Aldi dan  Yang Tidak Istimewa Darinya

abdul rozak
Karya abdul rozak Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Oktober 2017
Aldi dan  Yang Tidak Istimewa Darinya

 

Tiada yang istimewa dari lelaki berumur dua puluhan itu,selain sikapnya yang santun dan tatapannya yang tajam. Aldi, nama itu yang ku tahu saat teman-teman sepabrik memanggilnya, seorang karyawan yang baru diterima  kerja seminggu terakhir di perusahaan kain textile tempatku sekarang bekerja.

            Pagi ini kami kembali bertemu dalam satu bus khusus karyawan yang mengantarkan kami berangkat kerja, bahkan kami duduk berdampingan, ia tidak pernah angkat bicara selama perjalanan, tidak pernah menoleh, terus saja memandang ke luar jendela bus, terus saja melempar pandangan ke trotoar dan rumah-rumah kumuh padat di sepanjang perjalanan. Entah bagaimana lelaki itu membuatku berkali-kali ingin menatap wajahnya, ingin lebih mengenali sosok kepribadiannya. Hingga ku beranikan diri untuk sekedar menyapanya, ia hanya menoleh sebentar, dan tatapan itu masih saja tajam, terlalu tajam malah. Hanya saja, mengapa tidak begitu saat ia bercengkrama dengan sesama karyawan laki-laki? Adakah suatu kesan buruk dengan wanita? Lelaki seumurannya pasti telah menikah, pikirku. Tapi mengapa ia tidak dapat memandangku lebih ramah? Meski sekedar untuk menganggapku sebagai kaum sesama ibu dan istrinya? Atau mungkinkah ia anak seorang bujang lapuk yang menghabiskan masa hidup ssebelumnya tanpa seorang ibu? Ah, sekali lagi tidak ada yang istimewa dari lelaki disampingku ini, tapi entah kenapa telah membuatku ingin mendapat perhatiannya, atau dengan memandangiku lebih lama dan ramah mungkin? Ah ya, baru kusadari sekarang –ia juga termasuk lelaki yang cuek--. Atau cuek hanya pada wanita? Entahlah.

            Telah hampir sebulan kami bertemu di bus khusus karyawan saat berangkat dan pulang kerja. Sekarang aku sudah berani menegur lelaki cuek itu lebih intens –meski ia tetap memandangiku tajam dan dingin— tapi kurasa itu memang wataknya saja yang seperti itu –tatapannya itu sama berlaku pada karyawan perempuan lainnya--, tapi yang membuatku lebih berani mendekatinya itu karena kini telah mendapatkan perhatiannya lebih lama. Aku semakin yakin, suatu saat ia yang akan menegurku lebih dulu. Meski ia laki-laki biasa yang tidak ada keistimewaan sama sekali di mataku, entah kenapa semakin waktu semakin ia membuatku ingin diperhatikannya. Ia telah membuatku terobsesi, entah kenapa.

            Sore ini, kami kembali bertemu dan duduk berdampingan di bus karyawan yang mengantarkan kami pulang kerja. Meski ia tetap saja banyak diam, namun kulihat ia tersenyum saat ku tegur. Sepertinya ia bukan lelaki angkuh sebagaimana yang kusangka sebelumnya, dan tidak juga lelaki dingin terhadap wanita. Serasa mendapat angin segar, aku jadi berani berkata-kata lebih dengannya –dadaku berdesir seketika--. Tapi wajahnya kini terlihat sedih, tidak kuat lagi ketajaman tatapannya. Tapi ia pun seorang lelaki yang piawai menyembunyikan suasana hati, dengan senyumnya itu. Sore itu ia menanyakan alamat rumahku, mengejutkan! Demi mendengarnya aku serta merta menyebutkan alamat lemkapku dengan begitu detil. Sekarang, lelaki yang tidak istimewa itu telah berhasil membuatku berharap untuk dapat menemuiku dirumah, Dan yang lebih mengejutkan, ia bahkan kini menjanjikan akan bertamu akhir minggu ini selepas ashar. Oh sungguh seketika ia membuat dadaku berdegup lebih kencang, auranya sungguh kuat membuatku berharap pada janjinya itu. Meski sebenarnya malam minggu itu sudah ada janji dengan pacarku, tapi dihadapannya ia telah membuatku berniat membatalkan janji itu dengan pacar istimewaku. Entah kenapa.

            Hingga akhirnya ia datang ke rumahku di malam minggu, ia masih saja tetap dingin setelah melempar senyum seusai ku sambut di muka pintu.  Lalu dengan dengan gugup ia berkata ingin bertemu dengan ayahku, percayalah, justru aku yang lebih gugup demi mendengarnya. Karena firasatku begitu kuat akan maksud dirinya di sore ini, firasatku sebagai seorang gadis terhadap laki-laki tentu saja. Dan benar saja, ia menemui ayahku dan langsung mengutarakan akan lamarannya terhadapku.

            Ayahku bingung dengan lelaki yang tidak istimewa itu, lelaki yang baru di kenal ayahku itu kini telah sukses juga membuat ayahku penasaran. Meski ayah telah tahu bahwa aku suda punya pacar, anehnya beliau merasa senang dengan penuturan lelaki itu. Lalu melimpahkan segala keputusannya kepadaku, melimpahkan kebingungannya juga. Ajaib, ia telah membuatku berani menerima lamarannya, bahkan kami telah menetapkan tanggal penikahan pada awal bulan depan. Lelaki tidak istimewa itu kini telah membuatnya jadi istimewa dimataku ini, bahkan ia telah berhasil melupakan keberadaan pacarku yang entah kapan membicarakan pernikahan. Dan yang lebih mengejutkan adalah, Aldi ternyata berumur kurang dari dua puluh tahun saat menyerahkan KTP sebagai syarat mengajukan permohonan buku nikah ke KUA, sedang umurku kini telah hampir menginjak dua puluh lima.

Ar, 26 Oktober 2017

sumber : dari sini

  • view 58