PUASA DAN PENGONTROL JIWA

jauhari umar
Karya jauhari umar Kategori Agama
dipublikasikan 16 Juni 2016
PUASA DAN PENGONTROL  JIWA

Peristiwa heboh yang terjadi di Indonesia belakangan ini tentang penutupan paksa sebuah warung makan di kota Serang, Banten oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sungguh menohok dada dan menyita perhatian banyak orang. Kisah seorang ibu pemilik warung, yang usianya sudah renta terlihat ketakutan dan menahan tangisan air mata demi menahan dagangannya yang disita dan diamankan oleh petugas. Sementara itu Satpol PP dengan wajahnya yang garam tega menyita makanan dagangan milik si ibu. Anehnya, konon razia yang dilakukan oleh pemerintah kota Serang, Banten pada Jumat (10/06) ini dilakukan demi menegakkan peraturan pemerintah daerah setempat tentang “toleransi” kepada yang sedang berpuasa.
 
Warung-warung dilarang buka dan beroperasi di siang hari selama bulan Ramadhan, demi menghormati mereka yang sedang berpuasa. Bagaimana cara berfikir pemerintah daerah tersebut dengan tindakan seperti itu? Apakah dalam benak pemerintah setempat selemah itu kah iman kita? Dengan dasar dalih agama mana yang melegalkan “penindasan” demi mendapatkan kelancaran ibadah yang sifatnya antara Tuhan dengan manusia? Bukankah puasa adalah benteng untuk bisa mengontrol diri dari segala bentuk amarah?
Entahlah, mungkin pemerintah sedang khilaf. Bagi kita yang masih sadar maka mengingatkannya adalah jalan utama. Jangan hanya menghujat melalui media sosial tanpa memberikan titik jelas solusinya.
 
Indonesia, Negara Moderat
 
Entah angin apa yang membawa prinsip Indonesia sebagai negara “toleran” dan “moderat”, sampai tega salah satu pemerintah daerah yang ada di dalamnya melaksanakan penertiban tersebut yang telah banyak mendapat kecaman dari banyak pihak, bukankah di sisi lain justru itu merupakan sebuah tindakan penindasan?
 
Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Sekitar 80% rakyatnya adalah beragama Islam. Maka tak elok rasanya sebuah mayoritas mengganggu hak minoritas. Justru sebaliknya mayoritaslah yang harus “peduli” dengan minoritas. Razia dan penutupan paksa warung di siang hari selama bulan Ramadan dengan dalih menegakkan prinsip “toleransi” kepada yang sedang berpuasa termasuk bentuk penindasan secara kasat mata terhadap minoritas. Toleransi bagian manakah yang bisa dibenarkan jika melakukan tindakan sepihak?
 
Seharusnya pemerintah justru membiarkan warung-warung makan tetap buka di siang Ramadan dengan ketentuan dan syarat berlaku. Seperti misalnya warung yang buka pada siang hari maka tak boleh mengumbar diri. Dengan dibukanya warung-warung makan di siang hari jutru ini menjadi ajang “ujian” bagi umat. Dan itu akan menjadi penilaian bagi mereka. Manakah yang Islam gadungan dan manakah yang Islam orisinil. Jika nilai-nilai kemoderatan bisa berjalan dan bersinergi maka sungguh layak sekali Inonesia mendapat predikat negara “moderat”. Namun jika perkara-perkara kecil saja masih menjadi perdebatan dan sumber keributan. Moderatkah kita?
 
Puasa adalah tameng
 
Setelah melihat fenomena di atas yang terjadi di bulan Ramadan dan tentu saja pelakunya adalah orang Islam yang sedang berpuasa kita seharusnya bertanya-tanya. Benarkah kita berpuasa? Arogansi aparat dengan tatapan garamnya saat merampas dagangan seorang ibu pemilik warung seharusnya menjadi bahan perenungan kita. Apalagi jika kita mengingat bahwa dagangan ibu yang dirampasnya adalah mata pencaharian satu-satunya, dan mereka (para petugas) berhasil merampasnya. Masih beranikah kita mengatakan “Kami sedang bepuasa”?
 
Rasulullah adalah sosok panutan semua manusia. Bukan hanya umat Islam saja melainkan seluruh umat manusia di dunia. Bahkan Michael Heart dalam bukunya “100 A Ranking of The Most Influential Persons in History” -sebuah buku yang membahas seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia- menempatkan Nabi Muhammad, nabinya orang Islam dalam urutan pertama. 
 
Dalam sebuah hadis nabi -yang pernah dikutip oleh Mas Fahd dan saya terinspirasi dari tulisan dan ide-ide segarnya-dikatakan Asshiyaamu junnatun, puasa adalah perisai atau tameng.
 
Bukan pedang dan bukan pula senapan. Pergunakan perisai untuk menahan diri bukan menyerang orang lain. Jika kita melihat orang lain yang tidak berpuasa, maka gunakan “perisai” itu dan katakan pada diri kita sendiri “Sungguh saya sedang berpuasa”. 
 
Puasa adalah perisai kita menahan hawa nafsu, menjaga kita agar tidak bertindak semena-mena. Maka jika kita meliaht dunia luar sana begitu menggoda dan saat ada orang lain memancing amarah kita -sekali lagi- gunakan perisai itu dan katakan “Sungguh saya sedang berpuasa”. Begitulah puasa, efeknya begitu terasa sehingga api amarah dan derasnya hawa nafsu dalam dada bisa mereda. Maka jika kita masih saja ada yang “ribut” di bulan puasa mari kita bertanya “Masihkah kita berpuasa”? []

  • view 73