Sosok istimewa di hari istimewa

Izazi Amar
Karya Izazi Amar Kategori Renungan
dipublikasikan 16 November 2016
Sosok istimewa di hari istimewa

Wahai Ibu.

Bagaimana kabarmu ?.

Kami tahu, hari ini adalah hari spesialmu, meski kami juga tahu, bagimu, mungkin hari ini tidak ada bedanya dengan hari biasa , hari-hari yang selalu diwarnai celoteh anak didikmu ataupun semerbak harum bumbu dapur ketika engkau memasak.
Namun, bagi kami, hari tetaplah amat spesial, karena engkau adalah segalanya dan apapun yang berkaitan dengan dirimu akan terasa begitu istimewa.

Wahai Ibu..

Seperti janji seekor penyu, yg kemanapun ia menjelajah, mengarungi lautan luas, mengunjungi tempat-tempat jauh, kemanapun ia pergi, ia akan selalu kembali, pulang ke pantai dimana ia dilahirkan, tak pernah lupa, tersesat ataupun kehilangan arah, ia akan senantiasa memenuhi janjinya.

Maka, bagi kami, engkaulah pantai itu Ibu, pantai yang luas nan hangat, yang selalu terbuka lebar menyambut penyu-penyu pulang.
Engkau selalu menjadi tempat kami kembali, dimana kami bisa bersandar di pangkuanmu yang nyaman, melepaskan sejenak berbagai beban dan tuntutan, meluapkan segala keluh kesah, yang pada akhirnya engkau akan menasihati kami, memberikan petuah-petuah, kisah-kisah, yang terasa bagai angin sejuk pegunungan, begitu damai dan menenangkan.

Kami selalu suka berlama-lama di pangkuanmu, menatap gurat wajahmu, gurat wajah yang tenang dan keibuan, juga memijit kedua kakimu yang mungkin seharian ini terus berjalan, dan belum melepas lelah, kami selalu suka ketika engkau membelai lembut rambut kami, sambil melantunkan doa-doa pengharapan.
Di hadapanmu, segala kedewasaan , pernak-pernik jabatan serta gelar yang tersemat di dada kami seolah rontok tak bersisa, hilang tanpa bekas, dihadapanmu, kami kembali menjadi anak-anak yang polos dan periang, anak-anak yang ingin selalu dekat dengan ibunya.

Begitulah Ibu, kami adalah penyu-penyu itu, yang selalu merindu pulang, kata "pulang" seolah menjadi oase di tengah gersang sahara kesibukan dan tugas-tugas yang menumpuk, bayang-bayang raut wajahmu yang teduh ketika menyambut kami di pintu rumah, bak wangi aroma terapi yang menenangkan, melebur penat dan lelah yang mengendap seharian.

Kami selalu rindu kebiasaan-kebiasaan itu,

Denting sendok dan piring yang terdengar nyaring, serta tawa renyah yang bersahutan saat kita semua berkumpul, makan bersama, lalu kami yang sibuk berebut perhatian, berebut menceritakan pengalaman dan kisah seru kami di bumi rantau, sedangkan engkau mendengarkan kami satu persatu dengan wajah yang berbinar dan penasaran.

Kami juga rindu bagaimana kami berbagi tugas, menyapu, mengepel dan pekerjaan rumah lainnya, ( meski kadang sering membuat kami berdebat panjang ) namun kami hanya ingin agar engkau tak tersentuh lelah dan penat, tidak ingin engkau tertidur dengan pegal-pegal di sekujur badan.

Saat ini, hanya dengan cara-cara seperti inilah kami ( mungkin ) bisa sedikit berterima kasih, berusaha sedikit membalas kasih sayang dan jasamu walau seluruh jagad raya pun tahu, bahwa semua itu tak akan pernah bisa terbalaskan.


Wahai Ibu...

"Kasihmu sepanjang masa, tak mengenal waktu atau usia"

Bahkan disini, ketika kami jauh darimu, ketika kami tidak bisa mencium takzim kedua tanganmu, lantunan indah kasih dan sayangmu tetap melesat, mengalir deras, menembus sekat-sekat waktu dan jarak.

Bagi kami, hanya dengan melihat namamu di layar ponsel yang berdering, lantas mendengar suaramu , sudah membuat hati kami membuncah senang , tidak ketinggalan pertanyaan-pertanyaanmu yang sederhana namun sarat makna.

"Bagaimana kabarmu nak?"
"Sudah makan?"
"Istirahat yang cukup, jangan sampai sakit"

Dari obrolan-obrolan singkat denganmu, dan perhatian-perhatian kecil yang engkau berikan, selalu bisa memberikan kami kebahagiaan yang berlipat, dan semangat yang meningkat pesat. Seakan, rasa malas dan jenuh yang menghantui dan membuat kaki begitu berat, hilang sama sekali, tak berbekas, layaknya kabut tebal yang lenyap tersiram sinar matahari .

Wahai Ibu...

Dahulu, mungkin kami bebal dan keras kepala, juga selalu membantah.
Dahulu, kami selalu sibuk dengan hal yang jelas dan terlihat,kami tidak menyadari ekspresi cinta dan kasihmu yang tersirat, yang tersimpan dalam setiap laku dan raut wajahmu.

Kami tidak tahu, bahwa di setiap gerak dan langkah ataupun gerakan lisan, nama baikmu kan selalu dipertaruhkan

Berulang kali kami telah membuatmu menggeleng kecewa, tidak terhitung kami membuat banyak kesalahan, menumpahkan banyak air mata

Ah, sungguh maafkan kami Ibu,
kami terlalu bebal untuk menyadari banyak hal, kami terlalu bodoh untuk memahami relung-relung hati.
.
Kami tidak menyadari betapa bangganya engkau ketika hari pertama kami bersekolah, engkau yang tersenyum lebar menggandeng kami yang sudah berseragam dan rambut yang klimis, lalu mengenalkan kami dengan guru-guru, kemudian engkau yang harap-harap cemas, menatap kami yang tertatih, memasuki kelas, memasuki dunia baru.
Hingga waktu melesat cepat, akhirnya engkau melepas kami satu per satu, pergi ke kota-kota jauh, meski harus mengorbankan kebersamaan, meski harus selalu memendam rindu

Kami tidak menyadari, selama ini engkau selalu membanggakan kami di depan keluarga serta tetangga, engkau yang mengatakan dengan wajah berbinar dan bercahaya bahwa kami lah hartamu yang paling berharga dan tidak tergantikan.

Bahkan kami pun tidak tahu, setiap kali malam beranjak engkau selalu tenggelam dalam munajatmu, menguntai doa-doa yang indah untuk kami, putra-putrimu


Wahai Ibu.

kami mungkin belum bisa menjanjikan apapun, dan belum mampu memenuhi harapan-harapanmu apalagi menjadi sosok yang patut dibanggakan

Untuk saat ini, biarlah kami terus belajar dan belajar , menyerap banyak pengetahuan, serta berusaha memahami berbagai kebijaksanaan hidup guna memperbaiki kesalahan dan kecerobohan kami selama ini.

Dan semoga, ketika masa itu tiba, ketika kedua kaki kami sudah kuat dan kami mampu berdiri tegak, saat itulah, kami akan kembali pulang, kembali menemanimu, menjalani hari-hari, kembali menjadi putra-putri kecilmu yang polos dan periang, dan tentu saja , kami akan memastikan tak ada lagi air mata sendu ataupun ratapan kesedihan yang pilu.

Semoga.

Wahai Ibu

Kami tahu, hari ini adalah hari spesialmu, meski kami juga tahu, bagimu, mungkin hari ini tidak ada bedanya dengan hari biasa , hari-hari yang selalu diwarnai celoteh anak didikmu ataupun semerbak harum bumbu dapur ketika engkau memasak.
Namun, bagi kami, hari ini tetaplah amat spesial, karena engkau adalah segalanya dan apapun yang berkaitan dengan dirimu akan terasa begitu istimewa.

Selamat ulang tahun Ibu.
Semoga Allah, Sang Penguasa semesta selalu menyayangimu, sebagaimana engkau menyayangi kami sepanjang waktu.

Salam takzim
Putra-putrimu

 

Cianjur, 16 November 2016
01.00
Di tengah dinginnya kabut Gn.Gede

 Thumbnail