Kiai Mustafa, Terlalu Cepat Engkau Pergi....

Ja'far Tamam
Karya Ja'far Tamam Kategori Tokoh
dipublikasikan 04 Mei 2016
Kiai Mustafa, Terlalu Cepat Engkau Pergi....

Pada Malam ke 7 pak Kiai Mustafa meninggal dunia, beberapa tokoh memberikan kesan dan kenangan bersama almarhum.

Muhaimin Zein, Mantan Rektor PTIQ, bertutur soal kenangannya bersama KH. Ali Mustafa Yaqub.

Begini,

Pak Kiai adalah adik kelas 3 tahun dari KH. Muhaimin Zein saat di PP. Tebu Ireng, Jombang. Pak Kiai mondok di Seblak, setalian dengan Tebu Ireng. Keduanya berinteraksi di atap yang sama pada tahun 1965-1971. Sama-sama berguru ke KH. Idris Kamali.

Lazimnya di Tebu Ireng, setiap santri diberi kebebasan untuk menekuni bidang pelajaran yang disukai. Mau ke Fiqih, Qur’an, Hadis, Nahwu dan lain sebagainya, terserah hati membawa kemana. Sebagai klimaks pembelajaran, setiap santri diwajibkan menghafal beberapa kitab tertentu sesuai dengan bidang yang digeluti.

Kiai Mustafa memilih hadis sebagai fokus studinya. Maka beliau menghafal Manzumah Baiquniyyah dan al-Waraqat sebagai pemenuhan syarat. KH. Idris Kamali juga menyuruh santri-santrinya untuk menghafal -bait yang digubahnya.

Salah satunya Manzhumah adabutthalab. Meski sebagaimana saya temukan bait-bait tersebut berada di kitab Jami’ Bayan al-Ilmu wa Fadhluhu karya Yusuf bin Abdil Barr an-Namiry.

Kiai Muhaimin mengutip bait bahwa ilmu didapat dengan belajar, menghafal, pendalaman, dan pemahaman. Serta bahwa ilmu itu ibarat laut yang jauh dasarnya dan tanpa batas.

Usai dari Tebu Ireng beliau ke Riyadh dan Kiai Muhaimin ke Jakarta untuk mengajar di PTIQ kitab Fathul Qorib sambil lalu kuliah di IAIN Jakarta.

Usai S2 beliau menjadi dosen di IIQ dan diangkat sebagai Guru Besar (Prof) sebelum menyabet gelar doktor. Pengukuhan beliau sebagai Guru Besar memicu ketidakterimaan beberapa pihak.

Beberapa orang bernada mengejek, “Itu Honoris Causa apa Humoris Causa?!”

Banyak orang lain merasa berat hati dengan ketetapan tersebut, akan tetapi cendekiawan sekelas Quraish Shihab, Said Aqil Munawwar, Menteri Agama (Maftuh Basuni) keburu mengakui kepakaran beliau dalam bidang hadis. So, Why?

Pak Kiai Mustafa sempat memimpin ponpes Al-Hamidiyah, Depok sebagai khidmat kepada Kiai Syaikhu, pendiri Ponpes al-Hamidiyah.disana beliau hanya selama 1 tahun saja.

Pak Kiai memiliki cita-cita ingin memunyai pesantren yang nanti jika beliau sudah meninggal maka akan ada yang mendo’akannya. Dan itu terwujud sekarang.

Beliau juga pernah ditawari untuk memimpin Pesantren milik Menteri Agama Maftuh Basuni, ditemani Pak Ali Nurdin dan Pak Muhaimin Zein. Akan tetapi beliau memiliki kesibukan lain.

Pak Kiai Mustafa gemar memasak. Buku Pak Kiai yang berjudul Pesan Nabi Untuk Para Penghafal al-Qur’an begitu berkesan bagi Pak KH. Muhaimin Zein, Mahasiswa-Mahasiswi PTIQ-IIQ.

Pada akhir penyampaiannya beliau menyitir satu bait syair,

“Ibumu melahirkanmu dan engkau dalam keadaan menangis. Dan sekelilingmu tertawa gembira menyambut kedatanganmu. Maka berjuanglah, nanti kelak ketika kau pergi orang-orang akan menangisimu, dan engkau tertawa bahagia. 

Pak Rusli, perwakilan dosen Darus-Sunnah, bercerita tentang pak Kiai,

Suatu ketika Pak Rusli tengah berkumpulan di restoran Abu Nawas bersama KH. Syukran Ma’mun, dan Kiai Ali, mereka berbincangan terkait Islam ke-Indonesiaan. Pada kesimpulannya mereka beranggapan bahwa UU Pernikahan harus dirombak agar sesuai dengan Sunnah dan al-Qur’an.

Menurutnya, Pak Kiai meninggal terlalu cepat. Beliau meninggal dunia dan di Indonesia masih banyak permasalahan yang harus diluruskan. Terlalu cepat almarhum pergi, ucapnya.

Pak Fulan, pengurus Masjid Sunda Kelapa, berkisah soal kesan dan kenangan bersama Kiai Ali Mustafa Yaqub,

Almarhum merupakan tokoh intelektual yang mengisi kajian di Masjid Sunda Kelapa dalam bidang Hadis.

Pak Kiai berkelakar, usai menggabungkan hadis dari berbagai riwayat, beliau berujar, “Yang berjenggot tidak berpahala, dan yang tidka berjenggot tidak berdosa. Keduanya bisa mendapatkan pahala jika diniati mengikuti Rasulullah Saw dan tidak karena fanatik.”

Rabu malam (27/04.2016), Pak Fulan menelpon Pak Kiai agar menjadi khatib Jum’at di Sunda Kelapa, akan tetapi beliau menolak dan berdalih sedang terserang flu. Kamis Pagi nya (28/04/2016) dikabarkan beliau telah pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Pak Fulan tersentak.

Pak Kiai kalau berbicara sanggup membincangkan segala aspek. Sesekali bicara politik, sesekali agama, negara, dan lain sebagainya. Ini bukti keluasan ilmu beliau.

Menurut Pak Fulan, Ilmu ibarat air yang turun dari langit. Membasuh bumi pada daerah yang Tuhan kehendaki. Ada yang ditimpa air kemudian melahirkan kehidupan dan kesuburan, ada yang tidak. Air menyuburkan bumi sebagaimana ilmu menyuburkan manusia.

Allah Swt mengangkat manusia karena iman dan ilmu. Pak Kiai termasuk sungai ilmu. Sosok yang banyak menampung ilmu untuk kemudian disalurkan ke insan yang membutuhkan.

Yang mengatakan bahwa dzikir sesudah shalat itu bid’ah barangkali belajarnya langsung kepada Rasulullah Saw., menemukan hadis satu langsung dipakai tanpa disatukan dengan hadis lain yang semakna dan saling menasirkan. Tengoklah kisah Abu Dzar yang tekenal di kalangan malaikat karena ia rajin mewiridkan Qul Huwallahu Ahad. Maka bagaimana bisa hal demikian dibid’ahkan?

Kiai Ali merupakan sosok yang istiqomah dan tidak transaksional. Hal ini senada dengan apa yang beliau kerap sampaikan kepada santri-santrinya saat pegajian, ‘”Ana La Ardho Abadan Min Thulab Darussunnah Yakun Ustadz Waro’” 

Pak Kholil Nafis, perwakilan MUI, berujar soal Pak Kiai Ali,

Ada sosok yang berilmu dan ia memiliki keberanian yang tinggi. Ada sosok yang berilmu namun tidak berani. Ada sosok yang tidak berilmu namun berani. Ada sosok yang tidak berilmu dan dia tidak berani. Pak Kiai Ali termasuk yang pertama.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika yang ingin disampaikan adalah kebenaran. Pak Kiai Ali contohnya. Banyak aral dakwah yang kerap menghadang beliau namun beliau tetap kukuh tak tergoyahkan.

Jika hendak tampil di televisi beliau kerap meminta koreksian kepada Pak Kholil Nafis.

Menurutnya, Pak Kiai disangka sebagai orang Madura karena sikapnya yang tegas.

Darus-Sunnah, 03 Mei 2016

  • view 177