Surat Untuk Ibuk

Nur Izza Lutful Rizqiani
Karya Nur Izza Lutful Rizqiani Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 17 Januari 2017
Surat Untuk Ibuk

Malang, 13 Desember 2016

 

Assalamualaikum....

Sugeng enjing buk, pripun kabaripun? Sehat nggih? Kula datheng mriki sehat. Maaf buk, Izza masih jelek Bahasa Kramanya, kemarin Izza UAS Bahasa Jawa remidi, hehe.

Buk, tadi pagi Izza pergi ke kebun teh bersama teman-teman Sekolah Izza. Selama disana, kami berbicara banyak hal, salah satunya masa depan. Sambil memandang hijaunya daun-daun teh dan merasakan dinginnya angin pagi kaki Gunung Arjuna kami merancang masa depan, pikiran kami melayang kemana-mana.

“Za, lulus SMK mau ngapain? Kerja? Kuliah? Atau nikah?” Celoteh salah satu temanku.

“Kerja sek. Nanti kalau kuliah mikir tugas lagi, capek mikir tugas. Haduuu, jangan mikir nikah dulu, remdi UAS aja belum selesai” Jawabku asal sambil tertawa.

Hari libur yang menyenagkan menurutku. Ya, meskipun aku tidak lama berada disana.

Tapi buk, aku menuliskan surat ini bukan untuk menceritakan hal itu. Aku ingin menceritkan ketakutanku. Aku takut kesibukanku di masa depan menjadikanku lebih jauh darimu. Apalagi kalau aku menikah, lalu aku punya anak. Pasti aku akan sibuk dengan suamiku dan anakku, padahal saat itu engkau pasti juga sudah mulai menua. Aku takut, aku tidak bisa membahagiakan engkau dimasa senjamu. Aku berfikir ingin rasanya kembali ke masa lalu, saat aku masih kecil.

Ya, meskipun masa kecil ku harus terbagi dengan Rizal dan Tata. Tapi itu lebih baik, aku menikmatinya. Buk, bisakah aku meminta kepada Tuhan untuk memutar waktu? Ah, aku rasa tidak mungkin, tapi aku akan tetap memintanya. Aku akan berdoa pada-Nya agar waktu diputar, dan mengembalikanku pada masa lalu. Lalu, akupun juga meminta agar waktu itu diperlambat, agar aku lebih lama bersamamu. Yah, aku mulai berfikir yang tidak-tidak, tapi aku benar-benar mengharapkannya.

Ah, sungguh aku kangen masa kecilku. Masa dimana engkau mengantarku ke sekolah dengan menggendong Tata. Masa dimana engkau mengajariku matematika sampai larut malam. Masa dimana engkau memaksaku sarapan sebelum aku berangkat sekolah. Masa dimana engkau mencubitku karena bertengkar dengan Rizal dan Tata. Aku masih mengingat masa-masa itu, dan aku sangat merindukannya.

Sekarang, aku bersekolah di salah satu sekolah informatika terbaik di Indonesia yang letaknya di luar Tulungagung. Karena letaknya yang jauh dan belum lagi tugas sekolah yang mewajibkanku berkutat dengan laptop setiap hari, aku jadi jarang sekali bertemu dan menghubungimu. Entah paham apa yang sekarang aku anut, hingga terkadang aku lupa bahwa aku dirindukan olehmu. Apakah aku terlalu larut dalam kesibukan, atau hatiku beku terpengaruh rutinitas kehidupan dikota? Entahlah buk. Sesungguhnya aku benci dengan masa sekarang, keadaan sekarang. Dan aku takut akan masa depan.

Sekarang saja, aku merasa jauh darimu, padahal kesibukanku belum seberapa. Bagaimana dengan nanti? Dengan besok? Dengan lusa? Dengan masa depan? Aku sangat takut. Bantu aku agar ketakutanku tidak terjadi. Aku tidak ingin engkau cepat menua, aku ingin membahagianmu. Aku sangat mencintaimu. Bahkan hingga saat aku menuliskan surat ini, aku masih belum bisa menggambarkan seberapa besar aku mencintai dan merindukanmu.

Semoga engkau tetap sehat dan selalu bahagia dalam lindungan-Nya. Semoga Tuhan mau mengabulkan doaku yang satu ini. Amiinn..

Buk, cukup sekian ya, tunggu aku pulang. Minggu ini aku pulang, mari kita rayakan pertemuan kita.

 I love you....

Wassalamuaikum...

 

Anakmu,

 

 

 

Nur Izza Lutful Rizqiani

  • view 103