempurna ketika tanpamu. Lebih baik bisu seperti batu dari pada kau meninggalkanku. Keadaan ini membuat aku tersiksa. Aku ibarat taman yang kehilangan pengunjung. Sepi -murung. Kemudian keduanya berkumpul menjadi sebuah kegelisahan. Aku telah berhari-hari disini namun tempat ini tak juga menjanjikan apa-apa. Bunga-bunga ditaman ini juga tak lagi menumbuhkan wujudmu. Harum-harumnya juga tak lagi sama. Mungkin sudah lama kau tak pernah kesini. Lalu aku putuskan untuk berjalan lagi. Kuamati setiap perjalanan barang kali aku menemukan tanda dimana kau berada. Tapi tak ada hasil.

Kali ini malam tak lagi aku tiduri, sinar rembulan pun tak lagi aku gubris. Aku tak akan pernah berhenti berjalan meski aku tak tahu harus kemana. Aku mengikuti apa kata hati, dia menyuruhku berjalan -aku maju, entah berujung atau tidak. Ketika aku diam dan tak berusaha mencarimu maka aku hanya tinggal sekumpulan kesedihan yang tak bermakna. Disetiap keadaan aku selalu menemukan ruang-ruang baru yang sepertinya kau ada didalamnya namun semua hanyalah ruang tanpa isi. Kosong.

Dalam perjalananku dimalam ke-40 aku mendengar namamu sering disebut-sebut. Kuhampiri mereka yang menyebut namamu. Ku tanyakan kepada mereka kau dimana namun mereka mengusirku. Mereka tak menjawab, mungkin karena aku berpakaian kusut dan tanpa alas kaki. Sudah tak ada lagi yang aku punya, semua habis kutukar dengan pengusir lapar. Mereka menganggap aku gila tapi aku tak peduli meski kegilaan ini adalah taruhannya. Aku berbalik arah –kau  tak mungkin ada bersama mereka. Nama yang mereka sebut tak membuat aku terkejut. Sedang mendengar namamu untuk bergerakpun aku tak mampu. Kemudian aku melanjutkan perjalanan dan meninggalkan mereka.

Aku merasa terjebak dalam keadaan dimana kau membiarkan perasaanku menyakiti diriku sendiri. Namun aku selalu berbaik sangka kepadamu bahwa mungkin ini adalah caramu menguji kesetiaanku. Disetiap perjalannan aku tak pernah henti-hentinya menyebut namamu. Aku tak pernah henti-hentinya memujimu. Aku tak pernah berhenti. Semua tentangmu selalu aku gumamkan.

Lebih dari satu setengah windu aku mengembara. Banyak rintangan yang aku lalui. Mulai dari aku hampir mati hingga aku banar-banar hidup. Tapi semua itu tak pernah sedikitpun membuat aku merasa menyesal ketika aku belum bisa menemukanmu. Aku tak pernah berhenti mencari sebelum kau benar-benar kutemukan. Kau ibarat sungai yang mengalir menjauhi laut dan aku adalah lautan itu. Sejauh manapun kau mengalir namun ujung dari semua aliranmu akan tetap kembali kepadaku. Aku semakin yakin kau akan kembali. Aku semakin yakin kau akan dapat kutemukan. Keyakinanku mengalahkan semuanya.

Perjalanan menyeretku kesebuah hutan. Lalu aku dipertemukan dengan seseorang. Ia berwajah cerah dengan cahaya yang penuh kedamaian. Ia berpostur tidak terlalu tinggi tidak juga terlalu pendek. Badannya masih sehat namun sedikit lemas, mungkin dia kelelahan. Lalu tiba-tiba dia bertanya kepadaku ”apakah kau sudah kerumahnya?” Dia seakan-akan mengerti betul isi pikiranku. Aku seperti ditelanjangi, tak ada sedikitpun dariku yang mampu aku sembunyikan. Aku merasa begitu bodoh –ceroboh, sampai kerumahmu pun aku tak sempat kepikiran. Entah, mungkin aku benar-benar sudah gila. “Berjalanlah kau kearah sana! Kau tak perlu tanya siapa aku, sebab aku adalah dirimu”, ujarnya. Sambil dia menunjuk kearah yang menuju rumahmu. Kumudian tiba-tiba dia pergi tanpa aku sempat menjawab sepatah katapun.

Aku tak berpikir panjang. Setelah mendapat petunjuk dari orang itu aku melanjutkan perjalananku. Hatiku berbunga, aku tak mampu lagi mengkiaskan kebahagiaanku untuk bertemu denganmu. Kau yang selama ini aku cari akan segera aku temui. Kau yang terbaik dan terindah dalam hidupku akan aku temukan lagi. Meski untuk menuju rumahmu membutuhkan tiga kali nyawaku –aku  tak pernah merasa sia-sia.

Setelah kulalui lagi perjalanan yang begitu panjang –hingga akhirnya aku sampai di halaman depan rumahmu. Aku mulai melambatkan kakiku untuk melangkah, setapak demi setapak aku berjalan melewati taman-taman. Aku memberanikan diri meski badanku setengah gemetaran. Pelan-pelan kuketuk pintu rumahmu, kupanggil-panggil namamu –namun kau tak kunjung membukanya. Aku pasrah, kali ini aku benar-benar merasa bukan siapa-siapa dihadapanmu, aku benar-benar merasa tak berarti dihadapanmu. Dan sesaat kemudian tiba-tiba pintu rumahmu terbuka. Jantungku mendadak berdebar kencang, kepalaku serasa ingin pecah. Aku sama sekali tak mengira ketika pintu rumahmu terbuka –kau membuka pintu dari dalam rumahku sendiri.

Tuban, 18 November 2016 (Oleh : Jawa Jendra)

  • view 449