Maaf, Apapun Channelku Aku tetap Cinta Indonesia

Fitri  Nurjanti
Karya Fitri  Nurjanti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Februari 2016
Maaf, Apapun Channelku Aku tetap Cinta Indonesia

Indonesia memiliki banyak stasiun televisi. Itu adalah sebuah prestasi yang luar biasa dalam dunia media. Ini membuktikan bahwa orang Indonesia sudah melek teknologi. Selain itu, masyarakat memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan informasi, hiburan dan lainnya sesuai dengan minat mereka.

Tetapi beberapa tahun ini, saya memilih untuk berlangganan televisi berbayar di rumah saya, bukan karena sok-sokan pengen terlihat keren atau terdepan dalam inovasi, tetapi lihat dong, tampilan di televisi sekarang. Banyak sinetron yang isinya bully mem-bully dan ini menjadi inspirasi generasi muda untuk berperilaku yang sama.?

Sebuah kejadian yang nyata bahwa anak SD kelas V mem-bully anak SD kelas I yang baru saja masuk sekolah, saat ditanya alasannya mengapa dia mem-bully? Jawabannya seperti ini, "Saya tidak suka dengan anak itu, dia cantik dan bajunya selalu rapi dan wangi."?

Pernahkah kita menyadari semua, bahwa hal seperti itu ada dalam tampilan-tampilan sinetron yang isinya kurang lebih orang berteriak-teriak, marah dan memaki.?

Kasus lain yang baru saja saya dapatkan dari teman saya dari grup pertemanan, beliau baru saja melakukan share di grup mengenai anaknya yang terjungkal dari sepedanya. Bukan karena dia ngebut di jalan atau tertabrak mobil, namun, karena dia meniru salah satu adegan dari sinetron di salah satu televisi swasta kita. Anak tersebut saat ini kehilangan satu giginya dan terluka pada beberapa bagian tubuhnya. Jika kita menilik, itu semua bukan salah anak tersebut atau bisa dikatakan kita tidak bisa mengatakan bahwa anak tersebut bandel dan tidak mendengarkan omongan orang tua. Tetapi anak-anak adalah pencari model. Jika dia sudah menemukan model yang sesuai dengan dirinya, maka itulah yang akan ditirunya. Jika ia diingatkan, maka anak akan mengatakan, kenapa si A boleh dan saya tidak boleh. Jika anda adalah orang tuanya, jawaban apa yang akan anda berikan kepada anak anda?

Belum lagi, pada saat siaran mereka membahas politik, wawancara-wawancara yang mereka lakukan sering memancing emosi saya sendiri, apalagi saat saya melihat presenter sedang mewawancarai politikus yang menjadi rival salah satu partai yang diikuti oleh pihak penyiaran, belum selesai pertanyaan dijawab, mereka menayangkan iklan hingga membuat politikus itu marah-marah di media massa. Apabila dilihat, sepertinya memang menjadi kegemaran untuk memancing dan menyulut amarah orang di media massa.

Masih ada lagi, beberapa siaran terlihat memancing emosi kelompok tertentu jika itu dikaitkan dengan isu-isu SARA. Perlu diingat bahwa kita ini hidup di Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika, dimana kita sepakat untuk menghormati dan menghargai perbedaan. Namun, malahan media penyiaran menyulut emosi kelompok-kelompok tertentu, tanpa disadari, bahwa kelompok minoritas yang merasa tertekan akan memiliki kemampuan untuk membalas, sehingga akhirnya pada puncaknya, kemarahan ini akan meledak sehingga akhirnya kekacauan terjadi.?

Melihat kekacauan-kekacauan itu, sehubungan di rumah saya, ada keponakan saya yang masih berumur 7 tahun, saya sungguh melarang keras keponakan saya untuk menonton sinetron, namun, larangan saya tidak serta merta melarang sama sekali anak untuk tidak nonton televisi. Saya menguhubungi salah satu provider televisi berlangganan demi keponakan saya itu.?

Dari semua daftar tontonan itu, 90 persen sajian acara televisi yang saya suggest-kan untuk keponakan saya, semuanya adalah siaran produk luar negeri yang menyajikan acara pendidikan seperti salah satu siaran dari televisi Jepang, atau dari salah satu siaran televisi dari Australia dan seterusnya, untuk hiburan saya memilihkan siaran kartun dari produk-produknya Walt Disney, selain itu siaran ilmu pengetahuan seperti milik National Geography dan Discovery Channel juga menjadi pilihan.?

Dari sepuluh persen yang tersisa itu, keponakan saya boleh menonton televisi Indonesia yang menyajikan acara talent show di salah satu televisi yang saat ini tengah booming. Bukan karena dia harus menyukai salah satu genre musik tersebut, namun, saya mengarahkan keponakan saya mengenai apa yang sebaiknya ia lakukan untuk menggapai impiannya.?

Saya sama dengan orang-orang lainnya bahwa saya mencintai Indonesia, oleh karena itu, saya mengharapkan generasi Indonesia yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Memberikan sajian siaran televisi yang sehat menjadi salah satu komponen pendukung untuk perbaikan mental bangsa Indonesia yang berpegang teguh pada ke-Bhineka Tunggal Ika-an.

  • view 296

  • Jin Mutsu
    Jin Mutsu
    1 tahun yang lalu.
    Saluran tv boleh apa saja yg terpenting ada orang tua/ dewasa yang mendampingi dan menyaring sehingga anak dapat quality time bersama ortu dan hiburan tv

    • Lihat 1 Respon

  • Asep Kamaludin
    Asep Kamaludin
    1 tahun yang lalu.
    Apalah arti tontonan jika tidak bisa menjadi tuntunan. Sebuah kenistaan belaka, dalam dunia "Entertainment" hal positif ataupun negatif bisa berjalan beriringan. Tanpa fondasi yang kokoh, maka hal positif bisa berubah negatif dalam kurun waktu yang tidak kita sadari.

    • Lihat 1 Respon