Untuk Kamu Yang Menjadikan Aku Sebagai Pelarian

Jasmine Eksugi
Karya Jasmine Eksugi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 September 2016
Untuk Kamu Yang Menjadikan Aku Sebagai Pelarian

Saat itu kamu datang dan memilih duduk tepat disampingku. Kamu bukan orang asing . Karena setahun sebelumnya kita pernah bertemu. Aku masih ingat dengan jelas saat engkau menatap mataku. Ada cahaya yang aku mengingkarinya. Karena pasti tidak mungkin.

Seminggu kemudian kamu datang kembali. Mengetuk pintu ruangan kerjaku. Menyerahkan dokumen tentangmu. Dokumen itu terlalu lengkap. Berisi data personal yang tidak aku butuhkan. Untuk alasan sopan santun aku menerimanya.

Kamu membuatku kagum. Masih ingat detail yang aku ucapkan setahun yang lalu. Dimana tempat tinggalku. Dan segala tentang aku. Sebelum pamit, dengan wajah memerah kamu meminta nomerku.

Entah darimana percakapan itu berlanjut. Obrolan kita dipenuhi dengan Icon di WhatsApp. Engkau mulai memberikan aku hadiah. Buku. Karena hanya benda itu yang aku suka. Tidak hanya satu, dua atau tiga. Tapi sepuluh buku. Dan tiga buku terakhir yang membuatku bertanya.

Kamu memujiku "cantik". Bohong jika aku tidak luluh dan lantas bertanya ada apa sebenarnya diantara kita. Hatiku bukan batu. Dan pujianmu telah masuk ke hatiku. Menempati ruang dalam labirin hatiku.

Saat ulang tahunmu, aku ingin membalas semua perhatian darimu. Saat itu aku sudah ingin mundur. Karena takut terlalu jauh. Tapi kamu  sudah sangat baik. Jadi mungkin hadiah ini yang terakhir. Aku mengeluarkan cat air dan kuas. Membuat lukisan khusus untukmu. Mengerjakan selama beberapa hari. Hingga larut malam. Sesekali kamu bergurau apakah perlu membawa "kembang setaman" untukku. Aku terdiam tidak memahami maknanya.

Hatiku didera gelisah, tujuh bulan telah berlalu. Kedekatan yang terjadi tidak jelas. Aku tidak ingin larut. Walaupun tidak bisa dibantah. Ada rasa yang tumbuh disana. Aku berdoa dalam tangisan. Berkali-kali meyakinkan diri bahwa aku bisa melewatinya. Malam itu. Awal Januari. Hampir pukul sembilan malam. Kuberanikan diri untuk menelponmu. Dengan kalimat halus nan tegas aku bertanya padamu. Jelas ada keraguan yang tersembunyi disana.

"Sebenarnya diantara kita ada apa?"

Dengan penuh pujian akan diriku. Kekaguman karena mengenalku.  Disertai senyum dari ujung telpon, engkau dengan mantap mengatakan

"kita teman kita sahabat"

Malam itu semuanya usai. Aku masih binggung mencerna semuanya. Namun sejak saat itu aku memutuskan semua komunikasi. Beberapa kali aku menghubungimu. Dengan sangat terpaksa. Semua kulakukan atas nama profesionalitas. Kita adalah partner . Bekerja dalam satu tim.

Kamu datang lagi ke kantorku. Mengetuk pintu ruanganku. Masuk dengan senyum seperti biasanya. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan mengajakku makan siang. Kamu membuka pintu restoran, memilihkan tempat yang nyaman untukku. Memesan menu favorit. Dalam perjalanan kembali ke kantor, tiga buku kamu hadiahkan untukku. Buku yang kamu berikan rating bintang lima.

Aku membaca buku itu dengan perlahan. Halaman demi halaman. Hingga aku mengirimkan pesan di WhatsApp. Mengutarakan pendapat tentang buku itu. Aku telah berusaha memilih kata-kata terbaik. Namun jawabanmu dingin. Hanya satu kata, yaitu "omong kosong ". Hari itu aku mengetahui sisi lain darimu.

Setelah makan siang itu, dirimu menghilang. Aku tidak mencari berita tentang dirimu. Hingga kabar itu sampai di telingaku. Kamu menikah. Tidak satupun rekan pengajar di kampus yang kamu undang. Tapi mahasiswamu yang tahu kamu sedang melangsungkan pernikahan.

Kamu bisa bayangkan hatiku saat itu? Tujuh bulan dalam kebimbangan. Masuk dalam permainanmu. Terperangkap disana. Kamu telah lama dijodohkan. Dan kamu tahu tidak mungkin lari dalam perjodohan itu. Harusnya kamu tidak melibatkan aku dalam hidupmu. Semua tidak adil bagiku. Kamu tidak tahu terlukanya aku. Bohong saat itu aku tidak berharap padamu. Aku yang bodoh dan polos. Dan kamu memanfaatkan aku. Menjadikan aku dalam pelarian. Sikapmu sendiri yang tidak tegas. Kamu yang menerima dijodohkan. Tapi tidak bertanggung jawab menjaga sikapmu.  Kamu bermain api. Menjadikan aku sebagai pelarian...

Kupeluk Alquran. Air mataku tumpah. Sulit membendungnya. Napasku semakin berat. Susah payah aku mengaturnya. Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku memilih Allah, bukan kamu. Tiga buku itu tidak jauh dari Aquranku. Buku yang berisi tentang pura dan dewa-dewa.

  • view 713