disorientasi seorang pecinta alam.

abdul rozak
Karya abdul rozak Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Oktober 2017
disorientasi seorang pecinta alam.

Danau di ujung lingkar perbukitan selalu saja tenang, hingga para penduduk sekitar menyebutnya danau sunyi.
-
Ardhi merasa lapang menghidu udara alamnya yang asri nan sejuk, sejak kedatangannya pagi buta sebelumnya, seakan peringatan dan cerita para penduduk yang di temui di sepanjang perjalanan sebelumnya sangat layak dilupakan.
-
Air danaunya begitu tenang, meski sisa kabut masih memburami permukaannya. Terlihat makin cantik ,menghangat setelah diterangi mentari pagi. Ardhi tertegun, melihat ke ujung danau yang telihat bersinggungan langsung dengan langit cerah dengan sedikit awan. Dipikirnya, kini suatu pandangan mata telah membenarkan salah satu fantasi arsitektur bebas dalam benaknya; sebagaimana yang dilihatnya kini di Danau Sunyi.
-
"Pantas saja disebut Danau Sunyi, danau ini memang sunyi, bahkan dari riang kicau burung sekalipun, apakah segala rupa suara telah berubah menjelma lempengan warna eksotis disini?," Ardi berguman sendiri, kini matanya terpejam, kembali menghirup kesegaran udara alam rimba hijau tepi danau di pagi hari.
-
"Tidak ada tempat yang benar-benar sunyi di dunia ini, yang ada adalah kelemahan telinga kita mendengarnya," Seketika suara halus memecah sunyi. Ardhi terperanjat, dan bertambah kekagetannya ketika dilihatnya sesosok cantik bergaun lebar seanggun putri kerajaan eropa pada masa Renaissance.
-
"Si, siapa?!," Suara Ardhi tergagap lalu tercekat, dilihatnya wanita tersebut bertambah cantik nan anggun, namun aura kehadirannya membuat bulu kuduknya berdiri, sorot matanya begitu dingin. Ardhi kaku seperti tersihir, terpana. Lalu seketiaka Ardhi terperanjat, terbangun.
***
-
Suasana Danau sunyi kini beranjak menuju tengah hari, Ardhi terbangun perlahan dari mimpi sekejapnya, namun perasaan dirinya kini terasa begitu aneh.
-
"Bangun nak!, tidak boleh seorang diri berada disini," Seorang nenek seketika berada dihadapan Ardhi, dilihatnya nenek itu begitu kumal, bongkok sambil menggendong seikatan rantik kering yang cukup banyak.
-
"Maaf, nenek ini siapa?," Ardhi menajamkan pandangan, masih berusaha cepat mengumpulkan keterjagaannya dari mimpi.
-
'Bagaimana bisa tertidur disaat asyik menatapi pemandangan danau yang indah ini ?,'Pikir Ardhi terheran-heran sendiri.
-
"Tak penting siapa nenek, cepatlah pergi!," Nenek bongkok makin melotot. Tanpa ba-bi-bu memerintah Ardhi untuk pergi. Tatapannya begitu tajam, menusuk. Menanggapinya Ardhi hanya terdiam, karena tetiba saja bayangan gadis cantik di mimpi sebelumnya kembali terbayang. Lalu sesuara sekelilingnya kembali terasa sunyi, pun dengan suara bentakan nenek bongkok di hadapannya. Lalu Ardhi melihat semuanya menjadi gelap.
***
 
"Namamu Ardhi kan?," Seorang perempuan muda tersenyum manis dipandangan Ardhi saat pertama kalinya ia membuka mata. Ardhi heran memandangi selang infus di lengan kirinya, lalu memandang berkeliling ke seisi ruangan serba putih, sekarang Ardhi menyadari bahwa dirinya tengah berada di ruang perawatan medis.
-
"Apa yang terjadi?," Ardhi merasakan kepalanya pening, hingga merasa sangat lemah meski hendak duduk.
-
"Anda ditemukan pingsan di tepi Danau Sunyi oleh penduduk sekitar dan keluarga anda, setelah sebelumnya melakukan pencarian selama satu minggu," Dengan ramah, suster di sampingnya menjelaskan, tapi Ardhi makin tidak mengerti; karena seingat dirinya, hanya beberapa menit saja ia berada di tepi danau itu.
-
"Lalu siapa gadis sangat cantik dan nenek bongkok itu?," Ardhi berbisik sendiri, mengingat perempuan berwajah sangat cantik di tepi Danau Sunyi kembali terbayang, sedang tubuhnya kini merasakan begitu kedinginan, menggigil. Lalu pandangannya seketika kembali gelap.
-
24juli2017
 

  • view 44