Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 13 Oktober 2017   22:48 WIB
- Sang Penjaga -

 
 
"NGAUNGG GRR GRR,"
Auman khas harimau kembali terdengar di dalam kamar, sontak membuat para tetangga yang tengah berkumpul sejak pagi sangat kaget. Suaranya keras menggelegar, memekakkan telinga dan membuat bergidik sesiapa yang mendengarnya. Terkecuali Ma Ayat beserta anak perempuanyanya yang tengah berkumpul di ruang belakang rumah, mendengarnya hanya makin menderas saja air matanya, sedang para anak laki-laki diam terpekur.
-
" Bagaimana bisa, pak RW bisa berubah menjadi manusia harimau?," Bisik-bisik tetangga kembali ricuh, dengan bergidik saling menerka apa yang terjadi pada panutan desa mereka.
-
"Rasanya tidak mungkin jika sampai berbuat klenik sebagaimana cerita dukun desa, karena setahu saya, pak RW termasuk yang taat menjalankan perintah shalat dan puasa, bahkan pernah beliau kuat puasa mutih selama 40 hari!," Tukas Luqman, seorang tetangga samping rumah ketua RW.
-
"Lalu kenapa Bah Ayat hingga berubah serupa macan begitu? salto, melimpat-lompat, kuku jari tangan dan kakinya memanjang tajam lalu memanjang pula kumis kaku serupa kucing, ditambah alisnya yang menebal hampir bertemu, makin mirip saja Bah Ayat dengan harimau, hanya saja nggak ada ekor, jangan-jangan emang bener, ketua RW kita itu memang manusia harimau," Kali ini Ayas menimpali, ia teringat bagaimana melihat langsung sebelumnya saat pertama datang setelah suara auman singa terdengar sejak pagi.
-
"Jangan-jangan, kambing saya yang mati penuh cakaran kuku tempo hari itu di serang Pak Ayat?!" Seketika dada Badrun terasa sesak, demi mendengar penuturan Ayas yang duduk disebelahnya dengan tenang menikmati hidangan tuan rumah. Dipikirnya kambing itu harus diganti rugi jika memang benar terbukti begitu.
-
Anak-anak lelaki tuan rumah yang ikut mendengar hanya dapat terdiam, disatu sisi sedih ayahnya menjadi perbincangam miring para sesepuh desa, di satu sisi hatinya tidak bisa mengelak lagi sejak sebagian warga menyaksikan ayahnya mengaum dan melompat-lompat di dalam kamar ayahnya yang selalu gelap itu.
-
"Assalamualaikum, " Tidak lama pak Haji datang, seisi rumah serentak menjawab salam, orang yang sudah dinanti sejak pagi akhirnya datang.
-
"Waalaikum salam, Pak Haji, mari saya antar langsung ke dalam kamar Abah," Yayat segera mendekat, sejak dilihatnya Pak Haji telah berada di muka pintu, mempersilahkan dan mengantarkan langsung ke kamar Abah, ayahnya sendiri. Dengan wajah cerah Pak Haji berjalan mengikuti Ilyas memasuki kamar Bah Ayat.
-
Pintu kamar dibuka, seketika bau-bauan aneh menyeruak ke seisi ruang depan rumah. Semua menahan napas, hening seketika. Kini terlihat Bah Ayat terduduk begitu menyedihkan, ringkih kurus dengan rambut dan alis mata tebal berdiri sekaku paku.
-
"Assalamualaikum, " Pak Haji kembali membuka salam, tapi Bah ayat tidak menjawab. Seketika Bah Ayat sepeti bersiap menerjang, geraman sebagaimana harimau kian terdengar, tapi Pak Haji tenang saja. Sedang Yayat sedikit mundur, merasakan kengerian pada ayahnya sendiri.
-
"Tenanglah nak, tidak akan ada yang akan celaka tanpa seijin Allah," Pak Haji menyadari ketakutan bujang tanggung di sampingnya. Mendengarnya Yayat sedikit tenang, kedua matanya benar-benar tidak ingin mengakui segala kenyataan dihadapannya.
-
"Abah, ini Pak Haji datang menengok," Yayat menyapa ayahnya, berusaha tenang. Pak haji mengangguk sambil berseri, seakan menjenguk manusia biasa. Tapi Bah Ayat hanya membalas dengan geraman saja, seisi laki-laki di ruangan depan seketika mundur serentak dari tempatnya, demi merasakan ketakuatan dari suara geraman Bah Ayat.
-
"Mau apa datang heh?!," Dengan bentakan keras, Bah Ayat kini berbicara langsung dengan menatap tajam Pak Haji.
-
"Saya datang menengok, atas undangan Yayat, salah juga satu santri kami di pondok," Dengan tenang Pak Haji membalas.
-
"Jangan ganggu keluarga tuanku, akulah penjaga keluarga ini turun temurun." Suaranya angkuh membentak.
-
"Dusta!, jika benar kau penjaga, kenapa tidak juga kau jaga nyawa tuanmu dari malaikat maut?!," Kali ini Pak Haji balas membentak.
-
Demi mendengar pernyataan Pak haji, seketika Bah Ayat salto kebelakang dan tidak sadarkan diri lagi, kaku dan membiru, sebagaimana orang yang telah mati beberapa hari lalu.
-
ar, 23juli2017
 

Karya : abdul rozak