Merenungi Kekanak-kanakan Kita

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Maret 2017
Merenungi Kekanak-kanakan Kita

Beberapa bulan lalu saya ketemu satu video bagus terpacak di fesbuk. Beberapa anak, barangkali belum ada yang sampai 15 tahun, bergantian meluncuri lintasan skateboard standar—yang berbentuk ‘U’ itu, dengan setengah telanjang. Yang telanjang sama sekali juga ada. Dari yang terlihat, itu mereka lakukan pas hujan kelar. Yang tak telanjang, masih pakai baju, demi lebih licin meluncuri lintasan, rela melorotkan celana mereka. Kon.., eh, tongkol mereka kelihatan lah. Siapa peduli?! Anak kecil ini! Demi lancar meluncur, mereka mengabaikan risiko lain yang mungkin: lecet pada bokong dan kulit skrotum.

Bicara hujan dan bokong, melempar saya ke masa lalu. Waktu SMP kalau tak silap. Di belakang rumah ada selokan yang cukup dalam dan panjang. Kebetulan ia memanjang di samping jalan yang berkontur turunan, jadilah ia macam sungai berarus di waktu hujan. Entah sudah berapa kali selokan itu dijajal anak-anak yang rumahnya lebih dekat dari situ, tapi hari itu kebetulan saya ikut meluncur. Sumpah, itu salah satu pengalaman paling spektakuler yang pernah saya alami. Saya berkali-kali melihat orang-orang berteriak berarung jeram di tivi. Menjajal selokan berarus itu, saya bisa membayangkan, mungkin beginilah adrenalin terpompa saat berarung jeram.

Selokan itu tak mulus. Semen di dasarnya sudah banyak yang pecah, kadang ada batu besar, belum lagi pipa air yang kadang melintang. Kami mesti menunduk begitu bertemu pipa air. Menunduk berarti menceburkan kepala ke arus air. Adalah hampir seratus meter kami bisa meluncur. Tak bisa lebih. Sebab selokan itu pampat tepat menjelang simpang tiga. Tak mudah untuk berhenti sebenarnya, arusnya sangat deras. Tidak banyak yang berani turun meluncur. Anak-anak bernyali cukup saja yang berani turun. Saya salah satunya.

Ada sekitar tiga kali saya mencoba. Dan selalu bisa berhenti tepat, dengan berpegangan pada pipa yang melintang. Pantat cukup pedis dan sakit bergesekan dengan batu-batu, tapi asik lah. Begitu asik, sampai tak sadar celana saya sobek. Kelihatan lah itu pantat sebelah. Kawan-kawan tak ada yang melapor pula celana saya sobek. Mungkin mereka cukup senang menatap bokong.

Kalian mungkin bertanya, “Wah, kau tak pakai celana dalam?”

Ya memang tidak. Mama marah kalau mandi hujan sambil pake celana dalam. Nambah-nambah jatah cucian saja katanya.

Kekonyolan itu kembali melempar saya ke masa yang lebih lalu. Mungkin kelas 3 atau 4 SD. Kami begitu sering ke masjid. Takut dimarahi guru ngaji saja sebenarnya. Saat berwudu kami sering heran mendapati semacam ranting kayu pendek berjejer di dekat keran-keran. Saya selalu mengangkat, menunjukkannya sambil bertanya setiap kebetulan bersebelahan wudu dengan kawan yang berbeda. “Ini apa kah?” Tak mungkin kayu biasa karena dijejer rapi di situ.

Hingga akhirnya suatu hari saya dipergoki oleh pemiliknya langsung. “Hei, simpan kembali itu. Bukan barang sembarang itu,” sergahnya setengah berteriak. Pulang ke rumah saya tanya ke Bapak itu apa. Bapak bilang itu siwak, dipakai gosok gigi, konon anjuran Nabi.

Saat lebih dewasa, mengingat kejadian itu, saya pikir, “Kalau mau giginya bersih, ya pilih sikat gigi dan odol yang tepat saja. Atau sekalian rutin ke dokter gigi, konsul. Zaman sudah maju begini kok.”

Masih soal anak-anak, lagi-lagi di fesbuk saya ketemu video bagus. Saya dapati sekira September tahun lalu. Video itu spesial dibikin untuk memperingati hari lahir Raja Pop Dunia, Michael Jackson. Digagas musisi duo asal India, Maati Baani. Maati Baani mengumpulkan anak-anak prodigi, berbakat tak biasa di bidang musik. Ada gitaris, drummer, bassist, pemain biola, harpa, grup vokal, sampai penari tap. Yang paling memukau tentu saja si Purhythm, Sparsh Shah. Bocah berkacamata pengidap osteogenesis imperfecta yang karena sama duduk di kursi roda jadi mengingatkan saya pada Stephen Hawking itu, tampil dengan rapping yang apik.

Video itu dibuka dengan bocah laki-laki yang menggebuk mesin cuci, yang kemudian disambut tarian tap si kembar Freddie dan Teddie. Setelah itu masuklah anak-anak lain yang memainkan instrumen musik sungguhan, bukan lagi perabot dapur macam mesin cuci atau loyang-baskom-panci. Ketimbang yang menyandang alat, yang menyumbang suara terlihat lebih banyak. Dari yang banyak itu, Angelica Hale lah yang paling menggemaskan. Gadis sembilan tahun dengan rambut ombak itu tampil dengan semacam gaun putih sederhana yang.... ahh, itu anak siapa sih bisa lucu begitu?! Suaranya memukau pulak!

Mereka menyanyikan Heal the World.

Ini mungkin akan terdengar klise, tapi melihat Heal the World—kita pahamlah apa makna lagu itu—dinyanyikan anak-anak dengan warna kulit berbeda, rambut tak sama, serta keberbedaan dan ketaksamaan lainnya, saya jadi berpikir, “Sebaiknya kalian tak pernah saja jadi dewasa. Tetap saja jadi anak kecil begitu.”

Begitu mereka besar, mereka akan lihat the World yang sepertinya memang tak bisa lagi di-heal. Pertengkaran yang akarnya adalah perbedaan yang diperuncing. Ketaksamaan yang digesek sampai menyala jadi konflik. Keberbedaan dan ketaksamaan, dua hal yang awalnya mungkin mereka pikir tak akan jadi halangan dan tak akan berubah jadi apapun saat mereka mengerjakan proyek Heal the World itu, saat mereka dewasa nanti akan mereka sadari bahwa, ya, tak selamanya begitu. Bikin saya ingat judul salah satu artikel Dea Anugrah: ‘bukan perang yang membunuh anak-anak, tapi kita orang dewasa’.

Dan belum lama ini, booming video anak SD yang salah nyebut ikan kon.., eh, tongkol bersama Pak Presiden. Video ini menarik bagi saya (awalnya saya pikir si bocah akan menyebut ‘kodok’ atau ‘kecebong’), selain karena sepertinya anak itu sendiri paham merujuk organ mana dari tubuhnya nama ikan yang salah disebutnya itu, tapi juga karena bukan sekali itu saja Pak Presiden terekam bersama anak-anak yang tak biasa—ya selain bersama anaknya sendiri sih.

Kita-kita mungkin masih ingat momen serupa saat perayaan Isra Mi’raj yang dihadiri Pak Presiden di salah satu pesantren di Jawa Tengah. Ada satu santri yang begitu diminta menyebut tiga nama Menteri Kabinet Kerja, malah anteng menyebut nama Bu Megawati, Ahok, dan, ehm, Prabowo. Uniknya lagi, semacam kuis yang dijawab secara agak salah ini juga berujung sama: sepeda.

Bukan baru kali ini saja, jawaban meleset, hadiahnya sepeda. Seorang kawan saya bertanya, “Apa anak-anak sekarang memang begitu semua?”

Cek per cek, tak berselang lama setelah video itu beredar, terbit kabar bahwa anak tersebut ternyata bukan anak biasa. Ia konon adalah anak dengan ketakbisaan tertentu, mirip dengan Sparsh Shah yang saya ceritakan di atas, meski apa yang mereka idap berbeda. Dalam waktu yang tak terlalu lama juga selepas itu, terbit kabar lain yang menyatakan bahwa anak itu sebenarnya biasa saja dan tak menanggung kemalangan seperti yang sudah banyak dipercaya orang-orang. Fenomena ini persis seperti saling balas antar kabar hoax dan klarifikasi-verifikasinya.

Apapun itu, diperhadapkan pada kenyataan itu, tawa orang-orang di depan sepertinya mesti dikurangi sedikit. Kita seperti dipaksa berpikir ulang bagaimana melihat anak-anak, juga menginsyafi kekanak-kanakan atau kedewasaan kita. Atau juga tidak. Lha kita lebih butuh hiburan daripada hal-hal reflektif memuyengkan macam itu, kan?

  • view 181