Omedetou, Keyakizaka!

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 April 2017
Omedetou, Keyakizaka!

Agak sulit mengabaikan Keyakizaka. Tsuchida dan Sawabe memperkenalkan mereka dengan cara yang terlalu lucu untuk bisa ditampik. Kedua, single debut mereka itu. Siapa sangka gadis-gadis itu akan dihadirkan dengan citra sedemikian di debutnya: semacam gunsou/guntai, sangat militeristik. Itu tak terlihat alamiah sejak awal. Ia juga tak seperti kasus TeamK (Gen.2) AKB yang seperti menemu-rumuskan imej ‘enerjik’ mereka secara independen, berangkat dari karakter dominan tiap membernya yang memang begitu (Yuko, Sayaka, bahkan yang jauh lebih berumur, Ohori, punya kemampuan atletik di atas rata-rata). Dalam kasus Keyakizaka, imej mereka memang seperti dipaksakan, bukan perwujudan dari rangkuman kapabilitas member-membernya. Coba lihat saja hasil tes atletik mereka.

Saya tidak tahu, apa itu memang sudah diniatkan sejak awal guna menghadirkan imej yang lebih lain dari kakak sesama Sakamichinya, Nogizaka, atau bukan. Jika iya, itu sama sekali tak terlihat di episode-episode awal Keyakitte, Kakenai? sebelum debut.

Imej militeristik terlihat jelas di desain ishou dan koreografinya. Ada sejenis ironi atau paradoks sebenarnya di situ. Maju dengan imej militeristik, di dunia idol yang penuh objektifikasi kejam dan paksaan-paksaan konyol hampir fasistik, tapi dengan judul single Silent Majority. Tanpa membaca liriknya pun sudah ketahuan lagu itu bercerita tentang apa: protes pada penundukan, sejenis pembangkangan. Pesan yang kuat. Namun, apa yang diniatkan dan coba mereka bangkangi dari ke-idolgrup-an—yang malah memenjara ke-diri-an—mereka? Genre? Heh!

Center mereka, Hirate, tak terbantahkan dibentuk jadi sangat mengagumkan. Banyak yang melabelinya prodigi, tentu, dengan banyak decak keterpukauan mengekor. Bagi para pelabel ini, jika belum, ada baiknya membaca kembali epos dari Yurina yang lain. Ah, maksud saya dengan awalan ‘J’, bukan ‘Y’. Jurina. Ya, Jurina yang itu, yang Matsui itu.

Kenapa tiba-tiba ini dilarikan ke Jurina? Ada dua sebab—selain karena nama belakang mereka yang agak mirip. Sebab yang sebenarnya saya cari-carikan saja, bisa berkaitan bisa pula tidak.

Pertama, sebutan prodigi itu. Jika Hirate menyeruak mengagetkan kita di usianya yang belum genap 15 tahun, Jurina melakukannya lebih muda tiga tahun dari Hirate, 2008 lampau. Saat resmi jadi bagian dari SKE, Juli 2008, itu baru lepas sekira empat bulan sejak ulang tahunnya yang kesebelas. Ya, SEBELAS! Jurina lahir 8 Maret 1997, kebetulan pula di prefektur yang sama dengan Hirate, Aichi. Tak tahu, apa ia sudah lulus SD ketika itu apa belum.

Tak seperti Hirate, yang di awal-awal kemunculannya—bahkan sampai sekarang—bersama Keyaki sesekali menampakkan raut atau ucap ragu, Jurina tidak. Ia tampil dengan kepercayaan diri tak terpatahkan, sangat berambisi, yakin penuh dengan kebisaannya. Ia seperti mewarisi kebengisan setara kucing pemburu savana. Tengoklah dua episod AKBINGO! (ep78-79) di mana ia melumat habis senpai-senpainya.

Di depan cermin ruang latihan SKE, meski juga terengah-engah berpeluh, ia tak terlihat kecapaian seperti kakak-kakaknya. Saat pelatih melempar tanya macam “Masih sanggup?” atau “Siapa yang yakin bisa?”, tanya yang di sepersekian detik awal tak pernah gagal bikin gentar member-member lain, Jurina tidak. Ia akan langsung menyalak “Ya!” sambil mengacung tangan, yang mungkin terlihat seperti sekadar kepolosan kanak-kanak tapi dengan pembuktian yang setara keteguhan mental orang dewasa. Karena itulah, ia sanggup meninggalkan Rena di pinggir formasi. Butuh setidaknya berminggu-minggu bagi Rena untuk akhirnya bisa mensejajari Jurina di depan, dan menahbiskan nama mereka berdua di tahun-tahun berikutnya sebagai Sakae no Two Top.

Kedua, tentang Silent Majority itu sendiri. Silent Majority, sepanjang pengetahuan saya, adalah sebutan bagi mayoritas yang memilih tidak mengoar-koarkan sikap ataupun pilihan-pilihannya ke publik. Secara umum ia menyiratkan independensi, keengganan bergaduh-gaduh mengikuti apa yang diramaikan media. Tapi bisa juga tidak, mereka barangkali hanyalah pembebek yang memilih tak mengoek. Kebungkaman mereka bisa bermacam sebab: takut, ragu memihaki, atau memang malas saja ikut ribut-ribut.

Karena ketakterukuran yang pasti tersebut, ia kerap dipakai para politisi untuk melegitimasi ajakannya. Mereka, para mayoritas yang memilih diam itu, sering didaku para politisi membersamainya dalam barisan. Diakui ada di pihaknya. Ini tentu retorika politik belaka, karena tak jarang terbukti tak tepat demikian.

Bos besar 46 yang juga merangkap penulis lirik, mengaku bahwa inspirasi dari lirik-lirik lagu Keyaki ditolakkan dari atensi-atensi para member. Bila lirik Silent Majority dicermati, terang sekali ia menunjukkan meluap-luapnya keinginan berontak dari gadis-gadis itu—atau anak muda secara umum—terhadap lingkungan, orang tua, bahkan negara.

Contoh terdekat bisa kita dapati dari yang Shida Manaka bicarakan di segmen Jibun History di Keyakitte, Kakenai? (ep 57). Ia mengaku bingung dengan kebijakan publik pemerintah Jepang yang melarang anak-anak usia sekolah untuk mewarnai rambut mereka. “Apa urusannya warna rambut kita bagi mereka?” pikir Shida. Mempertanyakan hal semacam itu bagi mereka kiranya sama dengan: “Mengapa kita baru diizinkan minum sake di umur 20?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tentu akan dijawab dengan argumen seperti: pendisiplinan, pencocokan dengan karakter bangsa Jepang sendiri, dan terkhusus untuk kasus sake, barangkali akan berkaitan dengan kedewasaan, kematangan mental, kriminalitas, dan faktor-faktor lain yang lebih jelas terukur ketimbang sejenis barang abstrak macam ‘rumusan karakter bangsa’.

Kaitannya dengan Jurina? Jurina, di beberapa wawancara kerap terekam mengaku ingin cepat-cepat dewasa. Salah satu sebabnya: sejak dipercaya berdiri paling depan di formasi SKE ia jadi punya banyak tanggung jawab, dan itu menjadikannya mesti sering mengemukakan pendapat—tentang mana yang benar atau salah misalnya. Mengemukakan hal-hal semacam itu ke member lain yang lebih tua darinya, kerap menerbitkan rasa tak enak di benaknya. Karena itu, dengan cepat jadi dewasa dan lebih berumur, pikiran-pikiran macam itu tidak akan membebaninya lagi, akunya. Dengan menjadi dewasa dengan cepat, ia akan lebih punya banyak ruang lain bagi pengembangan dirinya.

Tepat menjelang Seijinshiki, perayaan kedewasaan memasuki usia 20 tahunnya, Jurina mengecat lebih terang rambutnya. Meski diketahui kemudian—yang juga diakui Jurina—itu demi keperluan lakon dalam salah satu drama, itu lebih terlihat seperti, ya, perayaan kedewasaan. Seperti simbol peralihan dari ini ke itu, dari yang belum ke yang sudah, dari yang bukan ke yang iya. Semacam keterlepasan. Dan memang demikianlah makna Seijinshiki, seberapapun khawatir dan tak relanya gadis-gadis seusia mereka meninggalkan usia belasan.

Dengan membawa pesan itu, tak heran Silent Majority meraup sukses besar. Sebagaimana yang dikabarkan, lagu itu jadi populer di kalangan remaja. Dalam lirik-liriknya tertitip segenap unek-unek anak muda pada umumnya.

Penjelasan-penjelasan ini tentu tak saya maksudkan demi mengecilkan Hirate dibanding Jurina atau juga menempatkan AKB lebih daripada Keyakizaka. Toh Hirate sudah menancapkan pancangnya sendiri secara teguh dengan caranya sendiri. Pun Keyakizaka, maju dengan karakternya sendiri yang tak kalah menjual daripada AKB.

*

Beberapa waktu lalu saya sempat mengomentari video klip W-Keyakizaka no Uta yang rilis bersamaan dengan single ke-4 mereka, Fukyouwaon. Mengingat lagu itu sendiri yang bercerita tentang apa-bagaimananya Keyakizaka, videonya dikonsep berdasar titik-titik penting juga apa-apa saja yang telah setahun lebih Keyakizaka bikin. Saya memuji video itu karena ia berhasil menghadirkan simbolisasi-simbolisasi yang apik. Salah satunya adalah episode penting ketika Nagahama Neru, sebagai member yang bergabung belakangan, merasa berjarak dari member-member lain, namun kemudian mendapati titik simpul-sambungnya lewat Yonetani Nanami.

Sebagai perbandingan yang dekat, video dengan konsep kronologis dan merunut momen penting dalam garis waktu perjalanan artis/grup bersangkutan, juga pernah dilakukan oleh AKB. Bisa dilihat dalam video Kibouteki Refrain. Ia juga dikonsep sedemikian rupa untuk menyajikan tanda-tanda yang mewakili makna tertentu.

Perbedaannya pertama-tama adalah pada tema besar yang coba diusung. Jika W-Keyakizaka no Uta mencoba menampilkan riwayat single per single disertai beberapa detail kecil—tapi penting dan mengena—selama setahun lebih karier mereka, AKB melalui Kibouteki Refrain mencoba merangkum suksesi dari center ke center atau member-member penting lainnya selama hampir sedekade mentas.

Oleh karena berbedanya rentang waktu perjalanan karier yang coba dirangkum itulah, W-Keyakizaka no Uta lebih mungkin menyelipkan detail-detail kecil ketimbang Kibouteki Refrain. Detail-detail kecil yang kumaksud adalah hal-hal lain yang terjadi di luar tema besar ‘single per single’ mereka. Selain penggambaran renggangnya hubungan Kanji Keyaki dan Neru awalnya, MV W-Keyakizaka no Uta juga menyelipkan simbolisasi peran kapten dan wakil kapten mereka, Sugai dan Moriya, dalam mendorong sekaligus menarik Hirate.

Dengan membaca judulnya saja, W-Keyakizaka no Uta dapat dibaca sebagai ‘manifesto’ dari Keyakizaka itu sendiri. Liriknya bercerita tentang filosofi ‘jalan menanjak’ (sakamichi), pemandangan dan rupa apa yang mungkin menunggu mereka—para pendakinya—di puncaknya, serta yang paling penting: proses dan evolusi positif yang mungkin didapat para pendaki secara individu maupun komunal. Sekilas itu bisa dipandang sama secara filosofis dengan Nogizaka no Uta. Bila Nogizaka no Uta bercerita dengan nada yang lebih tegas, W-Keyakizaka no Uta melakukannya dengan lebih manis. Hampir tak terdengar imbauan ‘persaingan’ antar individu pendaki seperti yang sedikit muncul di Nogizaka no Uta (katariau yori, kyousou shiyouze). Ia lebih memilih bertutur tentang ‘kita’, merangkul sejajar yang di sebelah, ketimbang kompetisi khas egoisme ke-‘aku’-an. Melodi dan ritme dari keduanya semakin menegaskan keberlainannya.

Semua itu menubuh utuh dalam permainan tanda yang dimainkan para member, lanskap yang tak rata, miring menanjak, serta latar langit seturut tanda per tanda dan tensi lirik. Pengejawantahan yang berhasil dari sang sutradara.

Jenis video seperti itu, baik W-Keyakizaka no Uta maupun Kibouteki Refrain, niscaya sulit dibaca para awam yang tak terlalu banyak tahu runut-runtut sejarah masing-masing grup. Misal, mengapa Shinoda Mariko yang menarik Paruru, bukan yang lain? Kesamaan apa yang mengikat mereka? Atau di mana dan kapan tepatnya Jurina menyusul Acchan? Pesan apa yang coba diwakilkan pada ekspresi getir Sakura-tan saat menerima seserahan dari Mayuyu di situ?

Meski scene Jurina yang berlari kencang menyusul Acchan itu kelihatan gagah benar, secara keseluruhan Kibouteki Refrain terasa janggal. Tema suksesi dan estafet center yang diusung video, tak klop dengan lirik lagu itu sendiri. Video itu dikonsep sedemikian hanya demi menyambut seorang—yang mungkin bisa dipercaya sebagai—center baru: Miyawaki Sakura. Ia mirip saja dengan pesan yang coba diwakilkan dalam video Seishun no Lap Time NMB.

Satu-satunya yang bikin single ke-38 AKB itu berkesan—setidaknya bagi saya, hanyalah karena adanya cerita Namida no Riyuu Tano Yuka di belakangnya.

*

5 April kemarin Fukyouwaon resmi dirilis. Tanggal itu berbeda sehari saja dengan tanggal debut Keyakizaka setahun sebelumnya, 6 April—yang mewakili angka 46 mereka.

Fukyouwaon mengusung tema yang mirip dengan Silent Majority: imej militeristik yang kuat, bit lagu yang kencang dan berdentam, dan lirik yang memberontak. Setelah dua single sebelum ini mereka diizinkan untuk senyum dan bermanis-manis, di Fukyouwaon mereka mesti kembali masuk barak, lalu diutus jadi prajurit ke parit-parit terdepan palagan. Tak ada manis, tiada senyum.

Fukyouwaon adalah medan perang. Lihat saja, satu prajurit gugur sudah: Imaizumi Yui akhirnya mengumumkan hiatus.

Meski begitu, sakamichi mesti terus ditanjaki, nobori tsudzuketeku. Untuk Zuumin, ikiru koto ni bukiyouna nakama, kau tak sendiri, tak ditinggal. Kizunatte ii ne, sakagumi da!

Setahun pertama yang mengagumkan. Panjang umur, kalian!

  • view 278