Antara Kau, Aku, dan Botol Susu

Jannatun Mawaddah
Karya Jannatun Mawaddah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Antara Kau, Aku, dan Botol Susu

Adzan shubuh adalah suara pertama yang didengarnya setelah berhasil keluar dari tempatnya "tidur" selama sembilan bulan. Perjuangan antara hidup dan mati selama 2 hari 2 malam itu bagai terbayar lunas ketika lantang jerit tangisnya terdengar begitu tubuh mungilnya diangkat ke arahku. Allahuakbar... Maha Besar engkau ya Rabb... Sebuah kehidupan bersemayam dalam rahimku, menjadi bagian dari diriku, dan inilah pertemuan pertama kami. Alhamdulillah. I'm in love at the first sight. She is gorgeous.

 Hhhmmmm... teringat kembali pada beberapa pertanyaan yang sepertinya sudah menjadi tradisi untuk dipertanyakan bagi seseorang yang sudah beranjak dewasa. Ketika masih kuliah kita akan ditanyai, kapan kita akan lulus. Setelah kita lulus orang-orang akan bertanya tentang pekerjaan kita. Ketika kita sudah bekerja mereka masih akan terus mencecar dengan pertanyaan tentang kapan kita akan menikah. Setelah menikah orang-orang ini pun masih ingin tahu kapan kita akan punya anak. Aku sudah melewati semua tradisi itu. Alhamdulillah... Ku pikir akan berhenti di situ, ternyata...

"Anaknya dikasih ASI eksklusif kan?"

Deg... deg... deg...

"Kasih ASI, paling bagus itu untuk bayi"

Degdeg... degdeg... degdeg...

"Kenapa bukan ASI? Kasihan anakmu kalau minum susu formula"

Degdegdegdegdegdegdeg... Dan tanpa mereka sadari, mataku mulai berkaca-kaca. 

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu ternyata lebih menyakitkan.

Aku adalah seorang ibu. Aku juga tahu apa yang terbaik untuk anakku. Aku tahu apa yang seharusnya aku berikan untuknya. ASI. Tak ada yang bisa menyangkal itu. Hanya saja, aku termasuk yang diuji untuk tak bisa memberikan keekslusifan itu. Apakah aku sudah cukup berusaha? Sudah. Percayalah. Malah pertanyaan-pertanyaan semacam itu sungguh menyakitkan buatku. 

Anakku, putri kecilku, dia harus dipisahkan denganku pada hari kedua setelah kelahirannya. Dia demam tinggi, badannya menguning akibat kekurangan cairan. ASI ku belum cukup untuknya. Dia harus dirawat di ruang khusus, sendiri, tanpa aku disampingnya. Itulah perkenalan pertamanya dengan botol susu. 

Masih hangat dalam ingatanku ketika aku harus pulang ke rumah tanpa dia dalam gendonganku. Tak banyak kata, aku diam saja, terlalu sesak untuk bicara. Di tengah malam, ku ambil pompa khusus ASI, aku mencoba memompa ASIku, katanya, itu bagus untuk merangsang keluarnya ASI. Aku melakukannya sejam, kurang lebih. Hasilnya... tak lebih dari 10 ml. Jangan tanya betapa terlukanya... Pagi harinya, sebelum berangkat menemui putriku, aku kembali mencoba, memompa, hasilnya masih sama. "Nak, sudahlah, jangan dipaksa, mungkin memang tidak ada". Ternyata Ibuku sudah sedari tadi berdiri di belakangku, memperhatikan bagaimana aku memaksa memompa ASI yang keluarnya tak lebih banyak dari setetes embun. Aku berhenti, menarik napas. Tangisku pecah saat tangan hangat ibuku mengelus lembut kepalaku. "Nak, banyak ko' anak-anak lain yang juga tidak minum ASI, hanya susu formula dan mereka baik-baik saja, sehat. Jangan paksakan lagi, nanti kamu juga sakit, ingat anakmu". Nasihat dan pelukannya membuatku lebih tenang. Baiklah... Mungkin putriku memang tak bisa ASI. Ya Rabb, jika ini sudah menjadi ketentuanMu maka aku pasrahkan sehat dan sakitnya putriku padaMu. Engkaulah yang Maha Mengetahui.

Dua hari dirawat, aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaanku ketika akhirnya dia diizinkan pulang. Alhamdulillah...

Kira-kira dua minggu setelah dia kembali ke rumah, aku memutuskan untuk menghentikan pemberian susu formulanya. Aku bertekad untuk memberinya ASI eksklusif. Semua saran yang diberikan kulakukan demi memberikan apa yang seharusnya kuberikan kepada putriku. Pijat Laktasi, pijat Oksitosin, meminum ekstrak daun katuk, memakan kacang-kacangan, dsb. telah menjadi rutinitas ku. Aku merasa bahwa dengan itu ASIku sudah cukup untuk putriku. Hasilnya... Putri kecilku sering rewel. Diapun tak PUP sampai 4 hari. Ketika kami ke dokter, dokter mengatakan bahwa itu hal yang wajar. ASI kemungkinan terserap sempurna olehnya. Seminggu lebih, dia tak juga PUP, aku kembali membawanya ke dokter. Tak ada keanehan yang ditemukan dokter padanya. Tak perlu ada yang dikhawatirkan. Lagipula, sebuah artikel dari curhatan seorang ibu mengatakan bahwa putrinya juga pernah tidak PUP sampai 12 hari lamanya. Aku kembali tenang. Namun ketika lebih dari tiga minggu dia masih belum PUP juga, ada yang tidak beres. Putriku kembali dibawa ke dokter. Di usianya yang beranjak 1 bulan, berat badannya hanya 2,6 kg. Mengapa tidak ku sadari dari awal bahwa bobot tubuh putriku semakin hari semakin berkurang? Bodohnya aku. Yah, ini sudah pasti ada yang salah. Kali ini bukan dia yang diperiksa, tapi aku. Hasilnya... masalahnya ada padaku... ASIku kurang. Berat badan putriku sudah hampir mendekati garis merah, kurang gizi, jika tak secepatnya diberi tindakan dia bisa saja dehidrasi. Tak ada pilihan lain, dia harus diberi susu formula. Aku tidak akan lagi berjudi dengan keadaan putriku. Sebulan ASI eksklusif, cukup sudah. Jangan lagi mencermahiku tentang pentingnya ASI karena aku tahu, benar-benar tahu. Jangan menudingku kurang berusaha, kau tidak bisa merasakan sakitnya beberapa bagian tubuhmu dipijati bergantian, dikompres, dijejali makanan yang sebelumnya asing. Jangan memberitahuku bagaimana memompa ASI yang benar, kau tidak tahu rasanya ketika botol ASIP yang sudah kau persiapkan jauh-jauh hari sebelumnya takkan bisa kau pakai. Tolong mengerti. 

Putriku... seperti kalian, dia tahu bahwa yang terbaik untuknya adalah ASI. Dia menolak meminum susu dari botol susunya. Sudah tiga botol susu yang ditolaknya. Dia ingin ASI. Tangisnya meraung dari pagi ketemu pagi. Bukan hanya berjuang untuk tetap memberinya ASI meskipun tidak lagi ekslusif, aku masih mencoba. Perjuanganku yang lain adalah memberinya pengertian untuk menyusu dari botol susunya.  Dia begitu bersemangat ketika aku menariknya dalam dekapanku, mungkin mengira aku akan menyusuinya, namun ketika dot lah yang terasa di lidahnya dia akan menangis sejadi-jadinya. Bagi seorang ibu, adakah yang lebih memilukan dari itu?

Pernah suatu hari, di suatu sore, dia menangis sejam lebih. Aku berusaha menyusuinya, namun mungkin ASIku tidak keluar waktu itu karena sedang kosong setelah dia menyusu dua jam lebih di siang harinya. Dia menangis sampai wajahnya memerah dan badannya menegang, aku mencoba menawarkan botol susunya namun tangisnya semakin pecah. Aku menggendongnya, mengayun-ayunnya, bersenandung untuknya tapi tangisnya tak juga reda. Aku berbisik padanya, berusaha membujuknya untuk meminum susunya dari botol susu, berharap bahwa dia akan mengerti. Tangisnya justru semakin menjadi. Aku menangis, menyesali diri, tanpa bisa ku kendalikan, emosiku bertindak, kulemparkan botol susu yang berada dalam genggamanku itu, isinya muncrat, membasahi karpet dan dinding. Botol susu itu tergeletak di lantai beberapa meter dari kakiku. Aku teringat akan putriku yang masih dalam gendonganku. Astaghfirullah... Aku meminta maaf padanya, mengecupnya beberapa kali. "Maafkan Mama yang tidak sabar, Nak". Ya Rabb, bantu aku menenangkan putriku. Akhirnya lantunan surah-surah pendek meluncur dari bibirku, tangis putriku perlahan-lahan mereda sampai akhirnya dia pun tertidur. 

Yah... sampai saat ini aku masih berusaha, berusaha agar ASI ku tetap mengalir walaupun tak sederas milik kalian. Yah... aku juga harus berkompromi dengan botol susu putriku, berteman dengannya agar putriku mau meminum susu darinya. 

"Apa kabar botol susu?"

-I love you, Aisyah-

 

  • view 222