Kalimat Keramat

Kalimat Keramat

Shah Priyanka Aziz
Karya Shah Priyanka Aziz Kategori Renungan
dipublikasikan 08 Oktober 2016
Kalimat Keramat

“Mungkin hanya empat kali kalimat macam itu diucapkan dengan nada dan mimik serius: Usopp di Arabasta, Zoro di Thriller Bark, Sanji di Zou, dan terakhir ini Nami di Seducing Woods.”

Demikian komen saya di salah satu kolom komentar postingan facebook tentang kata-kata Nami yang ‘Luffy adalah seorang yang akan menjadi Raja Bajak Laut’ yang barusan ia ucapkan di Seducing Woods. Komen saya itu kemudian dibalas oleh dua orang dengan komen masing-masing: ‘Zoro sudah mengucapkannya sejak di Baratie’ dan ‘Brook juga sepertinya sempat bilang di Pulau Manusia Ikan.’

Mari kita bahas dua momen yang dimaksud si penanggap.

1/ di Baratie (manga ch. 52)

Penyebutan Raja Bajak Laut untuk Luffy oleh Zoro di Baratie bukanlah sejenis pernyataan. Ia tidak sama seperti yang diucapkannya di hadapan Kuma di Thriller Bark.

Sebutan Raja Bajak Laut ia ucapkan setelah bersumpah tidak akan kalah lagi. Dengan dada hampir belah dan pedang teracung ke langit, ia bilang: ‘Sampai tiba hari dimana aku bertarung dengannya (Mihawk) dan menang nanti, aku bersumpah tidak akan pernah kalah lagi. Bagaimana, Raja Bajak Laut?”

Pertanyaan konfirmasi itu ia ajukan ke Luffy karena perasaan malunya sudah dikalahkan Mihawk. Saat merekrut Zoro, Luffy bilang ke Zoro, “Kau ingin jadi pendekar pedang terkuat di dunia? Bagus! Itu cita-cita yang sepadan untuk jadi pendamping seorang Raja Bajak Laut.” Karena itu ia merasa perlu menegaskan kembali kelayakannya mendampingi Luffy.

2/ di Fishman Island (ch. 645)

Sebutan Raja Bajak Laut Brook ucapkan sewaktu adu mulut dengan Zeo, manusia ikan tipe entah yang mampu berkamuflase dan punya senjata rantai. Setelah Hody Jones dipukul dengan Red Hawk oleh Luffy di langit, dan melihat Noah akan jatuh menimpa pulau mereka, para anak buah Hody lari menyelamatkan diri. Zeo kemudian menghalangi dan menghajar mereka satu per satu. Laku yang kemudian diikuti oleh Dosun si kepala martil, lawan duel Chopper.

Laku itu—memukuli setiap mereka yang hendak melarikan diri—dilandasi dendam sesat mereka atas manusia. Sebagai ras yang terus menerus dikhianati dan diperlakukan sebagai budak, kematian adalah salah satu jalan penebusan dendam. Kematian—menurut mereka yang sesat itu—para manusia ikan akan jadi kutukan bagi manusia. Baginya, kematian para manusia ikan adalah semacam bahan bakar yang akan terus menjaga nyala api dendam yang suatu saat akan terbalaskan.

Kondisi kejiwaan itu mungkin mirip dengan milik para jihadis yang membunuhi diri sendiri sembari berargumen bahwa ini semua karena para kafir yang memusuhi, kami jadi begini karena mereka, inilah pembuktian kami. Lagian sudah ada surga yang menanti di sana. Seakan-akan membunuhi diri sudah jadi semacam takdir yang terberi, mesti dijalani, tak ada pilihan lain.

Brook pun menghalangi tindak Zeo. Sebagai seorang yang sudah pernah mati sekali, Brook menggugat Zeo, “Kau tahu apa? Kau belum pernah ke akhirat! Ide bahwa kematian akan menjelma menjaga dendam itu tak masuk akal. Tak ada yang tersisa setelah kematian.”

Zeo membalas gugatan itu dengan argumen bahwa Brook dkk yang manusialah yang bodoh. Bagi Zeo: “Kalianlah yang menyia-nyiakan hidup. Saat Noah jatuh, kalianlah sebenarnya yang akan mati.” Mungkin seperti sajak Sapardi, 'Kalian fana, kami abadi'.

Nah, di sinilah Brook mengucapkan kalimat itu: “Kapten kami, Luffy, adalah seorang yang akan menjadi Raja Bajak Laut. Dengan percaya akan itu, tak ada yang mesti kami khawatirkan.” Ya, Brook percaya Luffy akan mengalahkan Hody dan mencegah Noah menimpa Pulau Manusia Ikan.

*

Tak afdol kiranya bila tak membedah pula konteks dari ucapan sama dari kru yang lain.

Di Thriller Bark (ch. 485), Zoro mengucapkan itu untuk mencegah Kuma membawa Luffy. Ia menawarkan dirinya sebagai media penebusan. Kuma salut melihat tekad Zoro, persis seperti Mihawk yang dulu mengampuninya di Baratie.

Sedang Sanji, ia bilang begitu saat di dalam perut Bege (ch. 813). Ketika sedang mencoba bernegosiasi menolak undangan pernikahannya sendiri. Kalimat itu ia pakai sebagai penegas bahwa mereka, Bajak Laut Topi Jerami, adalah orang-orang yang tak akan tunduk pada komando siapapun. Tidak ada yang lebih bebas dan merdeka daripada mereka di lautan. Suatu negosiasi yang gagal ia menangkan.

Kiranya Usopplah yang bersaing ketat dengan Zoro jadi yang paling heroik saat mengucapkan kalimat itu. Menanggapi Miss Merry Christmas, si tikus tanah partner Mr. 4, yang bilang bahwa Luffy sudah mati digebuk Crocodile, Usopp berkeras. Dengan mata nyalang ia bilang, “Luffy adalah seorang yang akan menjadi Raja Bajak Laut. Ia tak akan mati di sini.” Sanggahannya kemudian diketawai karena lebih mirip omong kosong orang lemah yang tak tahu diri. Dan, kita semua tahu apa tanggapan Usopp lagi atas tawa itu kemudian. Tanggapan yang saya kira layak jadi salah satu quote terbaik One Piece: “Ada saat ketika seseorang mesti tetap berdiri berkelahi, yaitu saat mimpi teman-temannya ditertawakan. Luffy tidak akan mati sebelum akhirnya menjadi Raja Bajak Laut. Tak akan kubiarkan kau menertawai hal itu.” (ch. 186)

Sedang yang baru saja (ch. 842), Nami, mengucapkannya di hadapan Cracker, satu dari tiga tangan kanan Big Mom. Nami mengucapkannya juga dengan mata nyalang, meski ujungnya ia tutup dengan semacam guyon—tapi bukan—‘karena ia akan jadi Raja, maka nafsu makannya pun tak berhingga’. Apa yang Nami ucapkan di situ tentu tak bisa dipukul rata dianggap sama dengan yang ia ucapkan saat pertama kali kakak sulung Sanji, Reiju, diperkenalkan (ch. 826). Saat ia mencemaskan Luffy yang sekarat keracunan.

Dengan menjabarkan konteksnya sedemikian, kita jadi bisa menakar dengan tepat mana yang bisa dikatakan kalimat keramat atau sekadar seruan biasa. Ditambah penampakan visual (gambar dalam manga juga gerak dalam anime), teks manga tentu akan jadi lebih nyata nada, intonasi, ekspresi, dan penekanan katanya.

Kita tentu tak kaget lagi—bahkan mungkin bosan—kalau Luffy bicara soal citanya jadi Raja Bajak Laut. Ya karena ia mengucapkannya sangat sering, mungkin di peringkat tiga setelah makan dan tidur. Bisa jadi pula omong-omong soal ini pernah diucapkan tokoh lain semisal Ace, Shanks, Jinbe, atau Rayleigh tapi tidak dengan nada yang perlu dikagetkan.

Jadi, kalau ada yang menganggap tiap-tiap kalimat itu lumrah, tak istimewa, dan sama saja satu sama lainnya, ia mungkin orang yang sama dengan yang sering menyalahpahami ‘Tuhan sudah mati’-nya Nietzsche atau ‘Agama itu candu’-nya Marx.

*

Belasan tahun lalu saat masih sering melongo depan televisi, saya sering mengumpat saat mendapati kabar TKI yang disiksa di Arab sana. Bajingan betul ini majikannya, itu satu-satunya yang ada di pikiran saya.

Selang beberapa tahun setelah itu, setelah lebih banyak menyuntuki buku daripada televisi, saya jadi tahu bahwa kejadian-kejadian macam itu ramai terjadi bukan saja karena majikan yang bajingan, tapi juga sistem hukum yang tak kalah bajingan.

Bagaimana tidak terjadi penyiksaan terhadap TKI—asisten/pembantu rumah tangga, jika tafsiran atau interpretasi atas landasan yang menginspirasi produk hukumnya adalah tafsir-tafsir yang mengamini perbudakan, membolehkan perlakuan fisik pada budak, dlsb. Ini belum ketimpangannya pula yang surplus kuasa bagi laki-laki dan defisit di perempuan. Jadilah para majikan itu aman-aman saja dari dakwaan.

Ya, itu belasan tahun lalu. Entah sekarang.

*

Dalam sastra, interpretasi bisa saja lebih kaya ketimbang niatan awal si penulis saat menuliskannya. Misal puisi. Ada anggapan bahwa puisi jadi lebih hidup bila ia punya banyak interpretasi.

Misal, ada satu teks atau ujar yang bernilai sastra juga sejarah. Si penulis dan pengujar tak pernah menjabarkan detail maksud ujar-ajarnya. Di lain sisi, kita juga tahu, logika si penulis dan pengujar tak akan bisa sama dengan kita yang pembaca dan penikmat. Tak cuma logika, tapi juga selera humor, pemantik marah, standar nilai, bahkan patokan waktu kita tak sama dengannya.

Lantas ujar-ajarnya ditafsirkan orang-orang. Satu kalimat bisa punya macam-macam tafsir. Suatu kali menganjurkan pembunuhan, di lain kesempatan melarangnya pula, kata penafsir. Suatu kali berkata bumi itu datar, di bagian lain bumi itu bulat, kata penafsir. Di bagian yang satu mengizinkan kekerasan, di bagian lain menganjurkan kasih mengasihi, masih kata penafsir.

Jika demikian, bayangkan, saat ada seseorang kelihatan seperti menampik (menurut penafsir) salah satu ujar-ajarnya, apakah lantas ia dianggap salah dan sesat (menurut penafsir pula)? Mengapa tak ada yang menganggapnya sebagai kemungkinan bahwa mungkin saja masih ada tafsir atau interpretasi lain saking kaya dan agungnya ujar-ajar tersebut? Toh logika kita tak sama dengan si penulis dan pengujar.

Dalam The Lost Symbol, Dan Brown mengetengahkan suatu perburuan akan satu kata yang dianggap keramat. Kata tersebut, siapa pun yang pada akhirnya menemukannya, konon akan dianugerahi semacam mukjizat, suatu kebisaan tak tertandingi yang bisa mengantarnya menguasai dunia. Di akhir cerita pada akhirnya kata tersebut tak terungkap. Tetap sembunyi dalam samar dan kira-kira.

Dalam satu kesempatan, Prof. Langdon, salah satu tokoh sentral dalam cerita tersebut bertanya pada seorang tua: “Di mana-mana, seharusnya pengajar tak mengajar dalam kode.” Langdon adalah seorang Profesor simbologi yang telah keliling dunia memberi kuliah seputar simbol. Sebagai seorang yang punya pengalaman mengajar, ia menggugat metode macam itu. Yang ditanyai menjawab santai, “Beberapa pesan dan ajaran memang dimaksudkan untuk dipahami oleh orang-orang tertentu saja. Mesti memenuhi sekian klasifikasi untuk bisa memahami inti ajaran. Coba bayangkan begini, apa tujuan penciptaan api? Di tangan mereka yang baik, api akan jadi penerang. Di tangan mereka yang sesat, api hanya jadi pembakar.”

Dengan nada serupa tapi tak persis sama, Amin Maalouf menggelarkannya pula dalam novelnya Balthasar’s Odyssey. Novel itu bercerita tentang perburuan buku keramat yang konon di dalamnya terdapat nama keseratus milik Tuhan.

Di pengujung naskah, buku tersebut akhirnya ditemukan. Tapi si pembaca tak mampu membacanya selayak buku lain. Begitu halaman pertama dibuka, pandangannya seakan gelap, limbung, dan energi terkuras habis. Buku ia tutup. Mengistirahatkan diri sebentar, lalu mulai membuka lagi. Efeknya tetap sama. Gelap, limbung, lemas.

  • view 432