Aku Bukanlah Sosok Yang "Datang Lalu Pergi"

Ja'far Tamam
Karya Ja'far Tamam Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 Juni 2016
Aku Bukanlah Sosok Yang

Ini kisah yang terjalin antara saya dengan seseorang, yang karena ini, saya lalu dianggap sosok yang "datang lalu pergi".

Sebenarnya pangkal permasalahan ini, kalau mau disebut masalah, amat sederhana. Yakni munculnya ketaksepahaman antara pelantun teks dengan audien pembaca. Memang sudah dimaklumi, bahwa teks merupakan benda mati yang kadang mencuat multitafsir dari kalangan pembaca. 

Siaahh. biar agak intelek dikit.

Sedikit asbabul wurud, saya kebetulan menyukai aktivitas menulis dan menranskrip guang realitas menjadi kata-kata. Saya, oleh kampus, kadang digembleng untuk mengerjakan makalah berskala agak tebal dalam tempo yang singkat. Oleh Nabawi, satu lembaga pers di asrama tempat saya menyesap wawasan per-hadis-an, saya dipaksa untuk merampungkan tulisan-tulisan yang diangkat ke majalah dalam waktu yang, sebenarnya waktunya panjang, namun karena saya terhitung sibuk dengan aktivitas lain, cukup terbatas.

Apalagi keterlibatan saya di dunia online mengharuskan saya mengasah-asah pena menggurat makna. Akun-akun ruang tulis online yang saya asuh, Facebook, Blogger (saya punya 4 blog), Kompasiana, Qureta, Inspirasi, Wordpress, dan lain sejenisnya, mendidik saya menjadi pribadi yang setia dengan dunia tulis menulis.

Iya, ternyata saya bisa setia. Ecikiwir.

Demikianlah. Maka, ketika saya sempat tidak ada tugas menulis, atau barangkali ketika menghindari kejenuhan, maka birahi menulis ini kocar-kacir tak terkendali. Apalagi saat saya memegang Gadget. Saat saya membuka WA, maka beberapa group yang saya punya biasanya ramai dengan celotehan saya. Important or Not Important.

BBM terpaksa waktu itu saya hapus. Karena kalau tidak, dua menit sekali linimasa BBM teman saya akan di-rusuhi dengan kehadiran status saya.

Singkat cerita. Bukan hanya group yang saya sambangi, rame-I, dan rusuhi. Beberapa kontak personal juga saya jabani, saya ajak tanding bikin hingar-bingar, saya adu bikin puisi, saya tantang menggombal sekuat mungkin.

Tentunya dengan perempuan.

Ternyat eh ternyata. Dari beberapa yang saya gombali itu ada yang menganggap serius percakapan saya. Dasar saya memang mempesona, terpikatlah ia.

Tidak lama, lewat media lisan dan surat kabar perbincangan yang begitu kencang, opini bahwa saya merajut rasa dengan seseorang yang saya ajak chat tersebut dengan maksud bercanda namun dia menyeriusinya, terlempar ke public.

Sialnya, public mengamininya. Opini kembali digaung-gaungkan. Dikipas-kipasi. Disirami bensin. Ditaruh ayam mentah, jadi ayam bakarlah ia.

Halah, ngomong apa toh saya.

Baru, dekat-dekat ini, saat ia malah semakin dalam menaruh harapan dan ketika saya menjelaskan gamblang bahwa tak ada tali khusus yang terbentang antara kita berdua, dua tiga percikan komentar membasahi realita.

Saya dianggap tidak setia. Saya dianggap menggantungkan rasa. Saya dianggap penguji keimanan. Dan yang paling cetar, saya dianggap sosok yang “Datang Lalu Pergi.”

Ouh.Ouh.Ouh.

Begitulah kisahnya. Semoga anda memahaminya semenjak kalimat awal hingga sejauh ini.

Lewat tulisan ini saya hendak menegaskan bahwa saya orang yang setia kala mencintai. Saya bukan sosok yang “Datang Lalu Pergi”. Karena itu akan menyakiti.

Soal tradisi bahwa saya sering menumpahkan hasrat kepenulisan saya tidak pada tempatnya, itu yang sedang saya atasi. Dari sana saya juga tersadarkan, bahwa perempuan, sebagaimana celotehan mayoritas cangkem, amat mengedapankan perasaan dalam menilai sesuatu.

Maafkan saya karena dua hal. Karena kata-kata saya yang begitu berbisa. Karena sosok saya yang amat mempesona ini.

Btw.

Saya tengah berniat menggarap buku, merampungkan skripsi, menyusun naskah-naskah blogging, dsb. Semoga saya tersibukkan dengan hal-hal berguna tersebut.

Mohon lantunan do’anya saja wahai kawan-kawan Inspirasi.co, dan pembaca sekalian.

Bintaro, 16 Juni 2016

  • view 156