Mas Ali dan Alkimia

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Oktober 2016
Mas Ali dan Alkimia

Mas Ali pernah mengatakan bahwa pada zaman di mana buku telah dicetak di mana-mana, adab ‘murid harus memiliki guru’ itu perlu diperlonggar. Ya, sepertinya memang harus demikian. Jika hanya belajar dari kiai-kiai di pondok, tentu Mas Ali tidak akan tahu tentang sejarah munculnya kaum pembaru, sepak terjangnya, pola pikir yang mereka anut, dan cara penyebarannya hingga sampai di Indonesia termasuk juga kelemahan-kelemahannya. Itu semua jelas tidak ada dalam kitab-kitab kuning berhuruf Jawi itu. Itu tidak mungkin diajarkan oleh para kiai di pondok.

“Belajar sendiri bukan berarti kita tidak menghargai guru kita. Menurutku, justru sebaliknya. Belajar sendiri adalah wujud dari penghargaan yang tinggi dari murid kepada gurunya. Aku pernah dengar, entah dari siapa, kegagalan seorang guru adalah ketika murid yang dididiknya tetap saja jadi seorang murid, tidak beranjak meningkat menjadi seorang guru. Dengan belajar sendiri, kita telah membantu tugas para guru kita. Kita harus menjadi guru, paling tidak untuk diri sendiri. Syukur-syukur untuk orang lain. Lagi pula, siapa bilang membaca buku dan belajar sendiri tidak jelas gurunya? Memang mereka yang menulis buku itu tidak mencantumkan nama? Lagi pula, meski tidak langsung, para penulis buku itu juga para guru kita,” kata Mas Ali pada lain kesempatan.

*

Nukilan itu saya ambil dari Kambing dan Hujan, novel Mahfud Ikhwan.

“Kenapa mengambil pelajaran dari novel? Kenapa tidak dari kitab saja? Itu kan fiksi.”

Kebanyakan kita condong lebih menyukai cerita dibanding teori-teori kering yang kaku, berat, dan karenanya membosankan. Cerita Ahmad yang menyuapi seorang Yahudi buta di pinggir pasar, juga enggannya ia membalas lemparan tai ke wajahnya di lain kesempatan, sudah lebih dari cukup mengajarkan kita bagaimana seharusnya menjadi manusia.

Nukilan di atas adalah sebagian ingatan Fauzan (Moek, Abah) tentang Mas Ali, santri pondok lain yang pertama kali ia temui dalam sebuah pelatihan keorganisasian suatu organisasi islam.

Kaum pembaru yang dimaksud Mas Ali di muka adalah mereka yang ‘sangat mudah menyebut orang lain sebagai kafir, musyrik, atau sesat. Tuduhan lain yang paling sering mereka gunakan adalah bid’ah. Sedikit-sedikit bid’ah’. Cap-cap yang menyakiti kalangan ulama dan pesantren serta meresahkan masyarakat, yang kerap didasarkan pada ‘dalil-dalil dan nas-nas yang tak selalu kuat, terkesan diputar balik, atau ditafsir semau-maunya’.

Masih kata Mas Ali, kaum pembaru yang ‘tidak menyukai kitab-kitab tulisan ulama-ulama salaf; memandang rendah kitab-kitab lama dan menyebutnya sebagai sumber dari banyak penyimpangan, bid’ah, bahkan menuntun menuju jalan kesesatan; memilih untuk kembali sepenuhnya hanya kepada Al-Quran; tidak mau mengikuti para ulama pengikut lima madzab karena tidak mau taklid, tidak mau hanya mengekor’. Satu kelemahan yang akan memutus ikatan mereka dengan masa lalu. ‘Kesinambungan ilmu dan kesaling-terhubungan guru dan murid adalah hal yang tak bisa dipisahkan dari sempurnanya islam sebagai agama’.

Tak hanya menunjukkan kelemahannya, Mas Ali juga mengakui kelebihan ‘semangat mereka, kegigihan mereka, kesanggupan mereka untuk menguasai banyak bidang, haruslah kita ambil contoh. Sementara kita cuma punya kiai dan santri, mereka punya diplomat, wartawan, jenderal, pengarang, dan lain sebagainya’.

*

Seperti itulah. Mereka yang hanya tahu satu hal sesungguhnya tak tahu apa-apa. Bagian kecil dari teks besar novel di atas saya ingat, setelah sekian waktu lalu melihat komentar ‘jangan belajar dari google, mending belajar langsung dari guru’. Sebagian dari ucapan itu mungkin benar, tapi sebagiannya lagi bisa jadi sangat lucu. Saya mafhum dan maklum jika advis itu diberikan oleh seorang yang pernah mondok bertahun-tahun dan dipakainya untuk menyerukan verifikasi dan tabayyun. Tapi jika ia keluar dari congor seseorang yang saya tahu benar berguru dari ‘guru ideologis’ yang ia temui di masjid kampus, serta ditujukan untuk menutup penalaran, merendahkan, meredam, juga menegasi kritisisme, ya maaf saja.

Jika kita tahu tulisan apa dan punya siapa yang mesti dibaca, tahu batasan ideal suatu produk jurnalistik sehingga bisa memilah mana kabar yang layak dipercaya, paham kaidah berpikir dan mantik sehingga tak terjebak dalam kesalahan berpikir, juga tak keliru meraba teks dan konteks, lantas apa yang mesti ditakutkan dari google dan internet?

Misal, soal islam, ada seorang yang hanya mau belajar dan baca tulisan dari mereka semisal Quraish Shihab, Gus Mus, dan (Alm.) Gus Dur. Silakan googling riwayat studi dan rekam jejak gumulan tiga nama itu bersama umat. (ah, o iya, Anda anti google, ya? Maaf saya lupa. Coba tanyakan pada guru Anda siapa mereka)

Lagian, semua jadi tak berguna di hadapan mereka yang mengutuki, menyumpahi, dan mencap nama pertama sebagai syiah, yang kedua sebagai liberal, dan yang ketiga sebagai sekuler. Bila sudah begitu, kenapa tak sejak awal saja bilang ‘hanya saya dan guru saya yang benar’ supaya kita cukupkan tetek-bengek basa-basi perihal guru-berguru dan ajar-belajar ini, dan saya persilakan Anda dan guru Anda menggrendel pintu surga dari dalam.

Mereka yang model macam itu, bila diingatkan soal-soal ini, soal-soal islam yang mereka hadirkan yang terlalu ribut di soal-soal ideasional (klaim kebenaran) belaka dan karenanya lupa persoalan konkret-material (kemiskinan, ketertindasan, penghisapan, diilusi, dan dipecah-belah) umat, biasanya sembunyi di balik dalil ‘islam datang dalam keadaan yang asing, dan akan kembali pula dalam keadaan asing’, yang lebih mirip kebebalan dan pembentengan isi kepala terhadap potensi dialogis antara yang ide dan material yang semestinya kita geluti demi perbaikan kehidupan bersama.

*

Dan beberapa hari ini, baru saja saya mulaikan niatan lama saya untuk menamatkan ulang anime Fullmetal Alchemist. Baru di episod-episod awal, tepatnya di episod 2 dan 3, saya langsung temukan kecocokan dengan pembahasan di atas.

Di episod 2, ada adegan saat Trisha Elric, ibu dari Ed dan Al, mendapati dua bocah itu tengah bergumul dengan buku. Saat Ed memperlihatkan praktik alkimia, si Ibu bertanya, “Kau belajar dari Ayah?”

“Bagaimana bisa belajar dari orang yang tak ada di sini?” jawab Ed.

“Kami belajar dari buku-buku,” sambung Al.

Di episod 3, Ed dan Al tiba di Liore, satu daerah yang dikabarkan punya seorang Pendeta Agung yang bisa mencipta sesuatu dari ketiadaan. Saat melihat langsung praktik itu, Ed dan Al heran, bagaimana bisa mencipta sesuatu tanpa pertukaran setara (satu prinsip alkimia: tak ada yang bisa diciptakan dari ketiadaan, hanya konversi dari material setara)?

Tapi Ed tahu, alkimia semacam itu bisa saja dilakukan bila melibatkan ‘Kenja no Ishi’ (Philosopher’s Stone). Batu Merah itu, dengan batasan tertentu, bisa melangkahi hukum absolut alkimia. Batu yang mereka cari-cari guna mengembalikan organ mereka—terutama jasad Al—yang khilaf mereka sumbangkan dalam satu proses alkimia terlarang: penghidupan kembali ibu mereka.

Selain bertemu si Pendeta Agung, Cornello, di Liore Ed dan Al juga bertemu Rose. Perempuan yang mengimani keyakinan palsu si Pendeta setelah diangkat naik dari keterpurukan paska kematian orang yang ia kasihi, sekaligus dijanjikan penghidupan atasnya suatu saat nanti.

Di satu adegan, saat Ed dan Al sudah berhadap-hadapan dengan si Pendeta, Rose diperintahkan oleh si Pendeta untuk menembaki Ed. “Kata-kataku adalah firman Tuhan. Ini kehendak Tuhan. Tembak dia!” demikian perintah si Pendeta. Saat Rose salah menembaki Al dan kepala bajanya berkelontang jatuh, si Pendeta bilang, “Bagus. Dengan itu Tuhan bersukacita. Lanjut tembak yang satunya lagi (Ed).”

Saat Al bangkit tanpa kepala, bersabdalah lagi si Pendeta, “Lihat, itu bukti bahwa mereka iblis. Mereka layak dimusnahkan!”

Ya, laku si Pendeta itu mirip saja dengan ia yang berteriak lantang membacakan petisi kemarin itu, disaksikan masjid dan katedral sekaligus.

Di sekujur Fullmetal Alchemist, selain tentang alam dan hukum-hukum yang menopangnya; hakikat jiwa, roh, dan kehidupan; pedihnya perang; piciknya persekusi, eksklusi, rasisme, dan fasisme; intrik politik dan sengkarut kuasa; kau juga bisa dapati orang-orang yang menyaru menjadi Tuhan. Mencipta selayak Tuhan, membunuh demi Tuhan.

Masih sering heran melihat kawan-kawan yang sudah baca manga dan nonton anime beratus judul dan episod tapi masih juga berlaku aneh-aneh. Bahkan ada yang bilang, “Ya saya nonton sekadar buat hiburan.” Terserahlah.

  • view 134