Kegalauan yang Seharusnya

Fajar Sidik
Karya Fajar Sidik Kategori Renungan
dipublikasikan 10 September 2017
Kegalauan  yang Seharusnya

Manusia adalah makhluk yang selalu diiringi masalah. Bahkan sejak manusia pertama diciptakan pun masalah sudah mengiringi. Adam diciptakan  sendiri, masalahnya adalah  kesepian. Hingga datanglah hawa, masalah baru muncul. Konon katanya yang mendorong Adam untuk senantiasa memetik buah larangan, selain dari godaan setan ternyata ada pula dorongan dari hawa. Dipetiklah buah itu, maka Adam dihukum dan diturunkan ke bumi. Adam dan Hawa berada di bumi dalam keadaan telanjang dan keduanya terpisah, masalah. Adam bertemu dengan Hawa, memiliki keturunan, masalah baru pun muncul. Singkat cerita anaknya bertindak kriminal karena iri, masalah. Maka masalah itu akan terus ada.

Tak sedikit masalah-masalah yang datang membuat manusia gundah. Khususnya bagi para pemuda, biasanya soal asmara menjadi masalah yang umum terjadi. Wajar saja karena gejolak cinta memang sangat menggebu-gebu di usia yang sedang ku alami ini. Sehingga kata galau selalu lekat pada masalah asmara pada pemuda.

Namun, tidak demikian bagi pemuda penakluk konstantinopel. Bukan masalah asmara yang membuatnya galau. Tapi lebih besar dari itu, kegalauannya ditujukan pada cara untuk menaklukan kota terindah di dunia pada saat itu. Maka setiap waktu dalam hidupnya digunakan untuk hal-hal yang akan menjadikan dirinya menjadi pemuda terbaik. Sehingga berhasil membentuk pasukan terbaik yang mampu menaklukan Konstantnopel.

Bagaiman dengan hari ini?

Tak sedikit linimasa dipenuhi dengan kegalauan asmara para pemuda. Bahkan “kutipan-kutipan asmara” menjadi yang paling banyak disukai. Maka banyak dari waktunya dihabiskan untuk hal-hal yang dapat menghapuskan kegalauan asmaranya. Bukan hal itu tidak penting, memang fitrah manusia memiliki rasa cinta. Namun ada hal yang lebih besar, yang seharusnya menjadi kegalauan pemuda. Membangun umat yang beradab.

Mengapa harus pemuda yang membangun umat?

Karena pemuda adalah fase kuat manusia yang diapit dua kelemahan -bayi dan tua-. Maka sepantasnya fase terkuat manusia ini mampu membangun umat yang beradab. Bahkan sepuluh pemuda saja akan menggoncangkan dunia, kata Bapak Proklamasi. Jika mengutip kata-kata dari Ust. Budi Ashari bahwasannya pemuda itu bagaikan gemercik air, Namun ketika para pemuda dikumpulkan maka akan seperti Tsunami dapat meluluhlantahkan suatu negeri.

Untuk dapat memikirkan kegalauan membangun umat. Semestinya pemuda harus segera menyelesaikan kegalauan-kegalauan pribadinya. Karena, bagaimana mau memikirkan kegalauan membangun umat, sedangkan dirinya masih dilingkupi kegalauan pribadi.

#GenerasiZ

  • view 43