Asal Sitir

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 November 2016
Asal Sitir

Beberapa hari lalu, saya menulis satu respon dan koreksi terkait tak mampunya orang kebanyakan memahami metafor, perumpamaan, dan pesan-pesan implisit (baca di sini). Itu saya tulis selepas melihat satu kiriman di linimasa facebook yang terkesan menggugurkan pesan “menginjak atau membakar kitab suci itu sama sekali tidak menghina Tuhan, dst…” dengan menyamakannya dengan kasus “bagaimana kalau skripsi atau karya ilmiahmu diinjak dan diludahi di depanmu? Kau pasti marah, kan?”

Sekilas, penganalogian itu benar. Tapi kurang tepat. Itu benar secara harfiah. Secara tekstual ia setara. Tapi kita tahu, pesan soal kitab suci itu bukan pesan tekstual belaka. Itu pesan bermakna hakikat yang dalam. Jika Anda dengan cerdas bisa bilang kitab suci tak mungkin bisa jadi subjek karena ia bukan makhluk, jadinya tak mungkin berbohong dan menipu, maka tak eloklah pula mencoba menganalogikannya dengan skripsi.

Sebenarnya, koreksi saya itu bergandengan dengan koreksi yang lain, yang menurut saya berangkat dari kesalahan pemahaman yang serupa. Di tulisan saya sebelumnya, saya tak hanya menyinggung kegagalan memaknai pesan “menginjak kitab suci” itu, tapi juga soal “Tuhan tak perlu dibela”.

Ramai kita lihat pesan Gus Dur itu ditabrak-tabrakkan dengan punya Buya Hamka yang “jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan”. Sekali lagi, sekilas praktik saling berbalas quote ini benar. Dan lagi-lagi, secara harfiah belaka, tekstual saja.

Ketika melihat orang-orang yang saling berbalas memakai quote itu, benak saya bilang, “Sejauh mana mereka sudah menyelami pikiran Buya Hamka dan Gus Dur sehingga bisa menabrak-nabrakkannya sedemikian seakan-akan keduanya memang saling bertentangan dalam pandangan keberislaman dan menegasi/meniadakan/menihilkan satu sama lain?”

Pertanyaan bernada keheranan sekaligus kejengkelan saya itu mendapati pembenarannya beberapa hari lalu. Selain quote yang itu, quote lain yang coba diperhadap-hadapkan seakan-akan saling menegasi satu sama lain adalah juga ucapan milik Habib Rizieq dan Gus Mus. Habib Rizieq dengan anjurannya untuk turun aksi bela islam, sedangkan Gus Mus ucapannya “yang menghina agamamu tidak bisa merusak agamamu, yang bisa merusak agamamu justru perilakumu yang bertentangan dengan ajaran agamamu”.

Tidak lama setelah meme tanding-tandingan quote itu disebar, Gus Mus langsung bereaksi. Melalui akun facebooknya beliau menulis,

Silakan ambil fotoku. Tapi mbok tolong jangan dishare dengan embel-embel tulisan (baik yang disimpulkan dari perkataanku, sebagian perkataanku, atau apalagi yang sama sekali bukan perkataanku). Tolong jangan bawa-bawa namaku untuk berkelahi. Aku tidak suka berkelahi dengan siapa pun dengan alasan apa pun. Aku mencintai kalian semua”.

Satu respon yang terduga dari seorang kiai yang jika kita amati gumulannya bersama umat ataupun tulisan dalam buku-bukunya selalu menganjur dan menunjukkan potret Islam yang sejuk dan kasih mengasihi. Setelah membaca kiriman Gus Mus itu saya lalu membatin, “Jika saja Gus Dur masih hidup, ia tentu akan berkata serupa.” Tapi kemudian kubatalkan pikiran itu setelah kuingat pembawaan Gus Dur yang hobi melucu itu. Pasti beliau tak akan ambil pusing sambil bilang, “Gitu aja kok repot!”

Melalui tulisan ini saya tidak hendak menjelaskan konteks dari ucapan Gus Dur dan Buya Hamka itu sehingga semestinya ia tak boleh diadu-adu sedemikian. Melalui ini saya hanya hendak menggelarkan satu kesalahan serupa, yang menurut saya mirip dengan kegagalan memaknai metafor. Yang ini, berhulu dari kemalasan dan ketakpedulian menyelami konteks, sehingga pesan hanya mampu dibaca secara tekstual yang pada akhirnya hanya melahirkan kedangkalan pemahaman. Menyitir hanya karena suka kalimatnya.

*

Masih ingat Almuzammil Yusuf? Ia anggota DPR Fraksi PKS yang berhasil memantik gemuruh takbir di rapat paripurna DPR pertengahan Oktober lalu (lihat videonya di sini). Sebelum rapat benar-benar dimulai ia melakukan interupsi untuk membacakan semacam penegasan sikap juga tanggapannya atas dugaan laku penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta. Apa yang ia bacakan sebenarnya bukan tulisannya pribadi, tapi semacam surat terbuka dari seorang dokter muda berprestasi, Gamal Albinsaid. Video rekaman aksi Muzammil beserta transkripnya itu pun ramai dibagikan dan dirayakan. Jangan tanya penampakan linimasa saya setelah rekaman itu dirilis. Bukan main penyebaran dan caption-caption yang mengiringinya.

Sekilas, lagi-lagi cuma sekilas, apa yang Muzammil bacakan di forum itu tidak bercela. Ia menjabarkan potret toleransi beragama juga anjuran untuk melakukannya secara proporsional. Proporsional, maksudnya bertoleransi tanpa melangkahi batas-batas ajaran Islam yang ada secara tegas.

Selain itu, ia mengutip publikasi UNESCO ‘Tolerance: The Thresold of Peace’, pesan Buya Hamka yang sudah kusebut di muka, juga quote dari Bill Maher (“Don’t get so tolerant that you tolerate intolerance) dan Ayaan Hirsi Ali (“Tolerance of intolerance is cowardice).

Sudah ketemu rancunya? Belum? Oke, saya coba gelarkan.

Publikasi UNESCO mungkin tak bermasalah. Ia memaparkan universalitas laku toleransi yang didasarkan pada realitas keberagaman dan hubungan sosial yang menjamin kenyamanan individu dan keharmonisan. Ia semacam panduan yang mesti dipahami oleh para dewasa, terutama guru-guru di sekolah, dan mesti diajarkan kepada anak-anak agar sejak dini mereka bijak menyikapi keberagaman.

Soal Buya Hamka, secara tekstual pesannya mudah dipahami. Beliau bicara soal ghirah. Kecemburuan, yang berujung pada semangat dan keinginan membela agama. Anjuran ini semestinya tidak dipakai untuk menegasikan ucapan Gus Dur soal Tuhan yang tak perlu dibela. Karena sesungguhnya dua ucapan itu memiliki sasaran tembak yang berbeda.

Nah, kerancuannya ada di dua nama lain yang quotenya disitir. Anda tahu siapa itu Bill Maher? Kalau Ayaan Hirsi Ali, pernah baca bukunya? Atau dengar ujaran-ujarannya di berita, televisi, atau… youtube, misalnya?

Bill Maher, kalau bisa dibilang, adalah seorang entertainer. Ia punya acara televisi yang ia bawakan sendiri. Omongan-omongannya biasanya mengandung sarkasme dan satir, dan karena itu ia sering pula disebut sebagai komedian. Ia seorang liberal akut, dan seringkali mengkritisi Islam. Tentu, di titik intoleransinya, menurutnya. Namun kritiknya, tentu saja, hanyalah sebuah overgeneralisasi salah arah. Ia menyebut praktik hukum syariah Saudi yang mendiskriminasi perempuan sebagai representasi sejati dari ajaran Islam. Begitulah Islam. Begitu pula dengan isu radikalisme dan terorisme. Satu potret praktik keislaman ia pakai untuk memukul rata nilai Islam secara umum. Satu laku kritik yang justru lebih dekat pada paradoks hubungan AS dan Saudi: seolah-olah memaki-maki hukum syariah Saudi yang tak demokratis tapi berangkulan mesra di belakang. Ya demi apa lagi kalau bukan demi minyak.

Ayaan Hirsi Ali agak beda, tapi sebenarnya mirip saja. Ia adalah seorang aktivis perempuan yang di masa mudanya mengaku lari dari lingkungan keluarganya yang kolot di Afrika yang memaksanya menikah dengan seorang pria. Ia terkenal karena kritiknya untuk mereformasi Islam. Ia memfokuskan kritik dan ketaksetujuannya pada, misalnya, praktik ‘sunat’ perempuan, pemaksaan penggunaan hijab, yang menurutnya praktik yang lazim di lingkungan Islam yang kolot. Sekilas ini lumrah saja. Toh kritik atas isu-isu itu juga dilantangkan oleh para aktivis feminis lainnya. Tapi jika kita mau menukik lebih dalam, kritik-kritik Ayaan lebih ngeri. Jika apa yang Bill Maher lakukan bisa kita anggap sebagai ekspresi standar dari islamophobia paska 9/11, apa yang Ayaan serukan tak bisa kita sikapi setamsil itu.

Kritik dan ide reformasi islamnya bahkan menyasar ajaran-ajaran inti juga strategi penyebaran Islam yang dilakukan Nabi Muhammad, yang dianggapnya totalitarian. Ia tidak percaya dengan esensi damai dari ajaran Islam yang menurutnya hanya slogan belaka. Penerapan syariah niscaya totaliter, fanatik, dan diamini para bigot dan imbisil. Ayat-ayat Quran atau hadis dan riwayat yang menganjurkan kekerasan atau juga laku diskriminasi bagi perempuan, yang dalam Islam dipahami sebagai satu anjuran yang dipagari syarat-syarat dan kondisi tertentu (bisa dikenali dengan kata keterangan syarat ‘tapi’, ‘kalau’, ‘kecuali’), dipakainya sebagai dasar untuk menegaskan bahwa begitulah islam, niscaya totaliter dan tak adil pada perempuan.

Dengan latar belakang kedua tokoh tersebut yang demikian, ujaran mereka soal ‘tak menoleransi laku intoleran’ sebenarnya adalah arahan bagi sesiapapun untuk tak menoleransi laku intoleran yang mereka sematkan niscaya atau mayoritas dimiliki para muslim.

Dengan demikian, tak sepantasnya, tak tepat, dan tak cocok ucapan mereka disitir dalam konteks membela islam. Ada ketaksesuaian motif, latar belakang, dan konteks dari sitiran itu dengan yang hendak dimaksudkan Muzammil dan Gamal Albinsaid. Sitiran itu bisa benar ya kecuali PKS melalui Muzammil atau sebaliknya—atau Gamal Albinsaid sendiri—memang punya agenda penyeruan reformasi atas Islam.

*

Hanya ada dua kemungkinan laku penyitiran yang meleset macam begini: 1) si penyitir memang tak tahu sama sekali, baik siapa yang ia sitir atau konteks kalimat yang disitirnya; atau 2) ia benar-benar tahu, dan karena benar-benar tahu maka ia hendak membelokkannya, mengaburkan sebagiannya yang justru ide pokok dari yang disitir.

Saya menduga, untuk kasus surat terbuka dokter Gamal Albinsaid itu, masuk dalam kategori pertama. Mungkin saja ia hanya mengetik kata kunci ‘tolerate intolerance’ atau ‘tolerance of intolerance’ di google lalu muncullah itu Bill Maher dan Ayaan. Meski saya tahu ini dugaan yang terlalu lancang untuk saya tudingkan ke dokter Gamal, merunut prestasi juga karir akademiknya yang cemerlang.

Sedang kategori kedua, tak ada lain yang bisa saya jadikan contoh selain tulisan berjudul ‘Maaf’ yang dilepas resmi awal Mei kemarin. Tulisan itu adalah respon si penulis, yang lebih dikenal sebagai seorang begawan, terhadap tekanan publik kepada Presiden selaku perwakilan Negara untuk ‘meminta maaf’ kepada korban ’65.

Dalam tulisan itu beliau menyitir umpatan Marx terhadap Negara yang cenderung bias kelas karena didominasi oleh kelas borjuis dan karenanya tak layak jadi representasi dari keseluruhan elemennya untuk melegitimasi pikirannya tentang Negara yang punya sifat ‘tak utuh’, ‘partikular’, dan ‘berubah-ubah’ sehingga Presiden hari ini tak serta merta ikut menanggung dosa Negara terdahulu yang tak ia pimpin, dan karenanya menggugurkan kemestiannya untuk meminta maaf atas dosa tersebut.

Di akhir tulisan itu pun terasa ada pengaburan dan pembelokan maksud dari ucapan Oey Hay Djoen, seorang tokoh PKI dan Lekra, yang “Apa hak moral kita untuk menolak memberikan maaf..” yang ia ucapkan menanggapi tampikan Pram atas permohonan maaf Gus Dur. Ucapan Oey itu berada dalam konteks mengomentari penolakan Pram memberi maaf atas permintaan maaf Gus Dur selaku Presiden, dan bukan berarti mengimpaskan syarat keadilan yang mesti dipenuhi Negara, dalam hal ini pemulihan status para korban, pelurusan sejarah, dan pengungkapan kebenaran (juga penegakan hukum bagi para pelaku seperti dituntut Pram), yang menurut sang begawan mestinya tak perlu ada lagi (syarat itu). Karena menurutnya, pemberian maaf yang bersyarat bukanlah maaf yang sebenar-benar maaf.

Begitulah. Laku itu, bahasa kasarnya, mengutip/menyitir sesuatu bukan untuk menegaskannya, tapi justru untuk membubarkan, mengaburkan, bahkan membunuhnya.

*

Sebagai solusi, jujur saya tak punya untuk masalah kategori kedua, selain saran untuk si pelaku agar segera bertobat dan berhenti membelok-belokkan atau mengaburkan konteks sitiran. Stop tipu-tipu!

Sedang untuk kita para pembaca, saya hanya bisa menyarankan untuk membaca satu buku: Kekerasan Budaya Paska 1965 tulisan Wijaya Herlambang. Di buku itu, selain dipaparkan bagaimana ragam teknik membaca teks, utamanya karya sastra, dan efek langsung tak langsung sadar tak sadar yang bisa ditimbulkannya, juga ada penjabaran cukup rinci mengenai peta konflik nasional maupun internasional yang memayungi praktik ‘kekerasan’ lewat teks macam itu. Dengan membaca buku itu, kita akan jadi lebih awas menghadapi teks-teks macam itu.

Sedang untuk permasalahan kategori pertama, tiada lain solusinya adalah meng(k)aji. Tak lupa sertakan kerakusan membaca, kesabaran menelusuri kabar—yang awalnya diterima di hilir—sampai ke hulunya, kerendahan hati untuk bertanya pada yang lebih paham, juga—tentu—kesediaan dan kebesaran hati untuk memilih diam saja bila tak mengerti, apa lagi jika kabar-kabar yang kerap bikin jempol Anda tak sabar untuk segera membaginya itu adalah kabar-kabar sensitif yang bisa berefek besar bagi khalayak.

O iya, solusi lain terkait itu adalah bergiat-giat mempelajari mantik dan logika. Biar tak keliru menarik silogisme, punya kepekaan pada metafor, tak asal-asalan beranalogi, serta ada kejeli-jernihan menyelami konteks.

Ah, begitu selesai membaca ulang tulisan ini dari mula sampai ‘kejeli-jernihan menyelami konteks’ di atas, saya merasa lancang betul. Padahal, apalah saya ini, hanya ampas kopi di dasar gelas yang sebentar lagi luruh terbilas mengalir masuk lubang limbah tempat cuci piring.

 

Makassar, 8 November 2016
(pertama kali dimuat di Kata Literasi)

  • view 322