Masih tentang Lentera Negeri

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 April 2017
Masih tentang Lentera Negeri

Lentera Negeri adalah komunitas yang memusatkan gerakannya di bidang pendidikan. Ke pinggir-pinggir dan titik-titik tertentu dalam kota, juga tak jarang ke desa-desa, relawan mereka bergerak dan berbuat.

Kamis malam (13/4), acara diskusi mereka yang dijuduli 'Once Upon a Time in Karbala and Irak’ diserang Laskar Entah. Dari Cafe/Warkop Volunteer, tempat diskusi dihelat, para tertuduh sesat digelandang ke masjid terdekat, Masjid Nurul Hasan BTN Antara, Tamalanrea, Makassar.

Selang sekian jam, tersebarlah beberapa dokumentasi penyerangan tersebut. Selain beberapa foto, ada satu video yang memperlihatkan bagaimana salah satu peserta diskusi dipaksa oleh anggota laskar tersebut untuk mempraktikkan kesyi’ahannya.

Seninnya (17/4), saya mengobrol dengan dua kawan saya yang kebetulan sempat ada di lokasi kejadian. Catatan ini dibikin berdasar obrolan kami.

*

Saya mendengar kabar mengenai pembongkaran acara mereka di jam-jam awal pasca kejadian. Tapi saya menunda untuk berkomentar. Saya hanya memilih menekan tombol like atau emotikon sad untuk beberapa postingan mengenai itu.

Tapi kemarin (Senin, 17/4), begitu mengobrol langsung dengan kawan saya yang sempat ada di lokasi kejadian, melihat langsung dan sempat mengalami perlakuan fisik dari anggota laskar itu, saya seperti menjelma Rudolf Rocker yang bercerita—setelah bertemu Francisco Gana, korban cacat penjara Montjuich:

“Malam itu ketika Gana menunjukkan pada kami anggota tubuhnya yang buntung, serta luka-luka di sekujur tubuhnya yang ditinggalkan oleh para penyiksa, kami paham bahwa membaca mengenai itu adalah suatu hal, dan beda halnya mendengarnya dari mulut korban yang mengalaminya langsung ... Kami semua duduk di sana seakan membatu, dan butuh beberapa menit sebelum kami bisa mengucapkan beberapa patah kata umpatan.”

Orang kuliah di luar negeri, dibilang syi’ah; perempuan lain peserta diskusi, dituding perempuan tidak benar—bakal atau sudah di-mut’ah pikir mereka; buku yang tak pernah diperiksa isinya, dicap berkonten syi’ah. Sedap betul laku orang-orang itu.

Yang lebih sedap lagi, coba tengok video yang tersebar itu. Video itu sepertinya direkam oleh orang-orang laskar itu sendiri. Video itu pertama kali saya dapati dari salah satu akun facebook yang ikut merayakan penyerangan tersebut (bukan akun yang linknya sata tautkan di atas).

Video itu direkam di masjid dekat warkop tempat diskusi. Ya, para tertuduh sesat ini digelandang dari warkop ke masjid—adalah kurang lebih 100 meter. Penggelandangan yang tentu disertai pemukulan.

Dalam video itu, salah satu peserta diskusi Lentera Negeri dipaksa memperagakan bagaimana berbedanya rukun salat dan syahadat syi’ah. Ketika si peraga menolak atau menyangkal kesyi’ahannya, diteriakilah ia, “Ah, jangan menyangkal, kamu taqiyah!” Intinya: 'Ya kamu mengaku sajalah!'

Untuk bilang satu hal baik atau buruk dan layak atau tidak diikuti, setidaknya kita mesti tahu persis baik-buruknya itu. Coba bayangkan, Anda tahu bagaimana praktik salat syi’ah dan juga syahadatnya—yang konon berbeda. Tapi Anda bukan syi’ah. Lalu dipaksa untuk memperagakan dan mengucapkannya. Tentu Anda bisa. Tapi Anda bukan syi’ah. Begitu ini diucapkan, Anda diteriaki: “Ah, taqiyah kamu!” Logika laskar itu memang ajaib benar.

Untuk pemisalan lain, kau tak bisa bilang marxisme/komunisme tidak berguna sama sekali kalau hanya membaca propaganda-propaganda macam: 'marxisme/komunisme itu sesat karena pahamnya materialisme, tidak percaya Tuhan mereka'; atau 'para komunis itu dulunya membantai kyai'; atau 'Gerwani itu pelacur, menyilet-silet kemaluan Jenderal', dll. Kau juga tak bisa bilang feminisme tak ada gunanya sama sekali hanya dengan menelan mentah-mentah: 'feminisme itu membolehkan aborsi', 'menganjur perempuan untuk tak berhijab', 'tak apa tak pakai bra', 'seks bebas pula', dll.

Bila kau percaya marxisme/komunisme sesat dan feminisme tidak ada manfaatnya sama sekali hanya dari selentingan kabar macam itu, seharusnya kau juga tak usah marah kalau ada orang Barat/non-muslim yang bilang: 'Alquran itu buku karangan Muhammad saja'; 'buku itu juga menganjur pengikutnya untuk menikahi anak umur 12 tahun'; atau ini: 'Salat adalah ritual kaum homo, lihat saja, mereka menungging di depan laki-laki lainnya berpuluh-puluh kali dalam sehari'.

Mereka bisa ngomong begitu karena mereka memang tak pernah benar-benar membaca Alquran dan belajar tentangnya, persis seperti kau percaya marxisme/komunisme sesat dan feminisme tidak ada gunanya karena tidak pernah benar-benar membaca apapun tentangnya.

Kembali ke laskar itu, saya yakin, jika mereka yang disuruh untuk mencontohkan rukun salat syi’ah dan mengucap syahadatnya, mereka adalah yang paling terampil dan paling fasih. Sebab merekalah yang paling tahu buruk-buruknya syi’ah, dan paling getol mendokumentasikan keburukan-keburukan itu.

*

“Lagi di atas angin mereka,” kata kawan saya yang lain. Ini bisa benar. Menguatnya ketololan macam ini bisa kita lihat di linimasa masing-masing. Sebabnya, ya apa lagi kalau bukan wacana yang mengiringi sengkarut Pilkada Jakarta—ini tanpa mengabaikan konstelasi geopolitik yang juga menampakkan itu.

Tapi bisa juga salah. Sentimen syi’ah ini saya kira sedikit berbeda. Ia tak pernah diucapkan gamblang oleh aktor-aktor politik di Jakarta sana. Meski memang sentimennya tak kalah ramai dan konstan lewat di linimasa media sosial. Kasus terakhir—penyerangan atau pembongkaran jamaah atau tertuduh syi’ah—di Makassar kutahu terjadi empat tahun lalu, 2013.

Ketimbang itu, yang jadi pusat perhatian saya adalah: bagaimana reaksi warga sekitar begitu kawan-kawan Lentera Negeri diserang?

Saya kebetulan pernah tinggal di perumahan sekitar warkop itu selama beberapa bulan. Rumah lama saya bahkan lebih dekat dengan lokasi warkop itu ketimbang jaraknya dari masjid hari ini. Ya, warkop itu belum dibuka sewaktu saya masih tinggal di situ.

Meski sekarang tak lagi tinggal di situ, saya masih sering singgah salat di masjid tersebut. Misalnya saja kalau pulang—dari arah kota—terlalu sore atau sudah masuk waktu maghrib. Dari pengalaman saya, masjid itu selalu ramai, baik orang-orang tua maupun anak-anak.

Bagaimana bisa warga sekitar masjid ini tidak membela, melerai, atau mendamaikan kejadian?

Dari pengakuan kawan saya, warga mengerumun saat kejadian (insting kerumuman; mengiringi apa-apa yang ribut-ribut). Laskar tersebut beranggotakan puluhan orang, beberapanya membawa senjata tajam. Saya kira, warga paling toleran dan tahu anak-anak muda di warkop ini anak baik-baik sekalipun akan sulit untuk bisa meng-counter atau mencegah penyerangan ini. Beberapa warga hanya bisa bilang, “Sabar sabar mami ko dek." Tapi ada pula yang bilang, “Ini mi ini yang tidak pernah datang salat di masjid.” Teriakan dan hasutan laskar bahwa acara itu adalah semacam perekrutan aliran sesat tentu mempengaruhi psikologi warga.

Yang menarik pula, masih menurut kawan saya, adalah respon mendua dan tak pasti dari pejabat lingkungan setempat. Kadang menyalahkan, kadang membela, berikutnya balik menyalahkan lagi. Kabar terakhir, warkop ditutup sementara, setelah diimbau, “Lain kali kalau bikin acara minta izin dulu.” Meski terdengar konyol dan memihaki para penyerang, respon ini bisa dimengerti sebagai keresahan pejabat lingkungan setempat yang tak mau lingkungannya rusuh.

*

Jika bercermin dari kasus-kasus serupa—di Jawa misalnya, seringnya polisi atau aparat keamanan malah kalah dari ormas-ormas macam ini. Bukannya menindak laskar-laskar itu, aparat lebih suka menganjur acara dihentikan saja demi keamanan. Ini jelas konyol.

Kemarin (Senin, 17/4), telah ada konferensi pers dari LBH Makassar yang mengecam kejadian tersebut. Kawan yang saya temui hari itu pun, tentu bersama Lentera Negeri, berniat menemui jejaring institusi/komunitas lain guna membumikan klarifikasi. “Yang begini kalau dibiarkan bisa meluas, besar kepala juga laskar-laskar itu,” katanya.

[Kalimat itu ia ucapkan sebelum menemui pengurus MPM (Mahasiswa Pecinta Mushollah) Universitas Hasanuddin guna mengklarifikasi postingan salah satu akun media sosial mereka yang turut membenarkan kesesatan kawan-kawan Lentera Negeri—postingan tersebut sudah dihapus setelah kawan-kawan Lentera Negeri meresponnya. Bayangkan, lembaga dalam kampus seperti MPM sampai mengamini tudingan sesat terhadap Lentera Negeri. Entah jejaring macam apa yang menyatukan pola pikir mereka dengan laskar pembasmi aliran sesat itu]

Peran dari institusi formal memang diperlukan, karena ini menyangkut kenyamanan publik. Berkaca dari insiden KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) di Bandung menjelang Natal ujung tahun lalu, Ridwan Kamil, selaku Walikota, langsung melepas pernyataan mengutuk tindakan intoleran tersebut beberapa hari setelahnya. Mengikut pula keinginan untuk menindak tegas para pelaku/ormas terkait.

Tapi tentu itu tidak cukup. Toh masih ada beberapa peraturan pemerintah yang berpotensi menyebab represi. Celah itulah yang kerap dijadikan dalih oleh ormas terkait. Belum lagi tekanan-tekanan yang mereka lancarkan yang tembus sampai sendi-sendi birokrasi—itulah yang menyebab ‘polisi/pejabat birokrasi setempat seringnya malah kalah dari mereka’.

[Contohnya bisa baca di sini]

Untuk Makassar sendiri, per tanggal 12 Januari 2017, Pemprov Sulawesi Selatan telah melepas surat edaran bernomor 420/0224/B.Kesejahteraan, perihal Mewaspadai dan Mengantisipasi Penyebaran Ajaran Syi’ah. Poinnya, antara lain adalah imbauan untuk memantau penyebaran ajaran syi’ah dan mengindentifikasi ormas-ormas yang berkaitan. Diimbau pula bagi komponen masyarakat untuk dapat melakukan pembinaan dan pengawasan, dengan catatan: tidak melakukan tindak kekerasan.

Edaran tersebut dilandaskan pada Fatwa MUI No. 19 Tahun 1997 (tentang nikah mut’ah), Rekomendasi nomor 6 Rakernas MUI 2014 (tentang ajaran-ajaran menyimpang), serta Keputusan Komisi A Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia V 2015 (tentang radikalisme agama dan penanggulangannya). Menarik diperhatikan untuk yang terakhir.

Di poin 4, Komisi A menyepakati: radikalisme agama yang dimanifestasikan dalam bentuk aksi berupa upaya untuk mengubah bentuk negara dengan paksa dan tidak mengindahkan mekanisme konstitusional yang berlaku merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kesepakatan bangsa Indonesia. Pelakunya terkategori sebagai bughat sesuai fiqh islam.

Selain itu, di poin 6 mereka juga menyebutkan bahwa salah satu akar pemicu radikalisme adalah: memahami nash-nash secara tekstual saja.

Hanya dengan sedikit melihat dan merenungi sekitar, dapat kita ketahui bahwa kita hidup dekat dengan yang dua poin di atas sebutkan. Dan, sekalipun terlampir penegas ‘tidak melakukan tindak kekerasan’ dalam edaran-edaran serupa, kita kadung akrab bahwa ujung dari ‘pembinaan’ dan ‘penertiban’ bagi mereka yang dituding menyimpang, tak lain adalah nestapa. Terusir dari ruang hidup, jika bukan lebam luka.

Karena itu, selain berharap pada ketegasan birokrasi terkait (dalam bentuk revisi kebijakan publik tertentu misalnya) dan instrumen pengamanan, juga tak kalah penting adalah edukasi dan pengorganisiran di tataran warga atau masyarakat. Hanya masyarakat yang terdidik dan berdaya lah yang mampu saling menjaga, mewujudkan keadaban, dan mengusahakan perbaikan-perbaikan. Kombinasi yang formal dan informal. Yang struktural dan kultural.

*

Saya adalah yang selalu optimis bahwa yang kerap kita lihat terjadi di Jawa (Jakarta, contohnya), tentang pembubaran apa-apa dan sentimen-sentimen intoleran lainnya, tak akan terjadi separah itu di sini, di Makassar. Ceramah Khalid Basalamah di Sidoarjo dibubarkan, di sini tidak. Diskusi dan lapak buku-buku kiri aman-aman saja sejauh ini. Zakir Naik yang belum lama kemarin pun bagus-bagus saja.

Hal-hal tersebut tentu karena keberlainan konteks masyarakat kita dengan Jawa.

Tapi karena kasus kawan-kawan Lentera Negeri barusan, sepertinya saya/kita tak bisa lagi berpikir demikian. Mereka yang intoleran dan tolol itu memang sedang merasa di atas angin dan besar kepala.

*

Dari kasus ini saya/kita belajar: kerusakan seperti apa yang mampu dibikin orang-orang yang tak pernah membaca apa-apa tapi terampil benar menuding sesat kiri-kanan itu.

Kita tak pernah benar-benar tahu apa persisnya yang menatar nalar orang-orang sekitar kita di ruang-ruang pribadinya: linimasa atau grup-grup media sosialnya, misalnya. Dari dalam batok kepala, hasil tataran itu kemudian keluar mewujud laku keseharian, berkumpul dengan yang lain namun sejenis, lalu bergerak menerabas ruang-ruang individu atau kelompok lainnya.

Mungkin hari ini bukan ruang hidupmu yang direcoki. Tapi besok, bukan tidak mungkin.

 

---------

*catatan ini adalah komentar kedua saya atas kejadian tersebut. Komentar pertama saya berdasar pada pengalaman saya menggugat banner MPM, yang lalu saya kaitkan dengan feminisme (terkait bagaimana masyarakat patriarkis memandang perempuan). Mungkin akan sedikit membingungkan. Baiknya baca cerita lengkapnya, lalu baca ini.

*tulisan ini juga termuat di educatifmu.id

  • view 130