O, Chester

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Juli 2017
O, Chester

1/

'Cause I'm only a crack in this castle of glass, hardly anything there for you to see.

Mudik dua tahun terakhir saya sadar, ada sejenis jargon yang banyak sekali direpro di kaos-kaos. ‘Turn Back Crime’ dan ‘My Trip My Adventure’. Sejak dermaga, langgar depan pasar, sampai rumah, tidak sedikit yang pakai itu. Ini bikin saya pulang ke masa kecil. Ada dua juga yang banyak terpampang di dada orang-orang hari-hari itu. ‘Hybrid Theory’ dan ‘Limp Bizkit’. Yang pertama, lengkap dengan semacam potret serdadu mengusung panji dengan sekilas putih sayap Tinker Bell mencuat di punggungnya. Sedang yang kedua, dengan karikatur khas rapper: sweater longgar dan topi New York Yankees. Oh, tentu saya tak sedang bilang saya tak pernah lihat teraan ‘NIRVANA’ di kaos orang-orang waktu itu.

Gaya bergitar yang brengsek benar dengan headphone terpasang; tarikan suara dan style khas sejak rambut sampai celana yang kemudian saya lihat ditiru band-band dalam negeri, kakak-kakak kelas, sepupu, bahkan kawan-kawan main bola dan sekelas saya sendiri; oh... saya seperti hendak menghamba saja pada bung Brad dan bung Chester kala itu. Bersujud depan televisi, tape, compo, dan walkman.

Saya menggilai Mike Shinoda belakangan. Nanti saat Fort Minor mentas. Masih segar di kepala saya baris “what do I have to say.. maybe.. I should do what I have to do.. to break free” (Believe Me); “this is ten percent luck, twenty percent skill” (Remember The Name); “some days I feel like shit, some days I wanna quit” (Where’d You Go); sesegar saya terkikik mengingat “his palms are sweaty, knees weak, arms are heavy.. there's vomit on his sweater already, mom's spaghetti”-nya Eminem.

Teman-teman saya yang menggandrungi jejepangan kebanyakan mengaku lebih suka 'Somewhere I Belong' dan 'Breaking The Habit'. Saya maklum. Ada rasa anime dan gundam di sana. Seharusnya mereka juga suka ‘Kenji’ Fort Minor (“so we have to live in a place called Manzanar, where a lot of Japanese people are”).

Kalau benar tanda-tanda bunuh diri Chester bisa dilacak lewat lirik-liriknya, saya pikir dia sudah layak gantung diri sejak Hybrid Theory, sejak Meteora, bahkan jauh sebelum itu; tak perlu tunggu sampai One More Light yang belum lama ini. Tapi memang harus diakui, ia termasuk musisi yang hanya dengan membacai lirik-liriknya saja, kita jadi mudah maklum mengapa ia memilih jalan mati macam begitu.

Untuk Chester, seperti tulis Borges, “I felt what we always feel when someone dies—the sad awareness, now futile, of how little it would have cost us to have been more loving" (There are More Things).

Terima kasih sudah mengajari kami melompat, lari, berteriak, marah, dan melawan. Woah!


2/

"Semua kemarahan Bennington, tercermin dari gayanya bernyanyi. Juga lirik-liriknya. Jika generasi 1990-an punya Kurt Cobain yang jadi ikon kemarahan dan kecemasan dan kegundahan anak muda, maka Chester Bennington mengambil alih tongkat estafet peran itu di era 2000.

Lirik yang ditulis oleh Bennington jelas dan pekat menggambarkan kemarahan dan perasaan depresi yang dirasakan oleh banyak anak muda. Ia menjadi suara bagi generasinya. Ia seperti sahabat lama yang merangkulmu, menjadi teman kala dunia seolah memusuhi dan menjauhimu. Teriakannya adalah teriakan anak-anak muda yang mengalami depresi dan kemarahan yang sama." (Akhir Cerita Chester Bennington Menaklukkan Binatang Buas)

The people that proclaim that all suicides go to hell have clearly never known anyone who struggles from depression. Saya suka ada yang membagi kalimat itu di timeline. Apalagi ada yang komen di bawahnya: "artis bunuh diri syok, teman sendiri depresi dicuekin." Sebagaimana pelecehan seksual atau hal-hal lain yang sering disambungi kelakar-kelakar receh, perihal depresi dan bunuh diri tak pernah soal sederhana.

Membaca kiriman akun-akun official band-band besar lain yang turut berduka dan mengirim pesan seperti "you're not alone" diikuti anjuran untuk tak bersendiri saat depresi serta kesediaan mendampingi kawan-kawan yang terdera; jelas bikin haru.

Linkin Park. Akh. Hybrid Theory dan Meteora. Itu dua album asing pertama yang lirik-lirik per treknya saya bacai dengan seksama (didampingi kamus sesekali) selagi kasetnya terputar di tape, compo, walkman, atau apalah sebutan pemutar lainnya. Hybrid Theory sebelum kelas 5 SD, dan Meteora bahkan sebelum tuntas kelas 1 SMP. Karena itu tak perlulah bagi saya membacai lirik-lirik di album teranyar mereka kemudian berspekulasi bahwa kode bakal bunuh diri Chester ada tersebar di sana. Sedari dulu lirik-lirik mereka memang sudah tentang depresi. Mengikut marah, berang, lengkap tersirat pelampiasan, pelarian, dan penghiburannya.

Seperti juga Chester yang kehilangan Chris Cornell, akhir Mei kemarin kawan karib saya meninggal dunia. Yang tidak sedikit jadi obrolan kami para pelayat adalah bagaimana ia tak pernah mengeluh soal sakit-sakitnya, yang tiba-tiba jadi parah, dan akhirnya merenggut nyawanya.

Karena itu, ah, sumpah sedih betul kabar tentang Chester ini.

  • view 63