Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 20 November 2016   09:00 WIB
Bungou Stray Dogs

Anime ini dimulai dengan pengenalan salah satu tokoh sentralnya yang suka mencoba bunuh diri. Namanya Dazai. Ya, Osamu Dazai. Tak salah lagi itu terinspirasi dari seorang penulis Jepang bernama sama yang juga memang terkenal gemar mencoba membunuhi dirinya sendiri. Lompat ke jurang, mencoba overdosis, dll. Berkali-kali mencoba, berkali-kali juga selamat. Tapi akhirnya mati juga. Tak tanggung-tanggung, ia tidak bunuh diri sendiri, tapi bersama kekasihnya.

Saya tak pernah membaca langsung satupun karya Osamu Dazai. Tapi kalau ulasan dan soal cerita-cerita bunuh dirinya, pernah. Penulis-penulis besar Jepang memang banyak yang terkenal karena obsesi mereka pada kematian. Itu tergambar dari tulisan-tulisan mereka yang murung. Konon, itu warisan dari amuk fasis, derita perang berkepanjangan, dan depresi hebat paska Hiroshima dan Nagasaki dihantam bom sekutu.

Soal-soal mati dan bunuh diri memang sudah lekat jadi imej Jepang. Karena malu atau melanggar sumpah, perut dibelah kepala dipancung. Bunuh diri beramai-ramai bahkan pernah jadi tren anak muda Jepang. Satu studi lain mengungkap hal yang lebih mencengangkan. Bunuh diri di Jepang bahkan dilakukan pula oleh anak-anak kecil. Penyebabnya, kalau bukan stres selalu dirundung teman di sekolah, bisa juga karena tanggung jawab persekolahan yang memang menyiksa. Tentu, ada faktor penyebab lain, yang merentang dari hal paling serius sampai hal paling remeh sekalipun. Sungguh, membaca kabar-kabar macam itu serasa membaca kabar hoax dari mereka yang keracunan agama.

Untuk yang dekat, kau bisa baca Norwegian Wood karya Haruki Murakami. Di situ juga ada diceritakan seorang anak muda yang bunuh diri. Kalau malas baca bukunya kau nonton saja filmnya. Mau tahu caranya bunuh diri? Ia bikin semacam selang panjang, yang lalu ia sambungkan ke mulut knalpot. Ujung selang satunya lalu ia arahkan ke dalam mobil lewat jendela, dijepit dan dilekatkan dengan lakban. Kemudian ditutupnya rapat pintu dan jendela yang lain, dan membiarkan mesin terus menyala. Ia pun berbaring santai dalam mobil sambil meresapi zat-zat beracun hasil pembakaran mesin itu, batuk-batuk, sesak, sampai akhirnya shinigami turun datang menjemput.

Unik, bukan? Untuk cerita-cerita mengesankan lainnya tentang fenomena bunuh diri itu, baca saja di sini.

Karena pernah tahu cerita tentang Osamu Dazai itulah saya lanjut tonton ini anime. Siapa tahu saya bisa ketemu sastrawan Jepang lainnya di situ. Dan benar, hampir setiap karakter penting dalam anime ini dinamai persis dengan nama penulis-penulis Jepang. Osamu Dazai, Doppo Kunikida, Atsushi Nakajima, Ryunosuke Akutagawa, Ougai Mori, dan nama-nama lainnya. Bahkan Kenji Miyazawa, pengarang yang bukunya mengilhami anime-movie berlatar sejarah: Giovanni’s Island, juga tak luput dapat bagian.

Sekarang, anime ini sudah masuk episod 8 season 2. Di season 2 ini lebih tak keruan lagi nama sastrawan yang diseret-seret masuk. Bukan hanya yang dari Jepang saja, tapi juga luar Jepang, utamanya Amerika Utara. Season 1 cerita berfokus pada tubrukan dua kelompok, Mafia Pelabuhan dan Kelompok Detektif. Di season 2, kelompok yang meramaikan seteru bertambah satu, sebutannya The Guild. Mereka diceritakan datang dari Amerika Utara. Kelompok inilah yang diisi para sastrawan Amerika, mulai dari Fitzgerald, Steinbeck, sampai Melville.

Season 2 dimulai dari cerita masa lalu pertemanan erat tiga orang: Osamu Dazai, Sakunosuke Oda, dan Ango Sakaguchi. Oke, cerita pertemanan ini fiksi, tapi sebagaimana tokoh-tokoh anime yang nama atau karakternya diacu dari manusia yang betulan hidup, kedekatan tiga orang ini bukan sekadar karangan. Dazai, Oda, dan Ango adalah penulis yang hidupnya sama tak keruan dan menganut aliran kepenulisan ‘tanpa tujuan’, ‘dekaden’, yang tentu saja ‘murung’.

Odasaku pada akhirnya berakhir sebagai martir. Karena ialah pilihan jalan hidup Dazai jungkir balik. Dazai yang dulunya bagian dari Mafia Pelabuhan, akhirnya mangkir dan hijrah jadi Detektif.

Odasaku digambarkan sebagai seorang yang, meski bagian dari Mafia Pelabuhan ketika itu, berbudi baik. Odasaku bersumpah untuk berhenti membunuh setelah bertemu dengan seorang tak jelas yang memberinya jilid terakhir buku yang sudah lama dicarinya. Orang itu, yang kemudian diketahuinya sebagai penulis buku yang dibacanya tersebut, menyarankan Odasaku untuk melanjutkan sendiri cerita novel itu. Menurutnya buku yang ditulisnya itu berakhir buruk. Yang justru menurut Odasaku bagus bukan main.

“Menulis novel itu seperti menulis kehidupan,” begitu kurang lebih sarannya pada Odasaku. Karena itulah Odasaku bersumpah untuk berhenti membunuh. Bagaimana bisa seseorang menulis kehidupan jika ia tak berhenti memutus hidup orang lain? Mimpi Odasaku untuk menulis novel akhirnya harus ia kubur dalam-dalam. Bukan karena ia mati, tapi karena ia merasa gagal. Ia mungkin berhasil menjalankan misinya sebagai mafia tanpa sekalipun membunuh. Tapi ia gagal menjaga hidup anak-anak yatim yang diasuhnya, dan akhirnya masuk kembali ke lingkaran setan bunuh-membunuh.

Lelaki misterius yang menyarankan Odasaku untuk menulis ceritanya sendiri itu, yang namanya sempat ia lupa, ialah Natsume Souseki. Ya, salah satu sastrawan besar Jepang lainnya. Yang hidup di generasi sebelum Osamu Dazai dan Sakunosuke Oda.

Seperti halnya karakter Osamu Dazai yang dibikin suka bunuh diri kayak Osamu Dazai yang asli, karakter-karakter lain di anime ini pun dibikin punya korelasi dengan sosok aslinya. Karena yang diacu adalah penulis/sastrawan, maka yang dijadikan acuan tak hanya kehidupan riil mereka, yang bisa berupa sifat, ideologi, penampilan dan pembawaan, tapi juga apa yang ada dalam karya-karya tulis mereka.

Sebut saja tokoh Akutagawa dalam anime ini. Ia punya kekuatan khusus yang diberi nama Rashomon. Rashomon adalah salah satu judul cerita pendek paling terkenal gubahan Ryunosuke Akutagawa.

Sedang Herman Melville, digambarkan punya cambang lebat dan mengisap cangklong. Kemampuan khususnya dinamai Moby-Dick, semacam pesawat futuristik berbentuk paus. Bicara soal Herman Melville, ini bukan anime pertama yang kutonton di mana ia diseret masuk bersama pausnya yang legendaris itu. Di One Piece, kita tahu, kapal Shirohige yang berbentuk paus itu dinamai Moby-Dick. Paus legendaris Melville juga ada di film animasi terbaik Jepang 2015 lalu, The Boy and The Beast.

Anggota Guild yang lain, John (Steinbeck), diberkahi kemampuan khusus yang berhubungan dengan batang jalar anggur. Tak terlalu sulit untuk mengaitkannya dengan karya akbar peraih Nobel Sastra itu, The Grapes of Wrath. Sakaguchi Ango dibikin pakai kacamata, mirip Ango yang asli. Edogawa Ranpo, yang dikenal sebagai penulis kisah detektif terkenal, yang warisannya banyak bisa kita temui di serial Detective Conan, digambar serupa Sherlock. Kenji Miyazawa ditokohkan sebagai seorang yang kekanak-kanakan. Ya karena Miyazawa Kenji memang penulis cerita anak.

Bukan tidak mungkin, jika ditelusuri lebih teliti kita bisa temukan kutipan teks-teks sastra mereka dalam ucapan tiap tokoh dalam anime ini. Seperti pengakuan Atsushi pada Lucy sebelum ia terjun dari Moby-Dick. Atsushi mengaku pernah menemukan satu kutipan dari buku, kutipan yang kemudian diyakininya seumur hidup. “Aku tak sekalipun menyesali apa-apa yang sudah kulakukan, justru kalau tak kulakukanlah aku akan menyesalinya seumur hidup.” Itu punya Mark Twain, kan?

Yang sempat membingungkan, hanyalah tokoh Mark Twain. Salah satu anggota Guild tersebut punya kemampuan khusus semacam sniper, penembak jitu. Jujur, saya tak mampu ingat, apa Huck Finn pernah punya hubungan dengan soal-soal sniper saat ia berakit bersama Jim di sungai Mississipi. Kalau dengan shotgun, mungkin iya. Itu mirip saja dengan Scout dan Jem dalam To Kill a Mockingbird, yang ditembaki saat menyusup ke kebun-kebun.

Tapi pelan-pelan kuingat, bahwa Huck pernah lari selepas menyaksikan adu tembak antar dua keluarga, Grangerfords dan Shepherdsons. Tom Sawyer pun pernah tertembak di kaki saat mereka (ia dan Huck) mencoba melarikan Jim yang negro itu dari status ‘budak’nya. Mungkin dari situ inspirasinya.

Karya : Shah Priyanka Aziz