SETENGAH SADAR -

abdul rozak
Karya abdul rozak Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Oktober 2017
SETENGAH SADAR  -

 

                Mentari dengan riang meruntuhkan sekat mimpi dengan sekejap. Hanya memicingkan mata yang kulakukan, selebihnya sungguh tak kuasa mata ini langsung menatap bagaimana matahari pagi tersenyum dengan sengaja mengejek.

                Selalu saja begitu, ia tidak pernah terpengaruh sedikitpun.bagaimana diri ini menyelami suatu kenyataan lain di setiap malamnya. Seakan mentari mendapat legitimasi kuat, bahwa aku mesti rela memasuki dunia selanjutnya yang lebih membumi; Seperti berjalan dengan kaki, atau menuangkan secangkir kopi dengan penuh kesadaran.

                Yap!, usah banyak berpikir lagi. Berjalan saja dulu menuju air, meski harus menuruni lembah agak curam di pinggir desa untuk mendapatkannya.

                “Sudahlah, bagaimanapun indahnya sebuah senyum di dalam mimpi, tidak serta merta membuatmu dicintai disaat terjaga," Dengan langkah masih dibayangi mimpi, akhirnya langkah malas menyampaikanku juga ke sumber air. Berguman sendiri sekaan melipat jarak perjalananku.

                Setiba di sumber air, langsung ku cabut penutup pancuran dari pipanya. Memancarlah butirannya dengan jernih. Sepertinya, air ini langsung ngomel kehadapan untuk  menyegarkan seisi sel dalam tubuh. Setelah dinginnya menyentuh wajah, nalar kini perlahan menjalar dan memberi utuh pada rasio.

                “Ah segarnya,” Ucapku lepas ke udara dengan menutup mata; mulai menyesapi dunia baru yang lebih terasa, yang begitu dingin kurasakan. Hngga panasnya jiwa, dan pemikiran ikut larut dalam kesejukan pagi.

                Bermulalah air menuntunku mengecap kesejukan, udara pun kini perlahan mengetuk lubang hidung. Membuat kedua lubang hidungku ikut mengembang, terus saja seperti itu dengan rakus. Kuhirup lebih banyak lagi udara yang tak mungkin terbeli.

                “Bangun kesiangan lagi Kang?,” Sebuah suara halus seketika membuat kaget, dan bertambah lagi ketika kulihat seorang gadis anak tetangga tengah tersenyum. Ia berdiri di sebrang kobakan, dengan mengapit seember besar penuh cucian di ketiaknya.

                Ah tolonglah Tuhan, jangan lagi ia mencuri waktuku di dua alam sekaligus. Senyum itu membuatku sulit terpejam hinga larut, hingga tertidur tak terencana, dan mendapatinya ikut pula membajak seisi mimpi yang kudiami. Hatiku meronta, mendapati gadis yang sama tengah tersenyum,  pasti ia melihat dengan jelas dua butir kuning diujung mata yang belum sempat kubersihkan.

                Konyol..! Aku makin membatin reflek membenamkan wajah untuk kembali mengguyur muka di mulut pipa, seketika menggosoknya kembali dengan limpahan air yang begitu jernih.

Sementara itu dapat kudengar sang gadis mulai tertawa kecil, ku mendongak , dan kulihat kini kedua tangannya rapat menutupi kedua bibir. Sungguh ia tidak menyadari keadaanku, yang dengan semua gerak-geriknya telah berlaku kejam; telah  menelanjangi kewibawaan seorang bujang.

#gravitasi_aneh

#jejak_para_kekasih

ar, 10juli2017
>> sumber foto:
https://pixabay.com/id/bangun-pagi-tempat-tidur-1968097/

 

  • view 42