Cahaya November

Izazi Amar
Karya Izazi Amar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 November 2017
Cahaya November

Tempo hari, aku sedang sibuk mempersiapkan bekal materi ujian tengah semester ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponselku.

“Mas, 16 November hari kamis”.

Pesan ini, meski singkat saja, hanya berisi 5 kata, dan mengingatkan tentang sebuah tanggal beserta hari, namun sukses membuat hatiku yang tadinya bersemangat seketika dilanda perasaan gamang yang tak menentu.

Lama aku tercenung, hanya memandangi layar ponsel dan kursor yang berkedip-kedip, aku masih menimbang-nimbang dan menakar berbagai kemungkinan. Sejeda kemudian, sebuah pesan serupa masuk  kembali, namun kali ini bernada lebih mendesak, mungkin karena aku lama tidak membalas.

“Jadi, kita mau ngapain ?”

Pesan ini bernasib sama dengan pesan sebelumnya, tidak membalas, akhirnya setelah lelah berpikir, ditambah keadaan hati yang payah membuatku mengetik jawaban dengan lunglai.

“Kita lakukan seperti biasa saja, seperti tahun lalu, kita belum bisa apa-apa”

Tak lama, adikku hanya membalas singkat

“  yah…  : ( “

Hanya berupa emoticon berwajah murung, pertanda bahwa nun jauh disana, ia pun sedang teramat galau.

***

Begitulah, obrolan singkat kami sore itu berakhir tanpa kesimpulan, kami sama-sama merasa tidak enak hati , bukan apa-apa, tetapi lebih karena tema obrolan kami kali ini adalah tentang  “16 November”.

Bagi kami, 16 November bukan hanya sekadar satu titik di antara 365 titik persinggahan sang surya tiap pagi merekah, bukan pula satu hari yang selalu saja menguap cepat.

Melainkan, hari yang berhias gerimis ini adalah suatu hari dimana salah satu sosok paling penting dalam hidup kami  untuk pertama kalinya menyapa dunia, sosok yang jika ada satu penyair paling berbakat sekalipun, tetap akan kelu menjabarkan kebaikan yang mengalir deras darinya.

Sosok ini hanya terdiri dari tiga huruf, namun terdengar amat syahdu ketika diucapkan.

I-B-U.

***

Maka, setiap memasuki awal bulan November, satu gurat kecil perasaan selalu saja memenuhi ruang-ruang kecil hati kami, awalnya ringan saja, namun semakin lama, gurat itu semakin membesar tidak terkendali, membuat hati kami mengangkat bendera putih tanda menyerahkan diri.

Gurat kecil itu bernama : rasa bersalah.

Sedianya, kami hendak menghadiahkan satu hal paling istimewa untuk Ibu kami, namun setiap kali itu pula rasa bersalah selalu menyergap cepat, mengungkung kami dalam bayang-bayangnya. Karena, pada hakikatnya, kami tidak mempunyai apapun yang bernilai spesial untuk dipersembahkan kepadanya, kepada Ibu kami.

Bahwa segala prestasi, kepribadian serta perjalanan hidup kami tidak jauh beda dengan rumput kecil yang tumbuh di tengah rimbun bunga matahari, dibandingkan teduhnya kasih sayang yang seorang Ibu berikan, kami hanyalah noktah kecil, lemah dan tak terlihat.

***

Sekarang, yang bisa aku dan adikku lakukan hanyalah mengenang, lantas menerjemahkan setiap arti dan hakikat dari kasih seorang Ibu, mencoba meniti tepi samudera luas yang hanya berisikan rasa sayang seorang Ibu, membaca ratusan manuskrip dan literatur, yang semuanya menuturkan bahwa cinta sejati adalah cinta seorang Ibu.

Kepada langit malam, sering kuceritakan bahwa apapun yang tergenggam di tanganku saat ini, juga ribuan langkah yang telah kupijak, hanyalah debu tak berharga tanpa ada sentuhan Ibu di dalamnya.

Masih lekat dalam ingatan, ketika aku masih polos, ingusan dan tak tahu apa-apa, aku yang saat itu mengenakan seragam sekolah yang entah kenapa selalu kebesaran, saat itu, hari pertama masuk sekolah, Ibu dengan sangat amat telaten menyisir rambutku yang telah berlumur minyak, mengancingkan baju, memasang sepatu, semua dilakukan dengan mata yang berbinar menyiratkan kebanggaan, Ibu teramat bangga melihat putranya akan menjajal dunia baru, menapak jalan panjang pendidikan. Lantas, setelah semuanya siap, Ibu dengan senyum lebar menggandengku masuk pelataran sekolah, berkenalan dengan para guru, takut-takut masuk kelas, namun satu hal yang tidak berubah adalah raut wajah Ibu yang seolah berkata : “Wahai dunia, inilah anakku”

Sejak saat itu, aku selalu tersadarkan atas satu fakta, bahwa cinta dan kasih Ibu selalu mengisi setiap lekuk ruang dan waktu kehidupanku.

Tatapan mata Ibu adalah tatapan mata sendu ketika aku menangis terjatuh dari sepeda, dalam sekejap tatapan mata itu berubah menjadi tatapan yang penuh binar cahaya ketika aku dengan bangga menunjukkan raportku  yeng penuh warna biru.

Ibulah yang dengan tangannya  menuntun tangan mungilku berjalan menjejak tanah pertama kali, berselang tahun kemudian, ketika aku mampu berjalan dengan gagah kesana kemari, menjelajah tak tahu arah, saat itu, kedua belah tangan Ibu pulalah yang tak pernah lepas menggenggam tanganku, menunjukkan jalan yang lurus.

Saat aku untuk kali pertama harus berpisah dengan keluarga, memasuki dunia yang sama sekali berbeda, lagi-lagi Ibuku tercintalah yang dengan suaranya, mampu menenangkanku setelah sekian lama tertunduk berurai air mata, suara Ibu yang lembut, namun menyimpan ketegasan adalah penguat kala kedua kakiku mulai goyah, suara Ibu pulalah yang memantik kembali api semangat yang telah padam, memmbuatku mengencangkan ikat kepala, kembali bangkit setelah sekian waktu terpuruk.

***

Maka, benarlah kata pepatah masyhur bahwa kasih Ibu tak lekang dimakan zaman, tak pudar diurai waktu.

Karena, pada hakikatnya, dalam setiap detik, di setiap langkah, setiap hela nafas masing-masing anak Adam, akan selalu ada cinta seorang Ibu yang tak pernah alpa menemani, memayungi di kala hujan, serta tempat berteduh di kala terik.

Itulah Ibu, sosok sederhana namun sarat makna.

***

Terakhir, wahai Ibunda kami tercinta, di hari lahirmu ini, sungguh maafkanlah kami, putra-putrimu yang apa daya, hanya mampu memanjatkan seribu pengharapan, menguntai doa-doa kepada Sang Penguasa Alam agar engkau selalu diliputi cahaya, cahaya kebaikan, cahaya kasih, cahaya yang tak pernah redup.

Teruntuk Ibunda kami tercinta.

Selamat Ulang Tahun.

Semoga Allah selalu menyayangimu sebagaimana engkau menyayangi kami sepanjang waktu.

Engkau adalah segalanya.

 

 

Putra sulungmu.

Cianjur, 16 November 2017

Ditemani rintik hujan dan suara angin yang berkesiur merdu.

 

 

thumbnail

 

 

 

  • view 140