Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 22 Oktober 2017   13:14 WIB
Semoga Betah, Gen.2 Hiragana-Keyaki!

Pengenalan awal member generasi dua Hiragana-Keyaki selesai. Dua episod Keyakake itu (ep.100-101) manis, lucu, dan bagus sekaligus. Saya bahkan mesti mengingat-ingat, apa iya Nogidoko juga seatraktif ini waktu mengenalkan Reika dkk dan Miona dkk dulunya? Yang teringat cuma ekspresi kacau Maiyan sewaktu turun dari kursi sebelum mengenalkan diri, tarian samba Ichiki Rena, atau juga sembrononya jawaban Suzuki Ayane tentang pesawat yang bikin Himura emosi.

Tiga ingatan, dan bagaimana Bananaman dan Ungirls (Ungirls ada di pengenalan Reika dkk) mengerjai Nogizaka dulu itu lucu, tapi tidak cukup. Tidak terasa intim. Lebih seperti mengerjai.

Tidak demikian yang coba Sawabe dan Tsuchida lakoni di dua episod Keyakake kemarin. Member baru tidak ditempatkan seperti objek yang dipreteli dan dikerjai. Mereka seperti subjek merdeka yang hadir bebas mempresentasikan isi angketnya. Sawabe dan Tsuchida mengantar dengan baik. Tanggapan dan reaksi member senior pun cukup, tidak bikin adik-adik barunya tertutupi namun sekaligus tidak menihilkan pula kehadiran mereka (senpai) sendiri.

Dari sembilan member baru, meski Kosaka Nao dan Hamagishi Hiyori melempar citra menarik (Kosaka bercitra kalem tapi sebenarnya menyimpan energi besar [persis KobaYui, member yang menurut kakak Kosaka sendiri memang menyerupainya]; sedang Hamagishi seperti masih 'memalsukan' atau 'menyembunyikan' beberapa segi dirinya: keinginan berontaknya atau senyumnya yang tidak dilepas penuh) atau Nibu Akari yang secara aneh bisa bikin saya ingat Maimai yang lama, fokus saya tersita habis untuk Kanemura Miku dan Watanabe Miho.

Kanemura Miku. Kulit putih bersih, rambut diponytail, pipi agak menggembung namun melancip cukup menuju dagu--tidak ikut membulat, senyum dan tawa yang lepas, dengan penampakan serupa itu, ia mengingatkan saya pada Kumazaki Haruka SKE di awal kemunculannya (2013-2014). Masih segar di ingatan saya Kuma-chan dulu mengapit Okubo Kayoko bersama Futamura Haruka di Ebi-Calcio. Saya suka ekspresi Yone menyambut Miku. Ia tampak seperti kakak yang akan mengayomi baik adiknya yang satu ini. Ah, Yone itu, memang tak bisa menyembunyikan pembawaaannya yang cair, lepas, akrab, dan jauh dari palsu.

Kembali ke Miku. Ia menyetujui dan karenanya menjiplak jawaban penyesalan Shida tentang hari yang terlalu sebentar, hanya 24 jam. Shida merespon kesamaan ini dengan sapaan dan kerlingan canggung ke Miku. Kecanggungan yang aneh bagi duo MC mengingat pembawaan Shida yang cuek saja biasanya. Keheranan Sawabe-Tsuchida berlanjut ketika Miku mengaku menyukai Ozeki. Aura tenang Ozeki, yang sama sekali tidak ia punya, cukup baginya sebagai alasan. Duet saksofonnya bersama biola Nagasawa berakhir kacau.

“Minna, Miku wo osushikanai!” Oke. Kami akan mengingat ini.

Watanabe Miho. Watanabe ketiga di Keyaki. Ia mudah dikenali dengan rambut pendek bob-nya. Di videonya ia mengaku jago basket. Tapi tak seperti Hirate dulu, ia tidak merekam dirinya bersama bola basket. Begitu tirai diangkat dan ia berjalan ke arah duo MC, kelihatan bahwa keahliannya di basket bukan omong saja. Punggung, bahu dan lengan bagian atasnya tampak pejal dan berisi, sebagaimana pemain basket yang memang olah fisiknya banyak terpusat di bagian itu. Cara jalannya pun, memperlihatkan 'teguh' dan 'keras' seorang atlit. Dan memang bukan omong saja. Lihat bagaimana ia begitu serius begitu memegang bola. Ia memindah bola dari tangan kanan ke kiri dengan luwes dan ringan saja. Tak ada gerak canggung, ganjil, atau sia-sia sebagaimana Nagasawa dan Iguchi yang mengaku juga pernah masuk klub basket di masa sekolah (lihat Keyakake ep.74). Gestur dribble sewaktu ia mencoba melewati Sawabe tidak tanggung-tanggung. Wajar, gadis ini mengaku telah rutin bermain basket selama sepuluh tahun, sejak sekolah dasar. Bermain di kompetisi level regional di setiap jenjang sekolahnya, SD-SMP-SMA. Pemain reguler dan kapten sekaligus.

Jika menyaksikan sampai ujung (ep.101), sampai di bocoran Keyakake episode minggu depan, di situ diperlihatkan bagaimana ia kembali menunjukkan kecakapannya bermain basket, kali itu dengan mencoba melewati marking Iwai (co-MC Keyakake, pasangan Sawabe di Haraichi).

Fakta dan kenyataan jenis ini yang biasa mengganggu saya. Dengan kecakapannya yang tak main-main dalam bola basket, gadis ini bisa mengejar cita-cita lain. Kok malah belok jadi idol? Ini menunjukkan bagaimana budaya ‘kawaii’ atau juga ‘idol’ begitu mengikat kuat gadis-gadis Jepang—jika faktor motif ekonomi kita kesampingkan.

Miho, dengan riwayatnya sebagai kapten tim basket yang pasti berefek pada jiwa kepemimpinan dan semangat bersaingnya, barangkali ia bisa jadi opsi wakil kapten kedepan Hiragana-Keyaki (jika memang sang produser berniat memisahkan betul mereka dengan Kanji-Keyaki seperti tim-tim di 48Grup). Sulit membayangkan ia akan ditunjuk kapten melampaui Gen.1 Hiragana. Apalagi di sana ada Sasaki Kumi, Saitou Kyouko, atau Sasaki Mirei yang lumayan ramai diduga-duga fans sebagai kapten, berhubung Neru resmi sudah dipindah ke Kanji-Keyaki.

Sampai ketemu di penyingkapan diri selanjutnya, Gen.2 Hiragana-Keyaki. Semoga betah!

Karya : Shah Priyanka Aziz