Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 18 Agustus 2018   22:12 WIB
Bisik Lirih Kemerdekaan

Siang yang terik, matahari memanggang apapun yang ada dibawahnya, debu – debu beterbangan, sudah lama Sang langit tidak mengalirkan hujan, untuk sekadar membasahi bumi yang kerontang.

Angin panas yang bertiup, lenguhan sapi yang kehausan, dan ringkik kuda yang tertambat semakin menambah gersang suasana.

Sebuah ladang kecil di ujung kampung terlihat sama keringnya dengan udara, sebagian lahan itu rimbun dengan ketela-ketela yang ditanam acak, tidak beraturan, sisanya hanya tanaman-tanaman yg bernasib buruk, meranggas dibakar matahari.

Seorang lelaki renta tengah bermandi peluh, sedari tadi ia susah-payah menunduk, mengais-ais ketela yang tersembunyi di balik tanah berdebu, kedua belah tangannya legam, menghitam diterpa teriknya mentari, serta dipanggang panasnya kehidupan.

Hari ini sang kakek kurang beruntung, ia hanya mendapatkan dua bonggol ketela, dengan ukuran sedang, tidak terlalu besar, pun tidak kecil mungil. Sudah dua kali ia memutari lahan miliknya, namun pohon-pohon ketelanya masih terlalu muda untuk dipanen, rasanya, hanya inilah jatah rezeki untuk hari ini, tongkat pun digenggam, ia beranjak.

Sepanjang perjalanan pulang, sang kakek meniti pematang-pematang sawah. Sesekali, kain goni yang melekat di badannya ia betulkan.  Kain itu begitu lusuh dan usang, cara memakainya pun terlampau sederhana, cukup diikat melintang mengelilingi perut. Itupun hanya untuk menutupi pusar ke bawah.  Tubuh bagian atas dibiarkan terbuka. sang kakek tak mempunyai uang untuk membeli kain yang bisa menutupi sekujur tubuh. 

Sepanjang jalan pulang, langit semarak oleh dentum keras ledakan meriam, rentetan suara senapan, bau mesiu yang menguar serta asap hitam yang pekat.

Bulan lalu, Proklamasi telah dikumandangkan, merah putih berkelepak di setiap sudut negeri. Namun, Belanda masih enggan untuk angkat kaki dari bumi pertiwi, mereka tidak rela manis madu berganti menjadi getir mengkudu, tidak rela tanah jajahan lepas begitu saja.

Mereka tidak sadar, bahwa singa yang selama ini tidur lelap, telah terjaga. Jika membangunkan singa tidur amatlah berbahaya, maka mengusik singa yang terjaga sama saja dengan menyetor nyawa.

Titik-titik perlawanan berkobar dimana-mana, hutan-hutan rimbun kembali menjadi kantong-kantong gerilya, kampung-kampung bergolak, kota-kota bergelora.

*

“Duarrr”.

Suara mortar meledak di kejauhan, Kakek Harjo tetap berjalan, meski pelan dan tertatih.

Kedua matanya tetap waspada, meski usia sang kakek sudah teramat renta, ia tidak boleh lengah. Masa-masa seperti ini, pribumi yang berkeliaran bebas adalah santapan empuk tentara kolonial.

Kakek Harjo berusaha mempercepat laju, tongkat lapuk di tangannya ia genggam erat, dua bonggol ketela terikat rapi di punggungnya. Kakek Harjo berharap lekas sampai rumah, waktu semakin menipis, sedangkan asap, semakin menguar.

“ Sri, hanya ini yang kudapatkan, cepatlah kau masak”.

Wanita paruh baya itu menoleh, sekujur mukanya meneteskan peluh, ia tengah menjaga tungku api tetap menyala, dengan menggunakan sebatang bambu panjang yang ditiup-tiup.

Sri adalah anak semata wayang kakek Harjo, suaminya berangkat ke medan perang, masuk-keluar hutan, bergerilya. Ibunya, telah meninggal sejak lama, ia sakit parah, jadilah Sri tinggal berdua saja dengan kakek Harjo, ayahnya.

“Hanya segini Pak, tidak adakah yang lain ?”.

“Hanya inilah yang kudapatkan, Sri”.

“Bukankah terlalu sedikit ?” mata Sri menatap, ada denting kecemasan di sana.

Kakek Harjo berpikir keras, di ladang tadi, benar-benar dua bonggol ketela inilah yang ia dapatkan, semuanya habis tak bersisa.

“Bagaimana dengan persediaan ?  kita ambil saja dari sana”  secercah ide keluar.

“Tapi…” Sri terlihat keberatan.

“Hanya itu milik kita Pak, hanya itu yang tersisa”.

“Tidak apa, Sri, besok-besok kita dapat rezeki yang lain”  Kakek Harjo menepuk-nepuk punggung Sri, putri tercintanya, berusaha meminta persetujuan.

“Baiklah Pak”, Sri akhirnya luluh, ia selalu tahu, Bapaknya tidak akan pernah membiarkan orang lain menderita.

Kakek Harjo tersenyum, segera balik badan, hari semakin senja, ia harus bergegas.

*

Kakek Harjo menatap sekali lagi kotak kayu itu, kotak kayu lapuk yang berbalut kain putih usan. Hanya inilah yang bisa disebut sebagai harta di gubuk reotnya, hanya inilah satu-satunya benda yang mempunyai nilai.

Kotak itu, dipenuhi ketela yang berjejer-jejer, besar-besar, terlihat pula beberapa jagung yang menyempil. Ini semua adalah hasil panen ladang kakek Harjo bulan lalu, ditambah beberapa pemberian tetangga. Sebenarnya, semua ini cukup untuk persediaan makan selama 2 bulan ke depan. Namun, tampaknya keadaan memaksa kakek Harjo untuk berbuat lebih.

Ia membungkus kotak itu kembali, lantas menentengnya ke belakang rumah.

Kakek Harjo tersenyum penuh kelegaan, ia berhasil mengalahkan sesuatu dalam dirinya.

*

Malam yang panjang telah berlalu, fajar pagi kini menyingsing, sayang, panorama indah ini hanya berlangsung sekejap saja, dentuman dan ledakan kembali mengudara, udara pagi yang bersih tercemar oleh asap pekat.

Kesibukan masih terlihat dari bagian belakang rumah itu, asap mengepul, peluh dan keringat menderas, kakek Harjo tengah meniup-niup bambu dengan sisa tenaganya, Sri,  sedang sibuk mengaduk kuali besar di depannya, kayu bakar bergemeletuk, mereka terus bekerja, berpacu dengan waktu.

“Ayo Sri, bergegas, kita kehabisan waktu”.

“Iya pak, sebentar lagi matang”.

Seharusnya, semua ini bisa diselesaikan sejak tempo hari, namun, kondisi kaki kakek Harjo yang kambuh-kambuhan memaksanya terlambat pergi ke ladang.

Setengah jam berlalu, semua proses telah selesai, bungkusan daun jati berisikan ketela rebus terlihat menumpuk di pojokan rumah, tak menunggu waktu lama, kakek Harjo segera membungkus ketela-ketela itu, lantas beranjak keluar rumah, bersandarkan pundak Sri, putri semata wayangnya.

“ Hei, nak !!”.

“Tunggulah aku sebentar”.

Di jalan berdebu itu, kakek Harjo tertatih-tatih, dengan tangan gemetar, ia melambai-lambaikan tongkatnya, berusaha memanggil rombongan yang kian menjauh di depan.

“Hei nak !!!” ia berteriak lebih keras.

Satu pemuda di penghujung rombongan menoleh, memberi kode kepada rekannya.

Pemuda itu mendekat, sepucuk senjata laras panjang tersampir di punggung, pin berkilat berwarna merah putih tersemat indah di ujung kerah baju, langkahnya tegap, khas pejuang republik.

“Ini, terimalah” kakek Harjo menurunkan bungkusan itu.

“Sungguh maafkan aku nak, aku hanya punya sekadar ini saja, mohon terimalah, untuk bekal berjuang”.

“Terima kasih tak terhingga kek, kami terima bekal ini dengan sepenuh jiwa, sebagai pengobar semangat mempertahankan kemerdekaan”.

Sang pemuda menggenggam tangan kakek Harjo, menciumnya.

“Apa yang kakek lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah perjuangan itu sendiri, kek”.

Pemuda itu menatap kakek Harjo penuh penghargaan, yang ditatap, mengalirkan air mata.

Pertama, karena terharu melihat betapa belianya pemuda pejuang satu ini, di umur semuda ini, ia siap menggadaikan nyawanya untuk negara, tanpa alasan, tanpa balasan. Kedua, karena menangisi dirinya sendiri, betapa ia teramat ingin ikut berjuang, ikut berteriak merdeka. Jikalau bukan karena kakinya yang sebentar-sebentar lumpuh, maka tak ada yang bisa menghalanginya mengangkat senjata, menumpas para kolonial.

Apa daya, hanya hasil ladangnya lah yang ikut berjuang, setiap orang mempunyai batas masing-masing, dan disinilah ia mencapai batas, tanpa sadar air mata kakek Harjo mulai menderas.

Tiga hari sebelumnya, kepala kampung mengumumkan bahwa para pejuang yang sedang berangkat menuju front pertempuran akan melewati kampung mereka, seluruh penduduk diharapkan membantu semampu mereka, apa yang mereka punya harap disumbangkan untuk perjuangan, untuk republik, untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung.

Tentu saja, para penduduk serentak merespon panggilan ini,logistik segera menumpuk tinggi, semua harta benda penduduk seolah kehilangan nilai, mereka sadar, bahwa ada harta yang lebih berharga dibanding satu atau dua keping koin, ada yang lebih bernilai dibanding timbunan makanan, ada harta yang musti ditebus, meski dengan ribuan nyawa.

Harta itu bernama kemerdekaan.

*

“Titipkan salamku untuk teman-temanmu di medan pertempuran sana nak”.

“Siap kek”.

Pemuda itu memberi hormat, air matanya kini menganak sungai. Sejenak, ia merogoh kantong celananya, meraih sebuah bendera kecil, lantas mengikatnya di tongkat milik kakek Harjo.

“Doakan kami selalu ya, kek”.

“Siap, nak prajurit” kali ini kakek Harjo yang memberi hormat, tersenyum jenaka, air matanya sudah berganti dengan luapan kebanggaan, pemuda ini, juga ribuan pemuda lain, menjanjikan masa depan yang cerah.

Pemuda pejuang itu beranjak, menyusul rombongan yang telah jauh, dadanya sesak oleh semangat, meluap-luap.

Di tengah deras suara ledakan, di balik asap yang selalu pekat, sayup-sayup terdengar suara lirih seorang kakek tua, ia melambaik-lambaikan bendera merah putih.

“Merdeka …. !”

“Merdeka ……. !”

 

****

 

Ratusan kilometer dari kampung kakek Harjo.

Dentuman yang sama, rentetan tembakan yang sama, asap yang sama.

Namun disini lebih menggelegar, lebih berdenging dan lebih pekat.

“Tekan lukanya, tekan lukanya”.

Seorang prajurit mengerang kesakitan, darah mengucur deras, lengan kanannya berlubang, ditembus timah panas.

Seseorang, yang juga prajurit, terlihat kalut, sedari tadi ia terus menekan luka tembak itu dengan sebilah kain, ia tekan kuat-kuat, tapi keadaan tak kunjung membaik, darah belum berhenti, sedangkan nafas kawannya tinggal satu-dua.

“Hasyim, bertahanlah, perjuangan masih panjang”.

Johan, dengan raut muka semakin pucat dan mata yang berkaca-kaca, terus berusaha menyemangati Hasyim, kamerad dekat sesama pejuang.

Alkisah, Hasyim tertembak ketika berusaha menyisir garis depan pertahanan musuh, ia dan Johan bertugas mengecek mayat-mayat tentara Belanda yang bergelimpangan, tak hanya itu, mereka pun harus melucuti senjata-senjata yang masih berfungsi, serta memastikan tidak ada ranjau atau jebakan yang tertanam.

Mulanya, medan itu sudah dikuasai penuh oleh tentara republik, Sang dwi warna telah terkibar, sisa-sisa musuh berlarian, terpukul mundur.

Naas, sebuah peluru melesat dari sebuah Gedung tua tak terpakai, peluru itu datang tiba-tiba, Hasyim, yang kurang waspada menjadi sasaran empuk. Rupanya, masih tersisa sekelompok musuh yang masih bertahan, mereka bersembunyi di sela-sela reruntuhan bangunan, memang tidak banyak, tetapi mereka memiliki penembak jitu, dan itu adalah hal yang mematikan.

Johan, yang sadar situasi, segera bertiarap, lalu diam-diam menarik Hasyim untuk kembali ke markas, mereka kalah jumlah, berlindung sementara adalah pilihan terbaik.

Dada Hasyim semakin kembang kempis, suaranya pun kian tak terdengar. Johan terus memegangi tangan Hasyim, menyemangatinya, menyalurkan energi-energi positif.

“Permisi,tolong minggir sebentar”.

Seseorang dengan kemeja putih bersih dan celana panjang coklat menyibak kerumunan, di tangannya tergenggam kotak peralatan.

“Hei kau” Dia menunjuk Johan.

“Letakkan kepala temanmu di pangkuan, saluran nafasnya tidak boleh tersumbat”.

“Ba.. baik dok”. Johan menurut, dengan perlahan, kepala Hasyim ia tarik ke pangkuannya.

“Aku akan mengeluarkan peluru itu”  ujar sang dokter, ia mulai mengeluarkan alat-alat.

“Kau, tolong bakar ujung alat-alat ini di atas nyala api” dokter menyerahkan penjepit, gunting, dan pisau bedah kepada Johan.

Kemudian, ia mulai mengecek kondisi Hasyim, jalur pernafasan, tekanan darah, serta detak jantung.

“Baiklah” gumam sang dokter.

Lalu dalam sekejap, ia mengikatkan dua kain diantara luka yang terbuka lebar.

“Ini dok, sudah kubakar”.

Johan telah kembali, namun air mukanya masih tertekuk, ia begitu pucat.

“Bagus, tepat waktu, sekarang alat-alat ini sudah steril”.

“Kalian berempat tolong pegangi kaki dan tangannya, agar ia tak berontak”.

Sang dokter menunjuk empat prajurit yang tengah berkerumun, memberikan perintah.

“Ayo kita mulai”.

Dokter muda itu, dengan kepiawaiannya mulai membuka lebih lebar luka tembak, lantas dengan penjepit, ia perlahan menarik keluar peluru yang terjebak di antara gumpalan daging. Darah masih menetes, Hasyim menggigit kain yang di sodorkan kepadanya kuat-kuat, berusaha menahan rasa sakit.

“Klontang” peluru berkaliber 22 mm itu akhirnya berhasil dikeluarkan, berpindah tempat ke mangkok besi kosong milik sang dokter.

“Syukurlah” ujar sang dokter sambil mengusap peluh di dahi.

Tak membuang waktu, ia segera membalut luka kuat-kuat setelah sebelumnya di bubuhi antiseptik.

“Temanmu beruntung, peluru ini tidak menembus terlalu dalam, pun tidak mengenai organ vital”.

“Terimakasih, dok” Johan tak tahu apalagi yang di ucapkan saat ini, ia sangat lega Hasyim bisa di selamatkan.

“Tak masalah, gantilah baju temanmu itu, kemudian selimuti dia, dalam beberapa hari, ia akan pulih.”

Johan kembali mengangguk, ia sungguh lega temannya bisa terselamatkan.

Sementara itu, di sisi lain bangunan, seorang prajurit terlihat di tandu oleh dua kawanya, tubuhnya bersimbah darah.

“Dokter, dokter, tolong teman kami”.

“Dia terkena pecahan granat”.

“Baiklah, Johan, aku bertugas dulu” sang dokter balik badan, menuju pasien selanjutnya.

Johan masih berdiri mematung.

“Ia dokter yang hebat” Johan menggumam.

“Benar Johan, kau harus bersyukur, markas kita punya dokter seperti dia” seorang prajurit meninju pundak Johan, tertawa, berusaha mencairkan suasana.

“Siapa namanya?”

“Dokter Nirmala”

*

               Nirmala adalah dokter muda lulusan STOVIA. Masa itu, hanya ada segeluntur pribumi yang mampu bersekolah tinggi. Jika bukan anak orang kaya maka tentu anak pegawai Belanda. Orang tua Nirmala adalah seorang pengusaha besar, cabang usahanya tersebar di banyak tempat, selain itu ia sangat berjiwa nasionalis. Diam-diam ia selalu menyalurkan banyak bantuan, dana dan logistik untuk para pejuang dan gerilyawan, belum menghitung jumlah yang ia berikan untuk rakyat-rakyat kecil, orang-orang pinggiran serta fakir miskin.

Selepas dari STOVIA, Nirmala tidak berpuas diri, ia melepas sauh, pergi ke Belanda, melanjutkan pendidikan dokternya di Universitas Leiden. Nirmala sadar bahwa di tengah kondisi genting, ilmu pengetahuanlah yang mampu membantunya berdiri tegak, di atas kaki sendiri.

Di Eropa, dengan akses mudah dan fasilitas yang berlimpah, Nirmala belajar bagai spons, ia menyerap apa saja, belajar apa saja, mencari bekal banyak-banyak, ia tidak menyia-yiakan kesempatan emas yang ia dapatkan.

Tinggal di benua biru, darah Nirmala tetap kental merah putih.

*

Bertahun-tahun kemudian, Nirmala lulus, ia menjadi salah satu lulusan terbaik, menegaskan bahwa ia lebih dari siap untuk pulang dan mengabdi.

Nirmala akhirnya pulang, saat itu, Indonesia berada di bawah cengkeraman Jepang, Dai Nippon yang mengaku sebagai saudara ternyata lebih kejam dibanding bangsa Eropa, perjuangan menuju kemerdekaan memasuki masa kritis.

Jiwa nasionalis Nirmala memanggilnya untuk ikut berjuang, ia sadar bahwa panggilan negeri adalah sesuatu yang tak bisa diabaikan. Sempat Nirmala ditawari bekerja rumah sakit milik Jepang, dengan iming-iming gaji yang selangit. Namun, ia jelas tak sudi, sudah turun temurun keluarganya mengabdi untuk negeri ini, tak pantas baginya untuk menodai tradisi keluarga dengan bekerja untuk penjajah, menjadi abdi mereka, tentu saja tawaran itu ia tolak mentah-mentah.

*

“Jika setiap orang turun tangan, maka kemerdekaan bukan lagi angan-angan” gumam Nirmala

Maka, atas dasar itu, dengan biaya sendiri, dan juga bantuan dari ayahnya, Nirmala bertekad untuk terjun langsung ke front pertempuran, ia membeli alat-alat, obat-obatan, serta peralatan medis. Untuk ukuran seorang gadis muda, apa yang dilakukan Nirmala adalah keberanian yang tidak terkira.

Langkah pertama Nirmala adalah bertandang ke pusat komando tentara republik, ia minta ditempatkan di mana saja, sepanjang bisa membantu dalam bidang medis. Komandan markas tsb lantas mengutus Nirmala bertugas di garis depan.

Nirmala setuju, ia sadar bahwa tenaga medis ahli di banyak front pertempuran tidaklah banyak, hanya sedikit dibanding jumlah prajurit. Selama ini, para tentara hanya dibekali pengetahuan medis tingkat dasar saja.

Kehadiran sau-dua orang dokter ahli tentu dapat mengurangi banyak nyawa yang melayang.

*

“Maaf, dia tak tertolong, ia terluka di bagian vital, pecahan granat menembus terlalu dalam, mengenai jantung”.

Dokter Nirmala duduk bersimpuh, ia tidak bisa menyelamatkan prajurit di depannya ini, dan hal itu adalah kegagalan.

“Sekali lagi maafkan aku, di dunia ini ada beberapa hal yang berada di luar batas kemampuan manusia”

Prajurit yang membawa tandu kini tertunduk diam, mulai menitikkan air mata.

Dokter Nirmala merapikan peralatannya, kemudian beranjak.

Saat itu, tidak ada yang tahu, bahwa dari balik rambut panjangnya, dokter muda ini pun turut menangis terisak.

Mati dalam perang adalah suatu keniscayaan, setiap prajurit sudah tentu memahami resiko ini, semua sudah maklum, bahwa bayaran perang adalah selembar nyawa. Namun, tetap saja, se absolut apapun, kematian selalu menebarkan duka mendalam, menorehkan luka di hati, bagi siapapun, setegar apapun.

*

                 Waktu terus berganti, melesat cepat di antara teriakan-teriakan, dentuman serta rintih penderitaan. Tak terasa, hampir satu tahun Nirmala telah berjuang di garis depan. Banyak yang ia selamatkan, pun tak sedikit pula yang memaksanya harus mengangkat tangan, menyerah pada kuasa takdir.

Telah berpuluh kali pula ia dibuat terharu, atas tekad rakyat dalam melawan penjajah, ia tidak habis pikir, bagaimana tangan-tangan kecil yang dulu terbelenggu tak berdaya, kini telah tergenggam kuat, siap menumpas apa saja.

Berbaur dengan para prajurit, keluar-masuk hutan, berlarian di antara ledakan granat dan mortir, berhari-hari perut tidak terisi, minum air kotor. Semua pengalaman ini telah merubah Nirmala menjadi seorang dokter yang tahan banting.

Syahdan, suatu kali, ia pernah mengobati seorang anak-anak, bahunya patah, sekujur tubuhnya memar-memar, pelipisnya berdarah. Ketika ia tanya, anak itu menjawab bahwa ia berkali-kali terjatuh saat berlatih pistol dengan temannya.

Saat diobati, ia tidak menangis, tidak pula merengek, hanya meringis kesakitan, itu saja. Bahkan saat Nirmala ikat bahunya dengan perban, ia tersenyum senang.

“Aku baru pertama kali ini diperban, bu dokter, perbannya bagus, putih, bersih”  ujar anak itu polos.

Perlahan, satu tetes air mata mengalir di pipi dokter Nirmala, disusul tetes-tetes berikutnya, hingga menganak sungai.

Ia tergugu, terharu. Di Eropa sana, anak seusia dia masih berkeliaran, bermain-main di taman kota, di negeri ini, mereka musti “bermain” di tengah desing peluru, menghirup bau pekat mesiu.

Di tengah suara kompak prajurit yang tengah berlatih, di bawah rembulan yang bersinar terang di langit malam, sayup-sayup terdengar doa lirih Nirmala Kartika, seorang dokter muda kenamaan, yang tengah berjuang untuk bangsanya.

“Tuhan, lekas berikan kemerdekaan, jangan biarkan kami menunggu lebih lama".

****

Kemerdekaan adalah sebuah gaung panjang.

Beratus-ratus tahun setiap anak bangsa berusaha meneriakkan kata merdeka, mereka berteriak dan terus berteriak sekuat tenaga, tetapi yang terdengar hanyalah suara berisik yang timbul lantas tenggelam.

Tidak ada yang menyadari, bahwa apapun yang terlihat besar dan kokoh, sejatinya hanya tersusun atas partikel-partikel kecil yang terikat kuat, tak saling melawan, juga tak pernah melepaskan.

Kakek Harjo, dokter Nirmala, rakyat kecil, dan orang pinggiran, adalah mereka yang suaranya tak terdengar, mereka hanya memiliki bisik-bisik yang lirih, yang terus berteriak merdeka, di tengah sepi, di pusat keramaian, tak peduli meski hanya kesiur angin yang bisa mendengar mereka.

Namun, ketahuilah, bisik lirih ini, diam-diam akan mengalir melalui udara. Dengan intonasi yang kuat, ia berkelana, mencari bisikan lain yang serupa, yang bersatu dalam ritme dan nada yang sama. Yang satu iya satu kata, menuju merdeka.

Kemudian, tinggal menunggu waktu, gaung kemerdekaan akan segera terdengar kuat, menyebar ke segala penjuru, saking kuatnya, gaung ini akan bertahan, melintas masa, melewati generasi.

Gaung panjang kemerdekaan akan terus terdengar, tak lekang oleh waktu, tak pudar ditelan zaman.

 

Indonesia, 17 Agustus 2018

Ditemani lagu kebangsaan, lengkap tiga stanza.

 

 

 

 sumber gambar.

Karya : Izazi Amar