Setara

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Maret 2017
Setara

“Jadi, sekarang kau pacaran dengan siapa?” tanya gadis itu ke teman lelakinya.

“Tidak dengan siapa-siapa.”

“Serius?”

“Iya, memang tidak ada kok,” teman lain yang juga lelaki menimpali, seperti ingin menghentikan teman perempuannya yang bermaksud mencecar.

“Tak perlu berumit-rumit, bro, sampai kapan pun kau tak akan bisa mengerti perempuan. Jadi tak perlulah itu kau belajar feminisme dan sejenisnya,” lanjut si gadis, juga seperti ingin menutup percakapan. Setidaknya untuk topik itu.

*

Bayangkan percakapan itu terjadi di sebuah resepsi pernikahan teman lain dari tiga sekawan itu. Bayangkan pula jika lelaki yang dicecar itu Anda. Tak sulit bagi saya untuk membayangkan itu. Ya karena memang itu saya—tentu percakapannya tak persis begitu.

Karena malam itu resepsi, dan tujuan saya datang adalah untuk hal-hal yang menggembirakan seperti menjabat-rangkul kawan yang lumayan lama tak bersua, memberi selamat pada mempelai, foto-foto, juga mempreteli hidangan, semacam olokan pada usaha saya belajar feminisme di atas jelas tak akan saya tanggapi. Lain cerita bila pernyataan itu dilontar di lingkar diskusi atau forum-forum lain yang lebih tidak menggembirakan, pasti saya tanggapi.

Niscaya saya tanggapi. Pertama, saya belajar feminisme dan sejarah gerakan perempuan beserta dialektikanya bukan untuk memikat perempuan, apalagi untuk mampu memanipulasi-mendominasi mereka. Saya mempelajarinya karena saya menemukan kebenaran di dalamnya. Saya belajar itu karena saya dapati kenyataan timpang di sekitar saya hanya mampu dibongkari olehnya, feminisme itu. Kenyataan timpang, misal, perempuan-perempuan yang hanya duduk di shaf belakang lingkar diskusi, atau edukasi ke mereka yang serba kurang sembari dilimpahkan lebih hanya pada laki-laki. Kedua, toh meme-meme macam ‘kepada perempuan bersuami, kalau upload foto ke medsos tolong dengan suaminya, kami tak ingin jatuh cinta pada istri orang’ atau ‘wahai perempuan, kalian cuci piring, dosa kalian dicatat; kalian ke pasar, baris catatan dosa bertambah; bahkan tak berbuat apa-apa pun dosa kalian bisa bertambah. Apa sebab? Karena foto-foto yang kalian unggah dinikmati laki-laki yang bukan muhrim’, saya dapati kritik seriusnya hanya dalam feminisme. Tentu, feminisme tak hadir hanya untuk mengurusi lelucon remeh macam itu.

Saya ingat beberapa perdebatan saya terkait ini. Pertama, dengan seorang yang menanyai pendapat saya menyoal niatan suatu lembaga mahasiswa intra kampus mengadakan semacam pendidikan yang berfokus pada isu-isu perempuan. Kawan saya ini menganggap niatan itu sebagai hal yang tak perlu. Ia juga berpikir bahwa ide kesetaraan yang diusung feminisme itu konyol belaka. Karena dimintai pendapat, saya pun bicara lumayan panjang saat itu. Saya bilang bahwa saya tak punya masalah dengan niatan kawan-kawan tersebut. Sebab memang kenyataannya kader-kader perempuan di situ masih kurang diedukasi, terkhusus tentang isu-isu perempuan. Saya pun menjelaskan, bahwa feminisme hadir pertama-tama sebagai kritik dan gugatan ekonomi-politik. Ia menggugat hak-hak politik yang berat sebelah, yang pada akhirnya berkait dengan soal-soal ekonomi. Ia hadir menawarkan tatanan baru yang lebih berimbang, sebagai kontra dari tatanan lama yang timpang. Tatanan lama yang dibangun dari mitos-mitos bahwa lelaki niscaya ‘lebih’ dari perempuan. Ada keyakinan kodrati yang seakan tak bisa diganggu-gugat. Ada esensialisme di situ, kepercayaan bahwa tatanan sosial ini terberi dari sananya memang begitu. Sudah fitrahnya begitu, mengubahnya berarti mengingkari kodrat.

Padahal, apa-apa yang ‘sosial’ itu dikonstruksi, dibangun, direkayasa, dan dipertahankan dengan rukun-rukun tertentu.

Kawan saya ini mendebat, “Jadi, kalau semua ini hasil konstruksi sadar dan feminisme datang membongkar serta menawarkan relasi baru, apa iya perempuan bisa benar-benar disamakan dengan laki-laki?” Ia kemudian menyodorkan contoh konyol seperti: ‘jadi mereka bisa kita rangkul seperti kita merangkul sesama laki-laki? Atau mereka bisa kita pukul seperti lelaki memukul lelaki lainnya?’

Tentu bukan kesetaraan seperti itu, saya jawab. ‘Setara’ berbeda dengan ‘sama’.

Kalau diizinkan melebar sedikit, apa-apa yang dituntut oleh feminisme mirip saja dengan gerakan pembebasan lain semisal kontra atau anti-rasisme. Rasisme tak hanya mengandung pembedaan, pemisahan, dan pernyataan ‘lebih unggul’ dari ras yang satu atas ras yang lain, tapi terkandung pula di dalamnya ketimpangan struktural dan kuasa. Ada peminggiran dari yang satu atas yang lain. Praktik peminggiran yang rasisme lakukan itu tak ada beda dengan peminggiran yang masyarakat patriarkis lakukan terhadap perempuan.

Dalam debat lain, adalah pernyataan bernada sama dengan dua kalimat meme di atas. Kali ini tentang parfum, wewangian yang perempuan pakai dan terhirup lelaki, meniscayakan dosa atasnya.

Dua kalimat meme di atas, juga soal parfum ini, mengisyaratkan: 1) dosa yang niscaya perempuan tanggung. Padahal kita tahu, kontrol atas diri adalah tanggung jawab masing-masing individu/pribadi. Foto perempuan yang ditatap laki-laki yang bukan muhrimnya, dosanya ditanggung perempuan. Seakan-akan lelaki yang menatap dengan hasrat pada potret seorang perempuan tak menanggung dosa apa-apa. Di sini ada kesan bahwa laki-laki niscaya tak mampu mengontrol nafsunya.

Kepercayaan pada kepastian inilah yang pada akhirnya menyebab ketimpangan. Anda tentu familiar dengan cerita: ketika seorang perempuan mengadu soal pelecehan—atau bahkan perkosaan—atasnya ke polisi, polisi yang menerima aduan kerap berkelakar “Ah, mbaknya sih pakaiannya terlalu terbuka.” Atau tanggapan macam “Ah, itu perempuannya yang minta-minta” dari kawan Anda ketika mengobrol tentang pelecehan seksual. Dosa sosial niscaya ditimpakan ke perempuan. Padahal kita tahu, korban pelecehan tak selalu perempuan dengan pakaian terbuka.

Di titik ekstrimnya, kepercayaan pada kepastian macam ini pula yang bikin orang-orang memaklumi perkosaan. Lelaki tak mungkin memperkosa kalau tak dirangsang. Ada pemakluman tak masuk akal atas ketakmampuan laki-laki mengontrol hasratnya sendiri.

Isyarat lainnya: 2) peminggiran perempuan dari perannya di ruang-ruang publik. Perempuan tak selayaknya upload foto; berlanjut ke perempuan tak usah ada di media sosial; dan ujungnya ya perempuan balik ke biliknya saja. Privat, domestik, reproduksi. Dapur, sumur, kasur. Titik.

Apa bedanya itu dengan para kulit berwarna dulunya yang hanya bisa jadi pelayan-pelayan restoran atau asisten dokter—dan bukan dokter itu sendiri?

Seperti nada awalnya, penegasan soal ini seringnya didasarkan atas doktrin agama. Tubuh perempuan niscaya mengandung fitnah. Lelaki tak akan mampu menolak itu. Perempuan niscaya melenakan, membunuh akal sehat siapapun. Menihilkan keniscayaan lain: bahwa setiap individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, punya kontrol diri, mampu mengontrol laku, pandangan, juga hasrat sendiri.

Keniscayaan—atau esensialisme—jenis itu mirip belaka dengan kepicikan: ‘para LGBT baiknya disembelih saja’ atau ‘komunis halal darahnya’.

Mungkin kawan-kawan pembaca perlu mendengar cerita saya yang ini:

'Area Shalat Laki-laki, Harap Perempuan Tidak Melintas dan Tidak Ribut'
Penyampaian dengan nada serupa itu beberapa minggu sebelumnya saya dapati juga di areal ibadah di fakultas lain. Sayang saat itu saya tak sempat menyampaikan keberatan ke pengurusnya. Tapi yang kali ini tidak boleh lewat.

Pertanyaan pertama saya ke salah satu pengurusnya yang saya temui tadi adalah, "Apa tempat ini dipakai untuk salat Jumat?" Dijawabnya tidak. Seandainya jawabnya iya, pengumuman itu bisa dimaklumi. Toh perempuan tidak diwajibkan salat Jumat. Meski tetap saja pengumuman itu aneh.

Kenapa aneh? Pertama, itu area publik, ruang publik, jalan umum lah itu. Kenapa mesti ada anjuran ‘harap tidak melintas’?

Kedua, coba perhatikan ulang anjuran itu: ‘area shalat laki-laki, harap perempuan tidak melintas dan tidak ribut’. Perhatikan letak penekanan pada kalimat itu—saya tak usah tunjukkan.

Lumrahnya area salat di mana-mana, laki-laki di depan perempuan di belakang. Jadilah saya periksa ke belakang area itu, di bagian pinggir ruang yang diperuntukkan untuk jamaah perempuan. Siapa tahu di situ ada penyampaian ‘area shalat perempuan, harap laki-laki tidak melintas dan tidak ribut’. Ternyata betul ada banner penyampaian juga di sana, tapi tulisannya tidak seperti yang saya kira. Ternyata banner yang sama dengan yang di depan: ‘area shalat laki-laki, harap perempuan tidak melintas dan tidak ribut’.

Si pengurus awalnya hendak mengelak dengan bilang, “Ini hanya dipasang saat waktu-waktu salat saja.” Argumen ini tentu sudah patah. Karena tadi tidak ada salat Jumat di situ, toh banner itu bercokol juga di sana. Elakan lainnya, “Sudah mau selesai juga kepengurusan periode ini, nanti pengurus setelahnya yang dst dst.”

Tapi setelah mendengar argumen—yang sengaja saya ulang-ulangi supaya bisa dipahami—dan arahan saya supaya kalimat penyampaiannya dibuat lebih umum saja menjadi, misalnya: ‘Area Shalat, Dilarang Baribut!’, dia akhirnya tunduk maklum lalu bilang, “O iye, nanti saya sampaikan ke pengurus supaya diganti. Terima kasih.”

Ya, semoga betul diganti. Bukan cuma bannernya, tapi juga pola pikirnya. Saya pun pamit. Assalamu alaikum.

*

Beberapa hari setelah peringatan itu saya berikan, banner itu tak juga dilepas. Sempat terpikir untuk protes kali kedua, tapi saya urungkan. Atau melepasnya sendiri saat tengah malam, tapi tidak. Saya berpikir positif, ya mungkin beberapa hari lagi dilepas.

Dan benar, beberapa minggu lalu saya ke sana, banner itu sudah tak ada. Mungkin benar dieksekusi begitu ganti pengurus.

*

Sekali lagi, feminisme hadir bukan hanya untuk membongkar sesat pikir receh macam di atas. Toh dalam agama di mana sesat pikir di atas konon didasarkan, sebenarnya sudah terdapat pula bantahan atasnya: perihal kesetaraan makhluk di hadapan Tuhan, juga anjuran kontrol penuh atas diri (jihad melawan hawa nafsu).

Feminisme mula-mula hadir sebagai gugatan politik dan ekonomi. Praktik ketimpangan yang ditopang selama bertahun-tahun oleh mitos dan fiksi-fiksi ‘ke-liyan-an’ dan ‘ke-lain-an’ perempuan. Ia hadir menuntut hak-hak politik, perbaikan sistem pengupahan dan jaminan sosial (isu-isu yang lekat dengan kemiskinan dan keadilan sosial). Isme ini pun perlahan-lahan berkembang seturut tuntutan dan dialektika zaman. Gugatannya berkembang ke ranah yang lebih personal dan kultural, seperti penegasan identitas perempuan, hak cerai, delik-delik hukum kekerasan dalam rumah tangga, hak atas tubuh, gugatan atas heteronormativitas, reproduksi, dll. Satu perkembangan yang juga mendapat kritik dalam diri mereka sendiri (auto-kritik) sebab bisa mengaburkan sasaran tembak mereka yang semestinya struktural, yaitu kritik ekonomi-politik.

Jadi jelas, ia (feminisme) bukan semata-mata milik perempuan. Ia kita perlukan guna mengevaluasi dan memperbaiki bobroknya kenyataan, baik secara kultural, terlebih struktural.

*

Kawan-kawan boleh curiga tulisan ini dibikin demi International Women’s Day 8 Maret ini. Tapi tidak, sesungguhnya tidak. Ini hanya karena saya sedang rindu Mama saja. Ia menelepon sore tadi. Ia bercerita banyak. Ia meminta saya mewakili keluarga kami menghadiri resepsi nikah sepupu jauh, berhubung ia dan Bapak tak bisa menghadirinya. Ia juga cerita tentang ‘tukar cincin’ yang baru saja kelar dilakoni salah satu keluarga dekat kami, sepupu saya.

Ia berpesan agar kalau bisa secepatnyalah saya ‘pulang’. Banyak yang menanyakanmu, katanya.

Saya tak sempat tanya, siapa yang menanyakan itu, juga demi apa saya ditanyakan. Apa itu dari tante tante yang ingin anak gadisnya dipasangkan dengan saya? Jika iya, baiknya diurungkan saja. Ada baiknya gadis-gadis itu menikmati masa mudanya, menikmati hidupnya.

Berpasangan dengan saya akan jadi semacam perjudian. Tak pasti. Mimpi-mimpi dan kerja-kerja yang saya percayai, jauh dari masuk akal, menyenangkan, apalagi menikmatkan.

Untuk Mama, sehat-sehatlah terus, Ma.

  • view 112