Aki no Dai-Undoukai Keyaki 2017

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Oktober 2017
Aki no Dai-Undoukai Keyaki 2017

Dai-Undoukai tidak boleh dilewatkan.

Seperti juga tebakan saya tepat untuk Moriya Akane, Kobayashi Yui, dan Kato Shiho bahwa mereka adalah pelari yang cepat, Kanemura Miku dan Watanabe Miho sekali lagi membenarkan sangkaan saya. Untuk Watanabe Miho mungkin mudah disangka, tapi Miku? Ia bahkan tampak sama ringkihnya dengan Koike Minami atau Ishimori Nijika.

Saya suka member yang mampu berlari cepat. Sesempurna apapun tampakan mereka di atas panggung atau lembar photobook, jika mereka tidak tangguh di trek lari atau melompat saja ogah-ogahan, terasa ada minus. Semacam tak ada semangat kerja keras dan kompetisi. Karena itu saya menggilai betul Tim-K yang dulu dan Tim-8. Yuko, Akigori, bahkan Ohori Megumi mampu berlari lebih cepat dibanding kebanyakan member semasanya (lihat Dai-Undoukai AKB pertama, 2009). Untuk Tim-8, lihat saja AKB Dai-Undoukai 2015.

Belakangan, Tim-K yang kini bisa dicap gagal meneruskan karakter Tim-K yang dirumuskan Yuko dkk. Tim-K yang kini, meski coba terus diisi member yang bertenaga dan lentur dalam koreografi, tetap saja terasa lebih payah.

Keyakake ep.103 semalam kembali menghadirkan Aki no Dai-Undoukai, yah, semacam olimpiade mini musim gugur. Jika uji fisik mereka di awal mentas (2015) bisa dihitung sebagai Undoukai dan olah-fisik di Keyabingo! tidak dihitung, maka ini sudah yang ketiga kalinya. Bagus juga kalau ini dijadikan rutin.

Seperti yang sudah pernah saya singgung dulu-dulu, Techi lagi-lagi tampil setengah hati. Ia tampak berlari tidak dengan kesungguhan. Satu contoh yang buruk bagi kouhai-kouhainya. Saya mengerti, sebagai center yang citranya ditahbiskan agung, ia tak bisa tampil konyol melewati batas di variety. Namun kalau begitu terus, apa sebaiknya ia dipensiunkan saja dari variety, ajang yang memungkinkan—bahkan di waktu tertentu mengharuskan—seorang idol melakoni kekonyolan? Demi menjaga citranya, kan?

Selain Techi, member lain yang seperti tidak bersungguh ialah Akane. Ia melambatkan larinya menjelang garis finis (lari 50m). Barangkali karena ia sudah melihat kekalahan. Di uji fisik Keyaki pertama (2015) ia mencatatkan waktu tercepat. Catatan waktunya melambat setahun setelahnya. Dan semakin melambat tahun ini. Jika saja ia tidak melambatkan larinya menjelang finis, mungkin tidak.

Meski begitu, gelagat Akane ini tidak bisa disamakan dengan Techi. Ia tidak berbuat demikian demi suatu—maafkan saya untuk sebutan ini—citra palsu yang dipaksakan. Seperti saya tulis di atas, ia sudah melihat kekalahan. Mungkin benar kesibukannya di Keyaki membuatnya tak mampu berlari kencang lagi. Tapi Shiho mesti diakui pelari yang tangguh. Meski catatannya tidak juga lebih cepat dari yang dicatatkan Akane di tahun 2015, atletisitas Shiho itu bukan main-main (versi lainnya sila cek Keyabingo! 3 ep.10).

Artinya, kekalahan Akane di lari 50m itu bukan penjamin ia akan mengalah sebegitu rupa di medan lain. Sifat makezu girai (benci kalah)-nya bikin saya ingat Minegishi Minami dan Miyazawa Sae di Dai-Undoukai 48Grup yang digelar di Tokyo Dome 2015 lalu.

Kita tahu, dua member tersebut (Miichan dan Sae) bukan pelari yang cepat. Namun, semangat mereka tidak bisa diremehkan. Mereka mungkin juga rutin berkelakar, mengucapkan candaan-candaan, tapi kalau di lapangan mereka berubah serius. Jauh beda dengan Takamina yang membawa-bawa leluconnya sampai ke olah-fisik (ini konteks Undoukai saja, ya. Sebab siapa yang bisa menyaingi keseriusan Takamina di luar itu? Teater dan konser misalnya).

Di gelaran di Tokyo Dome itu, kedua member ini menang di lari rintang. Berguling, memecah balon, menggendong kouhainya, merangkak merunduk-runduk di bawah jaring, mengendarai sepeda mini roda tiga, mencari kelereng di tumpukan tepung, lompat karung, hingga lari sampai finis dengan kaki terikat bersama member lain, dikerjakan keduanya dengan sungguh-sungguh. Menang, tak mau kalah dengan member lain yang jauh lebih muda. Miichan finis dengan kaki terikat bersama Shinozaki Ayana, sedang Sae bersama Jurina.

Di lari estafet, meski sudah ketinggalan cukup jauh, mereka tak berhenti lari sekuat-kuatnya mengejar Anai Chihiro (Tim-H), dan akhirnya finis di tempat kedua dan ketiga di belakang Sakaguchi Nagisa Tim-8. Kerja keras mereka ini mengantarkan tim mereka ke babak final. Meski akhirnya nasib kedua tim mereka berseberangan jauh di hasil akhir lari estafet ini. Tim-K Miichan finis terakhir, sedang Tim-S Sae finis pertama.

Yang menarik, tentu kesamaan yang Miichan dan Sae bagi: mereka sama-sama pernah tumbuh di Tim-K. Miichan dipindah ke Tim-K dari Tim-A di Team Shuffle pertama 2009 silam. Lalu berturut-turut dipindah ke Tim-B, turun ke Kenkyuusei, jadi kapten Tim-4, dan akhirnya kembali ke Tim-K Maret 2015, hingga sekarang. Sedang Sae kita tahu, ia member gen.2 AKB, ialah member asli Tim-K, pernah setara sejajar ditempa bersama Yuko, Akigori, Ohori Megumi, dan kawan-kawannya yang lain yang sudah lebih dulu pensiun.

Di titik inilah yang saya maksud dengan ‘contoh yang baik bagi kouhai-kouhainya’. Member senior seharusnya demikian. Selalu bersungguh-sungguh, profesional di tiap jenjang dan medan yang telah mereka pilih tuk pijaki.

Ya, Aki no Dai-Undoukai Keyaki belum selesai ditampilkan. Menarik ditunggu apa Techi akan mengecewakan lagi di episod Keyakake minggu depan atau tidak.

  • view 20