Menantang Rasa Sakit

Jawa Jendra
Karya Jawa Jendra Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 14 Oktober 2016
Menantang Rasa Sakit

Dari kejauhan aku selalu mengamati gerak-gerik bintang yang bergerak, aku selalu mengamati kemana arah turunnya, aku selalu mengamati kapan bersinar dan meredupnya. Begitupun juga kepada dirimu. Kau selalu aku jaga keterjagaanmu, kau selalu aku kenangkan kekenanganmu, kau selalu aku semogakan apa yang hendak kau semogakan. Aku tak pernah lepas dari mengharapkanmu agar kau bahagia. Namun, itu menyakitkan. Ku genggam sendiri sakitku. Ku bawa lari sendiri api yang justru akan membuat aku terbakar. Tapi aku yakin, bahwa aku tak akan terbakar. Sebab didalamku ada cinta, dan cintaku adalah api, dan semua akan terbakar kecuali api itu sendiri.

Sejak perpisahan kala itu, mungkin kau sekarang disana hampir berusaha melupakanku. Memang kau tak pernah lupa namaku, tak pernah lupa wajahku dan semua tentang aku. Namun, dibalik itu kau mati-matian menuntut dirimu untuk lupa bagaimana rasa merindukanku. Karna memang kau sengaja menepis bayang-bayang yang ujung-ujungnya akan menyeretmu kepada kenangan. Kau terlalu tak berani manantang rasa sakit. Tapi kau harus tahu, bahwa rasa sakit itu harus dilawan bukan dielak. Ketika sekali kau mengelak, kedua kau lolos, ketiga kau menghindar, namun entah putaran keberapa kau akan berhadapan dengan rasa sakit itu lagi. Kemudian kau akan lumpuh dengan rasa sakitmu sendiri.

Didalam hidup kutantang rasa sakit hanya dengan apa yang aku lihat adalah sebagai dirimu. Apa yang aku nyanyikan adalah sebagai camahanmu. Apa yang aku cemburukan adalah semua tentang menduamu. Apa yang aku lakukan adalah sebagai pekerjaanmu. Maka waktu akan membiasakan aku dengan apa-apa tentangmu yang membuat aku merasa sakit. Waktu akan membiasakan aku untuk mengenangmu. Waktu akan membiasakan aku untuk selalu sakit hati kepadamu. Dengan keterbiasaan itu maka aku akan benar-benar menjadi manusia ‘biasa-biasa saja’  ketika aku dihadapkan dengan kenangan, dan yang tersisa hanyalah cinta - tidak lagi rasa rakit. Aku merdeka, aku bebas tapi bukan berarti aku melupakan kenangan. Semua yang aku kenang kulewati tanpa kulupakan, hingga kemudian beralih menjadi waktu yang akan mengenangku dengan sendirinya.

Jujur aku tak akan pernah ingin melupakanmu. Karna memang melupakan adalah pekerjaan orang lemah. Bagiku melupakan kenangan sama halnya dengan kita tak menghargai hidup kita sendiri. Tanpa kenangan, tanpa masalalu, tanpa kau pernah bersamaku, tanpa aku pernah bersamamu, maka kita tak akan pernah bisa benar-benar menjadi manusia yang menghargai sejarah. Sejarah bukan saja tentang peperangan. Sejarah adalah setiap rekam jejak entah itu tentang perang atau perasaan.

Aku teringat ketika sepasang matamu yang menghujan, selebihnya lenyap ditelan senyap. Kala itu kau peluk aku erat-erat. Kau berbisik ”Sayang  jangan pernah tinggalkan aku”. Kalimat itu yang selalu mengajakku kembali untuk memutar waktu. Andai saat itu aku mengerti pada akhirnya kau akan meninggalkan, maka pelukanmu tak akan pernah aku lepas. Dekapanmu tak akan pernah aku pangkas. Bisikanmu tak akan pernah aku hentikan. Aku begitu percaya akan keadaan yang didepan mataku. Aku begitu bodoh menebak masa depan. Aku terlalu polos memaknai rasa. Padahal aku tahu dunia ini tak ada yang paten. Semua akan berubah oleh waktu.

Melanjutkan perjalanan adalah jalan yang terbaik. Berbahagialah kau bersama kebiasaanmu yang baru. Bersama dia yang rela menyediakan pundaknya hanya untuk tempat kau bersandar. Dia yang rela meluangkan waktunya hanya untuk sekedar menemanimu menghitung bintang-bintang. Dia yang memberikan seluruh hidupnya untuk benar-benar ada disampingmu. Dia yang berani mengatakan bahwa kau adalah kekasihku. Tak seperti aku kala itu, aku tak berani mengatakan kau kekasihku meski aku selalu menyediakan pundakku hanya untuk tempat kau bersandar. Aku tak berani mengatakan meski aku selalu menemanimu menghitung bintang-bintang. Aku tak berani meski aku benar-benar ada disampingmu. Aku tak berani.

Kendatipun begitu bukan berarti aku tak mencintai. Aku hanya takut ketika aku mengatakan kau kekasihku - aku akan merampas hak, yaitu hak-mu untuk dicintai siapapun. Dasarku ; aku berharap kepadamu tentang kesetiaan meski cinta yang lain selalu tertuju dan berusaha masuk kedalam hatimu. Entahlah, ternyata hatimu tak sekuat yang aku kira dan akhirnya berujung seperti ini. Namun itu semua tak mampu mengalahkan keras kepalaku. Aku masih tetap mencintaimu, meski pundakku tidak lagi menjadi tempat untukmu bersandar. Aku masih tetap mencintaimu, meski waktuku tak lagi kau gunakan hanya untuk sekedar menghitung bintang-bintang. Aku masih tetap mencintaimu, meski didalam hidupku kau tak lagi benar-benar ada.

Kini aku akan memulai kebiasaan baru dengan tanpa berharap kepada siapapun. Meskipun aku hanyalah sisa-sisa dari apa yang kau camah tapi aku bukanlah lemah yang menjadikan payah. Tak apa, aku memaafkan semuanya. Dan aku akan tetap berjalan kedepan biarpun aku tahu bahwa masa depan hanyalah sebuah kekosongan. Bagiku semua menjadi ada ketika kita pernah melewati, bukan ketika kita akan melewati. Semoga didalam kisah ini kita tahu siapa diri kita masing-masing, kemudian tersenyum.

 Tuban, 10 Oktober 2016 (Oleh : Jawa Jendra)

  • view 462