BURUNG BEO *

abdul rozak
Karya abdul rozak Kategori Lainnya
dipublikasikan 13 Oktober 2017
BURUNG BEO *

 
 
Pak Budi merasa beruntung, asisten rumah tangganya bersedia memundurkan waktu mudiknya.
Jadi ada orang yang menjaga rumah dan memberi makan burung beo kesayangannya selama ia dan keluarganya berada di kampung halaman.
-
Bagaimana tidak bangga, burung itu memang sangat teristimewa; karena dapat melantunkan surah Al-Fatihah dengan langgam syahdu dan tajwid sempurna, bahkan Pak Budi menganggapnya sama dengan suara khas dari qiroah Imam Masjid Nabawi di Madinah. Sungguh indah indah beo itu mengaji, membuat tertegun sesiapa yang mendengarnya; bahkan bagi yang tidak mengerti harfiyahnya sekalipun.
-
Setiap mendengar kata 'Bismillah', pasti dengan serta merta burung beo Pak Budi akan mengikuti hingga menghatamkan seluruh Surah Al Fatihah hingga di akhiri dengan kata 'aamin'.
-
"Assalamualaikum, sehat bi? gimana rumah aman?" Pak budi dengan berseri menyapa Bi Inah sejak asisten rumah tangganya itu membukakan pintu rumah. Hari ini, keluarga Pak Budi telah kembali dari kamoung halamannya dengam selamat.
-
"Alhamdulillah pak, aman" Jawab Bi Inah singkat serasa membalas dengan ramah.
-
"Wah bibi emang bisa diandalkan. Nah sekarang coba ambil burungnya Bi, biar saya gantungkan di kaitan teras seperti biasanya" Timpal Pak Budi cepat, tidak sabar ingin mendengar suara bacaan Al Fatihah burung kebanggannya itu.
-
"Iya ini pak" Tidak lama berlalu, Bi Inah kembali beserta sangkar dan burung didalamnya.
-
Lalu Pak Budi segera ke teras bersama burungnya, sementara Bi Inah langsung berlalu ke dapur.
-
Tidak lama kemudian..
-
"BIBI, SINI!",Teriak Pak Budi seketika didengarnya suara burung Beo miliknya kini bersuara aneh, dengan tergopoh Bi Inah segera ke hadapan.
-
"Iya Pak?" Bi Inah heran, mendengar tuannya memanggil seperti marah tiba-tiba.
-
"DENGER SENDIRI!" Pak Budi berkata cepat, sambil menunjuk ke arah burungnya itu.
-
"Hegg, brutttttt, prettt, bruttt, but but,ces.." Tiba-tiba Burung beo kembali bersuara.
-
Bi Inah kaget, teringat suara kentutnya sendiri tempo hari saat mencret, hingga harus sering bolak-balik ke jamban untuk buang air besar.
-
Sedang Pak Budi hanya bisa terduduk seketika sambil berteriak seperti mau menangis. Semakin didengar suara burungnya hatinya makin miris; Suara muratal indah burung kebanggaannya itu kini berganti dengan suara kentut Bi Inah, Asisten rumah tangganya sendiri.
-
ar, 3juli1017

  • view 12