Bersama Rembulan

Izazi Amar
Karya Izazi Amar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Mei 2018
Bersama Rembulan

Malam ini, aku duduk sendirian di pelataran ruang kuliah, bertemankan bulan yang bersembunyi malu-malu di atas sana, bersaputkan awan.

“Wahai bulan kemarilah” ujarku, “temani aku menghabiskan malam”

Kusodorkan kepadanya secangkir coklat panas yang mengepul.

Perlahan, ia mulai menampakkan dirinya, perlahan pula ia mendekat, duduk di sampingku, masih malu-malu.

Malam ini, wajah bulan sungguh cantik mempesona, tidak ada bayang-bayang hitam yang biasa ia

gunakan sebagai topeng, maklumlah, ia sedang purnama.

Dalam beberapa saat, hanya hening yang menyelimuti kami, sesekali terdengar suara bulan menyeruput

coklat panas milikku, pun sesekali terdengar suara angin berkesiur yang membelai telinga.

Hingga saat coklat panas telah tandas, aku mulai memecah keheningan.

“Hei bulan”

“Hmmm” jawabnya singkat

“Bolehkah aku berkisah ?, bercerita ?”

Mendengar kata “kisah” dan “cerita”, wajahnya yang semula datar tanpa ekspresi kini menatapku

penuh dengan mata mengerjap-ngerjap antusias.

“Tentu saja boleh, siapapun suka mendengar cerita tau”

“Baiklah”

Aku tersenyum lebar, jarang-jarang bulan mau menemaniku seperti ini, jika kalian tahu, persis seperti

gadis, merayu bulan gampang-gampang susah, ada waktu tertentu ketika dia begitu ceria, cukup

sediakan coklat panas dan sepotong kisah, ia siap menemanimu hingga pagi menjelang, satu lagi, bulan

adalah pendengar yang baik, jika aku mulai bercerita ia akan diam mendengarkan, tak banyak menyela

hingga cerita usai.

Aku memperbaiki posisi duduk lebih nyaman, di sampingku bulan menyeduh lagi coklat panas

mengepul, bekal untuk kisahku.

 ***

Wahai bulan kau tahu ?

aku saat ini tengah merindukan seseorang

Bulan tersenyum jahil

“Kau pasti merindukan kekasihmu bukan ?”

“Hush, bukan”  aku melambaikan tangan

“Aku tidak mempunyai kekasih”

"Lantas ? " 

Aku merindukan seseorang yang jauh lebih berharga daripada kekasih

Pernahkah kau mendengar bahwa jika seorang anak meminta satu bintang bercahaya di atas sana, maka

ayahnya akan memberikan langit seluruhnya ?

Ia menggeleng

Begitulah, dalam bangsa kami, setiap ayah, meski tanpa embel-embel apapun adalah pahlawan bagi

anaknya.

Dan kini aku tengah merindukan sosok itu, aku merindukan bapak, ujarku sambil menatap langit malam.

“hai, hai kalau engkau rindu, tinggal pulang bukan, apa susahnya”

Aku mengacak rambutnya gemas, “Tidak sesederhana itu, ada beberapa hal yang menahanku di sini”

Aku raih secangkir coklat dari tangannya lantas kuseruput pelan

“Dan malam ini kebetulan adalah ulang tahunnya, jadi lengkap sudah beban rindu ini”

Bulan terdiam, ia seolah mengerti kenapa aku ingin ia menemaniku malam ini.

Sekilas, hening kembali menyelimuti kami, angin malam semakin menusuk kulit, aku merapatkan jaket.

“Baiklah untuk menghangatkan malam ini, aku akan memutar kenangan-kenangan tentang bapak,

tentang pusat orbit dalam semesta kecilku ini”

Bulan mengangguk semangat, dengan mata mengerjap berkilauan.

 

***

Wahai bulan, percaya atau tidak..

Semua peribahasa dan kata-kata indah tentang betapa hebatnya seorang ayah itu, telah aku temukan

jauh-jauh hari dalam diri bapak, dan aku beruntung, bahwa dengan mata kepala sendiri aku bisa

sesadar-sadarnya melihat berbagai kebaikan dan kasih sayang nya yang sungguh tidak terhitung,

dan bahwa sehebat apapun penyair dan pujangga, tetap tidak akan mampu mendeskripsikan ia

secara paripurna.

Dahulu sekali, ketika aku hanyalah bocah seumur jagung dengan muka belepotan dan baju kotor nan berantakan, dengan tangan dinginnya, bapak mampu menyulapku menjadi begitu berbeda, membuatku merasa spesial melebihi teman sebayaku yang lain.

Saat itu, Ia menggandengku untuk berjalan bersama masuk ke dalam dunianya, ke dalam prinsip-prinsip kokoh serta karakter terbaik, ia seolah mengajakku berkeliling di sebuah museum untuk melihat berbagai koleksi sikap, kebijaksanaan hidup dan pelajaran-pelajaran yang ia dapatkan selama ini.

Tidak hanya itu, setiap akhir pekan aku dan bapak memiliki kebiasaan yang unik, dengan motor klasik kesayangannya, ia mengajakku berkeliling ke mana saja, kami, bapak dan anak berboncengan berdua menghabiskan waktu khusus untuk saling bertukar apa saja.

Sesering aku bertanya kemanakah tujuan kami, sesering itu pulalah ia hanya diam dan tersenyum seolah ia berkata

“Sudahlah, ikut saja, pasti mengasyikkan”

Maka, tiba-tiba saja, kami tengah berada di pusat kota, di sebuah pameran buku yang ramai, kami yang sama-sama pecinta buku berkeliling dengan rakus, lantas membawa pulang sekantong buku bacaan atau di lain waktu aku diajaknya ke sebuah warung yang jauh di pelosok kampung hanya untuk mencicipi menu masakannya yang lezat, atau pernah pula kami hanya berkeliling, melewati jalan kelok berbatu, melintasi kota yang ramai, menembus pedesaan yang permai, lantas di tengah angina sepoi yang membelai telinga kami, bapak berbaik hati menjelaskan tempat-tempat yang kami singgahi, menceritakan kisah-kisah, serta menjawab berondongan pertanyaanku. Hingga matahari beranjak ke peraduannya, kami baru berbelok pulang.

 

Belakangan ini, aku baru mengetahui, bahwa dengan cara inilah bapak mendidikku, memberi pesan mendalam yang tidak terucap,mengajariku untuk lebih menyukai hal-hal kecil serta mencintai kesederhanaan.

Sampai aku beranjak dewasa, pendidikan ala bapak inilah yang tidak menguap di bakar zaman, berbeda dengan pelajaran-pelajaran yang hanya sekedar dibaca, yang mudah sekali hilang tak berbekas, bagiku “sekolah motor” bapak adalah yang terbaik, karena ia terus menetap di dasar nurani paling dalam, memanggilku ketika hendak berpaling, menjadi petunjuk tatkala aku tersesat tak tahu arah.

***

Aku melirik bulan sejenak, ia masih tetap dalam posisinya, bersandarkan tembok, berselonjor kaki, dan menggenggam coklat panas, bedanya kali ini termenung, entah karena apa.

Kujentikkan jariku di hadapan mukanya

“hei, mau dilanjutin nggak ?”

Bulan tergagap, sekilas ia tersipu kedapatan sedang merenung

“Lanjut, lanjut” ujarnya.

***

Begitulah wahai bulan sahabatku, jiwa bapak memang jiwa pendidik, semangatnya adalah semangat pendidik.

Aku sering mendengar bagaimana cara ia mengajar anak-anak didiknya, dan setiap kali aku mendengar cerita tsb, berkali-kali pula aku mengerjapkan mata dan takjub dibuatnya.

Ketika ia mulai mengajar, maka seluruh ruangan seketika hening, bukan karena ia menyeramkan atau kenapa, tapi lebih karena bapak mempunyai karisma yang besar sehingga lebih dari cukup untuk membuat murid-murid segan dan patuh, kemudian dengan pembawaan dan gaya bahasa yang menarik, ia mampu membuat puluhan pasang mata tak pernah melepaskan pandangan.

Dan secara ajaib pula, sang waktu, dengan belalai detik-detiknya yang terus berputar cepat ikut menyimak apa yang ia daraskan, ikut mengangguk takzim, dan ikut terpana.

Bagi mereka, dan bagiku pula, bapak mengajar dengan keteladanan, ia tidak pernah mengulang-ulang perintah, memaksakan kehendak apalagi menanamkan doktrin yang mencekik leher.

Ia berjalan di jalan yang dilalui guru serta pengajar sejati, jalan para utusan dan para nabi, jalan mereka yang tidak berkata dan memerintah kecuali telah melakukannya sendiri.

***

Kembali kulirik bulan, aku tertawa kecil, kali ini ia tidak hanya merenung, kulihat kedua matanya mulai merah dan berkaca-kaca.

Aku beranjak berdiri, melangkah, tiba-tiba bulan memegang kedua tanganku.

“Hei, mau kemana?  kisahnya belum selesai”

“Hei, tidak usah panik, aku hanya mau mengambil air panas, lihat, coklat panasmu habis bukan ?”

Bulan hanya mengangguk pelan

***

Wahai bulan, tahukah engkau, bahwa selain pendidik yang hebat, bapak adalah perencana yang brilian.

Dahulu, aku masih sama seperti kebanyakan remaja tanggung lainnya, berdarah panas, serta berego tinggi,aku ingin memutuskan semuanya sendiri, bagiku, hidup dan perjalananku harus ada di kedua belah tanganku sendiri, aku selalu merasa sinis terhadap orang-orang yang selalu menggantungkan nasibnya di tangan orang lain, meskipun orang tua sendiri, hanya orang-orang lemahlah yang hidupnya mau diatur-atur, pikirku waktu itu.

Namun, seiring waktu berjalan, alam semesta seakan menuntunku untuk membuka mata lebih lebar, membuka pikiran lebih luas, bahwa tidak semua berjalan seperti yang diinginkan, tidak semua berjalan seperti yang tampak di permukaan, serta tidak semua asa merupakan kehendak Sang Pencipta.

Bapak, dengan segala kesederhanaanya selalu mempunyai rencana-rencana terbaik untuk kami, putera-puterinya. Ia selalu memperhatikan detail-detail kecil, selalu memperhitungkan setiap resiko, kemungkinan hanya demi satu hal, agar anak-anaknya bisa menatap matahari hari esok dengan senyum penuh kebanggaan.

Dan entah dengan kekuatan apa,hampir semua harapan-harapan Bapak, berjalan sesuai dengan kehendak langit, dan seolah seluruh elemen di alam semesta bekerjasama demi keinginan bapak.

Memang, ia tidak pernah dan tidak akan memaksakan kehendaknya sendiri, namun lambat laun aku mengetahui bahwa sekali saja aku berpaling dari jalan yang telah ia tentukan, maka saat itu pula aku harus siap menanggung resiko berjalan sendirian tanpa cahaya petunjuk yang menyinari.

Maka, layaknya kabut pekat yang tersiram sinar matahari, semua keraguan akan perjalanan hidupku lenyap sama sekali  dan kini, aku pun sama sekali tak ragu menyerahkan kertas kosong jalan hidupku untuk bapak isi penuh.

Karena, aku mengetahui, ratap memohon dan tangis harap seorang ayah adalah satu hal yang mampu membuat Sang Pencipta luluh dan berbaik hati.

***

Ayam jantan telah berkokok dua kali, coklat panas kami pun telah tandas berjam-jam lalu, namun kulihat bulan masih merunduk, menutupi wajahnya dengan kedua kakinya.

Kuusap pelan rambutnya, bilang bahwa hari beranjak fajar, dan ia harus segera pulang.

Ia mengangkat kepalanya pelan, dan yang terjadi sungguh membuatku kaget.

Lihatlah, kini wajahnya telah basah dipenuhi air mata, suaranya sesenggukan.

“Sungguh A , kau mempunyai ayah yang hebat”

“Sudah, sudah, tidak usah cengeng” aku tersenyum kecil

Kuulurkan tanganku kepadanya

“Ayo, sebelum kau pulang, temani aku berdoa, semoga angin berbaik hati menyampaikan salam takzim ku kepada bapak di kampung halaman sana”

Bulan menyambut uluran tanganku, dengan beratapkan cahaya pagi yang mulai merekah kami khusyuk berdoa, berharap yang terbaik untuk bapak, dan seluruh ayah di penjuru dunia.



Selamat ulang tahun bapakku tercinta. 


Semoga Allah menyayangimu sebagaimana engkau menyayangiku sepanjang waktu.

Salam takzim

Putra sulungmu


Cianjur, 30 Mei 2018, Ramadhan

ditemani purnama terang bulan suci.

  • view 241