I Can (Not) Live Alone

Iis Yoni Mutiasih
Karya Iis Yoni Mutiasih Kategori Agama
dipublikasikan 26 November 2016
I Can (Not) Live Alone

 

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Sedikit bercerita, semoga menjadi penghibur bagi yang hatinya sedang dilanda kesusahan..

Sedari kecil, aku terbiasa hidup jauh dari orang tua. Sendiri membuat diri yang manja ini akhirnya mandiri. Mengatur diri agar perasaan cemburu terhadap teman yang dekat dengan orang tuanya, tidak mudah terteka. Mengatur air mata agar isaknya tak bersuara saat orang tua tengah berbicara, yang hanya kudengar 1 jam dari 24 jam setiap harinya. Bertemu dan bercengkrama pun hanya 3 minggu dari 3 tahun yang kujalani. Sesak, memang. Tapi inilah cara Tuhan membuatku menjadi mandiri seperti ini. Mengatur keuangan, mencari tambahan uang jajan, mengatur waktu belajar, semua mudah untuk kulakukan. Ya, semuanya terasa mudah. Karena aku telah terbiasa.

 

Dulu aku sempat berfikir, apakah aku bisa? Aku masih sangat belia. Hidup tanpa orang tua yang menjaga diriku sendiri di tengah dunia yang semakin kejam? Menangis(?). Ya, setiap hari aku menangis. Menangis meratapi kisah hidupku yang tak pernah kubayangkan 'kan menjadi seperti ini. Sedih, melihat rumah yang dulu penuh keceriaan, kini mendadak sepi.Tidak ada siapapun, kecuali lemari dengan debunya. Aku takkan menyalahkan orang tuaku, takkan pula menyalahkan keadaan. Ini jalan hidupku. Orang tuaku menyayangiku. Tak ikut bersama mereka adalah pilihanku. Aku memilih tinggal di sini bersama seorang kakakku, dan aku memilih hidup di kota ini dengan bekal doa dari orang tuaku.

 

Takut. Itulah hal kedua yang kurasakan. Tapi kemudian, aku pun berfikir, apa yang harus kutakutkan? Aku punya Allah yang akan selalu melindungiku. Hey, ternyata aku memang tak sendiri, meskipun kakakku seringkali pulang larut malam. Aku tak sendirian. Aku punya Allah, tempatku bergantung dan meminta. Aku punya Al-Qur'an sebagai petunjuk kehidupan. Aku tak sendirian. Sejenak, kalimat itulah yang menyejukkan hati dan mataku.

 

Kehidupanku berjalan dengan sangat mudah. Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan. Tapi, sebenarnya bila kuingat-ingat lagi perjuangan-perjuangan yang telah kulakukan. Hidupku ternyata tidak mudah seperti yang kubayangkan sebelumnya. Banyak cobaan, ujian, dan rintangan yang harus kujalani. Aku hadapi semuanya, dan aku pelajari. Ternyata, setelah kulewati itu semua, semuanya terasa mudah. Asalkan kita yakin, kita bisa dan kita yakin semuanya dimudahkan Allah SWT.

 

Benar kata Allah, bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. Bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan orang tersebut. Bahwa Allah tidak meninggalkan kita dan tidak pula membenci kita. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

 

Dulu, ada perasaan dimana saat aku malas belajar, aku ingat kedua orang tua yang jauh di sana. Aku berkhayal mereka bisa datang ke acara kelulusanku sewaktu SMK dan melihat bahwa aku, anaknya ternyata mampu dan bisa berprestasi walaupun jauh dari mereka. Akhirnya kutendang semua kemalasan itu, dan hasilnya usahaku tak berbuah sia-sia. Aku mendapat ranking pertama di kelas, dan aku sangat bahagia. Meskipun pada kenyataannya mereka tak datang melihat anaknya ini.

 

Dulu ada perasaan ingin jajan, ingin main, ingin punya benda seperti ini, ingin punya benda seperti itu, tapi aku tak punya uang. Aku bisa apa tuk mewujudkannya? Tak mungkin aku meminta uang, malu rasanya. Aku bingung harus bagaimana? Apakah keinginanku cukup berlabuh di angan-angan saja? Iya. Dan kupikir, aku tak memerlukan semua keinginanku itu. Aku masih bisa hidup walaupun tak memiliki benda-benda yang kuingini dalam khayalku.

Namun ternyata, Allah tak ingin aku seperti itu. Uang jajan dari orang tuaku yang dikirim setiap bulan, ternyata jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan dan tugas-tugas dari sekolah. Jangankan untuk hura-hura, untuk makan saja kurang. Hmmm. Hingga akhirnya, aku memilih untuk berjualan. Aku berjualan cilok goang yang kubuat sendiri dengan tangan dan modal seadanya yang kupunya. Hasilnya, ternyata alhamdulillah tidak mengecewakan, Masyaa Allah. Aku bisa memenuhi kebutuhanku, aku bisa membeli apa yang kumau, dan aku juga bisa menabung dari hasil jerih payahku.

 

Tentu saja hal tersebut tidak semudah yang diceritakan. Banyak hal yang aku pelajari. Aku mesti belajar mengatur waktu, aku mesti memberanikan diriku berjualan, aku mesti mengatur keuangan. Dan semuanya memerlukan proses, hingga aku bisa menjalani semuanya dengan mudah.

 

Iya. Mudah.

Kini, semua terasa mudah bagiku dan terlihat perbedaan yang cukup kontras antara aku dengan teman-temanku.

Di sini, di Bandung ini adalah kota baru bagiku dan teman-teman baruku. Di sini aku memberanikan datang sendiri, tanpa ada sanak saudara ataupun tempat tujuan. Aku yakin, Allah-ku akan melindungiku karena Allah menyayangiku. Tak perlu ada yang kutakutkan, toh tujuanku kesini itu baik. Aku ingin belajar, menuntut ilmu, mewujudkan cita-citaku.

 

Di awal perkuliahan, aku menemukan teman-temanku menangis setiap malam. Kuhibur mereka, dan kuberi support pada mereka. Mereka pun bertanya, "Kenapa kamu tak menangis? Tak rindukah kamu dengan orangtuamu?"

Aku pun tersenyum dan menjawab, "Untuk apa aku merindukan orang tuaku? Toh mereka selalu di hatiku".

 

Aku selalu tertawa jika mengingatnya kembali. Mungkin, teman-temanku berpikir bahwa aku adalah orang yang paling sabar dan tabah sedunia. Aku tak pernah menangis di depan mereka karena rindu orang tua. Iya, aku tak pernah menangis karena dulu aku sudah sangat kenyang menangis. Ujian yang sedang dialami teman-temanku, aku anggap mudah. Karena aku sudah pernah melewatinya. Akupun merasa senang, karena aku setingkat lebih tinggi dari mereka.

 

Banyak pula hal lainnya yang membuat diriku senang karena aku telah melewati ujian lebih dulu dari teman-temanku. Karena, saat itu aku bisa memberikan nasihat yang bermanfaat untuk orang-orang disekitarku. Aku senang bisa berbagi ilmu dan membantu meringankan beban mereka.

 

Semua hal itu seringkali membuatku berpikir, kata-kata seperti, "Mengapa Allah memberiku ujian seperti ini? Mengapa tidak orang lain saja? Mengapa mesti aku yang harus menjalani ini semua?" itu adalah kata-kata bodoh dari setan agar kita mengeluh dan lari dari masalah.

Padahal, Allah memberi kita ujian yang kita rasa sangat berat, dan orang lain tidak mengalami apa yang kita alami itu karena Allah percaya kita akan mampu mengahadapinya. Sungguh, Allah begitu menyayangi kita semua. Dan di saat kita telah lulus dari ujian itu, kita akan melihat bahwa orang lain baru menghadapi ujian tersebut. Ternyata, kita setingkat lebih tinggi dari mereka. Allah ingin kita lebih tinggi beberapa derajat dari yang lain dihadapan-Nya.

Berprasangka baiklah terhadap Allah. Apa yang Allah berikan adalah bukti cinta-Nya terhadap hamba-Nya. Oleh karena itu, cintailah Allah, seperti Allah yang selalu mencintai kita. Yuk, kita belajar mencintai Allah bersama-sama, belajar memperbaiki diri dan akhlak kita, serta membuat Dia semakin mencintai kita sebagai hamba-Nya yang beriman. Aamiin, insyaa Allah.

 

Itu hanya sebait kisah dari cerita hidupku, semoga bermanfaat untuk teman-teman semua. Mohon maaf bila banyak kekurangan dan kesalahan. Jazakillah.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.

  • view 178