Didelkon Anti-Kom

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Oktober 2017
Didelkon Anti-Kom

Saya belajar banyak kemarin itu. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya saya didelkon di perkawanan dunia maya! Tapi pembelajaran yang sebenarnya adalah saya tambah mengerti bahwa ada beberapa kesamaan mencolok dari mereka yang jenis-jenis itu, yang anti-marxisme, atau spesifiknya: anti-komunisme.

Saya menyebutnya ‘ketidakcakapan membaca’ dan ‘kekurangan cara berpikir lain’. Saya pernah bikin coretannya (baca di sini), yang kemudian berkembang jadi coretan yang lebih tidak keruan (baca di sini). Barangkali karena ‘kurang’ itulah jadinya selera humor mereka ikut kering sekering-keringnya. Ditulisi kontol kok baper? Kalau dalam percakapan tatap muka yang guyub dan cair, telaso dan sundala saja lumrah, kenapa kontol tidak? Mungkin mereka yang jenis ini tak pernah saling memanggil nama orang tua zaman sekolah rendah dulu. Kaku betul!

Di satu sesi saling balas komen, saya pernah melontarkan pernyataan, “Hebat ya kapitalisme ini, bisa bikin kita berpikir bahwa kita miskin dan sengsara karena kita malas belaka.” (ini saya teruskan dengan: “Mau petani kerja keras bagaimana juga, kalau negara merestui sawah mereka direbut pabrik semen, ya sama saja”). Seorang yang saya tahu anti-marxisme/komunisme kemudian merespon, “Jadi, kalau saya mengkritik kemalasan—yang adalah pangkal sengsara—apakah berarti saya kapitalis?” yang kemudian diteruskannya dengan gugatan-gugatan lain semisal petani yang cuma kerja keras mengandalkan otot (tidak kerja cerdas?) dan beberapa pemuda yang sekadar berleha-leha tak mau berwiraswasta (ini dia barangkali kerja cerdas!).

Yang menarik di situ, dia tidak kemudian penasaran ‘Bagaimana (runutannya; alur logikanya) kapitalisme bisa bikin kita pikir kita sengsara karena malas belaka’, justru malah sekadar mencomot satu ‘kata kunci’, premis, lalu melakukan satu silogisme yang terlalu sederhana, yang saking sederhananya malah melepaskan ‘kata kunci’ atau premis itu dari keseluruhan konteks pernyataan tersebut. Jadilah: ‘malas adalah pangkal sengsara’, ‘sengsara adalah dampak dari kemalasan’, ‘bagaimana bisa kita tak sengsara meski malas?’, kemudian dipungkasi dengan: “Kalau saya menggugat ini, apa berarti saya kapitalis?”

Aduh!

Di kesempatan lain, saya bikin pernyataan bahwa larangan terhadap marxisme dan komunisme itu tidak masuk akal, persis pelarangan rambut gondrong di kampus-kampus. Seorang anti yang lain mengomentarinya dengan, “Bagaimana bisa kau membandingan dua hal yang berbeda? Satunya ideologi dan satunya yaa.. rambut gondrong.”

Demi dewa! Perbandingan ya memang penyandingan dua hal yang berbeda, terpisah, berlainan, yang kemudian dicari keserupaannya atau justru menegaskan colok perbedaannya.

Dari perdebatan kemarin juga saya belajar bahwa sepertinya mereka terlalu menganggap serius perihal komunisme, sekaligus, melakukan simplifikasi terhadapnya. Ini saya nilai dari pernyataan mereka bahwa ‘hanya ada tiga ideologi di dunia: komunisme, kapitalisme, dan islam’. Dua di depan bermasalah, yang terakhir satu-satunya solusi. Dan karena hanya ada tiga ideologi, maka percaya dua ideologi sekaligus adalah sejenis kemustahilan (komunisme dan agama seperti suatu ‘keyakinan’ yang sejajar dan setara, bung!?). Tiba-tiba saya seperti menjelma masuk semesta One Piece, di mana konon seseorang tak bisa makan lebih dari satu buah setan.

Bayangkan ada yang bersorak karena suku Anak Dalam beramai-ramai masuk islam. Bagi mereka yang menurutkan kacamata marxisme (atau logika ‘sekuler’ lainnya) dalam mengamat, ini jelas tak pantas disoraki. Karena di balik itu ada kenyataan ruang-ruang hidup yang direnggut oleh komersialisasi lahan, perkebunan kelapa sawit, dan tambang. Belum lagi antagonisme yang dikandung birokrasi dan administrasi negeri ini, yang tidak mengakui keberadaan mereka (yang berimbas pada tak adanya layanan kesehatan) sampai mereka memeluk setidaknya satu agama resmi. Jadilah mereka hijrah tanpa iman. Di baliknya hanya ada motif penyelamatan diri dari hilangnya lahan berburu.

Atau sorakan yang mengiringi buruh-buruh yang berani bertaruh pekerjaan mereka dengan menolak pengharusan pemakaian atribut natal. Tolak saja, kalau dipecat, tenang, rezeki Tuhan yang atur. Mereka yang sekuler sesat tentu tak akan mengusul ‘kepasrahan’ yang demikian. Ketimbang itu, mending utamakan usaha penguatan posisi serikat buruh atau meninjau ulang aturan/regulasi/perundangan perlindungan ketenagakerjaan.

Saya beri tanda kutip untuk sekuler di atas, sebab kata ini juga sering mereka sejajarkan dengan komunisme, liberalisme, dll. Padahal masing-masingnya jelas berlainan. Padahal lagi, sekulerisme/sekulerisasi ini kan, meminjam Karlina Supelli (semoga Tuhan merahmatinya terus sehat memberi pencerahan), ialah cara manusia mencari jawab atas persoalan-persoalan dunia dengan apa-apa yang tersedia di dunia juga. Dengan ini, kalau melihat hujan keras yang menyebab banjir, kita tak akan menyebutnya lee na Wakinamboro (kencingnya Wakinamboro—ini cara sebut orang-orang tua kami di Buton); gerhana bukan karena matahari atau bulannya ditelan sementara oleh raksasa; tsunami bukan azab karena orang-orang di situ rutin konsumsi ganja; atau petir adalah percik bunga api hasil benturan martil dan pasak baja dewa di langit. ‘Sekulerisme/sekulerisasi’lah yang melahirkan jawaban: hujan berkait dengan penguapan dan kondensasi, tsunami bisa disebab pergeseran lempeng bumi, gerhana terjadi karena benda-benda langit itu saling sejajar menutup satu sama lain, dan petir adalah muatan listrik yang meletup dari/di awan.

Di titik itulah marxisme sama dengan yang lainnya. Dengan teknik sipil atau antropologi atau kimia atau biologi dll. Ia adalah perspektif, sistem nilai, filsafat, ilmu. Kita masuk laboratorium. Mencampur beragam cairan dan bahan di gelas reaksi. Menunggunya berubah jadi entah. Di mana Tuhan di situ—selain karena Ia yang ‘mencipta’ dan ‘beri izin’—? Segenap bahan dibiarkan bereaksi seturut hukum yang dibawanya. Itu kan ‘sekulerisme/sekulerisasi’?

Kalau mau egois, seperti kata teman saya, kita sebut saja kurang paham mereka itu karena tak biasa pakai cara pikir MDH, materialisme-dialektika-historis. Tapi itu keterlaluan. Sebab dengan pikir-pikir biasa saja sebenarnya bisa.

Dengan dipinggirkannya marxisme di negeri ini sejak ’65, tak habis-habis kita lihat peragaan ‘kurang pikir’ ini. Bagaimana tidak, belajar ini dilarang, belajar itu sesat, baca sana haram, baca sini tidak pancasilais, gerak sedikit ditangkapi. Terkejut-kejutlah kita begitu disodorkan perspektif lain.

Peragaan kurang pikir ini terang kelihatan di penyikapan mereka terhadap film usang Arifin C. Noer itu. Jika di tahun 80an film itu diwajibkan untuk anak sekolah dasar, apa iya hari ini juga mesti begitu? Ketika riset mengenai hak dan perlindungan anak, serta busuk kebohongan orde Soeharto sudah berkembang sebegini rupa? Betapa cara pikir mereka tak berkembang seturut waktu.

Ketika Australia akhirnya insyaf dan minta maaf atas kelirunya forced adoption dan stolen generation (yang terakhir ini untuk anak-anak aborigin) yang mereka lakukan dulu; Jerman untuk borok NAZInya; keberanian Kamboja mengadili sisa-sisa Khmer Merah; mengapa Indonesia masih tak bisa mengakui dan mengadili salah-salahnya? Yang begini agak susah dimengerti, ya sebab cara pikir kita sudah dibiasakan ahistoris, tidak dialektik, dan tak berkembang, jalan di tempat.

Sampai di sini saya tersadar lagi, ironi dan kabar menyedihkannya bertambah dua. Pertama, betapa banyak dari kita yang enteng saja merendahkan argumen orang lain, padahal tak mampu menyusun rapi argumen sendiri. Kedua, mereka yang memutus perkawanan ini, kalau tak silap ingat, adalah juga mereka yang bersorak (dan mengelu-elukan si pengucap) begitu mendengar kuot menggetarkan yang booming sekitar 3 tahun lalu itu: “Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.”

Lha kalo begitu, kok ngedelkon? Tol!



Makassar, awal Oktober

  • view 27