Ramadan Yang Tak Bersambut

Izazi Amar
Karya Izazi Amar Kategori Agama
dipublikasikan 10 Mei 2017
Ramadan Yang Tak Bersambut

Ramadan sebentar lagi kembali menjelang.

Hanya dalam hitungan minggu, negeri ini akan ramai dengan pernak-pernik khas bulan puasa.

Adalah Ramadan, yang mampu membuat malam lebih semarak, speaker – speaker masjid bergaung hingga larut malam, serta shaf shalat yang ajaibnya kembali penuh sesak.                                                                                                                             

Ramadan pulalah yang menjadi sumber energi serombongan anak kecil untuk berkeliling kampung pagi-pagi buta, berteriak lantang diiringi musik dari galon bekas, dan panci usang. Jangan lupakan pula stasiun televisi yang berlomba-lomba mengganti kostum, merombak tampilan menjadi lebih santun, lebih islami.

Semua eforia, semua gegap gempita ini berikut suasana yang menghangat jarang kita dapatkan kecuali saat bulan puasa tiba, Ramadan benar-benar mempunyai daya magis untuk memberi warna baru di tengah rutinitas yang sumpek, setidaknya setelah setahun penuh haus mengejar dunia, sisakanlah satu bulan untuk kita menyepi, mencicipi segarnya kehidupan abadi.

Lebih dari itu semua, Ramadan adalah perumpamaan tentang semangat beragama yang kembali menyala, dan dimulainya kembali perang suci melawan ego pribadi.

***

Sayangnya,

Meski siklus Ramadan selalu berulang setiap tahun, namun setiap kali itu pulalah kita merasa janggal, ada pertanyaan yang  terasa mengganjal di benak, kenapa bulan puasa kita terlihat ramai dan penuh warna, tapi tidak lebih hanya sekedar bungkus kosong, hampa tanpa makna, seakan tidak ada manfaat sama sekali.

Kita belum mengerti benar apa sebenarnya hakikat bulan suci ini, tahun demi tahun berlalu, dari bentangan samudera luas bulan Ramadan, kita hanya mampu mencapai titik terluar saja, tidak pernah berlayar apalagi menyelaminya.

Senandung “marhaban ya Ramadan marhaban ya syahru as shiyam” hanya terdengar seperti buah bibir, formalitas tidak pernah lebih. kita amat jauh dari kata ahli untuk sekedar memaknai lima huruf yang menyusun kata “Ramadan”, kita hanya mandek pada pemahaman simpel, bahwa bulan puasa adalah “menumpuk makanan lezat untuk sahur dan berbuka”, hanya itu saja, tidak lebih.

Bagaimana pula, kita yang notabene bukan lagi orang awam justru berpuasa dengan tingkatan kelas bawah, puasa dengan tipe apa adanya, sekedar “jalani saja kesibukan seperti biasa, hanya tanpa makan dan tanpa minum, atau bila mungkin, perpanjang waktu istirahat dan tidur”. Amat jauh berbeda dengan puasanya orang-orang khos, puasa yang mampu mengendalikan segenap anggota tubuh untuk tunduk kepada Sang penguasa alam.

Tidakkah kita sadar, bahwa bulan puasa berlalu amat cepat, hari demi hari berlalu tanpa terasa, sedangkan tangan kita masih kosong melompong, belum mendapat secuil apapun, seolah ada batu besar yang menghalangi kita dengan lumbung amal Ramadan, bahkan mungkin ada sebagian kalangan yang tidak lagi mengakui eksistensi bulan mulia ini, jangankan bertarawih, untuk puasa saja mereka tak sudi.

Maka, jangan salahkan jika akhirnya Ramadan akan berwajah sama persis dengan tahun-tahun lampau, Ramadan kita yang layaknya lampu teplok, begitu terang berkobar di awalnya namun perlahan meredup saat kehabisan minyak, pun tidak perlu merasa miris jika pusat perbelanjaan, mall dan pasar menjadi tujuan hijrah yang menarik dan memanjakan mata justru ketika Ramadan tengah berada di puncaknya, justru ketika orang-orang di luar sana berdiri menengadah, mengharap berkah malam seribu bulan.

Jangan salahkan pula harapan terdalam kita akan Ramadan yang berjalan mulus, penuh ibadah dan bergelimang berkah hanya akan menjadi angan-angan semu, angan yang hanya akan melayang-layang tanpa bisa mencapai angkasa kenyataan.

***

Simpul dari semua keruwetan ini adalah karena kita kurang siap dengan kedatangan Ramadan, simpul yang teramat simpel. Selama ini kita hanya diam dan menunggu, hanya menghitung hari, tanpa merasa perlu untuk bersiap siap. Padahal ramadan adalah tamu agung nan mulia, dan kita sebagai tuan rumah yang baik tentu akan menyiapkan banyak persiapan untuk menyambut sang tamu jauh-jauh hari, akan aneh dan tidak sopan bila kita baru beres-beres, mengepel dan menyapu padahal sang tamu sudah menunggu di teras rumah, persiapan adalah segalanya, jika untuk urusan remeh saja kita perlu bersiap, maka jangan tanyakan bagaimana persiapan untuk bulan seistimewa Ramadan.                                                                                    

Maka Allah sengaja menciptakan Rajab dan Sya’ban, dan menempatkan kedua bulan mulia ini persis berdampingan dengan Ramadan, tujuannya tentu agar kita bisa bersiap, dalam jangka enam puluh hari ini kita hendaknya mulai “berlatih”, melatih raga, menempa jiwa, sehingga kita akan mendulang pahala Ramadan dengan tenaga penuh, dan semoga pula dengan keseriusan dalam menyambut bulan puasa, kita akan naik kelas, dan tidak lagi menahan lapar, menahan dahaga, tapi tidak mendapat apa-apa.

Namun bagi kita, keberadaan rajab dan sya’ban adalah angin lalu, hanya kesenangan Ramadan  yang terus berputar-putar di kepala. Rajab, bulan Allah , dan Sya’ban bulan Rasulullah yang menjadi pintu -gerbang dan kunci pembuka Ramadan kita abaikan jauh-jauh.

Kita sama sekali lupa bahwa ketika masuk bulan rajab, kita seolah diingatkan “ hei nak, sebentar lagi bulan suci akan datang, apa yang sudah kau siapkan ?” . Aktifitas yang padat terus membungkam mata dan telinga, hingga kita baru merasa kelabakan ketika sya’ban mulai berkemas pergi lantas Ramadan pun diawali dengan amal ibadah yang membabi buta, untuk kemudian perlahan berkurang dan lenyap kehabisan tenaga.  

Maka, bersiaplah sebaik mungkin, karena persiapan yang sempurna adalah salah satu sebab penentu keberkahan Ramadan.

Mulailah belajar menikmati setiap amal ibadah, belajar menyebar kebaikan setiap hembus nafas, agar kilau Ramadan mengalir bersama aliran darah. Mulailah perlahan membersihkan hati, menghiasnya dengan dzikir dan selalu berprasangka baik, supaya pintu hati ini terbuka lebar menyambut cahaya Ramadan .

Rajab dan Sya’ban adalah bulan kita menabur benih, menyiangi rumput dan membasmi hama, sedangkan Ramadan adalah bulan kita memanen apa yang kita tanam dan lakukan.                                                                 

Jangan sampai orang-orang di luar sana berpesta pora, tertawa bahagia mendapat hasil panen yang menggunung, sedangkan kita hanya bisa menatap dan termenung.                  

***

17 hari lagi bulan suci menjelang.

Apa saja yang sudah kita siapkan ?.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                

* Cianjur, 12 Sya’ban.

Ditemani kabut, hawa dingin, dan kesunyian malam.

 

 

 

 

Gambar diambil di sini.

 

 

  • view 109