Melibatkan Emosi Dalam Menulis

Jasmine Eksugi
Karya Jasmine Eksugi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Agustus 2016
Melibatkan Emosi Dalam Menulis

Melibatkan emosi dalam menulis adalah tantangan besar. Apalagi menulisnya dalam bentuk cerpen. Buat saya masih sulit. Tapi masa mau menyerah begitu saja.

Kelemahan saya dalam menulis fiksi adalah jika ide tidak berasal dari pengalaman pribadi. Entah kenapa kurang bisa mengali emosi. Tapi bukan berarti saya selalu masuk dalam cerita dan menjadi tokoh utama.

Ketika ada pengalaman pribadi yang mengena. Rasanya jadi sensi banget. Ingin menangis, marah atau malah mengharu biru. Nah bagian dari emosi itu yang lantas saya tangkap. Menuliskan menjadi cerpen. Dalam membuatnya tiba-tiba mengalir.

Namun kelemahan lain adalah masih belum bisa mengali lagi. Misalnya menjadi cerita yang lebih panjang. Tapi saya harus memberikan kesempatan untuk belajar. Kalau memang cerpen yang dihasilkan hanya 300 kata atau kurang ya sudah. Step by Step. Semua ada waktunya sampai pada kualitas yang baik.

Saya memotivasi diri untuk menulis setiap hari. Apapun itu. Baik dalam bentuk catatan harian atau format yang lain. Khusus untuk menulis cerpen saya melatih untuk lebih peka atau sensitif terhadap sesuatu. Bisa lebih peka terhadap yang saya lihat, dengar atau rasakan. Karena yang ingin saya gali adalah emosi.

Sering kali saya iri pada penulis yang dapat menulis cerpen dengan bahasa yang begitu mengalir. Memainkan alur dengan indah. Tidak mudah ditebak. Atau malah menyisipkan kejutan. Membuat yang membaca jadi makin penasaran. Sekalipun cerpen, tapi setelah selesai membaca ada yang membekas di hati.

Aduh, mau sekali bisa pada tahapan itu. Tapi harus sabar. Kalau ada yang sudah jago menulis cerpen, kasih tips dong...

  • view 374