Para Perantau

Izazi Amar
Karya Izazi Amar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 2 bulan lalu
Para Perantau

Bagi sebagian orang, khususnya anak muda, merantau adalah suatu keniscayaan, mereka berbondong-bondong hijrah dari kampung halamannya,  menjelajahi berbagai sudut bumi , rela meninggalkan zona nyaman  serta  menahan sesak rindu dengan orang tercinta demi satu plakat emas bertuliskan : “kesuksesan”.

Ya, tanah perantauan memang menjanjikan banyak harapan dan janji-janji manis, entah berupa pendidikan yang berkualitas, karir pekerjaan yang mentereng atau taraf hidup yang lebih baik. Sekian lama kehidupan umat manusia berjalan, serta tak terhitung generasi silih berganti, kita disuguhi berbagai fakta sejarah tentang orang-orang yang menjadi tokoh besar dan amat berpengaruh, bahkan satu-dua mampu mengubah alur peradaban dunia, tidak jarang dari mereka adalah anak-anak rantau, yang tumbuh besar dalam kerasnya dunia perantauan, mereka justru meraih sukses di tempat mereka bukan berasal.         

*                                                                                                                                                           

Namun, bagai pedang bermata dua, dunia rantau-merantau ini mempunyai dua sisi yang saling berlawanan, banyak yang positif, pun tidak sedikit pula yang berujung negatif, semuanya tergantung kemahiran si perantau itu sendiri, bagaimana dia menyerap banyak-banyak manfaat lantas menghindari sejauh mungkin berbagai madhorot.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa di antara segelintir nama-nama yang menorehkan tinta emas, terdapat pula perantau yang satu persatu menyerah, tidak mempunyai modal yang cukup untuk menghadapi persaingan lantas memilih mengubur dalam-dalam semua angan dan impian.

Namun yang lebih terpenting dan menjadi masalah yang amat serius adalah keberadaan orang-orang yang “terlalu asyik” merantau, sehingga lupa akan kampung halamannya, lupa jati diri sebenarnya, bagaikan burung yang lupa jalan pulang.

Kita sama-sama tahu, bahwa tidak semua hal yang ada di tanah perantauan adalah sesuatu yang baik dan bisa dijadikan pedoman dalam bersikap, di kota-kota besar ada beberapa perilaku yang tidak sesuai dg norma masyarakat, tapi sayangnya, dalam banyak situasi, justru hal yg kurang baik inilah yang dijunjung teramat tinggi, menjadi gaya hidup dan tingkah laku sehari-hari.

Kita pun sama-sama maklum, ketika seorang perantau pertama kali menjejak kota rantaunya, ia akan takjub dengan dunia baru yang amat jauh berbeda dengan kehidupan yang ia tinggalkan, dan hal ini akan memicu gegar budaya ( cultural shock ) dimana timbul satu kesenangan serta rasa penasaran atas datangnya hal baru secara tiba-tiba, dan tinggal menunggu waktu para perantau ini akan mulai mencoba-coba dan akhirnya terbiasa dengan gaya hidup baru ( yang kadang tidak semuanya baik ).

Di pelosok-pelosok kampung, banyak orang tua, para sesepuh yang mengeluhkan sikap para perantau, mereka cenderung berbangga diri dengan gaya hidup yang baru dan membuang jauh-jauh kearifan lokal khas kampung mereka sendiri, mereka melupakan “unggah-ungguh” , kesopanan dan cara hidup masyarakat kampung yang begitu konsen dengan masalah etika, bahkan dalam titik yang lebih ekstrim mereka merasa gengsi menggunakan bahasa dan logat daerah kepada sesamanya, dalam perumpamaan jawa disebut “wong jawa ilang jawane”.

Maka, jadilah perantau yang baik, yang bisa memilah-milih produk budaya dan gaya hidup di bumi rantau, ambil yang baik-baik lantas buang jauh-jauh yang kurang bermanfaat, tentu dengan tidak melupakan kearifan dan kebijaksanaan kampung halaman yang dipeluk erat sejak kecil.

Dan tentu saja, semua kemungkinan dan akibat buruk yang ditimbulkan ini, jangan sampai menghalangi niat calon-calon perantau untuk menjelajahi berbagai sudut bumi, menuntut ilmu, serta mengecap manis asin kehidupan dalam rangka membentuk pribadi yang kuat dan mencari kesempatan yang lebih baik.

 

 * 

“Merantaulah.. 
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman.. 
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang.. 
Merantaulah.. 
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan.. 
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang.. 
Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan.. 
Jika mengalir, ia kan jernih.. 
Jika diam, ia kan keruh menggenang.. 
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak kan mendapatkan makanan.. 
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak kan mengenai sasaran.. 
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam.. 
Tentu manusia kan bosan, dan enggan untuk memandang.. 
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah.. 
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus berada di dalam hutan.. 
Jika bijih emas memisahkan diri, barulah ia menjadi emas murni yang dihargai.. 
Jika kayu gaharu keluar dari hutan, ia kan menjadi parfum yang bernilai tinggi..”

( Diterjemahkan bebas dari Syarh Diwan As-Syafii, )

 

Jakarta, kota impian para perantau.

Kamis, 23 Februari 2017, ditemani derap langkah kesibukan ibukota.

Thumbnail

Dilihat 163