Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 26 Mei 2017   19:06 WIB
Di Balik Kata

Mitochondria, Vacuola, Cyoplasma. Nama-nama itu adalah satu-satunya yang ia suka dari kelas ini. Dia suka betul bunyi kata-kata itu, tekstur telanjang dan citraan. Pneumococcus. Dia merasakan sebuah jubah lunak, basah, merengkuh. Homeostasis. Bunyi st-nya melibas udara seperti pisau dan menghilangkan semua yang tak pasti di dunia ini. Endoplasmic reticulum, kesukaannya. Dia bisa mengulanginya tak henti. Endoplasmic reticulum. Silabel lunak endoplasmic dengan lembut berayun seperti ombak bergulung di pantai, lalu dengan kasar dibelokkan ke dasar terowongan yang berpilin tajam oleh reticulum. Reticulum, reticulitis, reticulosos. Dia mencipta dan mengkhayal. Nama lain: fibrils. Dia membayangkan binatang hutan yang mungil rapuh, berlintasan di balik semak-semak, menghilang sebelum terlihat. Mereka melompat, mereka bermain, mereka meneriakkan seruan kecil bernada tinggi.”

Itu sedikit petikan dari bab empat novel Alan Lightman, Reuni. Tugas penulis berat benar, ya? Mereka mesti memungkinkan apa-apa yang awalnya kita pikir tak mungkin diungkapkan. Mereka dibebani tugas membahasakan suasana, warna batin, kesan, citraan-citraan, dan hal-hal abstrak lainnya, yang karena keterbatasan, ketakmampuan, atau hanya kemalasan berpikir, sering kita larikan saja penjelasannya ke: rasa, perasaan, atau... hati.

Di petikan itu Lightman memaparkan bagaimana paduan silabel, benturan konsonan, pertemuannya dengan huruf vokal, atau liuk-ayun bunyi ucap tiap nama atau kata bisa mengantar suatu efek batin yang ujungnya: perasaan suka atau senang. Mengikut pula bayangan-bayangan lain yang jauh melenting ke luar. Dari kata, nama, dan bunyi, kemudian lari ke gulungan ombak, libasan pisau, bahkan binatang yang melompat dan berbunyi.

Seorang pernah bertanya ke saya mengenai absurditas. Sepertinya ia baru saja membaca Camus atau sekadar ulasan tentangnya. Saya bertanya, “Pernah dengar cerita Sisipus?” Dijawabnya tidak. Saya lalu bercerita tentang seorang yang dihukum mendorong batu dari lembah, mendaki bukit, begitu sampai puncak, batunya menggelinding lagi ke bawah. Ia pun turun kembali, mendorong batu mendaki lagi. Sampai puncak, batu menggelinding lagi ke bawah. Turun lagi, mendorong lagi, mengelinding ke bawah lagi, turun lagi, mendorong lagi, dan begitulah seterusnya tak putus-putus, tak usai-usai.

Seperti itulah kehidupan manusia kata Camus. Kita terlempar hidup ke dunia ini hanya untuk itu: mendorong batu beban masalah-masalah hidup kita mendaki bukit kenyataan, pencapaian, dan—yang mungkin kita kira—penyelesaian. Begitu sampai di puncak, batu beban masalah hidup jatuh menggelinding ke bawah. Bukan berarti selesai. Ini berarti ada tugas baru mendorong batu lagi. Begitulah seterusnya, berulang-ulang. Tak pernah ada yang betul-betul selesai. Sampai akhirnya mati tiba.

Penyederhanaan ngasalnya mungkin seperti pemuda-pemudi yang ditanya kapan lulus, begitu lulus kapan kerja, lalu kapan nikah, lalu kapan beranak, dan lalu lalu dan tanya-tanya kapan lainnya yang tak berpenghabisan.

Atau penjelasan lain yang sering diulang-ulangi untuk menerangkan ke-absurd-an kita: bekerja delapan jam sehari, menghabiskan upah dari itu sekejap saja, menyesal, lalu kembali lagi mengulang dan menghabiskan lagi hasilnya di hal-hal yang sama, lagi, dan lagi. Laku yang lebih dekat dengan masokisme.

Melalui Camus, kita tahu, si terhukum mungkin sempat berpikir ingin mati saja menjalani rutinitas mendorong batu yang tak berkesudahan ini, saking tragisnya. Tapi di satu sisi—yang lebih dominan, bahkan disarankan—terbit pengakuan: barangkali beginilah kita. Meski babak belur, yaa... beginilah kita. Mendorong batu adalah kewajiban yang mesti kita tanggung. Dengan itulah kehadiran kita bermakna. Terima saja, cukup, berbahagialah dengan itu.

Si Penanya nyata bingung dengan penjelasan saya. Ketimbang bercerita tentang Sisipus, saya sebenarnya lebih suka menyarankannya untuk membaca esai Martin Suryajaya, Goenawan Mohamad dan Politik Kebudayaan Liberal Pasca-1965. Tapi kuurungkan. Sebab kutahu ia seorang yang berTuhan dengan baik. Konon kritik materialisme-dialektik tidak kompatibel dengan keberTuhanan.

Maka kusodorkan seorang absurd lain, Samuel Beckett. Ialah Menunggu Godot, cerita yang menurut banyak kalangan bahkan lebih absurd dibanding cerita-cerita Camus. Usulan saya ditampik Si Penanya. Judulnya terasa mengerikan, katanya.

Saya maklum. Godot di belakang judul itu terdengar seperti codot, coro, jorok, dan sekian kata-kata bervokal ‘O’ lain yang berkesan kotor. Sama negatifnya dengan got, goblok, tolol, sombong.

Kata bisa punya efek begitu.

Selain dari perspektif efek kata, fenomena ini agaknya bisa dijelaskan secara psikoanalitik. Seperti Freud membedah sebab-sebab kelupaan kita terhadap nama, istilah sulit, kesan, serta kesalahan-kesalahan ucap-baca-tulis dalam buku briliannya, The Psychopathology of Everyday Life. Barangkali.

*

Belum lama lalu saya menelurkan dugaan asal-asalan. Barangkali, ketidaksukaan kita pada satu hal bisa memengaruhi cara kita melafalkan sebutannya. Saya terinspirasi dari pelafalan seorang Profesor Kedokteran di mimbar Jumat. Ia menyebut ‘e’ pada ujung komunisme dan liberalisme dengan “‘e’ kampung”—saya menyamakan pelafalannya dengan ‘e’ pada ‘Pele’ (pesepakbola Brazil). Saya menyebutnya “‘e’ kampung” karena penyebutan ‘e’ seperti itu, di Makassar sini, hanya lazim terlontar dari orang-orang yang datang dari daerah yang lebih timur: Baubau, Raha, Nusa Tenggara, Ambon, Papua, dll. Kami dengan lidah seperti itu masih kerap diherani—sesekali diolok bahkan—oleh beberapa yang asli sini. Saya heran, bagaimana bisa seorang yang fasih dengan “‘e’ kota”, lama di medan kedokteran yang penuh istilah-istilah rumit—orgasme misalnya, Profesor pula, bisa melafal sebegitu rupa.

Saya kemudian mencermati pelafalan ‘e’ di kata-kata lain. Tak ada yang disebut sama seperti dua kata itu. Cara menyebutnya seperti menyebut sesuatu yang ingin diludahi. Lidahnya seperti gatal alergi. Begitu masuk mulut, ingin dimuntahkan segera. Dilepehi. Mungkin serupa mereka yang pro-LEKRA menyebut Manikebu (Manikebo), atau pembenci Goenawan Mohamad menemukan olok-olok Salaharah untuk Salihara.

Itu saya simpulkan sebagai ketaksukaan atau ke-anti-an.

Baru-baru ini saya kembali sampai pada dugaan asal-asalan lain. Analogi; umum dipahami sebagai satu cara membandingkan, mencari padanan atau keserupaan antara satu hal dengan hal yang lain. Ia, analogi itu, bisa jadi cerminan pola pikir seseorang.

8 Maret lalu, demi meramaikan Hari Perempuan Internasional, seorang gadis membagikan tautan yang menjelaskan kewajiban laki-laki untuk menjaga pandangan. Di kolom komentar muncul ini: ‘Kucing tak mungkin lompat kalau tak lihat tulang ikan’. Laki-laki adalah kucing, sedang perempuan tulang ikan. Yang pertama makhluk hidup, yang kedua benda mati. Yang satu aktif yang lainnya pasif. Satu perumpamaan yang ciamik betul. Bukan salah kucing yang menerkam. Begitulah bagaimana peleceh dan pemerkosa dimaklumi.

Berkait dengan itu, tentu kita tak lupa perumpamaan ini: ‘Perempuan berhijab seperti permen lolipop yang terbungkus rapi. Sedang yang tidak, terbuka nganggur disemuti dilalati’. Mantap mentong!

Sabtu malam (13/5), aksi seribu lilin di anjungan Losari, Makassar, dibubarkan. Ada seorang yang menanggapinya dengan: “Dengar-dengar ada simulasi lontar jumrah di anjungan Losari, ya?”

‘Lontar/lempar jumrah’ adalah juga istilah yang pernah dipakai anak-anak Teknik Universitas Hasanuddin untuk menyebut laku lempar batu mereka. Sebagai pelaku langsung dan berkawan dengan beberapa inisiatornya, saya tahu sedikit motif-motifnya. Kebanyakan, lempar-lempar ini hanya dianggap sebagai hiburan saja. Beberapanya bahkan sengaja dibikin bersinggungan dengan momen-momen tertentu—suksesi Rektor misalnya. Ia seperti selingan di antara bertubi-tubi asistensi, lab, dan hal-hal sejenisnya. Seperti bendungan yang butuh kanal-kanal penyaluran. Bisa dibilang, tak ada benar-benar maksud menganggap yang dilemparinya sebagai iblis atau setan.

Yang di anjungan Losari malam itu lain. Dengan beberapa seruan semisal ‘ganyang komunis’ dan ‘orang cina kurang ajar’, terasa benar ada maksud menindak dan memburu setan di situ. Bayangkan apa yang bisa dilakukan orang-orang yang menganggap individu lain sebagai setan atau iblis? Eksklusi. Persekusi.

*

Membayangkan kejadian malam itu saya berpikir: Tak cukupkah kerja-kerja periset, akademisi, dan intelektual kita mengungkap kelakuan Soeharto dan kroninya mengeksklusi yang disebutnya ‘komunis’? Apa intelektual kita menulis terlalu rumit sehingga daripada membacanya, kebanyakan kita lebih memilih memasrahkan nalar dipapar kiriman-kiriman asal-simplistik khas sebaran media sosial? Atau memang buku-buku yang terlalu mahal—dibanding sepasang tiket nonton atau dua cup coffee gerai ternama atau ongkos travelling, misalnya? Terlalu sedikitkah jurnalis-jurnalis kita—sejak Tirto Adhi Soerjo sampai sekarang—menulis fakta riwayat diskriminasi etnis Tionghoa? Testimoni korban, eksil, dan penyintas itu tak dihitung? Sama sekali tak menerbitkan empati? Kerja-kerja relawan dan aktivis kita masih kurang?

Apa iya membantu pelanggengan impunitas adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar?

Populisme sepertinya memang sedang berat kanan—atau memang selalu di sana? Tidak sedikit orang-orang besar membersamainya. Mulai dari Rektor, Walikota, Gubernur, sampai Presiden dan Wakilnya.

Menarik ditelisik batin dan nalar para pengucap mantra ‘ganyang’ dan ‘gebuk’ itu. Di situ mungkin ada kesan gagah, garang, tegas, jantan. Macho, machismo, maskulin. Girah pun, barangkali.


---------
*tulisan ini dimuat lebih dulu di educatifmu.id

Karya : Shah Priyanka Aziz