Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 24 Oktober 2017   14:00 WIB
Penyakit Orang-orang Tua

Hanya ada dua shinobi yang diberi embel-embel Konoha no bla bla bla, Namikaze Minato dan Hatake Sakumo. Yang pertama Kiiroi Senkou (Yellow Flash; Kilat Kuning) dan yang kedua Shiroi Kiba (White Fang; Taring Putih). Tidak seperti Minato, aksi-aksi Sakumo tidak pernah diperlihatkan, baik di 700 chapter manga ataupun filler-filler anime. Yang ada cuma penjelasan bahwa ia dihormati setara Densetsu no Sannin, Jiraiya-Orochimaru-Tsunade. Kepada semua shinobi–di luar Konoha—yang terjun ke medan perang di masa itu, selalu dipesani: berhati-hatilah, atau lebih baik mundur, jika ketemu dua orang itu. Satunya berciri rambut kuning, satunya lagi berambut perak dengan tantou (katana pendek) chakra putih.

Sejak pertama kali tahu bapak Kakashi semelegenda itu—ingat, dialah yang mendobrak tabu dunia ninja bahwa misi lebih penting daripada nyawa shinobi—, saya selalu menunggu tiba hari di mana aksi Konoha no Shiroi Kiba diperlihatkan. Sayang, bahkan bertahun-tahun setelah itu hingga manga ini tamat, si mangaka merasa cukup dengan deskripsi itu saja.

Hatake Kakashi. Selain sharingannya, orang-orang juga punya satu penanda lagi untuknya: ia putra Konoha no Shiroi Kiba. Rambut peraknya beberapa kali dikelirukan. Nenek Chiyo refleks menerjang begitu Kakashi masuk ke ruang perawatan Kankurou di Sunagakure.

Bagi saya, yang menarik dari scene itu bukan lagi tentang melegendanya Konoha no Shiroi Kiba, melainkan bagaimana orang-orang tua ini begitu kuat membawa dendam, trauma, primordialisme, atau bahkan xenophobianya. Sebelum Kakashi tiba, dia sedang mengomeli Kankurou dan shinobi lainnya di situ tentang betapa lemahnya anak-anak muda itu dibanding mereka dulu. Generasi sekarang terlalu bergantung pada desa lain, sehingga lupa melatih diri untuk jadi lebih kuat, omelnya.

Mengenai dendamnya yang spesifik ke Shiroi Kiba, kita mengerti, karena Shiroi Kiba lah yang membunuh anak laki-lakinya—orang tua Sasori. Tapi lebih dari itu, kita juga mengerti, bahwa ini sikap dan kesadaran warisan perang bertahun-tahun yang mereka geluti. Xenophobia yang mereka bawa dan resapi, kemudian mereka wariskan ke generasi di bawahnya. Dunia buruk yang mereka bikin sendiri, sesekali mereka sesali, namun sadar tidak sadar mewariskan dan melanggengkannya ke anak-cucu.

Karena itulah nenek ini terkaget-kaget melihat Naruto begitu peduli pada Gaara, yang sudah Jinchuuriki (siluman ekor, bijuu, hanyalah alat perang pengaman desa di mata orang-orang tua ini), shinobi desa lain pula. Penjelasan Kakashi mencerahkannya. Naruto tak melihat Gaara sebagai shinobi dari desa lain. Naruto melampaui kesadaran itu. Tak peduli di desa mana pun, setiap Jinchuuriki mendapat perlakuan sama: dipinggirkan, dipandang iblis, manusia kelas dua. Kesamaan ini yang mengikat mereka. Naruto tak kenal primordialisme semacam Konoha ya Konoha, Suna ya Suna. Narasi yang selalu dipegang, dipercaya, dan tak terhitung kali coba dicekokkan Chiyo—atau orang-orang tua sejenisnya—ke shinobi-shinobi yang hidup setelahnya.

Di sinilah kontras beda para tua-tua ini dan shinobi muda. Naruto dan teman-teman segenerasinya tak mewarisi penuh betul kebencian bawaan perang ini. Mereka lahir dan hidup di era yang relatif damai, di mana aliansi tiap desa dan negeri dimungkinkan. Keyakinan bahwa setiap desa, negeri, dan shinobi bisa saling mengerti menghujam bagus di benak mereka. Satu-satunya yang meracun hanyalah kebencian dan paham kuno yang diwariskan para orang-orang tua tadi.

Jika fiksi di atas ditarik ke kenyataan kita, semangat serupa itulah yang bikin Pram menampik sekian ‘basabasi’ permohonan maaf yang pernah datang padanya. Ia tak percaya pada orang-orang, para 'tua-tua', yang diam ketika arsipnya dibakari. Diam yang menurutnya berarti ikut mendirikan rezim berdarah yang dulu itu. Dan karena itulah ia hanya percaya pada satu: anak-anak muda. Orang muda yang tidak mewarisi gontok-gontokan orang-orang tua mereka.

Seorang lain juga percaya hal senada. Seorang yang, lucunya, permohonan maafnya justru pernah ditampik Pram. Ialah Gus Dur. Yang atas nama pribadi, atau juga PBNU, memohon maaf kepada para korban di periode berdarah itu dan setelahnya, demi meringankan beban sejarah generasi yang lahir dan hidup kemudian.

Atas dasar fiksi, fakta, dan keyakinan-keyakinan di atas, tak kagetlah saya melihat laku seorang tua lain beberapa waktu lalu yang seakan mencoba ‘menyangkal’ atau ‘membantah’ keterlibatan satu negara adidaya di periode berdarah tersebut. Seorang tua ini, seorang begawan, tampaknya masih membawa kesadaran-kesadaran zaman perangnya, dan masih pula mencoba mewariskannya ke orang-orang yang lahir setelahnya.

Menyedihkan betul.

Karya : Shah Priyanka Aziz