Semesta Kecilku

Izazi Amar
Karya Izazi Amar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Mei 2017
Semesta Kecilku

         Aku masih seumur jagung saat engkau menggandeng tangan mungilku melihat warna kehidupan.

Ketika engkau mengajariku mencecap manis asin pesona kata-kata.

Bagaimana cara mengubah tinta hitam kosong tanpa makna menjadi peluru kendali yang menembusi

ratusan kepala.

Engkau yang mengajariku puisi-puisi.

 ***

Masih hangat rasanya tatkala engkau mendudukkanku di jok belakang motor tuamu, berkeliling, mengikuti jejak langkah para penyair, para pecandu keindahan.

Aku yang tertatih membaca goresan tangan mereka, dengan ekspresi polos seadanya, engkau yang menatapku begitu bangga, aku yang mengangkat trofi kemenangan tinggi-tinggi.

Ah, waktu yang berkelebat cepat selalu menyisakan malam-malam sunyi untuk kembali memutar sepotong kenangan manis ini.

***

Masa itu, aku hanyalah anak kecil ingusan, yang hanya bisa menangis dan merajuk.

Adalah engkau, yang bisa membuatku berbeda di antara arus kemonotonan, membuatku merasa spesial.

Tiap kali pulang mengajar, bermacam buku selalu engkau jinjing, engkau susun sedemikian rupa dihadapanku yang masih mengerjap-ngerjap.

Lupakan saja mainan mahal nan berkilau, engkau lebih suka membelikanku buku cerita, ensiklopedia ataupun setumpuk majalah Bobo, begitulah, simpel hanya karena engkau menyukai sesuatu yang mengabadi, dan akupun sungguh tidak keberatan, justru mengangguk antusias, bergegas melahap rakus semua.

Adalah engkau yang mengenalkanku dengan buku-buku, bercengkrama dengan ilmu pengetahuan, pun engkau pula yang mengajariku mencintai mereka.

Kala itu, tidak ada pikiran yang terlintas, bahwa dengan semua ini, engkau telah menggendongku melihat sudut-sudut dunia, menyapa para pelaku paradaban melalui jendela buku-buku.

Engkau selalu mengajariku banyak hal, engkau telah menjelma sebagai guru besar, guru yang teramat bijak, jauh sebelum aku mengerti apa makna pendidikan.

Engkau mendidik dengan cara yang elegan, bukan dengan mulut yang berbuih petuah ,buku tebal berisi nasihat-nasihat bijak, bukan pula dengan aturan-aturan ataupun doktrin yang mencekik leher.

Tidak.

Bahasamu adalah satu hal klasik namun tak pernah lekang yang disebut keteladanan, yang menjadi “bahasa para nabi terdahulu”, bahasamu adalah segala tindak laku yang tak pernah bosan untuk ditiru.

Tidak pernah kulihat engkau mengulang-ulang omongan, mendaras perintah hingga membuat pekak daun telinga, engkau lebih mendahulukan karya dibanding kata, pekerjaan rumah yang tidak segan engkau kerjakan, mencuci piring, menjemur jemuran, engkau yang selalu sigap, cekatan dan selalu rapi seolah mengajarkanku, seakan engkau berkata tegas :

“Jangan malas-malasan, kau tidak luput dari pandangan orang-orang”

Sungguh, jika lembaga-lembaga pendidikan tidak pernah mewujud, aku sudah teramat cukup dengan kehadiranmu.

Aku selalu suka bagaimana engkau melihat kehidupan dari kacamata yang berbeda.

Bagimu alur hidup benar-benar sederhana, sesederhana air mengalir, meski cadas bebatuan menghalangi, air tetap akan menemukan celah sempit untuk kembali mengalir, caramu menemukan celah dalam sempitnya kehidupan, bagaimana menemukan secercah senyum di tengah ratap tangis, benar-benar membuatku kehilangan kata.

Engkau selalu saja bisa menarik sejumput tangkai harapan kala aku terperosok dalam lubang kegagalan,dengan senyummu yang menenangkan, engkau menepuk-nepuk pundakku yang bergetar menahan tangis, “Tenang, masih ada kesempatan lain”  .

Adalah engkau, peletak pondasi kaki-kaki yang menyangga tiap sendi kehidupanku, pun engkau pula yang menguatkannya kembali ketika mulai rapuh.

***

Engkau segalanya.

Engkaulah pusat dari lingkaran orbit dalam semesta kecilku, bintang paling terang, aku adalah gugus - gugus kosmik, ribuan galaksi yang berputar teratur oleh gravitasimu.

Setiap kali aku melangkah, maka kutemukan pula langkah kakimu yang menjejeri, seperti bayangan, tak pernah lepas, tak alpa menemani.

Tanpa engkau minta, aku sama sekali tidak ragu menyerahkan jengkal demi jengkal perjalananku untuk engkau tunjukkan arah tujuan, akan kujadikan setiap kata demi kata darimu laksana bintang utara di tengah samudra luas.

Biarlah aku dianggap anak ingusan yang labil dan tidak punya pendirian, karena aku tahu, bahwa potret kehidupanku adalah terjemah nyata dari angan dan harapan yang engkau langitkan di malam-malam sunyi, seolah rencana-rencana hebatmu sejalan dengan garis takdir Sang penguasa alam untukku.

Karena aku amat yakin, renung pemikiran dan denyut jiwa kita telah sempurna menyatu.

***

Teruntuk Bapakku tercinta.

Selamat ulang tahun.

Semoga Allah menyayangimu, sebagaimana engkau menyayangiku sepanjang waktu.

 

 

Salam takzim.

Putra Sulungmu.

 

 

 

Cianjur,  30 Mei 2017,  03.00.

Awal Ramadhan.

Ditemani  cahaya lampu yang lembut bersanding tumpukan muqorrror kenaikan tingkat.

 

 

Gambar diambil di sini