Media-framing-munarmanian dan La-unf

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Desember 2016
Media-framing-munarmanian dan La-unf

Orang yang sama, dulu, tanpa verifikasi bilang media internasional tak mengabarkan tragedi bom Turki. Kini ia bilang media nasional tak berimbang mengabarkan pembubaran KKR Bandung--juga baliho UKDW Jogja. Tak usah tanya apa ada verifikasi di situ. Ini, kalau bukan sindrom, adalah sejenis paranoia: Media-framing-munarmanian.

*

Mari belajar hal lain:

Ringkasnya, ketidaktahuan terjadi ketika sesuatu dipahami bukan sebagaimana hakikatnya; dan kekeliruan terjadi karena pengetahuan yang didaku tidak lagi mengindahkan batas kemampuannya. Semua ini diakibatkan ‘kebutaan jiwa’.

...

Jika istilah nirkekerasan diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Arab, bahasa Muslim dunia, ia berubah menjadi la-unf, yang berarti ‘tanpa kekerasan’ atau ‘tidak ada kegeraman’. Istilah itu menjadi problematis setidaknya karena tiga alasan. Pertama, karena istilah ini diperkenalkan di dunia Arab sebelum pertengahan abad ini, merujuk kepada metode nirkekerasan Gandhi, maka pandangan negatif atau skeptis Muslim terhadap Gandhi yang menentang pendirian Republik Islam Pakistan barangkali memengaruhi terkendalanya penerimaan istilah tersebut. Kedua, bagi Muslim yang tertindas dan meyakini bahwa kekerasan dapat membebaskan dan memerdekakan mereka, la-unf seakan menafikan satu-satunya jalan yang diyakini dapat mengubah keadaan mereka. Ketiga, karena la-unf berarti ‘tanpa kekerasan’, bukan ‘nirkekerasan’, maka istilah itu seperti menyiratkan ‘tanpa aksi’. Akibatnya, kaum Muslim, yang sejak dini diajarkan Al-Quran bahwa ‘(kekacauan dan) penindasan lebih buruk dari pembunuhan’, menganggap bahwa menerima penindasan tanpa melakukan apa-apa itu sangat tidak Islami. Walhasil, gagasan nirkekerasan dianggap negatif dan menjemukan, dan tidaklah mengherankan jika istilah la-unf kian tak populer di kalangan penulis nirkekerasan dalam bahasa Arab. Malah, seorang sarjana menyatakan bahwa istilah tersebut sebaiknya dihindari karena “adanya prasangka kultural di kalangan Muslim Arab bahwa kata tersebut bermakna pasif, lembek, dan kurang bernyali.”

...

Sementara itu, sebagian sarjana Muslim berpendapat bahwa istilah ‘kekerasan’ dan ‘nirkekerasan’ tidak ada dalam Al-Quran. Pada konferensi internasional pertama mengenai ‘Islam and Nonviolent’ yang digelar di Bali, Indonesia, pada 1986, seorang filsuf Mesir, Hasan Hanafi, misalnya, memilih istilah ‘paksaan’ (ikrah) ketika mendiskusikan asal mula kekerasan dalam Islam.

Tapi ada dua masalah utama di sini. Pertama, jika sebuah istilah tak ada dalam Al-Quran, bisakah istilah itu didiskusikan secara serius? Saya yakin istilah ‘senjata nuklir’ tak ada dalam Al-Quran, tapi pada kenyataannya kini, senjata nuklir adalah bagian dari realitas manusia dengan potensi bahaya yang dapat memusnahkan umat manusia. Apakah Muslim dapat mengabaikan begitu saja perkara perdamaian dunia dan perlucutan senjata nuklir hanya karena ketiadaan sepotong kata itu dalam Al-Quran? Kedua, ditilik secara sosiologis, paksaan dan kekerasan adalah dua konsep berbeda yang berfungsi pada level yang juga berbeda. Kekerasan sudah barang tentu mengandung unsur paksaan, namun paksaan dapat dilakukan dengan kekerasan atau nirkekerasan. Masalah ini adalah cerminan dari kurangnya pemahaman akan gagasan nirkekerasan sebagai kekuatan dan perlawanan.

[Faktor ‘Jahiliyyah’: Mengatasi Penolakan Kultural Kaum Muslim Terhadap Nirkekerasan – Chaiwat Satha-Anand]

*

Daripada pakai argumen victim-defensif macam ‘konspirasi media’, agaknya lebih berterima di akal sehat kalau pembelaanmu pakai argumen agresor-ofensif ala ‘nahi munkar’. Ya, yang itu, yang biasa dipakai untuk membenarkan laku ormas-ormas ngamukan itu.

 

------
sumber gambar

  • view 150