Jendelaku, Jendela Bapak

Izazi Amar
Karya Izazi Amar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Jendelaku, Jendela Bapak

Aku selalu menyukai jendela

Bagiku, jendela selalu istimewa

Duduk takzim, menatap keluar jendela, mengamati lalu lalang,

 menghirup segarnya aroma angin, menyesap bau tanah yang baru tersiram hujan,

seakan menarik diriku kedalam suatu pusaran candu yang memabukkan.

 

Tapi hanya satu hal istimewa yang benar – benar membuatku lekat dengan jendela

Ya, satu hal yang amat istimewa.

****

“ Hei Ayah… jangan melamun terus dong, kebiasaan nih , ayah..”

“ Sini dong yah, temenin Ais main boneka, bosen main sendirian melulu..”

Aku mendekat, lantas memeluk Aisha, putriku semata wayang, sembari berbisik

“Sebentar lagi sayang, Ayah sedang sibuk, nanti ayah temenin, 10 menit lagi yaa..”

“yah… Ayah mah, sibuk terus..”   Tukas Ais dengan muka cemberut

“Nanti ayah ceritain cerita baru deh..” 

“Janji yaa.. Ais tunggu dibelakang jendela , 10  menit lagi lho”

Sontak, mata bundarnya berbinar – binar indah, mempesona…”

***

Aku dibesarkan nun jauh di kampung, di sela – sela rimbun padi, dikelilingi pematang sawah

yang membujur, suara lenguhan kerbau di kejauhan serta gemericik sungai yang mengalir jernih,

jauh dari hingar bingar, jauh dari modernitas.

 

Aku dibesarkan oleh kasih sayang bapak, ibu sudah lama meninggal, kata bapak, ibu meninggal

ketika melahirkan, pendarahan parah, dan malangnya karena kampung kami yang amat jauh,

ibu tidak sempat diselamatkan. Meninggalkanku yang masih merah ,terbungkus popok , dan

 digendong oleh Bapak.

Meski sendirian, tidak pernah sekalipun kudengar keluhan terlontar dari mulut Bapak, beliau

amat tangguh dan yang selalu kusuka dari Bapak adalah tatapan beliau yang meneduhkan,

seolah semua beban dan kekalutan hidup tenggelam oleh kedalaman mata bapak.

 

Kembali ke kampung kecilku…

Tiap pagi, di tengah kabut yang mengambang, sementara Sang Surya belum menyapa cakrawala,

Penduduk kampung kecilku berbaris rapi, beriringan menyambut pagi, menyusuri pematang

sawah, mengangkat cangkul, sembari mendendang irama kebahagiaan.

Pun juga bapak, berangkat pagi buta, berbekal serantang ubi goreng, topi caping tersampir,

dan tentu saja dengan cangkul kesayangannya.

 

Sederhana memang, bapak amat menyukai kesederhanaan , Ia bukan jenis orang – orang yang

konon menuhankan pekerjaan mereka, yang berjibaku, yang bahkan rela mengubah diri mereka

menjadi seonggok mesin pekerja yang tak kenal rasa,  hanya demi segepok uang dan

setingkat jabatan .

Tidak..

bapak bekerja  karena ia bahagia, menikmati setiap proses demi proses, lantas tersenyum

puas berapapun hasilnya.

 

Lepas tengah hari, usai pulang sekolah, aku menyusul bapak ke sawah sekaligus membawakan

tempe goreng dan sayur lodeh kesukaannya.

Sembari mencelupkan kaki di jernihnya air sungai, kami makan bersama, mengobrol, bercerita

apa saja, mulai dari kambing tetangga yang kemarin baru beranak sampai sawah bapak yang

hampir panen, bergurau , lantas tertawa lepas.

 

Setelah makanan tandas, aku pulang ke rumah..

Ah, rumah… jangan bayangkan, rumahku akan seperti rumah kalian, yang bertingkat, perabot

mewah, bukan…

Rumahku hanyalah sepetak kecil, berlantai tanah, serta kamar yang sempit.

Tapi, terlepas betapa sederhana dan seadanya, rumahku mempunyai satu tempat yang amat

spesial dan juga mempesona, bapak sengaja membuatkanku sebingkai jendela yang tinggi dan

lebar  yang langsung menghadap gunung – gunung tinggi yang melingkupi kampung, serta

dataran sawah yang menguning sejauh mata memandang.

Kalian tahu, jika kubuka jendela ini tepat saat Sang mentari muncul perlahan, akan tampak

Pegunungan tinggi menjulang yang berselimut kabut, semilir angin pagi yang membelai rambut,

serta embun – embun yang menggelayut manja di pucuk dedaunan.

Perpaduan yang amat syahdu.

 

Inilah tempat favorit aku dan Bapak, tempat kami menghabiskan senja , tempat Bapak

Memberikan ribuan kebahagiaan pada anak semata wayangnya.

 

Sudah menjadi menu wajib, sepulang dari sawah, bapak selalu mengajakku duduk di belakang

jendela sembari menatap matahari terbenam, hanya aku dan bapak.

Jika orang orang di luar sana begitu kesulitan bahkan berkorban banyak hal untuk mendapatkan

waktu luang, quality time, atau apalah mereka menyebutnya.

Disini, kami yang hanya orang kampung pelosok , selalu mendapatkan waktu luang yang terbaik,

dengan bonus pemandangan yang mempesona, tanpa perlu menjejakkan kaki keluar rumah.

 

Kami melakukan banyak hal, apapun..

Kadang bapak memberi petuah penuh hikmah, mengajariku mengaji, atau mengobrol ringan

tentang sekolahku tadi pagi, tidak jarang pula bapak mengajakku main catur atau tebak kata

di TTS  yang dibeli bapak di pasar loak, sering juga kami diam, termenung , memandangi para

petani pulang dari sawah.

 

Seperti sore ini, bapak termenung lama sekali , jika bapak diam seperti ini, aku suka sekali

memandangi mata bapak, begitu teduh, begitu menyejukkan.

Kemudian bapak tersenyum simpul, bertanya..

“ Nak , kau tahu kenapa kunang – kunang bersinar terang ? ”

Aku melongo, heran, pertama karena aku tidak tahu, dan tidak pernah memikirkanya, kedua

karena memang jarang – jarang bapak bertanya hal yang aneh

“ Ya memang dari sananya pak ”  kujawab sekenanya

 

Lantas, setarikan nafas kemudian bapak menjelaskannya dengan rinci, amat jelas

dan mudah dipaham ditambah senyum yang tak pernah lepas dari wajah bapak.

Kali ini aku terperangah,  takjub, bapak memang hanya lulusan SR tapi wawasannya amat luas

dan menakjubkan hampir mirip dengan para cerdas cendekia di luar sana.

Entah darimana bapak belajar…

“ Sudah maghrib nak, ayo kita ke surau dulu…”

Senja menjelang, kututup jendela, kubisikkan padanya , pada rumput – rumput, pada mentari

yang menenggelam…

“Aku ingin seperti bapak”…

 

***

Beberapa hari kemudian…

Masih di senja yang sama, di belakang jendela.

Bapak mengajariku mengaji, satu demi satu ayat suci , dengan telaten Ia ulang – ulang sampai

ayat – ayat ini merasuk dan melekat ke dalam jiwa anaknya.

Kadang, di suatu ayat, bapak berhenti, menjelaskan , memberi petuah – petuah…

 

“ Nak .. Para Nabi adalah orang – orang pilihan , kekasih Tuhan, dibanding mereka, kita hanyalah

Sekumpulan debu kotor diantara gemerlap bintang – gemintang, tapi lihatlah mereka begitu

sederhana , tidak ada deretan barang mewah, gelimang perhiasan serta perabot yang mengkilap

Tidak ada nak…”

“Andai mereka mau, bias saja seluruh berlian dan permata yang berharga, berbondong ,

berkumpul memenuhi panggilan mereka, tapi mereka lebih memilih sederhana, bahkan kau

tahu , pemimpin mereka, manusia yang paling mulia lebih suka makan di lantai bersama

hamba – hamba sahaya tinimbang perjamuan mewah bangsawan dan para raja.

 

 

 

Aku, yang masih polos dan tidak terlalu mengerti, hanya mengangguk, mengiyakan lantas

bertekad menulis tebal – tebal pesan bapak ini, di sanubari paling dalam.

***

Waktu berlalu bak mengalirnya air, lembut namun menghanyutkan.

Kebiasaanku bersama bapak terus berjalan, hari demi hari, minggu yang merajut bulan,

bulan – bulan yang memintal tahun, semua berjalan perlahan nan pasti, hanya satu hal yang

membedakan , bapak semakin renta, semakin sering sakit – sakitan.

Seminggu ini saja sudah tiga kali , mantri kampung bolak balik memeriksa bapak, memberi

obat - obatan, yang sialnya hanya untuk sekadar menahan rasa sakit tapi

tidak menyembuhkan bapak.

 

Tapi, begitulah bapak, ia tetap memaksakan diri pergi ke sawah, menjalani aktifitas, bapak

 tidak mau hanya tidur di ranjang dan tidak melakukan apapun. 

“ Tenang nak, bapakmu ini cuma masuk angin, nanti lama – lama sembuh sendiri”

Aku tahu bapak hanya tidak ingin melihat anaknya murung sepanjang hari.  Bapak hanya ingin

menenangkanku, tapi dalam hati aku serasa ditusuk sembilu.

 

Pernah kutanya Pak mantri  tentang penyakit bapak, bagaimana bapak bisa sembuh dan kembali

normal, dia hanya menggeleng, tidak tahu, dia bilang, penyakit bapak hanya bisa disembuhkan

rumah sakit – rumah sakit di kota besar, dengan dokter terbaik, dokter spesialis. Pak mantri

sebatas lulusan sekolah keperawatan, jadi dia tidak mau ambil resiko.

                Sembilu kembali menusuk  , lebih perih, lebih dalam.

                ***

Sebulan berlalu, sakit bapak bertambah parah, jika batuk, setetes darah mengalir dari hidung

serta bibirnya, akhir – akhir ini pula , di malam hari bapak sering mengeluh sakit sekujur tubuh.

Kini, sepanjang hari, sepanjang malam, aku selalu berada di kamar bapak, merawatnya,

melayani, memijiti bapak ,apapun yang bisa membuat bapak merasa lebih baik, meskipun aku

tahu , semua yang kulakukan tidak akan menyembuhkan bapak.

***

Suatu senja, entah apa pasal, bapak bersikeras mengajakku duduk di balik jendela, mengobrol.

Bapak kangen kebiasaan lama kami.

Awalnya aku menolak,menggeleng tegas,

 “Tidak…. Bapak masih sakit”

Namun aku luluh oleh tatapan memohon dan mata teduh milik bapak.

Akhirnya, seperti kebiasaan lama, kami berdua duduk di balik jendela, termenung, dengan mata

Bapak yang menatap pematang sawah di kejauhan.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkan bapak hingga ia terdiam begitu lama.

Hening menyelimuti kami, suara decit burung, hembusan angin, dan celoteh riang anak – anak

bermain bola terdengar samar – samar.

Bapak memegang tanganku pelan, hangat, tangat bapak terasa hangat dan menenangkan.

Bapak menatapku lama, begitu lama, seolah ia hendak menyelami dan mengaduk – aduk ku

lewat tatapannya, lantas bapak kembali menghadap kejauhan , tapi tatapan bapak begitu

kosong, begitu menerawang.

“Nak, kau tahu kenapa kunang – kunang bersinar ? ”

Belum sempat kujawab, bapak sudah mengatupkan kedua matanya, mungkin bapak kelelahan

hingga ia tertidur lelap.

Malam menjelang, kulihat bapak tertidur begitu lelap, begitu nyaman layaknya anak – anak

yang lelah bermain seharian lantas jatuh tertidur begitu saja, tidak peduli apapun.

Sialnya aku sungguh keliru dalam hal ini, bapak tidak kunjung bangun hingga pagi hari, hingga

matahari terbit, tidak untuk hari ini,  juga tidak untuk hari – hari berikutnya..

***

 

Ya … begitulah, bapak meninggal dengan tenang di pagi itu, di belakang jendela , di tempat

spesial kami.

Sesederhana itu memang , aku pernah mendengar seorang bijak bestari berkata “ bagaimana

Seseorang hidup, maka bagaimana pula orang itu akan mati…

Bapak menjalani hidup dengan sederhana, bahkan sampai meninggal pun, bapak tetap memeluk

erat kesederhanaannya.

*** 

15 tahun berlalu..

 

Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat ,melesat secepat anak  panah.

Begitu juga aku, dengan cepat meneruskan sekolah, mengambil setiap kesempatan , pun

berkeliling ke berbagai tempat, menyerap kebijakan – kebijakan hidup.

Kesedihan ditinggalkan bapak sudah menguap lama berganti menjadi energi yang berlipat-

lipat membangun masa depan.

Namun setiap kali melihat sebingkai jendela, tanpa kendali, kenangan dan memori indah

bersama bapak melesat cepat memenuhi kepala, begitu deras. Sering kutatap lama jendela ,

Hanya untuk memutar kembali kebersamaan kami , menghabiskan senja. Dan untuk melukis

ulang wajah bapak dengan senyum yang menenangkan , seolah bapak berkata

“ Bagaimana kabarmu nak ? , bapak rindu… ”

 

***

Aku amat sangat menyukai jendela, bukan karena aku bisa menghirup segarnya aroma angin,

dan menyesap bau tanah yang baru tersirami hujan…

Bukan…

Tapi karena bapak, karena  sebingkai jendela ini menyimpan kenangan-kenangan yang

 terpatri abadi…

***

Aisha sudah menungguku di belakang rumah, di tempat spesialnya , sofa empuk di balik

jendela,

“Ayo cepet yah… katanya ada cerita baru…”

Aku tersenyum simpul, lantas mulai bercerita

“ Ais, kau tahu kenapa kunang – kunang bersinar terang ? ”

***

 

Cianjur, 13 Agustus 2016

 

Thumbnail