Kasih Kekasih

abdul rozak
Karya abdul rozak Kategori Puisi
dipublikasikan 16 Oktober 2017
Kasih Kekasih

SIANG DI TENGAHNYA

-ar

 

Bertabur riang kuat bersinar

Menagih janji di lini masa

Kuat memaksa hati

Perjuangkan cita cinta yang suci

 

Mentari, ceria ku lihat kau disini

Tersenyum mesra begitu manis

Berpeluh sudah raga kau peluk

Di sebalik tabur cahaya penantian itu

 

Lihat,

Kumbang dan serangga menari

Dendang tasbih berseri

Senandung puja dan puji

Semua tunduk untuk muja memuji Sang Maha Kasih

 

Bdg, 01052017

***

.

BIAS RUPA CAHAYA

 

Riang di bias jiwa

Rupa tepiskan rasa

Raga kita bagaimana?

Serupa meminta hati bermodal hajat

 

Malam menenggelam warna

Warna membaur cahaya

Tiada nampak tanpa cahaya

Tiada cahaya tanpa Pencipta

 

 

Lalu gelap?

Itu sebatas ketiadaan cahaya

Tertabir netra menyesap bahagia

 

Bdg, 02052017

***

.

CANDU SUNYIKU

 

Sesunyi kini

Tawa terasa candu

Menggetar hingga pagi

Delusi sendumu itu.

 

Sesunyi malam ini

Bergerlanyut senyummu

Memapas arah menepi

Bersenandung melarut

 

Sesunyi kini

Aku padamu semu

Sekadar kenangan membagi

Kelu ku sapa namamu

 

Terima kasih..., rindu

Bdg, 02052017

***

.

DUA PESONA

-ar

 

Malam kian hening tercipta, hanya terdengar sapuan angin di ujung telinga. Begitu lirih bisiknya, serupa dingin tersesapi kulit yang menerpa ke wajah.

 

Jalanan terlihat lengang, sebatas temaram cahaya kuning bersemu kemerahan menerangi tiap sisi-sisinya. Terbentang lurus jauh kehitaman, seakan tiada bertepi.

 

"Hingga kapan semua ini kan berakhir?" Sesekali peluh memaksanya mengeluh, langkah kini kian terasa lemah; bahkan terasa berat meski sebatas mengangkat betis sekalipun.

 

Adalah suatu tanggung jawab, yang memaksaku hingga seperti ini. Tanggung jawab akan suatu cita yang kerap mengetuk daya nalarku. Nalar akan satu kenyataan, bahwa tenagaku takkan pernah terus kuat, kemampuanku akan menurun akhirnya, sedangkan tanggung jawab terus bertambah. Untuk itulah, tidak cukup mengandalkan sebatas tenaga untuk menggapai segala cita itu, juga tidak pula cukup seorang diri menggapainya; sebanyak mungkin mesti ikut serta.

 

"Kita jelang sebuah kota cahaya penuh berkah," Abdi teringat kembali, bagaimana sebuah pesan halus itu didengarnya tempo hari. Dalam waktu yang begitu singkat, namun suaranya terus saja membisiki hatinya.

 

"Ah kamu, entah apa yang paling membuatku tertarik. Pesanmu, atau justru pribadimu sendiri" Satu sisi hati Abdi berbisik resah. Pesan dan si pemberi pesan terasa terus saja menghantuinya; serupa dua keindahan yang begitu mempesona.

 

Bdg, 03052017

#kasih kekasih

 

“Ting-tong!,” Seketika suara hape berbunyi, kulihat ada tanda pesan baru terpangpang di layar satu setengah incinya. Sebuah no baru yang belum terdaftar di dalam buku kontak.

Agak malam ku buka kunci layarnya, lalu segera muncul pesan baru dari seseorang;

 

***

.

MANZILAH KISAH KASIH

-ar

 

Seindah riang tawa itu

Seperih sedu sedan itu;

Adalah serupa warna sewaktu waktu

Manzilah kita diruang temu

 

Manzilah berkisah

Merekam sejarah

Hiruk pikuk tandaNya

Kuasalah kekuasaanNya

 

Cinta?

Rindu?

Harap?

Cemas?

 

Kan kemana semuanya?

 

Kasih, kuatkah langkah?

sebagaimana awal bertemu

Kisah kasih kini mewujud duka

Sebatas pandang mata pun;

Merupa kias bias pilu

 

Memilu..

Kiasan kita

 

Kan kemana?

Sebatas mana?

Untuk apa?

Buat siapa?

 

Dimana ujung manzilah kita?

Bukankah Alloh Maha Mengetahui segela yang tersembunyi?

Bukankah  manzilah dunia sirna akhirnya?

Lalu kita dan hati?

 

Bdg, 03052017

***

.

LUKA

-ar

 

Serupa rindu;

Mengejar tak berarti

Mencinta tak terbukti

 

Bergeming dilarut sunyi

Memapah di lelah resah

 

Terima kasih rindu..

Di jiwa meriuh doa;

Hanya pada Ia;

Sang Penerima

 

-Kita,  memeluk

-Semua; memer-hati

 

Bdg, 04052017

***

.

BUNGA SEPERTIGA MALAM

-ar

 

Merengkuhi malammu, aku disini

Lelap kau memekar sendu

Ingin berdiri berlari

Sirnakan tangis sepi..

 

Duhai puan, kau bungaku malam ini

Rindu lara kan menepi, hati

Tebaskan, luruhkan, warnamu saat ini

Memanggil rona-rona kesucian

 

Luruhkan

Tabahkan

Sgala warna kelam ini

Memekar di jamuan Illahi..

 

Bdg, 05052017

***

.

GERSANG

-ar

 

Terik memercik bara

Mematuk mata tersilau cahaya

Menyengat, membara ladang di pijak

Sembah ku, menyungkur lelah

 

Kan kemana hendak berlari?

Tanah ku pijak pecah membatu

Keras, kasar mendera

Terseok langkah, terburu

 

Kan kemana hendak berlari?

Harap sejukMu dekapi diri

Memburai cerca, mengulum sunyi

Obati diri, mengguyur hati

 

Hujan membawa resah

Menggerus tanah membanjir musibah

Gelegar langit bertalu

Menyambar ketinggian kita di liku

 

Kan kemana hendak berlari?

Cerca meraja dunia

Cinta kian tergerus kata

Enggan merindu pada Yang Esa

 

Gersang tanah ku Tuhan

Harap menepi sebuah cinta

Mendamba hujan buahkan berkah, dariMu yang Maha Indah

 

Di gelap kami merana

Di terang mata membuta

 

Kan kemana hendak berlari?

Gersang kian melanda

Sebongkah hati menerka kuasa

Enggan meridha Sang Pemilik hati

 

Di gersang hampa kini

Mohonkan rinai serupa cahaya

 

Lembut menyeka

Hangat menyapa

Sebagimana pagi

Sebagimana senja

 

Hingga terik gersang sirna

Apapun yang Engkau cinta

Kita, tak kuasa

Duhai Engkau Maha Mencinta

 

Bdg, 05052017

***

.

SEPOTONG KISAH MENANTI

-ar

 

Tarian sunyi menggila

Dipayungi temaram

Tanah menghitam sekasat mata

Dilarut sinar purnama

 

Pemetik teh menepi

Kumbang beranjak

Binatang malam bergerak

Lautan dedaunan terpenggal waktu

 

Kabut rendah merebah

Pepohon ranting diam mendamba

Di hening udara malam;

Semua berkisah

 

Tarian masih menggila

Tersapu angin lirih menerpa

Serupa bara kian menyala

Api terjaga tanpa arang

 

Hingga,,

 

Hujan mulai merinani manja

Tersenyum memeluk mesra

Tanah menangis bahagia

Bara terpejam sejahtera

 

Tasbih reksa tercipta

Tawa cinta bermula

Semayamlah sudah sekepal rindu..

Di lelap malam menepis letih

 

Semua pun tengah menungguNya

Bdg, 05052017

***

.

SEWARNA PAGI

-ar

 

Burung memula riang

Mengepak sayapnya, mengibas

Kabut terhiring angin menerpa

Mentari menyingsing sinarnya

 

Sesuara pagi bermula

Riang mengetuk mata

Memenjara mimpi semalam

Mewujud harap di nyata kita

 

Lembut, syahdu suaramu

Melantun cinta dan rindu

Memapah harap tak terkira

Pada Ia Sang Pewarna dunia

 

Bdg, 05052017

***

.

SILK ROAD

-ar

 

Sendu mengalun

Senja memendung

Semilir angin mengalun

Napas menghela, nada melilu

 

Serupa cita tergambar

Serupa warna mengiba

Serupa cahaya menyapa

Jalan sutra, indah dimata

 

Senja makin mengelam

Tenaga merapuh menuju renta

Utusan mengetuk jiwa muda

Hingga air mata mengejarnya

 

Jalan sutra para perindu

Memanggil di siang dan malam

Mengema nurani

Mengepal kebenaran akan fana

 

Jalan sutra para perindu berkisah;

Akan dunia sekejap nada

 

Jalan sutra para perindu menyapa;

Akan cinta yang kian lara

 

Jalan sutra ini... Bertanya?,

Siapa kan rela menemani?

Bersama senja menyesapi,

Di rentanya dunia kini

 

Jalan sutra ini, biar ku kabarkan pada fana

Di sekejap nada dan irama

 

Bdg, 06052017

***

.

AIR MATA SIA-SIA

-ar

 

Hujan jatuh menderas

Air memenuhi samudra dan ember;

Memberi minum binatang

Memandikan banyak manusia

 

Air meluber di ember

Air meluas di samudra

Air membungkus bola api dunia

Air meneduhkan amarah raja

 

Bermula lah banyak kehidupan dilayari angin

Mengais berbagai makanan didalamnya

Berjaya menelusuri kekuasaanNya

Melarut tanah dan angin serupa buih

 

Jaring mengangkat sesuatu berguna di lautan

Buih menyisa terburai tersiakan

Ikan mati diasinkan laut

Ikan hidup memakan bangkai, memenuhi perut manusia dan gelas-gelas kaca

 

Raja, berkuasa

Hingga menghamba disaat air mengombang-ambing bersama badai

Hingga kesadaran terbuka di ujung kerongkongan, namun sia-sia saja

Air menyeret, menghempas Raja sebatas rasa

 

Bdg, 07052017

***

.

DEGUP CINTA UNTUKMU NONA

-ar

 

Sekejap hari memaksa terjaga

Tenggelam di samudra tamgismu

Sebuah hati menenggelam

Serusuk bengkok menyeruak; menghujam tulang punggung-sekuat cinta melindungi degup jantung

 

Tergambar semesta di indahmu

Terangkum samudra di rasamu

Setinggi langit cemburumu

Sekelam misteri cintamu itu

 

Adalah engkau nona, untuk aku

 

Dan kami murah-meriahkan untuk sekerling tawa dan seulas senyum manis yang tersisa

Kami titipkan di rahimmu bakal cita untuk kedua masa depan

Engkaulah Nona, sekejap senyum manis dunia

Sedang tawa estafeta menggema di indahnya relung tabir neraka,

 

Semua menyebutmu dengan bangga;

-malaikat tak bersayap, penjejak syurga di dunia

 

Bdg, 07052017

***

.

BENING EMBUN

-ar

 

Embun terpaku di ujung dedaunan

Semakin beningnya berangkulan kuat

Dedaun kian resah melepas

Hingga kabut pagi menyapa

 

Embun tergeming antara kuatnya janji daun dan kabut

Tanah menunggu dengan sabar

Semua pun terdiam menunggu

 

Adalah sebening embun teguh setia

Adalah setitik air kuasanya pula

 

Air embun, menunggu ketentuanNya;

Jatuh dihembuskan angin

Menguap terbang bersama hangat mentari

 

Dapatkah beningmu kujaga?

Di terik dan hujannya dunia?

 

Bdg, 08052017

***

.

INDAH CITA SUATU TEMU

 

“Adakah suatu kesalahan? Bila seseorang ingin meraup jalan kecintaan Tuhannya; yang dengannya ia harus berhadapan dengan dunia sekalipun?” Sebuah pesan masuk. Abdi membaca singkat, namun dilubuk hatinya seketika bergetar. Abdi rasa, pengirim pesan kali ini bukan orang biasa, seketika ia sangat ingin bertemu, meski tidak hafal wajahnya sekalipun. Tiada terlintas pikiran buruk dibenaknya, seakan ia dapat menebak isi hati penulis pesan itu, dan Abdi mantap menganggap pesan itu suatu ungkapan tulus.

 

“Mengapa bilang itu suatu kesalahan?” Abdi segera membalas pesannya singkat.

 

“Semua keluarga dan masyarakat mencibir, hanya karena saya mengenakan jilbab.. Mereka anggap ikut pengajian sesat hanya karena tidak berkerudung seperti kerudung kebanykan ibu-ibu di sini. Hanya karena melebarkan jilbab saja, mereka tega menuduh yang tidak-tidak” Sms kembali masuk, pesan berbalas cepat

 

“Sabar Ukhti, itu semua hanya karena mereka belum mengerti saja”

 

“Iya”..

 

“Eh iya, bolehkah kita bertemu?” Abdi membalas singkat, entah kenapa ada sedikit degup kuat di hatinya

 

“Ketemu? “

 

“Ya..”

 

“Emang kenal saya?”

 

“nggak.. he”

 

“nah lalu? Kenapa ingin ketemu segala?”

 

“Penasaran saja, sebelumnya saya baca sms-sms tausiah kakak di hp kakak saya. Sejak saat itu entah kenapa penasaran dan ingin ketemu”

 

“Kenapa begitu?”

 

“Entahlah Kak, saya hanya merasakan pikiran kita sejalan, dari doa doa yang kakak kirim di sms, seakan saya menemukan suatu keinginan yang sama”

 

“Keinginan? Maksudnya keinginan bagaimana?” Deg, seketika Abdi merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Demi dibacanya pesan kali ini, seakan gayung bersambut sebagaimana yang Abdi harap.

 

“Cita akan keinginan mencintaiNya; Allah ta’ala”

 

“Saya pun merasa nyaman aj, entah kenapa..” Abdi kembali mengirim pesannya.

 

“Mencintai itu bukan sesumbar kata saja”

“Lalu.. bagimana membuktikannya?” Abdi membalas cepat, kini ia merasa khawatir. Dirinya menangkap nada emosi di aksara yang baru saja ia baca. Tapi kali ini mendapati pesannya tidak berbalas.

“kak, kenapa diem?” Abdi tidak sabar menunggu, hingga mengirim kembali sebuah pesan. Namun yang ada hening, tiada berbalas.

 

***

 

Senja menjelang. Sehabis waktu ashar berlalu, akhirnya jam kerja berlalu. Ia segera beranjak menuju gerbang setelah membereskan semua peralatan bekerjanya.

 

Setibanya di gerbang, tiba-tiba hapenya berbunyi. Seseorang menelphone, no mer tak bernama, namun sudah sangat ia kenal.

“Adik kak Iwan..” Batinnya mendesah,

“Kenapa anak itu selalu saja berisi keras ingin ketemu?” Hatinya kembali bertanya sendiri, lalu dengan cepat ia tolak panggilan masuk dari nomer yang sengaja ia tidak simpan di phonebook.

‘tuing tuing..” Suara rington hape terdengar lagi, sekarang Shanty berjalan sudah hampir tiba di gerbang.

“Assalamualaikum kak..” Tiba-tiba sebuah suara berat menyadarkannya, dilihatnya seorang pemuda tengah memegangi hapenya. Ia menunggu di tepi gerbang.

“kakak kan yang bernama kak Shanty?” Pemuda itu kembali berkata,acuh saja dengan kekagetan orang didepannya.

“Kenapa bisa tahu?” Shanty curiga.

“bentar” Ia kembali memijit sesuatu tombol di hapenya, lalu seketika hape yang tengah di gengggam Shanti berbunyi.

“Oh kamu Abdi ya?” Shanty masih kaget, tidak menyangka. Ternyata anak ini serius ingin bertemu, seketika ia kikuk sendiri; melihat sesosok pemuda asing yang dilihatnya cukup serampangan.Shanty kembali sedikit mendongak ke arah wajah pemuda didepannya, dilihatnya Abdi  tengah tersenyum  kini.

 

“Oh Abdi ..”

“Kenapa Kak?” Abdi seketika merasa gusar.

“Nggak knapa-napa, teteh nggak nyangka aja; ternyata adik Mas Iwan sebelia ini” Shanty sejenak tersenyum, merasa geli sendiri. Dilihatnya Abdi hanya tertawa, kali ini dilhatnya terlihat lebih ramah, dan teduh. Kesan tanmpilan cueknya seakan tertutup seketika oleh sebuah tawa kecil pemiliknya.

“Iya kak, baru dua tahun saya lulus SLTA, jika kakak seumuran Mas Iwan. Kakak pasti sekarang sekitar berumur dua puluh satu tahun. Iyakan?”

“Ih kamu..”

“Kenapa kak, saya salahya? Ah maaf, jika saya salah.,”

“huh..” Seketika Shanty berlalu tanpa sebuah kata pamit, membuat Abdi hanya melongo tidak mengerti.

“Kakak tunggu, jangan pergi gitu aja” Abdi mengejar cepat, sekarang mereka kembali berhadapan.

“Maaf bila Abdi salah..” Dengan masih tersenggal, Abdi menampakan wajah memelas

“Iya kamu emang salah, kakak bukan beumur 21. Sekarang kakak sudah berumur 26.. puas?” Shanty mendelik, kesal campur geli melihat ekspresi wajah Abdi yang masih terlihat begitu belia dan polos.

“Kakak.. denger!” Abdi menjawab cepat, wajahnya kini sedikit mengeras. Membuat Shanti kembali memandangnya.

“Apa lagi Abdi?, maaf kakak ada agenda lain, harus cepat sampai di kontrakan.

“Abdi ikut ke kontrakan kalo gitu..”

“Jangan!” Seketika Shanty menolak dengan garang.

“Ih kakak galak..” Abdi merenggut seperti anak kecil.

“Iya Abdi mau apa lagi?” Langkah Shanty terhenti, menatap tegas kepada pemuda yang baru kini baru dilihatnya itu.

“Kak, tentang sms kemarin.. dapatkah kita mulai membuktikannya sekarang?”

“Kita? Membuktikan? Maksudnya?”

“Maukah kita bersama.. mulai membuktikan cinta padaNya, agar tidak sebatas kata; sebagai mana yang kakak bilang di sms kemarin” Abdi menatap lurus, membuat Shanty terhenyak seketika. Dilihatnya ada suatu kesungguhan dan kedewasaan berpikir di sebalik tampilan cueknya.

“Caranya?” Shanty balas dengan tegas?”

“Nah itu, caranya. Entahlah, untuk itulah Abdi sengaja datang, kupikir Kakak pasti terbayang caranya bagaimana?”

“...” Shanty hanya terdiam, seiring Abdi masih menatapnya menunggu.

“Serius kamu ingin membuktikannya?” Shanty kembali bertanya, memastikan.

“Datanglah minggu depan, kakak tunggu kamu disini. Nanti kakak kenalin ke seorang ustadz, beliau lebih mumpuni untuk menjelaskan bagaimana seharusnya, kakak pun sama tengah belajar ke beliau bersama teman kakak lainnya.

“Iya InsyaAlloh Kak” Abdi menjawab singkat, seketika wajahnya berubah cerah

***

.

DUA PESONA

-ar

 

Malam kian hening tercipta, hanya terdengar sapuan angin di ujung telinga. Begitu lirih bisiknya, serupa dingin tersesapi kulit yang menerpa ke wajah.

 

Jalanan terlihat lengang, sebatas temaram cahaya kuning bersemu kemerahan menerangi tiap sisi-sisinya. Terbentang lurus jauh kehitaman, seakan tiada bertepi.

 

"Hingga kapan semua ini kan berakhir?" Sesekali peluh memaksanya mengeluh, langkah kini kian terasa lemah; bahkan terasa berat meski sebatas mengangkat betis sekalipun.

 

Adalah suatu tanggung jawab, yang memaksaku hingga seperti ini. Tanggung jawab akan suatu cita yang kerap mengetuk daya nalarku. Nalar akan satu kenyataan, bahwa tenagaku takkan pernah terus kuat, kemampuanku akan menurun akhirnya, sedangkan tanggung jawab terus bertambah. Untuk itulah, tidak cukup mengandalkan sebatas tenaga untuk menggapai segala cita itu, juga tidak pula cukup seorang diri menggapainya; sebanyak mungkin mesti ikut serta.

 

"Kita jelang sebuah kota cahaya penuh berkah," Abdi teringat kembali, bagaimana sebuah pesan halus itu didengarnya tempo hari. Dalam waktu yang begitu singkat, namun suaranya terus saja membisiki hatinya.

 

"Ah kamu, entah apa yang paling membuatku tertarik. Pesanmu, atau justru pribadimu sendiri" Satu sisi hati Abdi berbisik resah. Pesan dan si pemberi pesan terasa terus saja menghantuinya; serupa dua keindahan yang begitu mempesona.

 

Bdg, 03052017

#kasih kekasih

 

PERTEMUAN

Seketika Abdi merenung, bagaimana suasana setiap kota berbeda-beda mengimbuh rasa? Pada hati, pada jiwa. Hingga pun kini tiga bulan berlalu, akhirnya Abdi kembali menginjakan kaki di kota kelahirannya sendiri. Namun kini jauh berbeda, berkali-kali senyum itu terasa meraja. Sering membuka tawa seorang diri, hingga merasa sedikit gila.

"Benarkah ia pun merasakan sama?" Abdi berguman sendiri dalam hati, dengan tenang menyender di samping tempok sebuah pos satpam yang terletak didepan perusahaan sebuah perangkat keras tempat seseorang yang sudah terbiasa iya sebut Kakak, meski bukan saudara kandung.

 

"Udah lama?" Seketika sebuah suara halus menyapa, menyentak Abdi yang seperti melamun.

"Eh Kak? " Abdi kikuk sendiri, dipikirnya sosok yang ditunggunya memerhatikannya sedari tadi.

"Sejak kapan berdiri di situ?" Abdi kembali bertanya, ia menepi ke ujung benteng, menggeser pinggulnya menyiapkan selapang tempat duduk untuk gadis yang ia bertaut enam tahun darinya.teman Namanya Shanty

Belum lama berselang, tiba-tiba teman kak Shanty berdatangan.

"Oh ini yang namanya Abdi, kenalkan saya Sita" Tiba-tiba sewajah gadis yang lain menyembul di belakang Kak Shanty.

"Saya Rinda, temen satu arena teh Shanty juga" Wajah putihnya tampak lebih belia dari semia gadis yang ada.

"Salam kenala teteh.." Abdi ikut tersenyum, riang memperhatikan keriuhan beberapa gadis. Lalu Abdi sejenak terdiam, Kak Shanty sekarang terduduk di sebelahnya.Sedikit renggang, membuat Abdi kian kikuk.

"Nah yang ini teh Rina.Beliau memang pemalu orangnya" Kak Shanti menarik lengan temannya yang ia sebut, agak memaksa.

"Salam Kang Abdi" Wajahnya sedikit memerah, mengatupkan kedua tangannya di atas dada; menyalami sebatas tanda.

"Salam teteh.." Abdi riang setengah terpejam, seperti tawa para pemuda jepang. Lalu semua terdiam, terlebih Abdi yang merasa sangat kikuk. Tidak biasa baginya dikerubungi banyak gadis seperti itu. Shanty mengerti, lalu matanya memandang semua temannya, mengusyaratkan sesuatu. Tinggalan mereka berdua, duduk berdua mengahadap jalan raya.

 

"Em.., eh Teh Dian kemana? Kok nggak kelihatan?" Abdi membuka suara.

"Oh, beliau beda ship .." Kak Shanty menoleh, tersenyum.

"Beliau dapat jadwal kerja malam minggu ini.."

"Oh.." Abdi sejenak menoleh memerhati Gadis disebelahnya, lalu kembali membuang muka ke jalanan. Kini kembali keduanya terdiam.

"Eh.." Abdi dan Shanty berkata berbarengan, dan terhenti seketika. Dua manusia mulai mencair dalam tawa.

"Kamu duluan ngomong" Shanty mengawali cepat.

"Teteh aja duluan" Abdi menyahut sama cepatnya

"Gimana kerjaan di Semarangnya?" Shanty bertanya mengawali, enggan hening kembali terjadi.

"Alhamdulillah teh lancar, semalam baru pulang. Besok berangkat lagi, tapi nggak kesana lagi."

"Kemana selanjutnya?"

Ke Jakarta"

Emang kerja lapangan gitu ya? Berangkat ke tiap kota, nggak tentu waktu

"Ya, begitulah. Ngumpulin modal viar cepet nikah, eh..

"Dasar, masih kecil juga" Kak santi tersenyum, ia kembali membuang muka.

"Jadi gimana hasil rapat kita bertiga dengan Teh Dian tiga bulan lalu?"

"Ya, itu. Saya tadinya ingin memastikan itu. Tapi sayang, teh Dian nggak ada.."

"Kenapa nggak sms beliau dulu?"

"Saya kira kalian selalu bersama, satu shif maksudnya"

"Nggak Di, kita beda shif. Emang kalo libur kita pasti bareng, karena ngajar di sekolah yang sama

"Ngajar? Dimana

"Hanya sebatas taman kanak kanak, ngisi libur aj. Kebetulan libur di sini tidak mesti hari minggu, jadi ya bisa bantu sedikit,

"Nggak capek waktu istirahat di pake ngajar?

"Nggak lah, bersama anak anak seakan lelah hilang, mereka sungguh menggemaskan. Rutinitas kerja pabrik satu shif seakan sirna seketika" Kak Shanty tersenyum lagi

"Saya pun sama

Sama apanya?

Sama bermain dengan mereka, betapa mereka dengan riangnya seakan membuat dunia tidak sekejam yang ku pikir" Abdi tiba tiba tercekat, Shanty ikut terdiam. Keduanya kini kembali terdiam, hingga beberapa saat.

"Hey!" Tiba-tiba Abdi kaget, seketika Kak Dian muncul mengagetkan.

"Lho, bukannya kerjanya nanti malam?

"Knapa Di? Teteh ganggu kalian berdua ya" Kak Dian tersenyum geli, melirik tajam ke Abdi dan Shanty

"Nggak, malah tadi nunggu. Tapi teh Shanty bilang, teteh emang kerja malem kan?" Abdi sewot, sifat kekanakannya seketika muncul.

"Hihi.. Kamu lucu Di, kalo marah" Kak Diam malah meledek. Kak Shanty kini ikut tersenyum.

"Sejak kapan kalian berduaan disini?" Kak Dian menelisik, lalu mata elangnya menatap lama ke arah Kak Shanty.

"Nggak lama teteh," Shanty lirih menghela, matanya tidak membalas tatapan Dian.

"Bukan pa-apa teh Shanty yang cantik. Soalnya tadi teh Rinda sms, katanya ada Abdi dateng ke pabrik. Untunglah saya ngontrak nggak jauh dari pabrik, jadi langsung ke sini"

"Rinda?" Abdi sedikit heran, 'kenapa temannya nyampe laporan segala ke Kak Dian?'

 

"Sejak tadi ngobrol apa aj ?" Dian kembali tersenyum.

"Iya, itu tentang obrolan kita tiga bulan lalu. Gimana kita mulai realisasinya?" Abdi menyahut

"Oh, saya kira kamu ngegombalin teh Shanty lagi?!" Dian tertawa, membuat Abdi sedikit tercekat, Dilihatnya Kak Shanty sedikit menunduk entah kenapa.

"Ih, emang saya cowok apaan?,dah tobat teteh Dianku yang syantik.." Abdi sewot.

"Tuh kan?!" Dian berang, lalu seketika menoleh ke arah Shanty

"Jadi kapan kita mulai aksi nyatanya? " Dian segera menoleh kepada Abdi.

"Secepatnya..iya kah Teh Shanty" Abdi coba membuat Shanty tidak terus terdiam.

"Iya.." Shanty sedikit tersenyum

"Tingnong!" Seketika suara lonceng membuat semua terdiam.

"Ah saya mesti segera masuk, saya tinggal dulu ya? Silahkan kalian berdua ngobrol, nanti saya hasilnya saya ikut"

"Bolos aja Teh..." Kak Dian, menahan kak Shanty

"Konyol.." Shanty sedikit sewot, Dian hanya tertawa mwndapati ekspresi temannya itu.

"Yuk Abdi, teteh tinggak dulu"

"Baiklah teh, selamat bekerja kembali" Abdi balas tersenyum.

"Eh Di, dah makan?" Dian membuyarkan pandang Abdi yang mengekor tanpa sadar ke sosok Shanty

"Eh, belum.. Traktir ya hehe.."

“Dasar!” Dian manyun.

“Hehe, belum gajihan saya teh” Abdi tertawa.

“Ya udah.. hayuk”

"Traktir?"

"Iyaaa, bawel!" Dian sengit, nggak sabaran menghadapi sifat kekanakan Abdi. Sekarang dilihatnya anak itu malah tertawa makin cerah, lepas sekali. Dalam hati Dian ikut tersenyum melihatnya.

***

.

TITIS EMBUN DI LAUTAN

-ar

 

Malam kelam meluruh anginnya

Membeku pada tepi dedaunan

Merangkum air di udara

Dedaunan menadah air embun

 

Rabun berkabut putih

Pandang terbias temaram

Gelap memekat naluri

Sunyi mulai menyapa

 

Kuat nian pintu tertutup

Sekecil pun sinar enggan masuk

Kobaran api berlalu

Abu itu kini membeku

 

Pejamkan mata, sesapi rasa

Hela menyesap resah

Ratap mengharap rela

Coba tepikan lelah

 

Hingga kapan dendam itu?

Sebegitukah cintai amarah?

Apa yang diharapkan pemarah?

Belum puaskah luka yang ada?

 

Serupa dahaga tak terkira

Meraung di tengah samudra, menengadah; memohon setitis sejuknya embun

Terombang ambing tak tentu arah

Semustahil itukah memeluk jiwa?

 

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah" Sekuasa suara menyelinapi mimpi

 

Bdg, 08052017

***

.

BERJAGA DI PERBATASAN MALAM

-ar

 

Deburan ombak terus berulang

Pepasir dikikis gelombang

Karang meruncing memecah air yang datang

Langit bergeming menyingkap tirainya

 

Bekerliplah gemintang di luas angkasa

Menarik sepasang mata yang sendu

Menyungging sedikit senyum

Betapa megah tepian jiwa itu?

 

Lalu, nyanyian rindu bermula

Melirih sebisik hati

Menyingkap duka

Mengulang doa

 

Luas tak bertepi lautan rasa

Airnya, sekecil titik di sudut mata

Rasanya asin, namun jernih sebening embun di ujung daun

Terbangkan sesak, pada dekapMu hati berharap

 

Cinta..

Tersilap segala noda

Terbalut segala duka

 

Rasa

Bergerak tak tentu rupa

Resah bertabur tawa

 

Sesuara lengking sunyi menyapa

Memenuhi malam panjang

Memaksa merengkuh jiwa

Menghembusi lara yang terbakar hampa

 

Berdiri, gemintang tetap saja kecil

Berlari, tetap saja sinarnya geming bekerlipan

Bermimpi, semua menyungkur syahdu

Biarkan saja, malam merajai  ..

 

Kita terjaga, untuk  bersama

Bdg, 09052017

***

.

DISEBALIK SELIMUT MALAM

-ar

 

Tirai malam berlangit rindu

Singgah kita di tatap asmara

Senyumi temaram ...

Biarkan desah berselimut kelam

 

Telanjangi saja aku!

Rengkuhi dada

Angkat serupa hati dengan cinta

Semua pun, ada Pemiliknya

 

Cukup, usah hitung lagi tulang rusukku!

Bdg, 09052017

***

.

BERMULA HELA DICIPTA

-ar

 

Kehendak mengecup

Lahir, bergerak

Meledak

 

Hening

Takar berputar

 

Dingin

Sunyi

 

Semula napas terhela

Kasih sayang dicipta

Seharum nama di tulis

Syurga terlihat

 

Berlayar, terbang kian kemari

Memetik indah segala rasa

Lelah, hingga sunyi kembali

 

Kasih sayang di hela Hawa

Tercipta mencinta

Hingga terlupa

 

Terbang, munghujam

Diturunkan bersama aqal dan fikiran

Diapit agama dan kekayaan

Kehidupan bermula

 

Rindu

Penantian

Pencarian

Pertemuan

 

Semua dicipta bersama

Rindu ..

 

Terima kasih

Bdg, 10052017

***

.

Malam penghujan

Lilin padam tenggelam

Gelap gulita

***

.

HALUS

-ar

 

Terlayang pandang

Penampang bayang

Engkau ku sayang

Malam melintang

 

Seulas senyum

Sekecup halus

Membius

Halus

 

Tulus senyummu

Hapus ragaku

Kurus

Pupus

 

Geming gemamu

Rindu ..

 

Terima kasih

Bdg, 10052017

***

.

HUMOR PEMIMPI(N)

-ar

 

Onah : Berhenti jadi pemimpi Bang, kalo gini terus nanti makin ketinggalan gerbong.. Move on dong..

Budi. : kok kamu peduli ..?

Onah : salah ya Bang ?

Budi : Enggak, tapi sepertinya saya senang jadi pemimpi saja

Onah : kenapa begitu?

Budi : karena kamu aj yang saya harap merubahnya

Onah : lha kok gitu bang, ini kan untuk kebaikan abang sendiri.. Nggak ada hubungannya dengan saya..

Budi : ada..

Onah : ada? Apa itu

Budi : kamu tinggal tambahin hurup n dan -ku di hati kamu..

Onah : ya udah, terus aj jadi pemimpi bang,

Budi : tega kamu .. Biarkan aku terus jadi pemimpi jadikan kamu madu abang @%@%#$%!!

 

Bdg, 10052017

***

.

Jurang semalam

Jalan gelap menanjak

Inginkan pulang

 

Ar

11052017

***

.

Malam Ramadhan

Bulan lembut bersinar

Rindu nan syahdu

 

 

Ar

11052017

***

.

PADANG GERSANG

-ar

 

Siang bertabur pasir

Tiada arah dipandang

Haus meraja

Sesak menghela

 

Mentari terik tertawa

Pasir lesap merambah

Langkah tertatih terangtuk

Payah terkatung

 

Dimanakah iman?

Raga berat membelenggu

Menghela berat lautan debu

 

Dimanakah iman

Kaktus mendakwa dihadapan

Berdiri kokoh enggan tenggelam

 

Dimankah iman

Sesunyipun padang nan tandusnya kehidupan;

--aktus itu tetap hidup

 

Dimanakah iman?

Apakah diantara harap dan cemas?

Menyaksi diri terbujur lemah

 

Dimanakah iman itu?

 

Rindu,

Terima kasih

Bdg, 11052017

***

.

JAGO KANDANG

-ar

 

“Ada apa Bang?” Seketika Abdi terperanjat, ketika mendapati saudaranya sudah mengambil sebilah golok, hendak berlalu. Baru saja ia datang ke kontrakan diujung kota, tersentak mendapati kakak tertuanya; dengan mata merah dan berwajah garang, sementara istrinya hanya menangis terduduk memeluk kedua lututnya menangis, dan takut. Abang kini hanya terdiam, tangannya masil kuat mencengkram golok; nafasnya memburu

 

“Tunggulah Bang, duduklah sejenak..” Abdi segera meraih tangan kirinya, dimana sebilah golok dipegangnya kuat-kuat. Mendengar suara Abdu datang, istrinya kini mengangkat wajah, air mata masih terlihat menderas.

 

“Abang marah, dan mengancam Di” Istrinya mengadu pertama, membuat Abdi menoleh.

 

“Marah kenapa?” Abdi kembali menatap Abang, meski sedikit ngeri.

 

“Istri macam apa dia?! Melihat suaminya dipukuli banyak orang malah diam. Sekarang cegah saya juga balas dendam ?!” Abang berkata keras, matanya mengelam. Dendam meraja, dengan tatap tajam ia menunjuk-bunjuk istrinya. Istrinya kembali merunduk, tangisnya kembali menderas.

 

“Tenang sebentar Bang, saya masih belum mengerti,,. Ada apa sebenarnya?” Abdi berusaha menenangkan suasana, dalam hatinya juga bingung, bagaimana mengatasi semua ini. Jika Abang Dani Sudah marah, bisa bahaya; baik untuk dirinya, maupun keluarganya.

 

“Para pemuda di sini, cemen semua!” Abang Dani kembali berkata, suaranya sedikit melirih, namun nada garangnya masih kentara.

 

“Maksudnya Bang?” Lekat Abdi memandangi Bang Dani.

 

“Mereka beraninya main keroyok, makanya mau saya datengin sekarang satu persatu kerumahnya” Bang Dani kembali memburu, nafasnya sedikit meninggi; menahan amarah.

 

“Kok Bisa dikeroyok?” Abdi menyahut cepat, tapi yang ditanya malah melongo.

 

“Mereka iri saja sbenarnya A..” Istianah, istri Bang Dani sekarang angkat bicara. Ia coba menyeka pipi, menguatkan suaranya agar tak tersenggal isak tangisnya sendiri.

 

“Iri bagaimana Teh?” Abdi terlihat makin bingung

 

“Sebenarnya ini hanya karena lapak dagang. Hanya karena saya pendatang, lalu mereka bisa seenaknya ngusir saya di jalan?”

 

“Padahal saya hanya mencari rizky dengan halal, ngasong kerupuk. Dan saya nggak akan pernah mundur, karena saya yakin benar!”

 

-bersambung

#kasih kekasih

***

.

SEJAK PAGI ITU

-ar

 

Belalang, bernyayi di payung cahaya

Menunggu di ujung ilalang dengan menatap embun

Geming diayun angin

Mendengar syahdu nyanyian hatinya sendiri

 

Burung beterbangan

Setajam pandang diikut serta

Tinggalkan pendengaran

 

Anak burung lapar

Meraung, menjorokan ibunya

Induk burung pergi tergesa sebatas rasa

 

Mentari menyingsing;

Hangat memeluk hingga setinggi tombak

Mewarna setiap arah dan pahatannya

Menampilkan sebentuk suara kehidupan

 

Gembala meniup serulingnya

Mengabarkan mimpi semalam

Kerbaunya kini tlah terbang

Sawahnya jenuh memburam

Air di lumpur seakan lautan

 

Rindu,

Terima kasih

Bdg, 13052017

***

.

SELANYANG PANDANG

-ar

 

Selayang pandang

Memikat jiwa

Dendangkan lagu

Terbangkan sendu

 

Fajar menyingsing

Jalan terbentang

Kicau merenggang

Semerbak perjuangan

 

Sendu

Aral duri berliku

Senyum tergilas bias

Terik menyengat berat

 

Senja membayang

Gema kerontang

Perih menjelang

Rindu, mengulas senyum

 

Jalan terbentang

Sutra menyeka

Senyum merona

Rindu berkisah

 

Adalah fajar terutus cinta

Adalah bumi mengukur setia

Langit memayung duka

Angin menghela raga

 

Adalah malam berjaga-jaga

Sunyi mengalun nama

Indah menghening cipta

Rapuh berharap rengkuh

 

Adalah itu jalan setia

Para pecinta di medan laga

Kobar asmara

Lautan rasa

 

Rindu ..

Terima kasih,

Bdg, 10052017

***

.

PENGHUNI MATA

-ar

 

Sekerjap mata mengunci cahaya

Membuat rupa warna kian mempesona

Amboi,,, kini engkau tinggal di mata

 

Saat makan ku lihat matamu

Saat minum ku lihat senyumu

Saat main ku lihat riangmu

 

Amboi,,, engkau kini menetap di mata

Buatku tersenyum dengan riang candamu

Buatku termenung dengan kisah harumu

Buatku ingin merengkuh guncangan tangismu

 

Duhai engkau, yang mendiami mataku...

Jalan-jalanku gersang berdebu, sebagai mana kau lihat

Hari-hariku terik beriak

Ada banyak gerak yang perlu sentuhan tajam

Ada banyak cakap yang menunggu pulang

 

Duhai engkau, yang mendiami mataku...

Kiranya lekas turun dari mataku

Kiranya berjejer di sebelah ku

Karena cinta, tidak memandang sebatas mata

 

Kita sambut tabir cahaya

Bersama

 

Rindu,

Terima kasih

Bdg, 14052017

***

.

SAAT HARUS BERPISAH

-ar

 

Putik bunga dendalion hinggap di ujung bukit

Singgah di lembut tanah dan di suapi gerimis

Lalu tumbuh dan berbungalah kini

 

Makin hari, Dendalion makin renta

Dalam resah ia berbisik di doa

Kiranya, angin datang meniup putiknya

Berjuta putik harapan, generasi pejuang

 

Senyum kini riuh merekah

Serupa angin datang memapah

Akhirnya tibalah saat berpisah

Untuk suatu masa depan nan cerah

 

Haru, tangisnya kini datang

Berjuta putik kini matang untuk terbang

Bersama angin menggapai sinar harapan

 

Perpisahan memang pasti terjadi

Sejatinya pertemuan selalu ada perpisahan

Sejati kisah pasti akan ada akhirnya

Untuk suatu cita di masa depan

 

Bunga kian kering

Putik kian terbang

Setiap generasi terus berulang

Kini kita berpisah untuk masa yang gemilang

 

Doaku kawan...,

Kalian kan gemilang

Terbang jauh mengangkasa

Sejukan tanah pusaka

 

Selamat berjuang

Terima kasih atas segalanya

Senyum tawa kisah biar terkemas indah

Bersama laju langkah menuju masa cerah

 

Terima kasih

Bdg,14052017

***

.

 HITOMI NO JUUNIN (SANG PENGHUNI MATA)

lirik: hyde/ lagu: tetsu

 

Kazoe kirenai ... demo sukoshi no saigetsu wa nagare

Ittai kimi no koto o dore kurai wakatteru no ka na?

Yubisaki de chizu tadoru you ni wa umaku ikanai ne

Kidzuite iru yo fuan sou na kao kakushiteru kurai

 

Isogiashi no ashita e to teikou suru you ni kakemawatte ite mo

Fushigi na kurai... kono mune wa kimi o egaku yo

 

#Miagereba kagayaki wa iro asezu afureteita

Donna toki mo terashiteru ano taiyou no you ni nareta nara

 

Mou sukoshi dake kimi no nioi ni dakareteitai na

Soto no kuuki ni kubiwa o hikare boku wa sei o muketa

Shiroku niji'n da tameiki ni shirasareru toki o kurikaeshi nagara

futo omou no sa... naze boku wa koko ni iru'n darou?

 

Soba ni ite zutto kimi no egao o mitsumeteitai

Utsuriyuku shunkan o sono hitomi ni sundeitai

Itsu no hi ka azayakana kisetsu e to tsuredasetara

Yuki no you ni sora ni saku hana no moto e...

hana no moto e

########################

Kazoe kirenai ... demo sukoshi no saigetsu wa nagare

Ittai kimi no koto o dore kurai wakatteru no ka na?

Yubisaki de chizu tadoru you ni wa umaku ikanai ne

Kidzuite iru yo fuan sou na kao kakushiteru kurai

Entah telah berapa lama… tetapi seolah hanya sedikit waktu mengalir

untuk memahami seberapa jauh tentang dirimu

Bagai mengikuti peta dengan telunjuk dan ku tak pandai membacanya

Kutahu kau gundah meski kauperlihatkan wajah yang berlawanan

 

Isogiashi no ashita e to teikou suru you ni kakemawatte ite mo

Fushigi na kurai... kono mune wa kimi o egaku yo

Meski kuhanya bagai berputar tiada henti melawan hari esok yang terlalu cepat tiba

Betapa janggalnya… Hati ini masih saja melukis dirimu

 

Miagereba kagayaki wa iro asezu afureteita

Donna toki mo terashiteru ano taiyou no you ni nareta nara

Kala ku menengadah, cahayaku yang meluap tak pernah menumpahi warna apapun

Andai saja kumampu menyinarimu sepanjang waktu bagai sang matahari...

 

Mou sukoshi dake kimi no nioi ni dakareteitai na

Soto no kuuki ni kubiwa o hikare boku wa sei o muketa

Shiroku niji'n da tameiki ni shirasareru toki o kurikaeshi nagara

futo omou no sa... naze boku wa koko ni iru'n darou?

Kini meski sebentar saja ku ingin memeluk di dalam harummu

Pernah kuterpikat dan terjerat udara seberang luar. Kini, kubalikkan punggung menujumu

Nafasku terhembus putih di udara, kala kuulangi kembali masa-masa yang pernah terberitakan

Seketika terlintas pikiran… Mengapa ku masih berada di sini?

 

Soba ni ite zutto kimi no egao o mitsumeteitai

Utsuriyuku shunkan o sono hitomi ni sundeitai

Dokomade mo odayakana shikisai ni irodorareta hitotsu no fuukei ga no naka

Yorisou you ni toki o tomete hoshii eien ni

Ku ingin ada di sisimu dan memandang senyummu selalu

Ku ingin ada di setiap pergantian masa di dalam matamu

Dalam setiap penggalan kisah yang teronai warna damai di manapun kau berada

Ingin kuhentikan waktu selamanya bagai menyelubungimu

 

Soba ni ite zutto kimi no egao o mitsumeteitai

Utsuriyuku shunkan o sono hitomi ni sundeitai

Itsu no hi ka azayakana kisetsu e to tsuredasetara

Yuki no you ni sora ni saku hana no moto e...

hana no moto e

Ku ingin ada di sisimu dan memandang senyummu selalu

Ku ingin ada di setiap pergantian masa di dalam matamu

Suatu hari nanti akan kubawa engkau menuju musim yang cerah

Menuju padang bunga yang bermekaran di ujung langit seputih salju…

Menuju padang bunga

***

.

MENAGIH KISAH KASIH SENJA

-ar

 

Hujan berderai kembali

Memayungi senja kini

Tanpa kuat tuk berlari

Lelah ku, mengaduhi

 

Hujan memeluk erat di pembaringan

Serupa lelah gigil menyatu

Serupa letih lapar menggelepar

Senja menenggelam; tiada rindu

 

Rindu, bagaimana rupa mu?

Memahat tak mewarna

Serupa angin memahat kabut

Melerai, memburai senarai jiwa

 

Rindu, bagaimana keadaanmu

Berlalu kian jauh

Memupus sewarna luruh

Menyisa hampa, berlabuh

 

Berlabuh,

Apa yang ku labuhkan?

Rindu 'tlah hilang

Memapah cinta tidak mesti menestapa

 

Nestapa,,,

Semesta tetap bergelora

Cibiran tak tentu mengundang rasa

Lalu? Siapa Pemiliknya?

 

Dapatkah ku pinta lagi?

 

Bdg, 04052017

***

.

JEDA WAKTU

-ar

 

Senja...

Siang dan malam terpisah

 

Terjeda

Terbuka pesona

Buahkan karya berbeda

 

Senja terjeda

Raga merupa surya

Rona hilang jumawa

Sujud tepiskan fana

 

Sang Jeda berkuasa

Sekuasa halus menyapa

Selaksa rindu mengalun

Memegang langkah di singgah sendu

 

Lelah Kau tepikan

Rasa di sematkan

Cinta di percikan

 

Rindu,,

Terima kasih

Bdg, 10052017

***

.

#senam jempol

 

Adalah malam berkata; bagaimana ia dengan lembut mengenalkan sunyi.  Melantun lirih menusuk hati, menunggu suatu semu. Menanti tiada arti.

Adalah malam merenda waktu, lirih memakan usia. Menggelanyut manja, lupakan cita

Adalah malam berbisik sunyi, agar kita lebih mensyukuri nikmat bersama.

Adalah malam  memungkiri, kita sebenarnya adalah manusia penyendiri. Dengan berbaik hati senyumi diri; memungkiri janji menepi.

Tepian itu pasti, hingga kadang jenuh; lalu mencari dalam semu.

Adalah malam mengeja diri, sukai sunyi namun ingin terus melebihi; akan apa yang tlah dimiliki

Malam, dimana kau dapat kudekap? Agar selimutmu hangat ku ingat

 

Terima kasih

***

.

BERSELIMUT

-ar

 

Terseok di padang malam

Pepasir berhambur pelan

Langkah kian melemah

Membungkuk menahan lelah

 

Bulan, kini bersinar sendu

Lembut memandang di kejauhan

Angin ikut terhenti menyambut

Meski napas terhela paksa,

 

Tengadah kembali,

Langit tetaplah tinggi

Tengadah kembali,

Gemintang kian bekerlip

 

Gemingmu tiada tentu..

Tiada siapa harapkan sendu

Menarilah jiwa di tabir semu

Menarilah pilu di padang kelabu

 

Bungkam, sekatlah kelam

Menanti tenang di peluk kelam

Siapa tak jemu menunggu?

Siapa kan rela merindu?

 

Teriak tak kuasa

Berkata tak merupa

Air mata pun mengering

Siapa kan sudi menanti?

 

Rindu,

Terima kasih

Cmh, 13052017

***

.

BISU

-ar

 

Sekat bisu berlaku

Disaat malu merajai nafsu

Saat pesona didengar sebegitu merdu

Tapi aku malu, bisulah aku

 

Bisu akan ungkapan rasa

Rasanya kelu hingga membisu

Memburu dengan nafas dan hela

Bertahan agar kau nyaman selalu

 

Bisukah aku?

 

Rindu,

Terima kasih

20Mei2017

***

.

TERJAUH-DEKATNYA

-ar

 

Angin bebas saja berhembus

Keluar maupun kedalam, bebas saja ia

Sebagaimana kedekatan mu, -jiwa ataupu raga, bebas saja untukmu

 

Sebagaimana kini, riuh telinga di lautan suara bocah tertawa

Kedekatan itu adalah tentang mereka

Aku dan kamu jauh terlantar

Jauh berlabuh di bingkai cerita

 

Rindu,

Terima kasih

Bdg, 20052017

***

.

BOCAH PERASAN

-ar

 

Sejenak terbayang di mimpi siang

Ketakutan menjalar membayang

Akan para penerus di

ambang rumah mereka

Para penghisap darah dan pemakan jasad juga tulang belulang

 

Rumah-rumah megah di jadikannya seakan syurga

Taman-tamannya bercucuran tawa menggoda

Atap-atapnya berjuntaian memimpi indah

Di sanalah bocah-bocah kita menderita

 

Kasih, apalah dayaku saat itu?

Tertegun, tertahan kuatnya mimpi

Terdiam melacur sendu

Teriak melajur hati

 

Kasih, apalah daya sebatang tulangpunggungku itu

Selamanya tak selalu menaungi

Rahimku tak sesubur tempat mereka lahir

Sedang mereka terlihat begitu sangat menunggu

 

Seketika terjaga

Mendapatimu tiada

Bersama takut dan cemas

Akan sosokmu yang kuharap

 

Salahkah?

 

Rindu,

Terima kasih

21Mei2017

***

.

DI TEPI TELAGA

-ar

 

Di kedalaman air telaga, kulihat pekatmu

Sunyi, menenangkan dalam kelam

Hingga kulihat gemintang bekerlipan di kulitmu, --megahlah wajahmu

 

Sunyi permukaanmu, bergelombang di tiup angin malam

Beningmu kini mengaburkan kerlipan indah itu

Dapatkah ku tenangkan kembali?

Tenangkan wajahmu, memantul cahaya ..

 

"Jangan mendekat!" Isyaratmu tegas.

"Segala indah itu hanya sebatas pantulan, sejatinya bukan milikku"

 

Kau tahu? Aku makin rindu akan kebeninganmu

Kejujuran hingga mengenali rupaku sendiri, --Hingga Ia hadirkan rupa kita

Bahkan hingga riak lembut yang menjalar di wajahmu pun,

Engkau selalu ku butuhkan

 

Karena hadirmu itu, salah satu ketetapanNya..

Biarkanlah aku menyelami pelukmu meski sebentar,

Moga dahaga itu, Ia hilangkan ..

 

Rindu,

Terima kasih

22Mei2017

***

.

HELA KITA BERSAMA

-ar

 

Detik, kian berlalu sudah; hempaskan kisah

Lalui kita dengan hembusan

Setiap saat, kita diam menghela

Tiupi hidup, yang kian merenta ...

 

Malam, kita penuh senyuman

Siang bertabur bunga

Sesunyi pun senyum, pasti menjelang

 

Malam, kini kita tenggelam

Oh, pejamkan saja,

Jelang mimpi indah, kita semua

 

Bdg, 22Mei2017

***

.

TAK SELUAS DAUN TALAS

-ar

 

Jernih air kian berkilauan di daun talas

Lembut bergelanyut kian kemari di terpa angin lembut

Bukan embun, ku lihat ia serupa air yang entah dari mana

Oval memanjang bentuknya, entahlah itu air dari mana

 

Burung gereja sesekali menyambar tepian daunnya

Payah kaki kecilnya mendarat hendak mereguk

Hingga jernih itu tertumpah bersembunyi di balik tanah

 

Daun talas bergoyang-goyang

Burung gereja kembali terbang

Meninggalkan tatapku keseorangan

 

Bukankah, akhirnya semua akan sendiri?

Menepi pada diriNya sendiri

 

Air kah?

Daun kah?

Burung kah?

Siapakah aku di saat sendiri?

 

Semua hanya diam, sebagaimana mentari yang menyorot murungnya wajah tanpa hendak mendekat

Semua hadir memamerkan keindahannya, tapi..

Kenapa wajahmu terus membayangi?

Sempitkah dunia?

 

Rindu,

Terima kasih

bdg, 22Mei2017

***

.

AKU PADAMU

-ar

 

Aku padamu, bagaimana?

Mimpi buruk itu menjelma tiada rasa

Hampa di visualisasi jiwa

Membuat jenuh senarai makna

 

Aku padamu seperti apa?

Datang sebatas rindu

Beriring sebatas rasa

 

Takkan abadi, aku padamu

Rindu itu, kan hilang tenggelam akhirnya

Entahlah aku padamu ..

Entah pun apa yang ku rasa

 

"Kita, padaNya bagaimana?" Katamu saat itu..

Mungkin itu yang mengingatkanku padamu, serasa kau memegang erat lenganku menuju muara di musim semi.

Sebagaimana taburan bunga di sepanjang jalan saat itu, yang tersenyum bersama semilir angin lembut, bergelora menuju muara.

 

Rindu,

Terima kasih

bdg, 24Mei2017,

***

.

DI TEMPAT JAGAL

-ar

 

Ayam berkeok-keok berebut makan

Berjejer di tempat jagal

Rakus, saling depak saling serang

Pakan berhamburan ke bawah kandang

 

Sekelompok burung gereja mengais hamburan pakan

Terbang seketika saat sang jagal datang

 

Golok terasah siap menjagal

Burung terbang meski terasa lapar

Ayam mendekat tuannya datang

 

Ayam lupakan terbang untuk makan

Burung gereja, memilih terbang meski lapar berguncang

Penjagal, mengasah golok inginkan sayap untuk terbang

Pemuisi, tak berbuat apa-apa, --selain menuliskan tentang rasa apa-apa

 

Tapi semua tetap hidup dan diberi makan

Lalu akhirnya, dimatikanNya

 

Rindu,

Terima kasih

Bdg, 23Mei2017

***

.

SEBATAS BATASANNYA

-ar

 

Menyerahlah sudah

Rengkuh rapuh di luas malam

Memburai nyatanya

Kabut terpapar arah

 

Kemana pun angin berhembus

Mereka bergerak pada satu perintahNya

Begitu pun aku

Begitu pun kamu

 

Sua suka kita bercerita

Akhirnya menepi ke alam mimpi

Tak kasat mata kehendakNya

Itu semua kan di bawa mati

 

Semua, di belakang kehendakNya

 

Rindu,, apalah artinya

Aku, apalah dayanya

Sebatas kabut di tengah kelam

Yang berakhir di dekap malam

 

Tersenyumlah,

Ramadhan kan membakar

Rembulan kan purnama

Dan semua kan kembali, kepadaNya

 

Adapun di doa itu semua

Semua dalam kehendakNya

 

Rindu,

Terima kasih

Bdg, 23Mei2017

***

.

TEPIS BIAS BATAS ALAS

-ar

 

Tepis saja, rinai kabut itu mengundangmu

Indah hijabmu, tak layak tergantikan senyapnya malam

Akan halnya canda tawa itu pun, -

 

Lupakan saja

Pahatan samar di selimut yang paling lembut itu,

Ku rasa, kau rasa

Yang alpa

 

Rindu,

Terima kasih

Bdg, 27Mei2017

***

.

MANIS BEKAL PERJANJIAN

-ar

 

Anak angin di tepi kening, di hembus nafas kali ini, ada serasa hangat yang ikut menerpa. Hingga mataku tertutup, kau tetlihat begitu manis kala itu, bahkan hingga kini di terjaga pun.

 

Jalan-jalan sutra ini, masih ku lihat serta, meski sebatas rahasia, meski sebising suara.

 

"Karena bila benar tujuan kita sama, pada akhirnya; kita pasti akan bersama," Katamu lirih saat itu.

 

"Lalu kenapa kita tidak bersama saja?" Kataku lebih lirih, kembali angin menerpa wajah, menyadarkanku. Hawa hangatmu kini lama tiada.

 

Anak angin, gigil sunyinya saja kini yang kau bawa. Namun, masih saja memaksa senyum; mengingat saat itu pun ia tersenyum. Tersenyum untuk satu perpisahan, dalam harap suatu pertemuan kita kelak.

 

"Bertemu di teduh naunganNya," Katamu dengan ceria. Saat itu, biarlah sedikit demi sedikit tawamu itu ku buka.

 

Biar ku buka sebagai bekal perjalanan di sepi dan sunyinya jalan sutra ini, disaat saat terduduk di perhentian singkat fana ini. Rindu, terima kasih.

 

#kasih-kekasih

Bdg, 28Mei2017

***

.

BERBUKALAH DENGAN YANG MANIS

-ar

 

Senja, napasmu dingin terasa

Pijakan sekeras beton ini membius

Kian kaku kakiku

 

Akan halnya mereka;

Berbahagia, berakhir tersujud mengiba padaNya

Tersenyum, menyongsong senyum cantik utusanNya

Memburu, pada luas limpahan rahmatNya

 

Tapi,

 

Siapalah aku

Napasmu bahkan begitu dingin

Sedingin es menjalar semula telapak kaki

 

Bdg,30Mei2017

***

.

DERAI CERMIN

-ar

 

Derai cermin retak menggema

Memenuhi udara kamar

Menghujat sunyi malam

Harap jeda ilusi datang menyapa

 

"Hahaha..!" jiwa berontak

 

Serasa aneh memenuhi gigil temaram

Sesuara tawa menghancur lentera

Menghujat langit sempit nan muram

 

Hitam, tiada warna

Buta, tiada rupa

 

Tapi kenangan berbaik hati memberi nuasa,

-hingga amarah bangkit, membunuhnya segera

Namun semua sia saja, cermin, lentera dan temaram kamar tetap saja menyapa, -setia menemani segala lika-liku nyataNya

 

Bdg, 30Mei2017

***

.

RAMADHAN DI KOTA CAHAYA

 

Hujan kasih berjatuhan di kota cahaya

Awal mula suatu hidup manusia

Manusia sebagaimana manusia

Hingga berakhir fana pun sebagai manusia

 

Akan halnya setiap nama,

Kota bahaya begitu terang benderang

Langit dan bumi memapar cinta kasihNya

Hingga terutus dutaNya kepada manusia

 

Kota cahaya memulakan manusia

Memberantas perbudakan

Menghancurkan berhala penguasa

Melahirkan para khalifahNya

 

Kota cahaya bermula

Para pejuang bersiap di muka

Berjajar menyambut ridhaNya

Menadah limpahan kasih sayangNya

 

Kota cahaya, itulah kota ampunan dan keridhaanNya

Kota cahaya, itulah kota hamba-hambaNya

Kota cahaya, itulah masa terang para pejuangNya

Kota cahaya, itulah Ramadhan kita

 

Masa dimana satu malam lebih baik dari seribu bulanramadhan

DiturunkanNya Al Qur'an pada langit dunia

Itulah kota cahaya bulan ramadhan

 

Bandung, 30Mei2017

***

.

SENYUMI KISAH LALU

-ar

 

Rasakan tawamu, oh sungguh nyata

Dalam binar lembut, kau rengkuh kalbuku

Berderai air mata, senyumi kisah kita

Menunggumu tersenyum, di kejauhan waktuku

 

Kasih, kini kau lupakah aku?

Akan cerita yang tlah lalu

Sampai kapankah, diriku ini menunggu

 

Sampai kapankah?, semua kisahku menunggumu..

 

Bdg, 29Mei2017

***

  • view 185