Sasshi Shihainin ga Naita Yoru

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Oktober 2016
Sasshi Shihainin ga Naita Yoru

Mau dilapis semua juga dokumenter 48Grup itu—tidak termasuk +1, +1+10, dan A to Z—, belum bisa lebih baik daripada dokumenter Nogizaka46, Kanashimi no Wasurekata. Narasi, plot, momen-momen yang dibidik untuk diulas, juga estetika sudut ambil gambar, Kanashimi no Wasurekata menang banyak.

Tidak terkecuali Ozaki Shihainin ga Naita Yoru, film dokumenter perdana HKT itu. Mungkin karena Sasshi sutradaranya. Sudahlah Sasshi, tak usah ikut-ikutan terjun jadi sutradara. Kami tahu kau ahlinya di mana.

Di event janken kemarin, saat video promosi Kyabasuka Gakuen diputar perdana, Sasshi berhasil memantik satu olok-olok baru. Di video itu, Yuihan menyerukan “Kondo wa Kyabakura ya!”. Seruan berdialek Osaka kental itu diserukan Yui dengan ekspresi sangar khas Yankee. Jadilah seruan itu berubah jadi olok-olok untuk Yui. Tepat di situ saya melihat bagaimana karma bekerja. Seruan “Maji da yo!” Sakura-tan yang jadi trademark baginya di Majisuka Gakuen, juga pernah jadi olok-olok Yui dan Juri di Request Hour 2015. Kali ini olok-olok itu berbalik untuknya. Menarik karena ia dipantik dari sumber serupa: Sakura-tan dari Majisuka, Yui dari evolusi Majisuka, Kyabasuka.

Kembali ke Sasshi. Sasshi jagonya di situ. Hal seremeh apapun bisa diolahnya jadi menarik diobrolkan, pun diputar jadi lelucon. Di HKT sendiri, keahlian milik Sasshi ini, yang di 48Grup biasa disebut ‘MC’, hanya Natsumikan yang bisa imbangi. Kelancangan congor mereka mirip. Tapi karena lancangnya itu, joke-joke Natsumikan seringnya jadi lebih mirip hinaan dan umpatan. Sasshi tak selalu begitu. Sementara di soal lelucon, mungkin cuma dua kawannya di Not Yet yang bisa menyerupainya: Rie dan Yuko. Myao juga.

Sebenarnya banyak member yang bisa melucu. Miichan, Maachun, Ripopo, Chiyori, Momoka, Oya. Tapi lelucon mereka lebih mirip upaya membodoh-bodohi diri. Sasshi tak selalu begitu. Ia tak perlu menghina orang lain atau merendahkan dirinya sendiri—meski pernah juga di beberapa kesempatan—untuk bisa menghibur.

Nah, di dokumenter HKT itu, ada satu bagian di mana anak-anak HKT ditanyai soal ‘apa yang berubah setelah Sasshi tiba’. Jawabannya bisa ditebak: MC. Tak perlu menyaksikan dokumenter ini untuk tahu itu, karena pengakuan atas Sasshi itu sudah sering disinggung di dokumentasi-dokumentasi lain jauh sebelum yang itu.

Meski secara keseluruhan film dokumenter itu tak istimewa, tetap saja ada beberapa hal baru. Beberapa di antaranya bukan baru yang benar-benar baru juga sebenarnya, cuma dihadirkan dengan cara yang lain.

Di permulaan film, saat pertama kali HKT memperkenalkan diri di event handshake nasional ‘Flying Get’, 23 Oktober 2011, di belakang panggung mereka disapa dengan antusias oleh tiga member Kyushu—pulau besar di selatan Jepang, di mana Hakata berdiam. Tiga member itu ialah Shinoda Mariko, Kashiwagi Yuki, dan Sasshi sendiri. Setelah para member Kyushu itu berfoto bersama, menggodai Murashige Anna yang blasteran Rusia, Yukirin berujar:

“Mereka kelihatan dewasa, ya.”

“Kukira tak apa kalau aku ditransfer ke sana (HKT),” balas Sasshi sekenanya, mirip seloroh-selorohnya yang biasa.

Yukirin menggeleng menanggapi itu, tanda ketaksetujuannya.

Hanya ada dua sebab seloroh Sasshi itu keluar. Pertama, karena ujaran Yukirin barusan. Meski umur anak-anak HKT sekian tahun lebih muda dari Mariko-Yukirin-Sasshi, tapi mereka terlihat dewasa. Sasshi pikir ia bisa klop mudah dengan mereka. Kedua, tentu karena kampung halamannya, Oita, tidak seberapa jauh dari Hakata jika dibandingkan dengan Tokyo.

Momen itu menarik, karena kurang dari setahun sejak itu, Sasshi akhirnya benar-benar ditransfer ke HKT.

Itu satu. Hal kedua yang menarik adalah tentang Ueno Haruka. Member gen.2 yang dijuluki Theater no Megami, Dewi Teater. Julukan itu disemat untuknya karena hampir tak pernah absennya ia tampil di teater HKT. Tak semua member bisa rutin tampil di teater. Terlebih bagi mereka yang masuk senbatsu. Mereka akan banyak disibukkan agenda syuting dan pemotretan. Member yang tak masuk senbatsu seperti Harutan lah yang menghidupi teater, kuil suci tempat fans berbondong datang di mana jargon ‘idol you can meet’ benar-benar diresapi.

Harutan jadi istimewa bukan hanya karena jarangnya ia absen di teater, tapi juga karena tekunnya ia mempelajari berbagai posisi di tiap unit lagu dalam setlist stage, bahkan yang sebenarnya tidak akan ia bawakan nantinya. Bahkan di hari liburnya, ia kerap pula datang ke teater untuk latihan.

Hubungannya dengan Sasshi unik. Karena ia lah yang sering menutupi posisi Sasshi saat Sasshi sibuk di luar teater. Jika Sasshi akhirnya sempat ke teater, Harutan lah yang akan menuntun mengajarkan koreo yang Sasshi lupa-lupa ingat bahkan tak tahu sama sekali, dua jam sebelum pertunjukan.

Karena dedikasinya inilah ia didaulat jadi Center coupling song 74 Okubun no 1 no Kimi e, Chain of Love, yang kemudian dijadikan theme song utama dokumenter pertama HKT ini. Mungkin Sasshi yang membisiki Aki-P dan Ozaki Shihainin terkait penunjukan ini.

Itu yang kedua. Hal menarik ketiga, tentu saja apa yang oleh sang sutradara sudah diniatkan untuk dipaparkan sejak detik awal film. Dokumenter ini dibuka dengan adegan makan bersama Sasshi dan Rikopi (Sakaguchi Riko). Sambil mengunyah gyoza, mereka membincangkan seorang die-hard-fans Rikopi. Tabuchi Masato namanya, pria bersahaja berkacamata yang sepertinya gampang terharu yang membiarkan dagunya ditumbuhi sekian rambut itu, mengenakan jersey Fukuoka Softbank Hawks saat perekaman scenenya (dalam dokumenter ini) ketika menghadiri event handshake nasional di pinggir pantai Kanagawa, nyaris tepat berhadapan dengan Teluk Tokyo.

Kasus Rikopi memang unik. Di Sousenkyo 2014 ia tembus Future Girls (peringkat 60). Tapi sebelum itu, juga bahkan di dua single HKT selepas Sounsenkyo tersebut (Hikaeme I Love You dan 12 Byou), ia tak masuk senbatsu. Jadi ketika Rikopi disebut masuk senbatsu untuk pertama kalinya di single Sekarashika!, yang pengumumannya digemakan di event handshake tersebut, Tabuchi dan rekan-rekannya sesama Rikopi-oshi tak kuasa menahan haru. Mereka saling jabat, berangkulan, bahkan menangis.

Di situ kita lihat bagaimana ekspresi para fans yang sesungguhnya. Mereka yang sungguh-sungguh mencintai idolanya lahir batin. Mereka yang mati-matian putar otak dan rela melakukan apapun demi idola mereka. Level mencinta yang tidak biasa, yang jelas jauh melampaui hasrat purba keterpukauan yang hanya menyasar paha, tetek, dan kulit mulus para idol—suatu objektifikasi rendahan.

Selain tiga poin penting itu, poin lain yang coba digelarkan dokumenter itu antara lain: frustrasi Haruppi saat posisinya sebagai center tiba-tiba disalip Meru; rivalitas antara Nako dan Miku; golak batin Mio menyikapi posisi center; serta yang paling penting, yang akhirnya bikin dokumenter ini dijuduli demikian: kegagalan HKT untuk tampil kedua kalinya di Kouhaku Uta Gassen NHK di penghujung 2015 lalu.

*

Sejak akhir tahun lalu sampai hari ini, setidaknya sudah ada tiga dokumenter dirilis: punya HKT, punya NMB, dan yang baru saja itu, Documentary A to Z. Ketiganya sudah kucek, satu dengan subtitle, dua sisanya tanpa subtitle. Dan dari pengamatan terbatas itu, saya kira, A to Z lah yang mendingan.

A to Z. Serba-serbi AKB yang disusun secara alfabetikal. Tiap huruf mewakili satu hal tertentu beserta eksplanasi dan presentasinya. Sejak format dokumenter singkat itu diperkenalkan tahun 2012—saat itu nama lengkapnya Documentary of AKB48, AKB48+1—, ia memang selalu dihadirkan dengan potongan-potongan gambar dan info yang tak biasa (seringnya hal-hal tak resmi/formal atau aktivitas belakang panggung/layar), hanya semacam trivia (terkesan remeh dan tak penting), dengan narasi yang terbatas. Tapi justru karena keremehannya itulah, ia menawarkan lebih banyak kebaruan.

Misalnya saja, satu topik yang tak pernah absen di tiap edisinya untuk alfabet ‘I’: injection (chuusha). Part itu memotret ekspresi close-up para member saat divaksin anti-influenza sebelum memasuki musim dingin. Jika tak ada bagian itu kita tak akan tahu, misalnya, kalau Harugon, Kawaei, atau Hirari sebenarnya takut jarum suntik.

Untuk edisi 2016 kali ini, yang paling ‘wah’ tentu saja yang alfabet ‘D’: Decade. Di situ ditampilkan liputan singkat perayaan 10 tahun AKB (AKB48 Gekijou Open 10 Shuunen Kinensai). Kita dipaksa bertemu lagi dengan member-member lama. Ohori Megumi (yang kali itu datang bersama anaknya), Urano Kazumi, Masuda Yuka, Hirajima Natsumi, Kikuchi Ayaka, Kasai Tomomi, Ohe Tomomi, Komatani Hitomi, Matsubara Natsumi, Matsuoka Yuki (datang dengan rambut kuning), Noro Kayo, Sato Natsuki, dan member-member era awal lainnya.

Selain kehadiran member-member lama, yang menarik dari event itu adalah tiketnya. Bayangkan, tiketnya adalah tiket yang sudah dibuat sejak tujuh tahun lalu. Tiket itu ada diselip di album foto yang dirilis spesial pada perayaan dua tahun AKB, 2008 silam. Berarti, sejak tujuh tahun lalu event ini sudah diimajikan oleh Aki-P. Anjing betul.

Dalam satu wawancara ia (Aki-P) bilang, “Bahkan sebenarnya sejak AKB debut, saya sudah berpikir untuk menjual tiket 10th Anniversary.” Saat itu produser bajingan itu sudah membayangkan, ‘walau nantinya di tahun ke-10 AKB sudah bubar, mengadakan perayaan satu dekade dengan mengundang kembali para member yang pernah bergabung dan mengenang hari dulu di hari itu, sepertinya adalah ide yang cukup bagus’.

Karena eksklusivitas dan kekhususan syarat masuk event itu, ia hanya dihadiri kalangan terbatas, dengan kata lain: lejendo-fan (Legendary Fans). Mereka yang masih menyimpan lembar tiket tujuh tahun lalu itu, mereka yang tumbuh bersama AKB sejak awal.

Selain tiket legendaris itu, ada 300 tiket lain yang diundi dari penjualan album 0 to 1 Aida. Total 800 orang hadir di event itu.

Para member menyambut spesial 500 orang fans legenda itu. Kelihatan sekali bahkan para member kaget bertemu kembali dengan fans lama yang wajahnya baru muncul lagi. Takamina menyambut mereka dengan, “Untuk kalian yang percaya pada masa depan AKB, dan tidak membuang tiket ‘imajiner’ yang tujuh tahun lalu itu, kalian yang terbaik!”

Tampakan-tampakan macam itu, yang disajikan A to Z, jelas lebih berharga dan unik ketimbang apa-apa yang kerap ditampilkan berlarat-larat dan cenderung terlalu dramatik—dan jadi membosankan—dalam dokumenter yang lain. Kita tak perlu nonton dokumenter HKT itu untuk tahu bahwa ada rivalitas antar Nako dan Miku. Begitu pula dengan frustrasinya Haruppi saat Meru dan Mio membuatnya tergeser dari posisi center. Pemaparan dua hal itu tidak sepenuhnya baru. Meski saya tahu soal-soal itu sengaja dibidik demi mengenang perjalanan HKT, mestinya ada bumbu-bumbu lain yang ditambahkan ke dokumenter itu. Bumbu-bumbu lain yang saya maksud, misalnya seperti narasi para orang tua member dalam Kanashimi no Wasurekata. Narasi itu menghadirkan sesuatu yang lebih dari apapun yang bisa kita bayangkan. Satu perspektif yang otentik.

Begitu pula di dokumenter NMB. Rivalitas Fuuchan dan Mirurun; diulasnya Okita Ayaka beserta fans clubnya; capaian member-member NMB di Sousenkyo; juga proyeksi para member muda; mirip belaka dengan dokumenter HKT.

Satu hal yang bikin saya penasaran menunggu subtitle-nya, mungkin cuma narasi filsafat Riripon. Ya, narasi filsafat. Meski hanya menangkap beberapa kata, saya yakin Riripon membawa sedikit petikan eksistensialisme Nietzsche di situ.

*

Tapi dari semua, yang paling emas adalah jawaban Natsumikan saat ditanya Sasshi apa reaksi mereka (member gen.1) saat tahu posisi center Haruppi direbut Meru di Hatsukoi Butterfly.

“Kuso!” umpat Natsumikan.

Itu sama saja dengan ‘Taik!’ atau ‘Anjing!’.

Ya, mulut anak itu memang lancang. Hormat untuk Boss!

  • view 173