ENDO-MARET

Janan Febrianto
Karya Janan Febrianto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Agustus 2017
ENDO-MARET

ENDO-MARET

Hampir setengah jam ia memandangi layar laptop. Pikirannya buntu. Beberapa kali Darmin mencoba menulis status, sebanyak itu pula ia menghapusnya, ia ragu. Tiga pekan lamanya ia tak menjamah dinding facebook. Sejak ia merasa mengidap penyakit yang mematikan. Penyakit dari hasil diagnosanya sendiri. Virus “copy paste” jawab Darmin saat ditanya beberapa rekannya.
Sebulan yang lalu darmin merasa aneh dengan aktivitasnya di dunia maya. Ia merasa dirinya telah sirna dan menjadi maya. Apa yang ia tulis dan yang ia bagikan melalui facebook selama ini tidak berasal dari dirinya. Lalu ia mengecek aktivitasnya di Facebook. Discrolnya terus ke bawah. Hanya puisi dengan judul “getar” sebagai satu-satunya status tahun itu yang menurutnya original. Puisi yang ia tulis sesaat setelah diputus kekasihnya, Risa. Ia masih ingat, betapa ajakan menikahnya dibalas dengan satu kalimat yang menyayat hati dari bibir tipis Risa.

“Risa, kita sudah lama pacaran bagaimana kalau kita menikah…?” Tanya Darmin “sekarang aku sudah punya kerjaan tetap” Imbuhnya

“Nikah sama karyawan Endo-Maret kayak Kamu….,iih..Ogah.” jawab Risa ketus

Darmin sungguh tak menyangka, Risa yang ia kenal ternyata sesadis itu. Setelah itu Risa hilang bagai hantu. Hingga saat ini. Saat dimana kursor telah berkedip terlalu lama menunggu status terbaru Darmin.

Oleh teman-temannya di dunia maya, status-status Darminlah yang paling sering dinanti. Statusnya kadang memberi pencerahan bagi yang lain. Daya kritisnya mengalir, tak jarang komentarnya kadang mampu menjadi solusi bagi persoalan yang sedang diperdebatkan. Setidaknya itu setahun yang lalu, sebelum ia mengidap penyakit akut itu. Saking akutnya, ia punya kejadian yang sangat memalukan di facebook. Ia pernah copy paste sebuah komentar, tentang berita kematian. Saat itu Pak Wage, kepala desa, yang memposting berita itu. Sebagai pemuda yang juga aktivis kampung, Ia merasa terpanggil untuk ikut mengomentari status Pak Kades. Mengucapkan rasa belasungkawa demi menjaga eksistensinya di dunia maya dan di kampung sekaligus. Tak mau ambil pusing, ia hanya mengcopy komentar sebelumnya. Mudah, cepat dan praktis dilakukan jaman teknologi seperti ini bukan? Komentarnya ditanggapi Toni, rival abadinya di kampung, sejak keduanya masih punya ingus untuk dilap dengan bajunya masing-masing.

“Maaf Mas Darmin, yang meninggal itu keponakan Pak Kades yang di Jakarta, karena kecelakaan”.

Dengan kening berkerut ia baca ulang berita, juga satu persatu komentar. Penjelasan Toni benar adanya. Ia kurang teliti saat membaca berita, yang ia copy memang komentar yang kebetulan salah entah milik siapa, yang jelas orang asing dan bukan pegiat desa. Mampus. Betapa terkejut Darmin. Segera ia meralat komentar dan tak lupa menanggung malu. Seminggu setelah itu ia tak memunculkan batang hidungnya dalam kegiatan-kegiatan desa.

Terlalu sering ia copy paste sebuah berita kini berbuah pahit. Otaknya macet. Status-status yang kritis pun telah tertimbun, tertutupi kebodohan yang semakin tebal dan bertumpuk.

Selain per-facebook-an, Darmin juga merasa geli bila mengingat kembali aktivitasnya di WhatsApp. Virus copy paste menjalar begitu hebat. Di antara sekian kebodohan, baginya, kebodohan yang terlalu ialah saat ia membagikan berita donor darah yang ia dapat dari group lalu ia bagikan ke grup yang lain di smartphonnya.

TOLONG SEBARKAN:

DIBUTUHKAN SEGERA!!

GOLONGAN DARAH B. UNTUK KORBAN KECELAKAAN A.N. VINA VIANSARI (20TH), DAN HARUS DIOPERASI. SEKARANG DI RS. WATU RINGIN.

Waktu itu, tanpa berpikir panjang, Darmin langsung membagikan berita itu. Barangkali dengan cepat-cepat ia menyebarkannya akan membantu korban mendapatkan pendonor yang tepat. Minimal telah berbuat baik. Begitu pikirnya. Setidaknya ada 4 group WhatsApp yang ia bagi. Group Alumni, kerjaan, karang taruna serta group organisasi mahasiswa. Dari group “Alumni Sukses” postingannya ditanggapi Karno. Karno menanyakan dari mana ia mendapatkan berita itu.

“Ini berita setahun yang lalu. Vina Viansari sepupu ku, kecelakaannya terjadi saat ia masih SMA kelas 3 dan sekarang ia sudah kuliah di kampus kita dulu. Anaknya sekarang sangat sehat. Gemuk malah”. Begitu penjelasan Karno.

Dan tak ada kata lain bagi Darmin selain maaf dan terimakasih untuk klarifikasinya sebagai balasan. Niat berbuat baik, tapi hanya malu yang ia dapat. Dari sini pula puasa WhatsApp darmin dimulai. Menghubunginya tak lagi semudah dulu. Jika ada surat penting kirimlah melalui e-mail. Klau ingin berdiskusi dengan Darmin, lewat Facebook yakin dilayani. Untuk keperluan darurat telpon saja. Jangan pernah berfikir menghubunginya lewat SMS atau WhatsApp tak akan di baca, tak akan dibalas. Begitu peraturannya. Di facebook pun sekarang ia sangat selektif memilih berita. Dan, ini yang paling penting: kini, ia hanya menulis status dan mengomentari sesuatu di facebook melalui laptopnya.

Seperti sekarang, saat kursor telah berkedip terlalu lama, menunggu apa yang akan ia tulis.   

Dengan duduk bersila di pojok dalam toko, Darmin masih belum bisa menulis apa-apa. Kadang melihat pengunjung yang keluar masuk ke toko itu. Pengunjungnya beragam. Kalau malam begini, kebanyakan toko itu di kunjungi bapak-bapak, yang mencari rokok sekadar menghabiskan malam. Maklum, toko ini memang satu-satunya toko di desa yang buka 24 jam. Tak jarang pengunjungnya datang dari desa lain yang jaraknya lumayan jauh. Sesekali, pandangan matanya ia alihkan pada kasir yang cantik itu. Toko ini juga terkenal karena wajah-wajah kasirnya yang jelita. Selain karena keterpaksaan, kasir-kasir cantik yang setiap hari Darmin jumpai itulah yang mampu menjaga semangatnya menjalani semua ini. Memandanginya adalah hiburan mahal di tengah rutinitas yang membosankan. Malam itu, meski di luar jam kerja Darmin terpaksa keluar. Atasannya menelepon. Katanya ada bagian IT toko nya yang tidak jalan, entah apa itu. Setelah semuanya beres diperbaiki, ia masih duduk bersila dengan laptop di pangkuannya. Matanya terasa berat, ia terkantuk lalu tertidur.

Diam-diam kasirnya balik memandang Darmin.  

***

Malam itu, menjadi malam yang cukup panjang bagi beberapa pemuda Karangtaruna Kuncup Mekar. Semuanya hadir kecuali sekertaris yang memang sudah ijin pada ketua sebab ada kerjaan. Rapat kali ini cukup alot, bahkan hingga dini hari belum ada keputusan. Perdebatan sengit yang terjadi, membelah Karang Taruna Kuncup Mekar menjadi dua kubu yang saling berseberangan. Kedua kubu sedang bersitegang.

“Sebaiknya kita tak usah ikut aksi. Yang penting, masalah yang menyeret Kepala Desa ini sedang didalami. Kita ikuti saja prosesnya. Dan tunggu hasilnya”. Karman memecah keheningan.

“Betul kata Pak Ketua kita” timpal Rado

“Ahhh… sudahlah, mending kita ikut gabung saja dengan beberapa RT yang sudah bersedia turun” jawab Toni berang, “Toh,,Kita tak bisa menjamin persoalan ini akan kelar melalui jalur resmi”

“Ya,,tapi kan seperti ini lho mas Toni…..

Belum selesai Rado berdapat, Toni memotongnya “Eh…berapa kali kasus desa kita yang menguap kalau di tangani aparat. Lha wong aparat saja dapet jatah kok..gimana mau mberesin!!”

“Iya, Aku sependapat dengan mas Toni. Masalah ini tidak bisa dibiarkan menguap lagi. Jangan mau kita dibodohi lagi. Kasus dana BOS SD Kali Urip, Koperasi Suka Maju dan proyek perbaikan jalan di RT 7 kita kecolongan, jangankan keputusan, mungkin berkas kasusnya pun entah di mana sekarang” Eko menanggapi, sambil menjejalkan rokoknya pada mulut asbak.

Suara Eko mengheningkan kembali suasana rapat. Semuanya diam. Pada rapat-rapat sebelumnya Eko jarang berpendapat, ia memang di kenal pendiam. Ialah yang rajin menjadi penengah ketika rapat mulai bersitegang. Tapi kali ini, di rapat yang berjalan cukup panas, Eko tak lagi berada di tengah. Ia memilih sikap. Eko memang paling tua diantara semua anggota Kuncup Mekar. Pendapatnya tak lebih dari sebuah nasehat. Dialah anggota yang paling disegani oleh anggota yang lain. Sebelum diketuai oleh Karman, Ekolah yang menjadi juru mudi terlama Karangtaruna Kuncup Mekar dengan segudang prestasi. Ditangannya, Karangtaruna Kuncup Mekar tak hanya dielu-elukan oleh kepala desa tetapi juga oleh Camat Watu Ringin. Tak sedikit warga yang meyakini, bahwa di masa Eko lah karangtaruna itu mencapai puncak kejayaannya. Kini, di ruang rapat balai desa dengan lampu yang tak begitu terang, pendapatnya menjadi beban bagi Karman untuk memutuskan.

“Baiklah, sepertinya saya belum bisa memutuskan untuk hal ini. Dan kemungkinan akan tetap ada dua kubu. Apa ada yang punya saran lain lagi…sebagai jalan tengah?” Karman kembali mencoba memecah keheningan.

Sambil menguap Eko mengangkat tangan, “Saran saya begini Pak Ketua, sebaiknya rapat ini diperluas, melibatkan seluruh anggota divisi, karena kita belum mampu menemukan kata sepakat..demikian Pak Ketua”

Forum pun menyetujui usulan si sesepuh, dan rapat dipending tiga hari untuk mendengarkan hasil dari masing-masing divisi. Satu persatu meninggalkan ruang rapat. Tinggal Karman dan Rado yang masih sibuk beres-beres, membersihkan cangkir-cangkir dari ampas kopi yang telah mengering. Karman terpaksa pulang paling akhir, karna sekretaris tidak datang, ia membantu Rado untuk membuat laporan rapat.

“Jangan lupa Do… Pak Sekretaris dikirimi laporan lewat e-mail ya, jangan WA ntar gak di baca…!”

Rado tersenyum, sambil mengacungkan jempolnya. Ia hafal kebiasaan Sekretaris. Usai rapat, ruang-ruang kosong balai desa kembali dipenuhi hawa dingin diiringi kokok ayam siap menyambut matahari pagi.

 

***

 “Mas…mas…”

Laptop yang dipangkunya jatuh perlahan, ia terkejut saat dibangunkan oleh kasir cantik.

“Hoaaa…aammmm…jam berapa ini..?”

“Jam tiga pagi, sekitar setengah jam, Mas Darmin tertidur di sini, sepertinya capek banget ya..?”

“Ya…beitulah, terimakasih ya sudah dibangunin….”

Tanpa menjawab, kasir itu bergegas berjalan memunggungi Darmin menuju ke tempatnya. Ada pembeli yang mau membayar. Darmin melihat kasir itu melayani pembeli dengan sangat ramah sembari mengucek mata yang masih mengantuk. “Jam segini, masih saja dia bisa tersenyum untuk orang lain” pikirnya. Ia mengangkat laptop, dan dipangkunya kembali. Bersiap menulis status. Kini, dia mendapat inspirasi. Mimpinyalah yang akan ia tulis. Dalam mimpinya, Darmin melihat Risa bersama seorang lelaki naik sebuah becak, melaju di sebuah jalan yang nampaknya ia kenal jalan itu. Ia ikuti terus becak itu dari belakang. Setiap kali becak itu berhenti di depan rumah, Risa dan lelaki itu turun, mengetuk pintu, lalu salam. Darmin melihat dari kejauhan. Dan ketika tak ada yang menyahut salamnya, mereka kembali menaiki becak itu. Hingga becak itu berhenti di depan rumah Darmin. Darmin masih menyimaknya dari jauh. Setelah lama ia mengingat, ternyata pria berkumis baplang itu, tak lain adalah ayah Risa. Ia pernah bertemu dan dikenalkan Risa saat wisuda. Risa dan ayahnya turun dari becak, mengetuk pintu lalu mengucap salam. Dari dalam rumah ada salam yang menjawab. Darmin sangat mengenali suara itu, itu adalah suara ibunya yang telah meninggal. Ibunya keluar menyambut mereka. Ada percakapan di sana. Antara ibunya dengan ayah Risa. Tapi entah apa. Darmin sudah dibangunkan oleh kasir, saat masih diselimuti rasa penasaran dalam mimpinya. Mimpi itu ia endapkan menjadi sebuah puisi dengan judul “Ibuku menyambut mu”. Jemarinya telah selesai menulis status. Meski hanya dia yang mengerti maknanya, bagi Darmin setidaknya itu bisa membantu originalitas dan daya kritisnya di dunia maya pulih. Serta terbebas dari virus copy paste.

Sebelum mematikan laptop, ia sempatkan diri membuka pemberitahuan facebook yang bertumpuk. Tak perlu lihat semua, pilih yang penting saja, fikirnya. “Karangtaruna Kuncup Mekar Menandai Anda Dalam Kirimannya”

“Selamat menyambut subuh kawan-kawan”

“Laporan Hasil rapat malam ini, menyikapi persoalan yang sedang membelit kepala desa kita, telah admin kirim ke masing-masing anggota. Khusus untuk Pak Sekretaris silahkan cek emailnya karena tidak punya WA…hahaha.

SALAM MAKARYO!!!”

Membaca pemberitahuan itu, jemari Darmin bergegas membuka email. darminsenja@gmail.com ada di urutan paling atas. Ia baca hasil rapat sampai selesai. Selesai membaca, ia menghela nafas panjang. Kini ia di selimuti kegelisahan. Seolah ia telah melupakan mimpi saat bertemu kekasihnya. Dengan wajah bingung ia keluar dari Toko, berjalan menuju rumahnya, tanpa menyapa kasir cantik. Gerimis turun perlahan, melengkapi dini hari yang dingin.

***

Pasar tak seramai biasanya. Hanya bagian belakang pasar yang tak berubah keramaiannya. Bau amis dan jalan becek setia menemani pedagang daging dan ikan sebagai penghuni wilayah belakang itu. Di bagian depan dan tengah tinggal tersisa penjual pakaian, penjual mainan anak-anak dan beberapa penjual perlengkapan sekolah, yang kebanyakan datang dari jauh. Penjual kebutuhan pokok seperti pedagang beras, penjual minyak, bumbu-bumbu dapur serta pedagang sayur-mayur sengaja tak membuka lapaknya. Mereka tidak datang ke pasar. Ada rencana yang mereka obrolkan di rumah Pak Wardiman pagi itu, mengenai nasib mereka. Lokasinya tidak jauh dari pasar tempat mereka mengais rejeki. Pak Wardiman lah satu satunya tempat yang pas bagi mereka untuk berkeluh kesah mengenai pendapatannya yang terus merosot. Selain sebagai Ketua RT, Pak Wardiman juga ketua Koperasi Barokah. Koperasi dimana anggotanya didominasi oleh pedagang pasar yang kini sedang memenuhi rumahnya. Berkat jasanya, pedagang pasar binaannya itu mampu sukses. Tak sedikit dari mereka yang mampu merenovasi rumah, menyekolahkan anak hingga kuliah, kredit motor, semua itu terjadi sejak ikut koperasi dan dibina Pak wardiman. Jasa paling besar Pak Wardiman ialah saat mengenalkan dan mengajari warga binaannya pada internet. Selain internet, seluruh pedagang juga diajarinya untuk memanfaatkan teknologi semisal WhatsApp (WA) dalam berjualan. Sejak itu semua pedagang binaannya berjualan tak hanya pada hari pasaran tetapi setiap hari. Hari-hari mereka disibukan antar barang kesana-kemari pada pembeli. Segala pesanan mereka antar sampai kerumah pembeli. Mereka heran, ketika hari pasaran, pasarnya sepi tetapi omzet kok malah naik?

Pak Wardiman hanya tamatan Sekolah Rakyat (SR), tetapi semangat belajar beliau tak pernah padam, meski usianya sudah lanjut. Rumahnya luas, mampu menampung puluhan orang. Dulu pernah ia jadikan tempat pengungsian korban banjir bandang yang melanda desa tetangga. Apalagi sekarang, di jam-jam seperti ini, jika tidak kedatangan tamu, rumah tua peninggalan mertuanya itu jelas ia huni sendirian. Istrinya telah lama meninggal. Anaknya yang semata wayang berangkat kerja jam 6 pagi. Keseharian Pak Wardiman hanya menjaga warung kelontong yang berada di samping teras rumahnya, disamping sesekali pergi kesawah. Ketika ada tamu, ia persilahkan agar tidak sungkan menganggap rumahnya seperti rumah sendiri. Mau bikin kopi atau memasak di dapur silahkan, mau nonton TV silahkan, yang penting satu: jangan masuk ke kamarnya dan kamar anaknya.     

Kini Pak Wardiman paham belaka, maksud pedagang pasar binaannya berkumpul, menyesaki balai, teras, hingga dapur rumahnya. Keadaan ini sudah lama ia prediksi bakal terjadi. Setidaknya hatinya selalu mendapat firasat sejak acara peletakan batu pertama pembangunan Endo-Maret begitu meriah di seberang rumahnya. Ia percaya bahwa kehadiran toko itu akan mematikan perputaran ekonomi pedagang pasar, juga warung kelontongnya yang tepat berseberangan. Sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan nasib warung kelontongnya. Perjuangan warungnya ia anggap telah selesai sejak anaknya mampu menyandang gelar Sarjana Ekonomi, saah satu universitas terkenal di Jogja. Ia lebih gelisah dengan nasib pedagang pasar yang jelas akan tergoncang jika nanti toko itu beroperasi. Dan sekarang, kegelisahannya hadir memenuhi teras, balai serta dapur rumahnya. Obrolan-obrolan pedagang pasar itu hanya seputar Endo-Maret dan Pak Wage. Pak Wage sedang di selidiki oleh polsek, juga oleh Tim Independen aktivis desa yang ditunjuk BPD. Berita bahwa Kepala Desa menerima uang untuk memuluskan ijin pendirian Endo-Maret yang menyalahi aturan sebab terlalu dekat dengan pasar telah menyebar bahkan hingga desa lain.

Setelah lama para pedagang menunggu, kini, mata mereka hanya terfokus pada satu sosok yang baru saja keluar dari kamar.

“Gimana Pak?”

Sergah Pono, pedagang bumbu dapur Blok B pada Pak Wardiman yang kebetulan duduk di samping pintu kamar Pak Wardiman.

“Ikut kan…besok lusa?

Suara Giyem, pedagang senior, menjual sayuran. Usianya sedikit di bawah Pak Wardiman

Dengan nafas panjang dan membaca bismillah dalam hati, ia menjawab:

“Iya…Bapak akan ikut.”

Jawabannya melegakan para pedagang. Satu persatu meninggalkan Pak Wardiman, berpamitan pulang setelah menjabat tangannya. Pono berpamitan paling akhir. Saat berjabatan, ia berpesan pada Pono,

“Pon…tolong kasih tau ke temen-temen. Jangan sampai bocor ke anak saya, kalau besok saya ikut”

Melalui kuatnya cengkraman tangan dan matanya yang berkaca-kaca saat Pono tatap, ia merasakan betapa berat keputusan yang diambil Pak Wardiman.

 ***

Langkahnya gontai, tak sesemangat biasanya. Paras cantik kasir yang ia jumpai seolah memudar tak bermakna. Ini toko ketiga yang ia datangi. Wajah Darmin masih terlihat lesu. Ia hampir menabrak anak sekolah saat berangkat pagi hari tadi. Pikirannya tidak fokus saat berkendara. Lamunannya melambung jauh, menempel pada masa-masa ia kuliah dulu. Saat dimana asik mendebat teori Adam Smith yang diajarkan dosen, juga saat berdiskusi Das Kapital dengan kawan organisasinya terasa lebih meriah dari perayaan tahun baru dan lebih lezat dari coklat valentin. Memorinya juga melirik kepingan, saat ia kesana-kemari menenteng ijazah melamar pekerjaan. Ketika tak kunjung mendapat pekerjaan, ibunya pernah mengajaknya untuk pulang dan bekerja dirumah bantu-bantu jualan. Waktu itu darmin merasa malu dan belum siap untuk tidak menjadi apa-apa, karena titel di belakang namanya itu. Kini ia sangat sadar, bahwa dirinya tak lain hanyalah kebalikan dari buku-buku kesukaannya. Buku-buku yang mengajarkan untuk memberontak pada kuasa capital. Tetapi pengalaman sungguh berkata lain. Pengalamannya yang membawa dia ke arahsana. Pengalamnnya lah yang justru sangat menentukan dibanding ijazah fikirnya waktu itu. Dan pengalamnnya yang gemar dan sering otak atik sesuatu yang berbau IT menyelamatkannya dari predikat pengangguran. Pengalaman jualah yang membawa dirinya mendapat pekerjaannya sekarang ini. Sebagai ahli IT.

Darmin terlanjur mendapat cap sebagai ahli IT meskipun latar belakangnya Ilmu Ekonomi. Setidaknya ada delapan toko Endo-Maret yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap pagi ia harus berkeliling, mengecek satu persatu kelancaran IT delapan toko itu. Termasuk toko yang sekarang sedang menjadi topik pembicaraan. Toko Endo-Maret depan Pasar Watu Ringin. Toko yang berdiri pada sepetak tanah desa tempat ia bermain bola kala kecil dulu. Toko yang akan kedatangan banyak tamu besok lusa, bukan untuk belanja, melainkan berdemo menolak keberadaan toko itu.
Sekarang, hidupnya sedikit mapan dengan materi yang berkecukupan. Namun tak jarang batinnya bergejolak terutama jika mengingat kembali ajakan ibunya. Dalam perjalanan ke toko berikutnya matanya basah, tak kuasa air matanya menetes, kembali ia terkenang akan ibunya.

***

Angin malam berhembus perlahan melalui ventilasi dan celah-celah sempit pintu yang telah lama tertutup. Bayang-bayang daun pohon ketapang tampak menari di tembok tempat rapat itu. Bendera merah putih berkibar-kibar dengan gelombang yang kecil, serta foto Jokowi yang sedikit miring menyaksikan para aktivis kampung saling diam membisu. Kursi-kursi ruang rapat balai desa satu demi satu di tinggalkan pemiliknya, ada yang ijin ke toilet, ijin keluar menghirup udara dingin, serta tak sedikit anggota rapat yang permisi untuk pulang, sebab paginya bekerja termasuk sekretaris. Tinggal pengurus harian minus Darmin, ditemani ketua-ketua divisi Karangtaruna Kuncup Mekar yang bertahan. Dalam tradisi pengambilan keputusan di internal Karangtauna Kuncup Mekar, suara ketua divisi merupakan hasil yang telah disepakati di internal masing-masing divisi untuk dijadikan pandangan lalu dilaporkan dalam rapat terbuka. Sifatnya bottom-up. Kecuali pada rapat yang bersifat tertutup, biasanya dari atas ke bawahlah keputusan dibuat.

Ketua Divisi Guyub, Toni, telah menyampaikan pendapat divisi yang dipimpinnya. Bahwa internalnya sepakat untuk ikut turun aksi besok. Keputusan Divisi Rukun, tak jauh berbeda dengan apa yang di sampaikan Toni. Sekarang rapat tingal menunggu laporan dari Divisi Gotong-Royong yang di ketuai oleh Pono.

Pono datang dengan tergopoh-gopoh melalui pintu belakang ruang rapat. Ia tau telah sangat terlambat. Segera ia menarik kursi di samping Eko dan mendudukinya.

“Monggo Mas Pono…, disampaikan apa hasilnya.” ucap Karman

“Divisi kami solid,,. Turun besok.”

“Bagaimana dengan sikap Pak Wardiman…?”

“Beliau ikut turun besok”

***

Pagi itu beberapa polisi sudah berada di depan toko. Darmin sudah lenyap dari rumahnya sejak habis subuh. Baru setengah perjalanan, Ia mendapat telepon dari manajer wilayah. Atasannya menyuruh untuk tidak usah berkeliling. Ia diminta standby di Endo-Maret depan Pasar Watu Ringin itu. Dari dulu bosnya memang sengaja memberikan kendali toko itu di bawah Darmin untuk berjaga-jaga. Bosnya telah memprediksi toko itu akan bermasalah sejak ia sering berkunjung kerumah Pak Wage untuk makan siang dan memberi kepala desa itu upeti. Darmin baru menyadari ternyata dia akan dijadikan tameng. Apa daya pikirnya, nasi sudah menjadi bubur. Untuk kali pertama ia akan berhadap-hadapan dengan beberapa warga desa, desanya sendiri pula. Demi pekerjaan, yang sudah menyelamatkannya dari stigma pengangguran.

***

Beberapa orang telah berkumpul di masjid pasar. Mereka akan berjalan dari masjid pasar ke depan toko Endo-Maret dengan jalan mundur, kemudian kerumah kepala desa. Tulisan-tulisan bernada marah dan provokatif tertulis di kardus-kardus bekas mie instan. Bendera merah putih, bendera karangtaruna juga bendera koperasi masing-masing telah di ikatkan pada bambu yang disiapkan Toni. Tuntutan mereka sederhana: Toko itu harus menghentikan kegiatannya selama proses penyelidikan dan sampai semua yang terlibat praktik suap kepada kepala desa mendapat ganjaran yang setimpal. Jika memang toko itu menyalahi aturan, warga meminta toko itu untuk tutup selama-lamanya.

Barisan mereka terlihat seperti semut merah yang bergegas karena ada kabar banjir datang. Dipayungi mendung yang semakin menghitam, akhirnya sampai juga mereka di depan Endo-Maret. Dari kerumunan itu belum terlihat Pak Wardiman. Orasi-orasi mulai di suarakan. Tuntutan di teriakan. Masa menginginkan perwakilannya bisa menemui manajer untuk menyampaikan tuntutan. Polisi membuat barikade menghalangi beberapa masa yang ingin masuk secara paksa. Hampir terjadi bentrokan saat terjadi dorong-dorongan begitu kuat antara masa aksi dengan polisi.

Keluarlah lima orang berseragam dengan warna biru, bergaris kuning serta merah seperti kebanyakan karyawan Endo-Maret. Kali ini mereka hanya menatap tanpa menyapa pengunjung juga tanpa memasang senyum diwajahnya. Mukanya pucat-pucat. Diantara lima orang itu ada kasir cantik yang ketakutan, pelayan toko juga Darmin. Darmin bersiap menyampaikan sesuatu, mewakili manajer wilayah (bosnya) yang sengaja tidak datang. Darmin menaiki kursi Endo-Maret yang ada di depan toko. Belum sempat darmin berbicara, muncul dari kerumunan masa aksi, dari bagian belakang, seorang yang sudah tua. Lelaki tua itu melangkah ke depan hingga berhadap pandang dengan Darmin. Muka Darmin pucat pasi. Masa aksi yang beringas tiba-tiba terdiam. Suasanya menjadi hening. Dialah Pak Wardiman. Masa aksi sempat tidak percaya beliau akan benar-benar ikut aksi, pasalnya sedari tadi ditunggu waktu kumpul di masjid tidak kelihatan. Dibelakang ada yang berbisik dengan nada rendah, menayankan darimana beliau muncul tapi tak ada yang menjawab. Ada juga yang punya pikiran kalau Pak Wardiman menunggu di rumahnya yang memang tepat di seberang Endo-Maret. Tapi itu semua tidak penting, mata peserta aksi sekarang tertuju pada mulut lelaki tua itu, lelaki yang mereka segani, mereka menunggu apa yang akan ia sampaikan pada Darmin.

Pak Wardiman akhirnya membuka mulutnya, dan berkata:

“Min…Pulanglah kerumah,

Kita ngobrol di warung kelontong peninggalan ibu mu. Sambil makan. Bapak sudah masak masakan kesukaan mu. Kamu belum sarapan kan…?”

Darmin tak kuasa membendung airmata yang mendobrak ingin keluar. Ia menangis. Juga bapaknya: Pak Kardiman.

Gerimis pun turun perlahan.

  • view 69