Menjadi Orang Nomer Dua

Jasmine Eksugi
Karya Jasmine Eksugi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Agustus 2016
Menjadi Orang Nomer Dua

Menjadi orang nomer dua? Tenang jangan berpikir negatif dulu. Catatan harian ini bukan tentang perselingkuhan. Kali ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman kerja.

Saya adalah junior di tempat kerja. Selalu di- nomer dua-kan . Dulu sebagai anak baru tentu kemampuan kerja saya dianggap sebelah mata. Apalagi tidak ada training. Singkat cerita learning by doing.

Tiga bulan pertama penuh dengan komplain. Semua saya telan dengan senyuman. Maksud saya senyum getir. Di bulan keempat keadaan berubah. Saya telah memahami alur dan ritme kerja. Klien yang awalnya komplain sekarang jadi teman baik.

Kalau begitu sudah selesai dong. Happy ending gitu ? Hmmm, justru babak baru dimulai. Atasan di tempat kerja, jarang ada di kantor. Malah cenderung tidak mengontrol kerja karyawan. Pokoknya tahu beres. Pokoknya harus selesai. Pokoknya adem ayem. Dan segala macam pokoknya.

Atasan tidak pernah tahu suasana kerja yang tidak sehat. Hasil kerja saya lambat laun membuat karyawan lain iri. Menghadapi gosip di kantor bukan masalah.Cukup dengan sikap cuek. Namun hal itu tidak cukup. Hingga suatu hari saya di fitnah.

Tiba-tiba atasan menelepon. Saya kena marah. Peringatan pertama. Plus sms yang panjang dengan bahasa yang keras. Saya hanya terdiam. Rival saya adalah anak emas. Tentu atasan akan lebih mempercayainya.

Fitnah tersebut tidak benar. Tapi saya tidak punya kekuatan apa-apa. Bagaimana saya harus membela diri ? Saya minta keadilan. Bahwa selama ini saya yang terdzolimi.

Dalam diam dan kesedihan yang amat sangat. Saya mendirikan sholat hajat. Doa panjang dengan deraian air mata. Saya memohon keadilan. Sungguh Allah Maha Tahu. Maha Menepati Janji.

Tidak lama berselang sikap atasan saya mendadak ramah. Facebook saya di add. Belum lagi saya diberi tugas lain yang lebih penting. Menyangkut rahasia perusahaan. Saya hanya bengong. Dan tentu saja karyawan lain semakin iri.

Dunia kerja selalu penuh dengan intrik. Dimanapun akan selalu ada hal yang serupa. Selama kita memegang amanah dan sadar bahwa Allah selalu mengawasi, Insha Allah akan berada di jalan yang diberkahi. Ada yang punya pengalaman serupa?

 

 

  • view 170